Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
scandal bintang sekolah


__ADS_3

"Lo ngerasa aneh nggak sih, bule?" tanya Aish pagi itu.


"Kenapa memangnya?" tanya Falen.


"Kok kayaknya anak yang lain ngeliatin gue ya? Atau gue yang ke GR an sih?" tanya Aish mengamati penampilannya dari ujung kaki hingga kepala.


Pagi ini Aish dan Falen sedang berjalan bersama menuju ruang kelasnya, seperti biasanya, Falen selalu berjalan sambil merangkul pundak Aish.


Tapi teman-temannya seolah sedang menatap mereka berdua. Setiap ada yang berpapasan juga pasti memberi tatapan sinis, ada yang sampai menggeleng-gelengkan kepala dengan bibir terangkat sebelah.


"Aish, coba deh lo lihat mading sekolah" kata teman sekelas Aish.


"Memangnya kenapa sama Mading sekolah?" tanya Aish.


"Ada nama lo, cepetan lo lihat dulu deh" kata temannya lagi.


"Ok deh. Makasih ya" kata Aish meneruskan langkahnya bersama Falen menuju Mading. Letak Mading ada di tengah bangunan sekolah, di dekat lapangan, agak jauh dari kelasnya.


"Rame banget yah, bule. Kira-kira ada berita apaan sih?" tanya Aish.


Waktu itupun sama, Richard yang baru datang bersama Yopi juga diberi tahu oleh temannya untuk segera melihat Mading sekolah. Katanya ada berita tentang pacarnya Richard.


Segera Richard dan Yopi menuju ke papan Mading yang ada di dekat lapangan.


Aish yang bersama Falen, datang hampir bersamaan dengan Richard yang datang bersama Yopi. Keduanya bertemu di depan mading sekolah.


"Eh, itu bukannya foto gue ya, bule?" tanya Aish yang melihat ada fotonya yang ditempel di papan mading.


"Skandal bintang sekolah" Aish membaca perlahan tulisan besar yang menjadi judul mading pagi ini.


Banyak sekali foto Aish disana, ada yang sedang bersama Falen, bersama Richard, dan yang paling utama adalah fotonya bersama dokter Siras?


Dan semua foto itu seolah Aish berpose dalam keadaan yang intim dan sangat dekat. Seperti akan berciuman.


"Siapa sih yang bikin ini semua? Lo kan ketua OSIS nih, bule. Tega banget sih anggota lo bikin yang kayak gini" kata Aish sedikit tidak terima, dia berbicara agak keras pada sahabatnya. Richard dan semua yang ada disitu bahkan menoleh padanya.


"Sumpah demi Allah, princess, gue nggak pernah tahu menahu urusan ini. Anggota gue nggak ada yang bikin kayak ginian. Apapun yang berkaitan dengan OSIS harus sepengetahuan gue. Dan gue nggak pernah tahu soal ini" kata Falen membela diri.


Sabar adalah suatu yang sulit untuk Richard lakukan, setelah melihat semua ini tentunya dia tidak terima. Apalagi dia tahu bagaimana perlakuan Siras pada Aish.


Tanpa pikir panjang, Richard mencoba membuka papan yang tertutup pintu kaca itu. Sialnya, terkunci.


Dia menoleh, "Ambilin batu itu, Yop!" kata Richard menyuruh Yopi mengambilkan batu yang ada didekat Yopi.


"Nih, buat apaan sih, Ri?" tanya Yopi.


Segera Richard menghantam pintu kaca di depannya dengan batu pemberian Yopi. Setelahnya, dia mengambil semua foto yang terpampang disana.


Richard menarik semua foto dengan paksa, lalu melempar ke arah Falen yang berdiri di sebelah Aish.


"Cari tahu siapa yang lakuin ini semua" kata Richard memerintah ketua OSIS.


Merasa ada yang terlupa, dia berbalik ke arah Falen. "Untuk kerusakan mading ini, nanti lo kasih tahu gue. Pasti gue ganti rugi" kata Richard.


Sebelum pergi, Richard sempat melihat ke arah Aish yang masih tertegun. Sebenarnya Aish ingin bilang terimaksih, tapi lidahnya seolah kelu untuk mengucapkan hal semacam itu.


Mereka hanya saling pandang sebelum Richard benar-benar pergi meninggalkan Aish.


Falen memungut kumpulan foto Aish yang telah disusun rapi dalam sebuah kolase besar.


"Bantuin beresin dong" kata Falen pada murid lain yang melihat semua kejadian pagi itu.


Beberapa murid ikut membersihkan, tapi ada juga yang malah pergi dengan pandangan kesal.


"Tega banget sih, siapa coba yang bikin kayak gini" kata Aish melepaskan satu persatu fotonya.


"Lagian kapan sih gue pernah berpose kayak gini" kata Aish lebih kepada dirinya sendiri, melihat satu per satu fotonya yang beberapa saat yang lalu menjadi bahan tontonan.


"Maafin gue ya, princess. Baru juga jadi ketua OSIS sudah ada masalah kayak gini" kata Falen yang masih membersihkan sisa kerusakan

__ADS_1


"Iya" jawab Aish singkat.


Bel berbunyi sebelum Falen dan Aish selesai dengan urusan mading. Mereka berdua sedikit terlambat memasuki kelas di jam pertama.


Beruntung mereka masih diberi kesempatan untuk mengikuti pelajaran setelah memberikan alasan yang masuk akal pada guru kelasnya.


Ting... Ting... Ting ...


"Panggilan ditujukan untuk Aishyah Khumaira dan Brian Falentino Usmany kelas 11 IPA-2, agar bisa segera datang ke ruang BP. Terimakasih atas perhatiannya"


Terdengar panggilan untuk Aish dan Falen dari pengeras suara. Yang merasa dipanggil saling pandang, sudah bisa dipastikan bahwa ini adalah kelanjutan dari kejadian pagi tadi.


"Permisi bu, Saya dan Aishyah dipanggil ke ruang BP" kata Falen meminta izin pada guru kelasnya.


"Iya, silahkan" kata guru kelas waktu itu.


Aish dan Falen mendapati Bu Kris sudah duduk di kursinya, dengan mata yang sepertinya sedang menahan emosi.


"Assalamualaikum, bu Kris panggil kita?" tanya Aish.


"Waalaikumsalam, iya. Cepat masuk" kata Bu Kris.


Aish dan Falen duduk setelah dipersilahkan, malah Bu Kris yang sekarang berdiri.


"Bisa tolong dijelaskan tentang kejadian pagi tadi? Beberapa murid sudah melapor sama saya" tanya Bu Kris.


"Maaf bu, saya juga tidak tahu kenapa bisa ada yang memasang foto seperti itu di mading sekolah" kata Falen.


"Kamu kan ketua OSIS, kenapa bisa tidak tahu ada yang memasang berita yang sama sekali tidak mendidik begitu, Brian?" tanya Bu Kris.


"Saya minta maaf untuk hal ini, tapi benar saya tidak tahu bu. Kemarin mading masih diisi berita baru, seharusnya berita diganti tiap tiga gari sekali. Dan ini masih belum waktunya diganti" kata Falen.


"Dan kamu Aishyah, kamu ini kan teladan di sekolah ini. Kenapa bisa kamu berlaku seperti itu jika berada di luar sekolah? Memalukan" kata Bu Kris.


"Saya juga tidak mengerti, bu. Semua yang ada di foto itu tidak benar. Foto itu diambil di waktu yang tepat dalam keadaan yang tidak seperti seharusnya" kata Aish.


"Saya tidak melakukan itu, bu. Sungguh, saya tidak berbohong" kata Aish.


"Lihat ini, ini kamu dengan dokter Siras loh, Aishyah. Kamu tahu kan kalau dokter ini punya andil yang cukup besar di sekolah ini, jadi seharusnya kamu hati-hati dalam berbuat dong. Jangan membuat nama sekolah kita jadi jelek hanya karena ulah satu orang yang seperti kamu" kata Bu Kris sedikit kecewa.


Aish terdiam, cobaan apa lagi ini?


"Tapi bukan salah Aish bu, dia tidak mungkin berbuat yang tidak-tidak seperti itu" kata Falen membelanya.


"Baiklah, kamu akan kami beri waktu. Buktikan kalau memang kamu tidak seperti yang di foto itu" kata Bu Kris.


Aish hanya menunduk, tidak tahu akan berbuat apa.


"Kamu tahu Aishyah, jika kamu tidak bisa membuktikannya, maka beasiswa kamu akan terancam dicabut. Pak kepala sekolah sudah mendengar semua ini, tadi beliau sepertinya sangat kecewa sama kamu" kata bu Kris yang semakin membuat Aish tidak bisa berkata apa-apa.


Melihat Aish yang hampir menangis membuat Falen tidak tega.


"Baiklah, bu. Berikan saya waktu selama satu minggu ke depan. Saya akan cari siapa orang Yang telah berbuat seperti ini. Dan akan kita tanyakan padanya apa motif melakukan ini semua pada Aishyah" kata Falen yang sudah pasti geram karena sudah menyangkut beasiswa.


"Baiklah, saya setuju sama kamu. Saya tunggu kabarnya satu minggu dari sekarang" kata Bu Kris lagi.


"Sekarang kalian boleh kembali ke kelas" kata Bu Kris.


"Baik bu. Terimakasih" kata Falen berdiri, menggait tangan Aish untuk segera mengikutinya pergi dari ruangan itu.


Aish sudah tidak bisa berkata-kata lagi, bagaimana nasib sekolahnya jika tidak ada beasiswa?


Dengan langkah gontai diapun kembali ke kelasnya. Sepanjang perjalanan ke kelas, dia hanya diam. Semakin membuat Falen merasa tidak becus, bukan hanya sebagai seorang sahabat, tapi juga sebagai seorang ketua OSIS.


"Gue janji sama lo, princess. Gue akan cari tahu siapa dalangnya, dan akan gue pastikan kalau beasiswa lo akan tetap aman" kata Falen.


Aish mendongak menatap Falen, seulas senyum dia paksakan dari bibirnya. "Makasih ya, Fal" kata Aish singkat kemudian melanjutkan langkahnya ke ruang kelas.


★★★★★

__ADS_1


"Kok bisa ya, ada yang sanggup mengambil gambar dalam posisi se absurd ini?" kata Seno di waktu makan bersama di jam istirahat mereka sambil mengamati foto-foto yang telah diambil dari mading tadi pagi.


"Gue juga nggak tahu, kenapa juga ada yang ngelakuin itu sama gue. Memangnya gue ada salah apa coba?" kata Aish.


"Tumben nggak nangis, princess?"celetuk Seno yang kemudian mendapat jitakan di kepalanya dari Falen dan Hendra.


"Aduuhh, sakit tahu. Kalian ini apa-apaan sih" kata Seno sambil mengelus kepala bekas jitakan temannya.


"Nggak tahu, mungkin stok air mata gue sudah habis" kata Aish sambil mengunyah makanannya dengan malas.


"Awas saja sampai gue tahu siapa orangnya, nggak bakalan gue kasih ampun" kata Falen geram.


★★★★★


Siang itu di jam istirahat kedua, di hari ketiga dari kasus penyebaran foto Aish.


Pelajaran yang terasa sulit dan menguras kinerja otak Reno membuat remaja berandal itu menginginkan sentuhan nikotin dari kepulan asap tembakau dan cengkeh, untuk meringankan penat di kepalanya.


Sendirian saja, dia menuju ke belakang sekolah. Tempatnya bersama Richard dan Yopi biasa merokok tanpa ketahuan siapapun. Hanya Aish dan Hendra saja yang waktu itu pernah memergoki tingkah laku mereka dulu, di awal-awal masih sekolah.


Sebenarnya mereka bertiga masih sering melakukan perbuatan itu secara diam-diam tanpa sepengetahuan Aish. Katanya Richard takut ceweknya ngambek kalau sampai ketahuan. Membuat Reno mencebikkan bibirnya setiap mendengar Richard mengeluh tentang pacar cantiknya.


Richard sedang sibuk mencari tahu dalang dari pembuat onar yang telah menyebarkan foto pacarnya. Membuat Reno semakin tidak suka pada gerombolan anak IPA yang membuat quality time nya bersama kedua temannya berkurang.


"Ribet banget punya cewek satu doang. Enakan juga jomblo kayak gue, free, bebas man!" gerutu Reno di sela kegiatan merokoknya sambil melihat konten-konten tak berguna dari ponselnya.


"Nggak Richard, nggak Yopi, punya cewek kok punya masalah melulu. Kalau gue jadi mereka nih, sudah, end, putus kalau gue mah" kata Reno masih menggerutu sendirian.


Tiba-tiba ponselnya berdering, "Richard is calling". Tulisan dari layar ponselnya yang berkedip-kedip.


..."Apaan, bego?"...


tanya Reno penuh emosi, kegiatan menonton Video nya jadi terganggu.


......"(...)"......


Tanpa menunggu kalimat selanjutnya, Reno mematikan panggilan itu. Membuat Richard di seberang sana menggeram penuh emosi.


"Masih butuh bantuan gue kan, dasar cowok-cowok tidak berguna" gerutu Reno, entahlah, rasanya seharian ini moodnya sedang buruk. Seperti cewek PMS saja.


Meski begitu, dia tidak mengabaikan temannya yang meminta tolong. Dengan kesal, dia membuang puntung rokok tinggal separuh yang masih menyala. Kemudian menginjaknya agar padam.


Selanjutnya, dia berjalan mengendap keluar dari persembunyiannya. Langkah kaki malasnya menuju ke kantin.


Tapi saat melewati gudang belakang, sayup-sayup dia mendengar orang yang sedang bercakap-cakap tapi dengan suara lirih. Seperti sedang sembunyi juga.


Karena penasaran, dia menuju gudang yang pintunya terbuka sedikit. Menandakan ada orang di dalamnya. Dia akan menguping pembicaraan mereka.


Senyumnya terukir saat melihat ada siapa disana. Dan ternyata, mereka sedang membicarakan tentang Aishyah.


"Menarik" gumam Reno sambil memposisikan ponselnya dalam mode Video.


.


.


.


.


Hayooo.... kira-kira Reno lihatin siapa ya??


Dan apa yang dibicarakan orang di dalam gudang itu?


Sebelum leave dari page ini, ayo dong di klik tombol like nya... Ditambah Vote nya...


Salam sehat❤️❤️❤️❤️


Sampai jumpa di bab selanjutnya....

__ADS_1


__ADS_2