Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
Minggu siang


__ADS_3

Merasa perkataannya tidak didengar, Aish menarik lengan pria yang berjaket putih. Entah kekuatan dari mana yang Aish dapat, sehingga dia bisa berani dan kuat untuk membuat pria itu menatap ke arahnya dan menghentikan aksinya.


"Apa-apaan sih? Lo mau bunuh orang ya?" tanya Aish setengah berteriak karena daritadi perkataannya tidak didengarkan.


Pria berjaket putih itu berdiri, dia menyeka keringat yang bercucuran. Bahkan lawannya sudah sangat tidak berdaya.


"Lo tega banget sih? Dia kan teman lo Richard" kata Aish yang sekarang berusaha menolong Yopi agar bisa duduk.


Ternyata yang berkelahi itu adalah Richard, dia sedang menghajar Yopi. Aish sungguh tidak menyangka, karena yang dia tahu Yopi adalah sahabatnya.


"Lo bisa duduk nggak?" tanya Aish, tapi Yopi hanya diam saja. Yopi masih tergeletak di pinggir jalan, tangannya yang bergerak menandakan dia masih sadar.


"Darah lo banyak banget Yop" kata Aish mulai gemetaran, tapi dia masih berusaha membantu Yopi.


Orang-orang masih sibuk dengan kegiatannya, merekam peristiwa itu tanpa ada yang membantu. Aish jadi kesal sendiri. Diapun berdiri dan memarahi orang disekitarnya.


"Kalian memang nggak punya hati. Kalau cuma mau lihat doang mending ke ring tinju saja. Bubar semua, pergi sekarang" kata Aish sambil menendang-nendangkan kakinya ke orang-orang yang berkerumun agar mereka segera bubar.


Satu persatu mereka pergi, menyisakan Aish dan dua orang didepannya. Dan satu lagi wanita yang masih menangis.


Richard masih terdiam di tempatnya, dia berdiri sambil menatap nanar pada Yopi yang sudah babak belur.


"Lo jangan diam saja dong Richard. Teman lo lagi berdarah. Tega banget sih lo mukulin Yopi sampai kayak gini" kata Aish.


"Bangun lo brengsek. Pergi sana, bawa cewek murahan lo itu pergi dari hadapan gue" kata Richard penuh emosi.


Aish teringat ada wanita di sana yang sedang menangis. Dia menghampiri wanita itu.


"Lo nggak apa-apa?" tanya Aish memegang bahu si wanita.


Aish terkejut setelah tahu bahwa wanita itu adalah Emily. "Bukannya Emily pacarnya Richard ya? Kenapa dia nangis?" tanya Aish dalam hati.


Emily memandang Aish seperti musuh, dia memalingkan wajahnya setelah tahu siapa yang ada di depannya.


"Lah, salah gue apa coba?" tanya Aish dalam hati melihat sikap yang sangat tidak bersahabat yang Emily tunjukkan.


Emily berdiri, dia tidak menghiraukan keberadaan Aish. Dia berjalan menghampiri Yopi yang sudah tidak berkutik.


"Ayo pergi dari sini" kata Emily, dia membantu Yopi berdiri dan memapahnya dengan hati-hati untuk masuk ke dalam mobilnya.


Yopi sempat memandang sekilas pada Richard yang berdiri tak bergeming di tempatnya. Sorot mata Yopi menyiratkan penyesalan yang entah karena apa. Aish juga tidak tahu.

__ADS_1


Emily yang mengemudikan mobil itu. Bahkan dia tak sedikitpun menyapa Richard, apalagi Aish. Gadis itu terlihat masih sesenggukan karena tadi Aish melihatnya menangis selama Aish ada disini.


Aish menghampiri Richard yang masih berdiri dengan penuh emosi. Tampak di wajahnya juga ada bekas pukulan. Mungkin mereka berkelahi sebelum Yopi tumbang ditangan Richard. Kalau sampai Yopi kalah dan babak belur, itu karena Richard yang ahli beladiri sejak SMP.


"Lo nggak apa-apa kan?" tanya Aish pada Richard.


Richard diam saja, dia melangkah dan duduk di trotoar jalan. Aish teringat daging ayam pesanan bundanya. Ternyata masih ada disana, untung saja tidak terinjak oleh orang-orang tadi.


Aish memungut kantong belanjaannya, dan juga botol mahal versi ibu-ibu yang ada gantungannya. Botol berisi air putih yang dibawanya dari rumah. Dia menenteng semuanya di kedua tangan, dan berjalan mendekati Richard yang masih emosi.


Aish duduk di samping Richard sambil selonjoran. Dia meminum air dari botolnya sebelum mencoba berbicara pada Richard, hanya beberapa teguk saja untuk membuat tenggorokannya tidak kering saat memulai pembicaraannya nanti.


Richard melirik botol air yang telah ditutup oleh pemiliknya. Cowok itu mengambil botol itu dan menenggak habis isinya yang tinggal separuh.


"Itu kan bekas mulut gue, apa Richard nggak jijik ya?" batin Aish memandangi Richard yang tengah menenggak minumannya.


Saat tangannya terangkat untuk membuang bekas botol air itu, sontak Aish terkejut dan memegang tangan Richard.


"Hei, jangan dibuang dong" kata Aish mengambil kembali botolnya.


"Botol murahan" kata Richard mengembalikan botol itu pada Aish.


"Enak saja, hilang gantungannya doang sudah bisa bikin bunda gue ngomel seminggu. Apalagi kalau sampai lo buang, bisa-bisa bunda nggak ngasih gue duit jajan tahu" kata Aish bersungut-sungut karena Richard meledek botolnya murahan.


"Nggak butuh, koleksi gue sudah banyak dirumah asal lo tahu ya" kata Aish.


"Lagian kenapa jadi bahas masalah botol sih" kata Aish heran.


"Lo ngapain berantem sama Yopi?" tanya Aish penasaran, dia bahkan menatap intens pada Richard yang duduk di sebelahnya.


"Gue lagi nggak mau ngomong" kata Richard masih menatap aspal jalan yang panas, rupanya hari mulai siang.


"Uwah, sudah siang ya. Gawat nih" kata Aish berdiri, die meraba-raba saku celananya. Dia melihat bahwa ponselnya kehabisan batrai.


Aish melihat pergelangan tangan Richard yang memakai jam tangan. Dia menarik tangan Richard dan melihat petunjuk waktu dari sana.


"Ya Allah, sudah jam sebelas. Bunda pasti marah nih" kata Aish bingung.


"Gue duluan ya Richard" kata Aish berlari sedikit menjauh, dia ingin mencari angkot sekarang juga. Dia berdiri di halte.


Richard melihat kedua tangan Aish yang menenteng kantong. Entah apa isinya hingga membuatnya terlihat sedikit keberatan.

__ADS_1


Tin.. Tin..


Richard mengklakson pada Aish yang ada di halte agar ikut mobilnya. Dia membuka jendela mobilnya dan menyuruh Aish masuk.


"Buruan masuk, nggak akan ada angkot" kata Richard.


Karena memang sedang terburu-buru, Aish ikut saja ke mobil Richard. Kantong kreseknya bahkan ada di pangkuannya saat ini.


"Lo mau kemana?" tanya Richard.


"Pulang lah, sudah ditungguin sama bunda" kata Aish.


Richard melajukan mobilnya, dan berputar balik saat melihat rambu yang memperbolehkan untuk putar balik.


"Loh kok putar balik sih?" tanya Aish.


"Arah rumah lo tuh yang ini, tadi lo nyari angkot di arah yang salah" kata Richard.


"Masak sih?" tanya Aish.


"Iya. Lo bawa apaan sih? bau banget" kata Richard.


"Eh, iya. Ini bawa daging ayam. Pesanan bunda gue. Mau ada acara dirumah gue nanti sore" kata Aish.


"Maaf ya jadi bau deh mobil lo" kata Aish.


Richard membuka jendela mobilnya agar udara segar bisa masuk. Rupanya dia tidak terbiasa dengan bau semacam ini.


"Muka lo juga memar loh, memangnya kenapa sih kalian bisa ribut kayak gitu?" tanya Aish memperhatikan wajah Richard yang sudah nampak membiru di beberapa sudut.


Richard diam saja mendengar pertanyaan Aish, rupanya dia masih belum mau bercerita. Aish membiarkan saja Richard diam. Mungkin masih belum waktunya dia bercerita, atau memang dia merasa tidak nyaman untuk berbagi keluh kesahnya dengan Aishyah?


"Yasudah kalai nggak mau cerita, gue nggak jadi kepo deh" kata Aish mulai terdiam dan memandang ke luar jendela.


"Lo nggak tahu rasanya dikhianati" kata Richard lirih hampir tak terdengar.


"Hah? Apa? Lo ngomong apa sih Richard? Memangnya siapa yang mengkhianati lo?" tanya Aish.


Richard kembali terdiam, dia fokus melihat jalanan untuk mengmudikan mobilnya dengan benar.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2