Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
gue kebelet


__ADS_3

"Falen, ini buat kamu ya" kata Sekar sore itu. Dia sengaja menunggu Falen menyelesaikan kegiatannya di ruang OSIS.


"Lo belum pulang?" tanya Falen yang merasa aneh karena sudah sore begini masih ada Sekar.


"Aku nungguin kamu" kata Sekar. Hanya dengan begini Sekar bisa dengan leluasa ngobrol dengan Falen, karena di jam sekolah dia selalu bersama dengan gerombolannya.


"Kenapa nungguin gue?" tanya Falen. Sekarang mereka berdua duduk di bangku di depan ruang OSIS.


"Aku pengen kasih ini buat kamu" kata Sekar memberikan sekotak coklat untuk Falen.


"Coklat, buat gue?"tanya Falen.


"He em" jawab Sekar sambil mengangguk.


"Sebenarnya gue nggak terlalu suka coklat sih, tapi nggak apa-apa deh, nanti gue kasih ke Aish" kata Falen yang membuat hati Sekar mencelos. Kan dia maunya coklat itu buat Falen, kenapa harus diberikan ke Aish sih.


"Kan aku ngasih ke kamu, kok kamu kasih ke Aish?" tanya Sekar.


"Gue nggak suka coklat, Sekar. Biasanya kalau ada yang ngasih coklat juga pasti Aish sama Seno yang makan. Mereka tuh kompak banget, geli gue lihat Seno rebutan coklat sama Aish" kata Falen bercerita sambil tertawa mengingat kekonyolan teman-temannya.


"Yasudah, nggak jadi aku kasih ke kamu deh coklatnya" kata Sekar merebut kembali sekotak coklat yang tadi dia berikan.


"Loh kenapa?" tanya Falen.


"Aku maunya kasih ke kamu, bukan buat orang lain. Kamu maunya apa?" tanya Sekar.


Falen menatap Sekar bingung, "Apa-apaan sih nih cewek?" batinnya heran.


Sebenarnya setiap kali ada Sekar, hati Falen seperti merasakan rindu yang teramat dalam. Seperti sudah tidak bertemu dengan kekasih dalam waktu yang sangaaaattt lama.


Dia sendiri bingung mengartikan perasaannya, apa mungkin mereka memang telah ditakdirkan bersama di waktu yang berbeda?


"Lo nggak usah kasih apa-apa. Apa alasan lo ngasih hadiah-hadiah kayak gini?" tanya Falen yang membuat Sekar jadi bingung harus bagaimana.


"Aku, a-aku juga bingung. Aku ngerasa setiap lihat kamu tuh kayak ada magnetnya, pinginnya selalu dekat sama kamu. Tapi kamu nggak pernah anggap aku ada" kata Sekar sambil menunduk, dia juga bingung kenapa dia bisa selepas itu mengungkapkan perasaannya kali ini.


Falen menatap Sekar bingung, sebenarnya dia juga senang berdekatan dengan Sekar seperti ini. Rasanya seperti hatinya berbunga-bunga.


"Lo ngerasa nggak sih kalau kayaknya kita pernah dekat di waktu yang berbeda?" tanya Falen.


"Aku nggak ngerti sama perasaanku, rasanya senang saja kalau lihat kamu. Kayak ada rasa rindu yang sudah lama nggak ketemu" kata Sekar yang juga bingung bagaimana mendefinisikan arti dari perasaannya.


"Tapi kamu selalu mengutamakan Aishyah" kata Sekar sambil menunduk.


"Ya, gue juga nggak tahu. Buat gue, jagain Aish itu bukan cuma kebetulan, tapi sudah kayak kewajibannya seorang kakak yang harus menjaga adiknya" kata Falen.


"Kamu sayang ya sama Aishyah?" tanya Sekar.


"Tentu saja, gue sayang banget sama dia. Gue merasa punya tanggung jawab buat selalu jagain dia. Kami berempat sudah kayak saudara, meskipun sering berantem tapi kami saling membutuhkan. Aish itu sudah kayak ibu di pertemanan kami, dia itu cerewet sekali" kata Falen sambil sesekali tersenyum saat mengingat tingkah konyol teman-temannya saat bersama.


"Kalau perasaan kamu sama Aishyah bagaimana?" tanya Sekar.


"Perasaan yang kayak gimana?" tanya Falen.


"Perasaan kamu itu kayak seorang pria buat wanitanya, atau kayak kakak buat adiknya, atau yang gimana?" tanya Sekar.


"Kan tadi gue sudah bilang, dihati kami bertiga, maksudnya gue, Hendra sama Seno, posisi Aish itu ada dibawah nyokap kita. Dia itu penting buat kita" kata Falen.


Sekar sedikit tidak suka mendengarnya, tapi memang persahabatan mereka terlalu kental untuk sekedar teman biasa.


"Lo mau pulang ya?" tanya Falen yang beberapa saat mereka lalui hanya dengan diam.


"Iya, sudah nggak ada urusan lagi" kata Sekar mulai berdiri.

__ADS_1


"Gue anterin ya?" kata Falen menawarkan diri.


"Boleh" kata Sekar dengan senang hati menerima tawaran Falen.


★★★★★


"Selamat ya bule, lo jadi ketua OSIS nih ceritanya" kata Aish siang itu, saat mereka kembali duduk di taman dekat perpustakaan.


"Seharusnya lo traktir kita, bule" kata Hendra.


"Iya, traktir dong" kata Seno.


"Oke, sebagai ketua OSIS baru nih, gue traktir kalian kali ini. Gimana kalau kita ke kantin saja sekarang? Mumpung belum menggelar tikar piknik nih" kata Falen.


"Boleh, gue nggak pernah ke kantin loh. Gue takjub sama diri gue sendiri" kata Aish seolah mendapat rekor dunia.


"Iya, lo cupu banget" kata Seno.


"Mulut lo nih ya. Lo ingat nggak sekalinya gue keluar dari peradaban kita dari taman ini, gue mimisan gara-gara kena lemparan bola basket. Sakit banget itu" kata Aish mendramatisir keadaan.


"Sudah, debat nggak guna. Ayo buruan ke kantin" ajak Falen.


Dengan senang hati mereka menuju ke kantin, pengalaman pertama untuk Aish makan di kantin sekolahnya. Ternyata suasana ramai sekali, para penjualnya sibuk melayani para pembeli yang berdesakan seolah takut kehabisan makanan.


"Kita duduk disini saja ya" kata Hendra yang mendapat tempat kosong.


"Mau makan apa?" tanya Falen.


"Somay sama es teh" kata Aish.


"Soto ayam sama es teh juga" kata Seno.


"Kayak princess deh gue" kata Hendra.


"Terus, gue sendiri yang pesan? Bantuin dong, memangnya gue pembokat lo" kata Falen.


"Lo pesan minuman, gue makannya ya princess" kata Falen yang dijawab acungan jempol oleh Aish.


Penjualnya sangat cekatan, dalam waktu singkat Aish sudah mendapatkan empat gelas es teh sesuai pesanan teman-temannya dalam sebuah nampan.


"Ini juragan, pesanannya" kata Aish meletakkan satu per satu gelas berisi es teh ke atas meja.


Kurang satu lagi, Falen hanya perlu semangkuk soto ayam pesanan Seno. Selanjutanya tinggal membawa ke mejanya.


"Tumben ke kantin?" tanya Sekar yang melihat pemandangan tidak biasa.


"Iya, teman gue minta traktiran karena gue jadi ketua OSIS yang baru tahun ini. Lo mau pesan apa?" tanya Falen.


"Soto" jawab Sekar.


"Biar gue pesankan sekalian ya" kata Falen yang memang mau memesan soto, Sekar hanya mengangguk sambil mengekori Falen.


"Uwah, asyik makan" kata Seno bahagia seperti anak kecil yang diberi balon.


"Hai, Sekar" kata Aish yang melihat Falen bersama Sekar.


Hendra dan Seno hanya memberi senyum sekedarnya, pengalaman petualangan mereka ke negri aneh waktu itu menyisakan perasaan tidak suka pada Sekar.


Sekar duduk di samping Falen, mereka makan dengan sesekali bercanda seperti biasanya saat makan di taman dekat perpustakaan.


"Aku lupa nggak beli minum" kata Sekar pada Falen, dia terlihat kepedesan.


"Nih, minum punya gue" kata Aish menawarkan es tehnya.

__ADS_1


"Makasih Aish" kata Sekar, sebenarnya dia ingin Falen yang menawarkan minum padanya. Aish hanya tersenyum.


Aish sedikit terkejut saat melihat gerombolan Richard datang bersama beberapa cewek, sepertinya mereka adik kelas. Sampai membuat Aish tersedak dan batuk-batuk.


"Uhuk... uhuk ..." Aish terbatuk sambil memukul pelan dadanya agar makanannya bisa keluar.


"Minum nih" kata Falen reflek memberikan minumannya yang sudah tinggal separuh pada Aish, dan sialnya Aish langsung menyabet dan meminumnya hingga kandas.


Lagi-lagi Sekar tidak suka melihatnya, Falen sangat perhatian pada Aish. Pasti orang lain juga sependapat dengannya, melihat kedekatan mereka dengan arti yang lain.


"Lo kenapa sih. Kayak anak kecil saja" kata Falen yang tidak tahu kalau Richard datang ke kantin juga.


Hendra dan Seno melihat ke arah pandang Aish, mereka menyadari alasannya karena lengan Richard yang digelayuti manja oleh seorang siswi berambut panjang. Ya, meskipun memang selalu di tolak oleh Richard.


"Nih minum" kata Seno memberikan es tehnya yang hanya diminum sedikit pada Aish yang terlihat seperti kebakaran jenggot.


Aish kembali meminum es teh Seno hingga kandas. Pandangan matanya masih ke arah Richard yang belum menyadari keberadaan Aish, karena memang biasanya Aish ada di taman, bukan di kantin.


"Lo lihat apa sih?" tanya Falen sedikit keras, dia sampai menoleh agar bisa mengetahui arah pandang Aish.


Richard seperti mendengar suara Falen, dia memutar kepalanya ke samping. Karena memang Falen duduk di sebelah pojok kanan dari pintu masuk, dia jadi gelagapan karena adik kelasnya ini masih saja bergelayut manja di lengannya, susah sekali menyuruhnya pergi.


Pandangan matanya bertemu dengan mata Aish yang berkilat penuh amarah. Reno hanya menepuk pundaknya dan memberi semangat. "Perang dunia ke sepuluh, bro" kata Reno meledek. Padahal ini juga ulahnya tadi yang mengajak cewek-cewek ikut nimbrung bersama.


"Sialan lo boncel, awas nanti giliran lo dapat jatah dari gue" kata Richard meneruskan langkahnya mencari tempat duduk.


Hendra juga memberikan es tehnya pada Aish, mereka bisa melihat aura kemarahan Aish dari pandangannya yang seolah ingin menguliti Richard hidup-hidup.


Aish menenggak es teh Hendra sampai habis, padahal Hendra belum sempat menyentuhnya sama sekali.


"Gue kekenyangan" kata Aish yang sudah tidak mau lagi melihat ke arah Richard.


"Jelas lah, kembung lo habis ini" kata Seno membuat yang lainnya menertawakan Aish yang cemberut.


"Lagian lo marahan sama Richard lama banget sih, keburu digaet cewek lain tuh bocah gaul" kata Seno yang mendapat pelototan dari Falen dan Hendra.


Aish hanya diam, benarkah jika Richard akan bosan dengan hubungannya yang nggak jelas? Pikirannya jadi insecure karena memang dia gadis yang membosankan. Hidupnya hanya sebatas sekolah dan belajar.


"Gue ke toilet dulu ya, kayaknya gue sudah mulai beser nih" kata Aish beranjak dari tempat duduknya.


"Gue anterin ya, gue jadi khawatir sama lo" kata Falen yang membuat Sekar semakin tidak suka pada Aish.


"Nggak usah Fal, gue sendiri saja. Nanti kita ketemu di kelas ya" kata Aish sebelum berlalu.


Richard melihat kepergian Aish tanpa kawalan, kalau seperti ini bisa dipastikan kalau pacarnya itu pasti ke toilet. Dia segera beranjak mengikuti arah Aish pergi.


"Mau kemana kak?" tanya Viona, penggemar baru Richard.


"Bukan urusan lo" kata Richard pergi, membuat Reno tertawa melihat tingkah temannya itu.


Richard menarik pergelangan tangan Aish yang hendak memasuki toilet, membuat Aish kaget karena tidak tahu jika Richard membuntutinya.


"Eh, ngapain?" tanya Aish.


"Lo pasti salah paham lagi" kata Richard.


"Lepasin Richard, please" kata Aish.


"Nggak akan, gue nggak mau lo berpikiran yang enggak-enggak lagi" kata Richard.


"Tapi gue kebelet, nanti gue ngompol. Lepasin cepetan" kata Aish yang langsung berlari setelah Richard melepaskan pegangan tangannya pada Aish.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2