
"Hujan, Nin" kata Yopi yang sudah berada di dalam ruang tamu Nindi.
Jaketnya lumayan basah meski hanya terkena hujan dalam waktu singkat. Tapi memang hujan malam ini turun dengan sangat deras dan tiba-tiba.
"Basah, Yop. Dilepas saja ya, daripada kamu masuk angin. Sebentar aku ambilin handuk" kata Nindi yang melihat rambut Yopi yang juga basah karena Yopi sengaja tak memakai helmnya tadi.
"Iya" jawab Yopi singkat, diapun kembali duduk di sofa yang beberapa menit lalu ditinggalkannya.
Yopi melepas jaketnya, menyisakan kaos hitam berlengan pendek yang kontras dengan warna kulitnya yang putih untuk ukuran laki-laki.
Nindi datang dengan membawakan teh panas untuk Yopi dan juga handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya.
"Celana kamu juga basah, Yop. Apa mau ganti sarungnya adikku saja?" tanya Nindi.
"Tapi gue nggak bisa pakai sarung, Nin" kata Yopi.
"Ya nanti aku ajari, sebentar aku ambilin ya" Nindi beranjak lagi dari tempat duduknya.
Dia menuju kamar sang adik untuk mengambil sarung.
"Nih, Yop. Ehm, kamu lepas celana kamu dulu ya. Aku ngadep sana dulu. Kalau kamu sudah masuk ke dalam sarungnya adikku itu, kamu bilang sama aku. Nanti aku ajari cara pakainya" kata Nindi yang sudah membalik badannya.
Yopi melepas celananya yang basah, rasa dingin mulai menerpanya. Diapun segera masuk ke dalam sarung yang Nindi bawakan.
Dan benar saja, Yopi tak tahu caranya memakai sarung. Dia hanya melipat sarung itu ke tengah, di perutnya. Lalu memegangnya agar tidak melorot.
"Sudah Nin, tapi gue nggak tahu cara pakainya" kata Yopi yang masih kebingungan.
"Biar aku bantu" kata Nindi yang sudah berbalik badan lagi.
"Sebentar, ya. Kalau kainnya sudah aku pegang, kamu angkat tangan ya" kata Nindi mulai memegang sarung itu.
Yopi mengamati wajah Nindi yang begitu dekat dengannya. Wajah ayu yang matanya sembab karena terlalu banyak menangis. Anak rambut Nindi terurai menutupi sebagian wajahnya. Jemari Yopi yang sudah gatal ingin merapikan rambut itu mulai beraksi.
Menyematkannya ke belakang daun telinga Nindi.
Nindi yang masih sibuk merapikan sarung yang Yopi pakai mendongakkan kepalanya saat rambutnya disentuh Yopi.
"Sudah Yop" kata Nindi yang sudah selesai dengan kesibukannya.
"Makasih ya" kata Yopi. Sekarang dia merasa lebih hangat.
"Boleh nggak sih gue nginep disini? Hujannya masih deras, dan gue nggak bawa jas hujan" kata Yopi, siapa tahu Nindi mengizinkannya.
"Ehm, gimana ya. Tapi memang hujannya sangat deras" Nindi bimbang.
"Gue tidur di sini deh Nin, nggak apa-apa kok" kata Yopi.
Memang jarak rumah Nindi ke rumah yang Yopi tempati sekarang tidaklah jauh. Tapi jika harus menerjang hujan di malam buta seperti ini, sudah pasti akan membuat badan meriang esok hari.
"Iya deh, daripada kamu masuk angin. Motornya bawa masuk ke warung saja Yop, di dekatnya motor ayah" kata Nindi yang membukakan pintu warungnya agar motor Yopi bisa masuk. Ada cukup ruang untuk memarkirkan motor Yopi disana.
"Sudah, Nin. Nih kunci pintu warung lo" kata Yopi yang sudah mengunci pintu warung.
"Yasudah, aku juga mau istirahat Yop. Sebentar ya aku ambilin bantal sama selimut buat kamu" kata Nindi setelah mengunci pintu ruang tamu, dan beranjak memasuki kamar adiknya untuk mengambil bantal dan selimut disana.
Yopi menunggu sambil duduk dan memainkan ponselnya sembari menunggu Nindi.
"Ini bantal dan selimutnya. Maaf ya kalau ndak nyaman" kata Nindi.
"Nggak apa-apa, Nin. Gue yang harusnya bilang makasih karena lo ngijinin gue nginep" kata Yopi yang sudah merebahkan dirinya diatas sofa.
"Aku ke kamar, ya" pamit Nindi.
"Eh, sebentar Nin. Gue numpang ke toilet dong, kebelet nih" kata Yopi, dia kebelet pipis.
"Oh, boleh. Kamu masuk saja, lurus ke belakang. Kamar mandinya di dekat dapur" kata Nindi berjalan mendahului Yopi, dan berhenti di depan pintu kamarnya.
"Oke" kata Yopi berjalan yang mengikuti arahan Nindi.
Cukup lama Yopi berada di kamar mandi. Selain panggilan alam, Yopi terbiasa mandi sebelum tidur. Tapi di cuaca dingin begini, dan tak ada air panas juga, Yopi hanya bisa membasahi wajah dan rambutnya agar terasa lebih segar.
Setelah selesai dan keluar dari kamar mandi, Yopi berhenti di depan pintu kamar Nindi. Niatnya untuk berterima kasih dan mengucapkan selamat tidur pada gadis itu.
Tok... Tok... Tok...
"Nin, lo sudah tidur apa belum" tanya Yopi sambil mengetuk pintu.
Tak ada jawaban dari dalam kamar Nindi, tapi terdengar ada gerakan dari dalam kamar itu.
"Berarti dia belum tidur nih, gue buka deh" kata Yopi yang sudah membuka pintu kamar Nindi.
Yopi tertegun melihat penampilan Nindi yang memakai baju tidur berupa tank top dengan tali spaghetti di pundaknya. Tanpa mengenakan pakaian dalam.
__ADS_1
Bahan kain satin mengkilap berwarna orange membuat tampilan Nindi yang langsing dengan buah dadanya yang cukup besar membuatnya terlihat semakin seksi.
Tubuh sempurna Nindi selama ini tertutupi oleh busana sederhana yang dikenakannya. Dan bukan untuk menarik perhatian Yopi, tapi memang baju tidur Nindi seperti itu. Dia hanya mengenakan itu setelah benar-benar akan tidur dan saat berada dirumahnya sendiri.
"Yopi, kok nggak ketuk pintu sih?" tanya Nindi yang menyilangkan kedua tangannya di dada, menutup aset berharganya.
Rupanya Nindi memakai head set dan seperti sedang mendengarkan musik. Makanya tak mendengar saat Yopi mengetuk pintu kamarnya.
"Sudah gue ketuk, Nin. Elonya saja yang nggak dengar" kata Yopi yang masih terpana menatap aset Nindi yang ditutupi dengan kedua tangannya.
"Sudah Yop, aku kan malu. Kamu keluar deh" kata Nindi yang pipinya sudah memerah.
Nindi melangkahkan kakinya mendekati Yopi untuk mendorongnya pergi, tapi sial karena kaki Nindi tersandung pakaiannya yang tadi belum dirapikannya.
Gadis itu mendarat di pelukan Yopi, membuat suasana canggung tercipta diantara mereka.
Hujan masih turun, kedengarannya semakin deras. Pasti udara semakin dingin, tapi suhu tubuh Yopi meningkat tajam melihat tampilan bak bidadari di depannya ini.
Nindi mendongak, melihat mata Yopi yang juga menatapnya sayu. Entah karena apa, dan siapa yang memulainya. Keduanya sekarang sudah saling menikmati sesapan bibir yang beradu.
Yopi memajukan langkah kakinya semakin memasuki kamar Nindi dan menjatuhkan Nindi diatas ranjangnya dengan aktivitas mereka yang masih berlangsung.
Nindipun sama, mungkin karena hatinya sedang hancur, membuatnya tak bisa berpikir lebih baik.
Dia membiarkan Yopi memperlakukan dirinya sesuai kemauannya.
Berdasarkan pengalamannya, Yopi meneruskan aktivitas mereka ke arah yang lebih ekstrim.
Dibawah guyuran hujan, di malam yang hampir habis. Kedua remaja itu bergulat di atas ranjang kamar Nindi.
Cuaca dingin tak membuat peluh mereka malas bercucuran. Mudahnya tangan Yopi untuk menelanjangi tubuh Nindi membuatnya lepas kontrol.
Yopi dan Nindi bergumul, dan menyelesaikan aktivitas mereka setelah lebih dari satu jam.
Nindi tidur membelakangi Yopi dengan selimut yang menutupi tubuhnya hingga leher.
Sedangkan Yopi yang telah menuntaskan hasrat kelelakiannya, merasa bersalah karena tak bisa mengontrol dirinya.
Yopi menyesali perbuatannya.
"Nin, maafin gue ya" kata Yopi dengan kain sarung yang menutupi tubuhnya.
Nindi terdiam, sebenarnya dia belum tidur. Diapun merasakan hal yang sama dengan Yopi, merasakan penyesalan yang teramat dalam.
Berbalik menghadap Yopi dengan selimut yang masih menutup sempurna, Nindi menatap Yopi.
Nindi menggerakkan tubuhnya telentang, menatap langit-langit kamarnya dengan air mata yang kembali menetes.
"Kak Fahri yang ngambil itu dari aku, Yop. Makanya aku ndak bisa lepas dari dia begitu aja. Apalagi keluarga aku yang memegang teguh adat ketimuran, aku takut kalau sampai ketahuan keluarga besar dari orang tuaku, nanti mereka bakalan mengucilkan keluargaku" kata Nindi yang tangisannya semakin menjadi.
"Sstt.... Sudah, sudah.. Cup ya, jangan nangis lagi" kata Yopi menepuk pelan pundak Nindi yang terbungkus selimut, hanya memperlihatkan kepalanya saja.
"Lo tenang ya, jangan nangis lagi. Nanti gue bantu cari jalan keluarnya" kata Yopi berusaha menenangkan Nindi.
Saat tangan Nindi tergerak mengusap air matanya, malah membuat selimut itu tersingkap dan memperlihatkan bercak merah pemberian Yopi tadi.
Yopi melihat itu dengan senyum manisnya, merasa telah memiliki wanita di sebelahnya ini.
Ya, Nindi memang bukan seorang gadis.
Nindi tersadar dengan diamnya Yopi yang menatap leher jenjangnya. Tangannya mendorong bahu Yopi yabg tak kunjung mengalihkan perhatiannya.
"Ngapain sih, Yop" kata Nindi yang niatnya untuk menyadarkan Yopi, malah tangannya dipegang erat oleh lelaki itu.
Mata mereka kembali beradu, dan khilaf pun kembali terjadi. Yopi kembali berhasrat, dan Nindi juga menikmatinya.
★★★★★
"Yopi kemana sih, dia bareng sama gue apa enggak sih" gumam Aish mondar-mandir di teras rumahnya.
Sudah setengah tujuh pagi, tapi belum ada kabar dari Yopi.
"Apa dia sakit, ya" gumam Aish.
"Gue samperin ke rumah engkong saja deh" kata Aish beranjak ke rumah engkongnya.
"Assalamualaikum, enyak" kata Aish memasuki rumah orang yang sudah dianggap neneknya sendiri.
"Waalaikumsalam, nah kok belum ke sekolah sih lo, Is?" tanya Enyak yang heran melihat Aish berseragam tapi belum berangkat sekolah.
"Yopi belum bangun, nyak? Kok belum nyamperin Aish, sih?" tanya Aish.
"Tuh bocah dari semalam nggak pulang, gue kira lagi nglembur. Biasanya kalau lembur memang nggak pulang, kan?" kata enyak.
__ADS_1
"Tapi semalam dia pulang kok, nyak. Bahkan dia juga yang nganterin Aish sampai rumah. Makanya Aish kesini, siapa tahu dia belum bangun" kata Aish sedikit khawatir. Takut terjadi sesuatu pada Yopi.
"Yaudah lo berangkat sekolah duluan deh, siapa tahu tuh bocah malah sudah berangkat. Nanti gue kabari elo kalau Yopi pulang" kata enyak, karena memang sudah siang.
"Iya deh, nyak. Nanti kalau ada kabar dari Yopi, enyak kasih tahu Aish ya" kata Aish sambil mencium tangan enyak, dia akan naik angkot saja.
"Kalau Yopi sudah disekolah, lo juga kasih gue kabar ya" kata enyak yang ikut khawatir.
"Iya nyak. Aish berangkat ya, assalamualaikum" Aish berjalan menuju gang depan untuk mencari angkot.
"Waalaikumsalam" jawab enyak dari dalam rumahnya.
Beruntung sudah ada angkot yang berhenti untuk menunggu penumpang di dekat gapura gangnya.
"Semoga nggak terlambat" gumam Aish, karena untuk sampai di SMAN 72 harus oper dengan angkot lain, dan hanya tersisa lima belas menit sebelum bel berbunyi.
Angkot itu berjalan cukup kencang, Aish jadi sedikit lega.
"Kiri bang" kata Aish, dia harus oper dengan angkot lain di perempatan depan.
Sedikit tergesa, Aish harus menunggu angkot incarannya lewat. Tapi tak ada satupun dari mereka yang terlihat.
Aish semakin deg-degan, sebentar lagi akan bel. Kalau dia terlambat, bisa gawat karena jam pertama akan ada kuis.
Brum... Brum...
"Ayo naik, buruan" kata Mike yang kebetulan lewat dan melihat Aish kebingungan di pinggir jalan.
Tanpa pikir panjang, Aish menaiki motor Mike yang sudah dimodifikasi dengan knalpot yang berbunyi nyaring dan joknya yang tinggi sebelah.
Agak tidak nyaman memang, tapi daripada terlambat, Aish berusaha santai dan berpegangan pada besi di belakang joknya dengan erat.
Mike ngebut, menyalip banyak kendaraan di depannya. Aish lupa tidak memakai helm.
"Mike, gue nggak pakai helm" teriak Aish yang suaranya seolah hilang terbawa angin dan kalah dari bisingnya knalpot motor Mike.
"Tenang saja, sudah dekat juga kok" balas Mike dengan teriakan juga.
Mereka datang sesaat sebelum satpam menutup pintu gerbang.
"Nyaris kalian ya" kata pak satpam yang kelolosan dua calon korbannya.
Ada kelegaan dalam hati seorang satpam penjaga gerbang sekolah saat berhasil membuat murid terkunci di luar pagar sekolah
Tapi kali ini dua dari mereka lolos, satpam itu menandai wajah Mike yang memang sering terlambat, dan wajah baru Aishyah.
"Untung belum terlambat, Mike. Thank's ya sudah ngasih gue tumpangan" kata Aish.
"Iya, sama-sama" jawab Mike yang hanya bisa diam saat Aish berlari menuju kelasnya.
Bel berbunyi saat Aish sudah diambang pintu, "Huft, nyaris telat" kata Aish sambil menuju bangku di kelasnya.
"Kok kursinya Yopi kosong, sih" gumam Aish.
Tapi tidak ada kesempatan untuk bertanya pada temannya karena gurunya sudah memasuki ruangan, dan mulai mengabsen setelah duduk di tempatnya.
"Yopi" Bu guru memanggil nama Yopi, tapi hening, tak ada sahutan.
"Aishyah, kemana Yopi?" tanya Bu guru, semua orang di sekolah itu tahu jika Yopi dan Aish bersaudara.
"Saya tidak tahu, bu" jawab Aish yang memang tidak tahu.
"Yang lain, mungkin ada yang tahu kemana Yopi?" tanya Bu guru lagi.
Tapi semua hanya menjawab dengan gelengan kepala, "Tidak tahu, bu" kata mereka.
Sedangkan untuk Nindi, semua sudah tahu jika Nindi ijin tidak masuk sekolah dan akan masuk hari Senin depan.
"Nanti coba kamu tanyakan pada orang tuanya Yopi ya, Aishyah" kata bu guru memberi tugas pada Aish.
"Iya, Bu" kata Aish.
Hari ini ada kuis, dan memang akan sering ada kuis karena mereka sudah berada di tahap akhir di masa pendidikan dasarnya.
Sebentar lagi Aish dan semua temannya akan lulus dan akan menempuh pendidikan yang lebih tinggi.
"Kemana sih Yopi? Kemarin juga kelihatan gelisah banget. Kalau nanti dia nggak ketemu juga, gue kasih tahu bang Rian saja deh. Biar bang Rian bantu nyari Yopi" gumam Aish dalam hatinya.
Urusan Yopi yang menghilang akan dicarinya nanti saja sepulang sekolah. Sekarang Aish harus fokus pada pelajarannya terlebih dahulu.
.
.
__ADS_1
.
.