
"Bang, boleh nggak Aish ketemu sama bang Tomi?" tanya Aish.
"Buat apa?" tanya Fian setelah beberapa saat berpikir.
"Cuma ingin ngobrol saja bang. Apa dia masih belum mau mengaku tentang siapa yang menyuruhnya melakukan itu semua, bang?" tanya Aish.
"Dia masih bungkam, pasti ada suatu hal yang sangat penting sampai dia kuat sekali memendamnya" kata Fian.
"Apa dia ditahan di kantor ini bang?" tanya Aish.
"Iya, dia ada disini. Tapi dia tidak boleh dikunjungi, is" kata Fian.
"Tolonglah bang, ijinkan Aish membesuknya" kata Aish memohon.
Fian menghela napasnya, sebenarnya peraturan melarang untuk siapapun datang berkunjung pada Tomi dalam waktu dekat ini. Tapi melihat Aish yang seperti ini, dia tidak tega juga. Dia jadi bimbang.
"Baiklah, sebentar saja ya, is. Sebenarnya dia masih belum boleh dikunjungi" kata Fian setah menghela napas panjang.
"Terimakasih bang, Aish janji cuma sebentar saja" kata Aish.
"Ayo ikut abang" kata Fian mengajak Aish untuk mengekor padanya.
Aish mengangguk dan mengikuti langkah Fian yang semakin ke dalam. Beberapa polisi mengangguk hormat saat melihat Fian melintas bersama seorang gadis SMA.
Fian membuka sebuah pintu ruangan, didalamnya terasa pengap dan hanya sedikit penerangan. Karena lampu didalamnya tidak dinyalakan, jadi hanya cahaya yang datang dari celah ventilasi luar ruangan itu yang membuat di dalamnya tidak sepenuhnya gelap gulita.
Ada sebuah meja kecil dan dua kursi di dalamnya, seseorang duduk dengan posisi menunduk dan kedua tangannya diborgol dibelakang senderan kursi. Dia masih belum menyadari keberadaan Aish disana. Fian memaksa Tomi untuk membuka mata dengan bentakan yang membuat Aish ikut merasa kaget.
"Bangun kamu" kata Fian sambil mencengkeram rambut belakang Tomi dan membuat kepalanya terangkat meskipun matanya masih terpejam.
Aish melotot melihat kondisi Tomi yang babak belur. Hatinya tersentuh, merasa ingin membantunya. Tapi saat dia teringat bahwa Tomi yang membunuh kakaknya, sebagian hatinya malah senang melihat keadaan Tomi yang mengenaskan.
"Ada yang mau bicara sama kamu" kata Fian setelah Tomi membuka sedikit matanya.
"Abang tunggu diluar ya, is. Nanti kamu hubungi abang saja kalau sudah selesai" kata Fian.
"Iya bang, terimakasih" kata Aish.
Sekarang dia hanya berdua dengan Tomi di dalam ruangan sempit ini. Aish duduk dihadapan Tomi, dengan sebuah meja kecil sebagai pembatasnya.
"Lo ngapain kesini neng?" tanya Tomi yang belum tahu jika Aish adalah adik dari orang yang telah dia habisi.
"Gue dengar abang ditangkap polisi, gue cuma ingin tahu kondisi lo, bang" kata Aish.
"Perhatian banget lo sama gue" kata Tomi perlahan karena bibirnya yang masih jontor.
"Gue cuma mau cerita sama bang Tomi, tentang seorang gadis yang ditinggal sama semua anggota keluarganya" kata Aish mengawali curhatannya.
"Gue nggak minat buat dengerinnya, mendingan lo cerita sama orang lain saja" kata Tomi.
"Gue tahu bang Tomi punya dua anak gadis yang masih balita, kan?" tanya Aish yang sukses membuat Tomi mengalihkan pandangannya untuk menatap Aish.
__ADS_1
"Lo jangan macam-macam sama anak gue" kata Tomi pelan, semua orang mencurigakan dalam pandangan Tomi untuk saat ini.
"Gue buka lo bang, yang bisa dengan mudahnya habisin nyawa seseorang" kata Aish yang membuat Tomi membuang muka.
"Lo anggap saja gue ini anak lo di masa yang akan datang, putri tercinta lo yang sedang curhat sama seorang penjahat" kata Aish, dia menjeda sejenak kalimatnya untuk mengambil nafas agar meringankan sesak di hatinya.
"Seorang remaja yang diambang keputus asaan. Gadis remaja yang lo sebagai ayahnya cuma bisa melihat dari surga" kata Aish. Kini Tomi sudah dalam pengaruh perkataan Aish, dia terlihat fokus menatap Aish.
"Ayahnya meninggal saat seseorang datang ke rumahnya dan meminta salah seorang putrinya agar mau dipersunting, karena mereka datang membawa berita bahwa sang putri sudah berbadan dua".
"Orang tua mana yang senang dengan berita semacam itu? Apalagi si pria sudah beristri. Akhirnya sang ayah meninggal setelah syok dan membuatnya terkena serangan jantung".
"Gadis ini kemudian tinggal dengan ibunya setelah saudaranya sempat diusir oleh sang ayah sebelum meninggal".
"Mereka berdua hidup penuh drama, memasang tampang bahagia meskipun sama-sama menyimpan luka. Hingga saat gadis itu remaja, dia menemukan bahwa saudaranya menjadi korban pembunuhan".
"Ibunyapun sama, karena terlalu terkejut dan tidak siap dengan berita itu, menyebabkan sang ibu juga terkena serangan jantung dan meninggal".
"Abang tahu, jika sekarang gadis ini sendirian bang. Dan akhirnya gadis itu tahu jika pelaku pembunuhan itu hanyalah orang suruhan dari bosnya. Nyatanya, bosnya ini adalah pria yang dulunya datang untuk meminta si korban dari ayahnya dulu" Aish menjeda ceritanya, dia melihat Tomi yang mencerna cerita Aish. Matanya menatap sendu pada Aish.
"Bagaimana perasaan abang sebagai seorang ayah saat tahu jika anaknya menjadi korban dari orang yang katanya tulus menyayangi putrinya?" tanya Aish.
"Gue nggak tahu" kata Tomi lirih. Sebenarnya dia terenyuh mendengar cerita Aish.
"Abang tahu tidak, kalau sekarang saudara dari korban pembunuhan itu sendirian bang. Dia hidup sebatang kara, tidak ada lagi keluarga disampingnya" kata Aish mulai meneteskan air mata.
"Abang tahu siapa dia?" tanya Aish.
"Gue nggak tahu" jawab Tomi menunduk.
Tomi terkejut dengan perkataan Aish barusan, dia sampai mendongak dan menatap Aish dengan penuh rasa bersalah kali ini.
"Abang tahu perasaan gue sekarang?" tanya Aish, Tomi hanya menggeleng.
"Gue takut bang, gue belum siap menghadapi dunia tanpa keluarga. Gue nggak tahu caranya menghidupi diri gue sendiri. Gue bingung harus kemana bang" kata Aish terisak.
"Apa yang membuat abang tega melakukan itu sama kakak gue, bang?" tanya Aish di sela tetesan air matanya.
"Gue minta maaf banget Aishyah, gue cuma disuruh" kata Tomi yang tidak tega melihat keadaan Aish sekarang.
"Siapa yang nyuruh lo, bang? Apa benar Willy Putra Hutama?" tanya Aish, dia berharap jika Tomi mau buka mulut kali ini.
Tapi nyatanya Tomi hanya bisa bungkam, entah karena apa sampai dia sangat susah untuk menyebut nama orang yang sudah menyuruhnya.
"Oke, gue nggak akan maksa lo. Tapi gue harap lo mau pikirkan perasaan gue, bang" kata Aish.
"Lo pandang posisi gue seandainya anak lo yang ada di posisi gue, bang. Jangan cuma pikirin untung ruginya buat lo. Ingat, ada orang lain yang akan terkena imbasnya dari segala perbuatan yang sudah lo lakukan" kata Aish.
Tomi hanya bergeming, sebenarnya dia tidak menyangka jika Aish adalah adik dari Alif. Pertemuan singkatnya beberapa hari kemarin dengan Aish membuatnya bisa menarik kesimpulan jika Aish anak yang baik.
Fian datang saat Aish masih menitikkan air matanya. Sebenarnya ada rasa penasaran dihatinya, apa yang dibicarakan mereka sampai membuat Aish menangis?
__ADS_1
"Waktunya sudah habis, is. Kamu sudah bicaranya?" tanya Fian.
"Sudah bang, terimakasih sudah memberi Aish ijin" kata Aish tersenyum.
"Gue harap bang Tomi mau memikirkan apa yang sudah gue sampaikan" kata Aish sebelum meninggalkan ruangan itu.
Fian menemani Aish sampai ke parkiran, dia masih ingin tahu apa yang telah mereka bicarakan. Tapi ternyata Aish tetap diam sampai mereka berada di dekat motor Aish.
"Terimakasih ya bang Fian sudah mau mengijinkan Aish. Sekarang Aish pamit ya bang, Aish mau pulang" kata Aish.
"Kamu hati-hati ya" kata Fian melepas kepergian Aish.
Aish masih belum mau pulang, tujuannya kali ini adalah makam keluarganya. Sudah cukup lama Aish tak mengunjungi mereka.
Setelah memarkirkan motornya, Aish menyempatkan diri untuk membeli beberapa bungkus bunga setaman untuk ditaburkan diatas makam ayah, bunda dan kakaknya.
Sore sudah menjelang saat Aish sampai di makam bundanya. Dia akan mendoakan keluarganya agar tenang disana, dan dia juga akan sedikit curhat pada mereka.
★★★★★
Merasa tidak mendapat kabar dari princessnya, Falen mengunjungi kediaman Aish untuk memastikan sendiri keadaan sahabatnya itu.
Melihat rumah Aish yang kosong, Falen jadi berpikir yang tidak-tidak. Dia menghubungi Hendra, siapa tahu dia ada bersamanya.
Hendra mengangkat panggilan dari Falen setelah beberapa lama menunggu.
..."Lo lagi sama princess?" ...
tanya Falen sedikit panik, tidak biasanya Aish tak berkabar seperti ini.
..."Nggak, gue nggak lagi sama dia" ...
kata Hendra
..."*Lo lagi dimana sekarang?"...
..."Dirumah Queen"...
..."Cg, pacaran melulu lo sekarang. Yasudah, gue mau nyari Aish dulu"....
..."Oke, gue juga cari*"...
Hendra ikut panik, apalagi dia tahu jika Siras juga menjadi ancaman bagi keselamatan Aish saat ini.
Falen langsung menutup panggilannya tanpa permisi. Kali ini dia akan menghubungi Richard dan Seno. Siapa tahu Aish ada bersama dengan mereka.
Richard masih ada di cafe yang tadi saat Falen kembali menghubunginya. Dia sebenarnya juga panik, tapi dia sepertinya tahu kemana Aish pergi kali ini.
Tanpa pikir panjang, Richard mengendarai mobilnya menuju arah yang diyakini hatinya bahwa Aish pasti ada disana.
.
__ADS_1
.
.