
Mari kita hitung mundur bersama dalam hitungan mundur....
3...
2...
1...
HAPPY NEW YEAR.....
dorr.....dorr....dorr....
Suara kembang api meletus indah mengeluarkan cahaya warna-warni. Senyum ceria terukir di setiap wajah yang hadir saat itu.
Saya Aishyah Khumaira , ya Allah...
Semoga tahun yang akan datang memberi banyak kebahagiaan, menghapus segala kesedihan, terkabul segala impian.
Amin
Doa Aishyah disela keramaian yang ada.
Aish memandangi indahnya kembang api, gelak tawa semua yang hadir disana tak membuat hatinya penuh kebahagiaan. Bagaimanapun dia kepikiran bundanya yang sendirian di rumah. Berharap wanita kesayangannya itu tetap pada perlindungan Allah.
*********
Sementara di rumahnya, bunda Aish memanfaatkan waktu kesendiriannya dengan menggelar sajadah, bersujud kepada sang maha pencipta. Menumpahkan semua air mata untuk memberi kelegaan pada hatinya.
Bunda sebenarnya sangat sedih dengan keadaan yang telah menimpa keluarganya. Sebenarnya wanita itu sangat rapuh tanpa sang suami. Selama ini suaminya selalu ada di dalam kesehariannya. Selalu ada dalam setiap tangis dan tawanya.
Kini, semua harus dia lakukan sendiri. Membesarkan seorang putri yang masih membutuhkan banyak kasih sayang.
Bunda menangis sendirian, berharap esok hari saat mentari datang untuk menyinari bumi, hatinya telah siap untuk menghadapi setiap kenyataan yang akan terjadi.
Bunda membuka kedua matanya saat doa yang dipanjatkan telah sampai di akhir kalimat. Melihat pada mukenanya yang telah berlumuran darah, rupanya bunda mimisan lagi. Darah yang keluar lebih banyak dari biasanya.
Segera bunda ke kamar mandi, berusaha menghentikan darah yang keluar dari hidungnya. Dan segera mencuci mukenahnya agar tak terlihat oleh Aish saat dia pulang nanti.
********
Hendra masih saja mengamati satu titik dimana dia melihat bayangan hitam yang selalu berusaha mendekat pada Aishyah, sahabat yang sangat dia sayang.
Bayangan yang menyerupai sesosok perempuan dengan rambut panjang dan gaun hitam, tentunya dengan kaki yang melayang.
"Lo masih lihat yang tadi ada di bangku kayu itu Hen?" tanya Falen setengah berbisik, agar tak didengar oleh yang lainnya.
"Iya, dan sosok itu selalu berusaha mendekat pada Aish" kata Hendra.
"Lo nggak bisa lihat dengan jelas wajah dari bayangan itu?" tanya Falen.
__ADS_1
"Cuma tahu kalau rambutnya panjang dengan gaun hitam" jawab Hendra.
"Kita harus ngapain?" tanya Falen khawatir karena sepertinya sosok itu mengincar Aish.
"Kita amati dulu saja, sejauh ini sosok itu cuma diam di sekitar Aish" kata Hendra.
"Bahaya nggak sih?" tanya Falen.
"Gue nggak tau juga ya bule, gue masih belum bisa berkomunikasi sama begituan. Lo mungkin mau coba?" tanya Hendra.
"Ogah, lo aja cukup. Gue denger update dari lo aja. Gue percaya kok sama lo" kata Falen mantap.
"Kalian ngomongin apa sih?" tanya Seno.
"Nggak ada" jawab Hendra.
"Gue denger ada kata sosok-sosok gitu dari tadi" kata Seno.
"Nggak apa-apa Seno, kita gabung buat makan yuk" ajak Falen.
"Nanti kita nginep apa langsung pulang nih?" tanya Hendra sambil menikmati makanan yang ada.
"Nginep aja gimana? Kita camping bro, lihat sunrise di tepi pantai. Pasti Asyik" kata Seno.
"Boleh juga tuh idenya, gimana Hen menurut lo?" tanya Falen.
"Boleh deh, lo tidur sama mommynya Seno ya princess?" tanya Hendra.
"Boleh tante, kita tidur sama-sama ya. Tapi memangnya ada tenda juga ya?" tanya Aish.
"Ada dong, sudah kita siapkan. Nyewa di sekitar sini tadi" kata mommy Seno.
"Tapi kalian jangan panggil tante dong, panggil mommy ya. Sama kayak Seno, kalian sudah seperti saudaranya Seno kan" kata mommy Seno.
"Iya mommy" kata ketiganya bersamaan.
Mereka berbagi kebahagiaan bersama, makan bersama, nyanyi juga. Hingga malam sudah sangat larut, sudah jam dua sekarang. Mereka telah membangun beberapa tenda dan sekarang waktunya tidur.
Aish tidur dengan mommy Seno, sementara Falen, Hendra dan Seno dalam satu tenda. Tak hanya di tenda wanita, di tenda pria juga ternyata masih belum tidur. Mereka sedang ngobrol.
"Lo beneran lihat gituan tadi Hen?" tanya Falen.
"Masak gue bohong" jawab Hendra.
"Apaan sih?" tanya Seno penasaran.
"Tuh si Mahendra lihat ada yang ngikutin Aish" kata Falen.
"Masak? Apaan memangnya Hen?" tanya Seno.
__ADS_1
"Gue lihat kayak ada cewek rambut panjang, tapi nggak kelihatan mukanya. Pakai gaun panjang warnanya juga hitam. Dan sosok itu ngikutin Aish, tapi sejauh ini gue lihat tuh sosok nggak ngelakuin apa-apa sih sama Aish" kata Hendra.
"Beneran lo? Sumpah? duh, gue jadi merinding" kata Seno yang baru tahu.
"Lo pernah dengar nggak sih, kalau kita lagi ngobrolin tentang mereka, pasti mereka datang buat dengerin apa yang kita lagi obrolin?" tanya Hendra.
"Maksud lo, dia kesini?" tanya Falen.
Hendra mengangguk "Dia ada di atas" kata Hendra masuk ke dalam jaket yang dia gunakan sebagai selimut.
Seno yang ada ditengah mereka juga ketakutan, dia memejamkan matanya meski tak bisa tidur. Calon artis itu merapalkan doa yang dia ingat, yang dia tahu.
Falen yang ada di seberang sanapun sama, matanya tertutup rapat dengan jaket yang diletakkan di kepalanya. Bule itu berdoa, dia membaca ayat kursi berulang-ulang. Bule itu hafal ayat kursi rupanya.
Lain lagi di tenda Aish, kalau dua orang cerewet bersatu, pasti sangat ramai dong. Dua wanita berbeda generasi itu sedang curhat rupanya
"Heh princess, kamu tahu nggak. Dulu tuh sebenarnya mommy pengen banget punya anak cewek. Terus mommy pengen kasih nama princess, biar kalau sudah gede beneran jadi princess kan ya. Tapi setelah Seno lahir, malah mommy nggak bisa punya baby lagi sampai sekarang. Sedih mommy tuh" kata mommy Seno.
"Masak sih mom? Memangnya kenapa sampai nggak bisa punya anak lagi?" tanya Aish.
"Pantesan, yang berinisiatif manggil princess ke Aish tuh ya si Seno itu mom. Rupanya gara-gara pengen punya saudara cewek toh" kata Aish lagi.
"Jadi, dulu tuh papinya Seno kecelakaan. Terus karena suatu hal serius, menyebabkan itunya papi nggak bisa bereproduksi lagi. Tapi karena mommy cinta setulus hati sama papi, jadi mommy selalu terima papi apa adanya" kata mommy
"Oh, gitu ya mom. Mommy pasti sedih ya?" tanya Aish.
"Sedih selalu ada, tapi meratapi kemalangan kan nggak boleh berlarut-larut ya sayang. Jadi mommy tetap bersyukur karena Allah masih mempercayai mommy untuk merawat Seno" kata mommy.
"Uwah, mommy keren. Sudah cantik, setia lagi sama papinya Seno" kata Aish. "Ternyata setiap orang diciptakan dengan masalah hidupnya masing-masing" batin Aish sambil tetap mendengarkan curhatan mommy Seno.
"Jadi, kamu mau kan anggap mommy ini kayak bunda kamu sendiri. Mommy sudah jatuh cinta sejak pandangan pertama sama kamu. Mommy yakin kamu anak yang baik" kata mommy Seno.
"Boleh dong mom, orang tuanya sahabat Aish juga sudah seperti orang tua Aish sendiri. Tapi, papi Seno kayaknya galak ya mom?" tanya Aish.
"Cuma tampangnya aja yang galak, sebenarnya papi orang yang baik kok. Kita sering ngobrolin kamu lo, papi bilang, kalau punya anak cewek pengen yang kayak kamu. Sudah cantik, pinter, rajin, soleha lagi" kata mommy.
"Aduh mom, kepala Aish jadi segede bumi" kata Aish tertawa.
"Pokoknya kalian bertiga tuh sudah mommy anggap saudaranya Seno. Kalian harus selalu kompak ya, saling menjaga satu sama lain. Mommy yakin pertemanan kalian akan langgeng sampai tua?" kata mommy Seno.
"Amin. Aish juga senang bisa berteman sama ketiga cowok rese itu mom" kata Aish.
"Yasudah, kita bobok yuk. Besok kan mau lihat sunrise" kata Mommy Seno.
"Iya mom, Aish juga sudah ngantuk" kata Aish mulai memejamkan mata.
.
.
__ADS_1
.
.