
Nindi menatap nanar pada pemandangan memuakkan yang tersaji di depannya. Niatnya untuk memberikan kejutan pada pujaan hatinya, malah dia sendiri yang mendapat kejutan menarik darinya.
Air matanya masih mengalir deras melihat Fahri yang kelimpungan memakai kembali pakainya yang berserakan.
Sedangkan si wanita yang tadi menungganginya pun sama. Wajah cemberutnya senantiasa menatap tajam pada Nindi yang dirasa tak punya sopan santun. Karena memasuki rumah orang tanpa permisi.
"Nindi, kamu ehm .. kamu kapan datang? Kenapa nggak hubungi aku dulu?" tanya Fahri terbata, bingung harus bagaimana.
"Jadi benar ya kak, ini alasan kamu selama ini menghindar dari aku? Kenapa kak?" dengan deraian air mata, Nindi bertanya. Sangat mengenaskan nasibnya.
"Heh, bocah kecil nggak usah ikut campur masalah orang dewasa deh. Sudah sana pergi, pulang kamu. Dicariin tuh sama mama kamu" kata wanita yang sekamar dengan Fahri tadi, mengusir Nindi yang juga menatapnya sinis.
"Lin, please. Tolong kamu tinggalin aku dulu, ya. Aku selesaikan dulu masalah aku sama dia" kata Fahri yang juga berusaha menenangkan wanitanya.
"Nggak usah, jangan usir dia kak. Biar aku saja yang pergi, maaf sudah mengganggu kegiatan kalian. Semoga kamu selalu bahagia, kak. Aku pergi, permisi" sudah tidak kuat lagi, Nindi mengalah.
Benar kata Yopi, terawangannya tentang Fahri yang susah dihubungi memang benar. Nindi harus melupakan Fahri, dan mengobati luka hatinya yang telah patah. Cinta pertamanya telah hilang, menyisakan luka yang mendalam.
Apalagi akhir penantiannya yang panjang harus mendapati belahan hatinya yang sedang bermain dengan wanita lain, bermain permainan memuakkan.
"Tunggu, Nin. Kita memang harus bicara, maafin kakak yang nggak adil sama kamu" Fahri masih sempat menahan Nindi dengan memegang tangannya. Dia tak ingin Nindi pergi dengan kesalahpahaman.
"Nggak, kak. Cukup, sudah cukup. Aku nggak kuat kalau harus melihat muka kamu terlalu lama. Nanti hati aku bakalan lebih susah buat lupain kamu" kata Nindi yang menundukkan kepalanya, masih menangis sesenggukan.
"Biarin lah, sayang. Biar saja dia pergi, kamu nggak usah nahan dia lagi deh" kata wanita itu yang juga menahan lengan Fahri.
"Oh, iya. Ini aku bawain kue kesukaan kamu, anggap aja hadiah terakhir dari aku" kata Nindi menyerahkan bungkusan serabi yang tadi dibelinya pada Fahri, tanpa mau menatap mata Fahri lagi.
"Aku pergi kak, terimakasih atas pengalaman luar biasa yang kakak kasih ke aku. Karena kakak, aku tahu rasanya jatuh cinta. Cinta pertamaku buat kakak" Nindi menjeda kata-katanya, sedikit meraup oksigen untuk menguatkan dirinya.
"Dan karena kakak juga aku tahu rasanya patah hati untuk yang pertama kalinya juga. Makasih kak" Nindi pergi, dia sudah tidak kuat melihat wajah Fahri.
"Nindi, tunggu" Fahri berteriak, ingin menahan Nindi yang berlari keluar rumahnya.
Beruntung Nindi sudah berada diatas motornya saat Fahri keluar dari rumahnya. Langkah kakinya sedikit tertahan untuk mengejar Nindi karena dia di hadang oleh ibu-ibu yang tadi Nindi tanyai saat datang.
"Loh kok nangis, nduk? Kamu korbannya Fahri lagi, ya?" tanya ibu itu saat melihat Nindi yang masih berair mata.
"Ndak kok bu, kak Fahri itu saudaraku. Yasudah, saya permisi dulu ya bu" kata Nindi yang menjalankan motornya dengan sedikit cepat. Dia tak mau lagi bertemu dengan Fahri.
"Aaaahhhhhh" teriak Nindi dari atas motornya.
Berharap bisa mengurangi sesak di dadanya karena pemandangan tak lazim yang baru saja dia temui.
Nindi menghentikan laju motornya, duduk di trotoar dan kembali menumpahkan air mata kesedihannya. Agar nanti setelah sampai dirumah budhenya, sudah tak ada lagi sisa air mata yang pasti membuat orang lain bertanya masalahnya.
Ya, Nindi dan Fahri tak memberitahu siapapun perihal kedekatan mereka.
Setelah merasa cukup, dan sudah tak ada lagi air mata yang tersisa. Nindi bergegas pulang, dia sudah memutuskan untuk kembali ke Jakarta saja.
"Assalamualaikum" kata Nindi setelah sampai di rumah budhenya.
Tak ada jawaban, sepertinya semua orang sedang berada di rumah pak leknya. Mereka semua sedang rewang.
Nindi bergegas ke kamarnya, merapikan kembali barang bawaannya yang untung saja tak seberapa, hanya satu tas ransel saja.
Setelah beres, Nindi menulis di secarik kertas. Berharap nanti adiknya menemukan tulisannya agar orang rumah tak kebingungan saat tak mendapati Nindi di rumah.
"Selamat tinggal masa lalu, semoga aku bisa segera mengobati hatiku yang terluka" gumam Nindi.
Dia sudah siap untuk ke terminal, dengan bantuan ojek online yang sudah dipesannya. Untung saja Nindi membawa cukup banyak uang. Niat awalnya akan digunakan untuk membelikan banyak oleh-oleh, tapi semuanya gagal.
"Atas nama mbak Nindi?" tanya tukang ojek yang baru tiba di depan rumahnya.
"Iya, pak" kata Nindi.
Setelah memakai helm dengan baik, tukang ojek itu mulai menjauh dari rumah budhe Nindi.
Semakin jauh, semakin Nindi tak bisa melupakan kejadian tadi. Dasar wanita! Bisanya terus-terusan menangis meski sudah daritadi dia menumpahkan air matanya.
"Neng cantik kok nangis sih? Lagi galau ya, neng?" tanya tukang ojol, niatnya untuk menghibur hati penumpangnya.
"Iya mas, lagi galau akut aku. Jangan ditanya-tanya ya, nanti aku minta dibelikan balon lho" jawab Nindi asal.
Tapi tukang ojek itu beneran berhenti, dan membelikan sebuah balon yang ada di pinggir jalan untuk Nindi.
"Nih, neng. Jangan galau lagi, ya" kata tukang ojek itu tulus.
"Loh, mase kok baik banget toh. Aku cuma bercanda lho" kata Nindi tak percaya, masih ada orang baik seperti itu.
__ADS_1
"Adikku juga suka nangis kayak neng cantik ini kalau sedih. Dan mintanya juga aneh-aneh, kadang minta balon, kadang minta permen kapas. Padahal sudah SMA" kata tukang ojek itu sambil mengemudikan motor.
Nindi tersenyum mendengar cerita tukang ojek itu. Entah benar atau tidak, Nindi hanya berusaha menghargai lawan bicaranya.
Gadis itu menghela napas kasar, harapannya agar bisa secepatnya melupakan Fahri yang merajai hatinya selama hampir empat tahun. Meski jarang berjumpa, tapi rasa cintanya sangat besar.
"Sudah sampai, neng. Hati-hati dijalan ya, semoga selamat sampai tujuan" kata tukang ojeknya sebelum pergi.
"Makasih ya mas sudah dibelikan balon" kata Nindi sambil melambaikan tangannya.
"Wahai balon, terbangkanlah kesedihanku setelah aku lepaskan kamu. Balon, bawalah kesedihanku bersamamu" kata Nindi yang melepaskan balon itu ke udara, di tengah ramainya terminal.
Nindi masih mengamati balon yang baru saja diterbangkannya, dia melihatnya hingga balon itu terbang jauh.
Setelah lega, Nindi meneruskan langkahnya. Dia akan pulang, melupakan masa lalunya.
Hari sudah sore, menjelang maghrib saat Yopi menghubungi nomor Nindi.
"Iya, ada apa Yop?" tanya Nindi, sedikit tidak semangat saat menyapa kawannya itu.
"Lo lagi bete ya? Nggak semangat banget suara lo" tanya Yopi dari seberang telepon.
"Iya nih" jawab Nindi singkat.
"Kapan pulang, kangen gue sama lo" kata Yopi.
"Ini lagi perjalanan pulang" jawab Nindi.
"Ngaco, katanya masih lama acaranya?" tanya Yopi lagi.
"Iya, aku pulang duluan" kata Nindi, malah teringat lagi dengan Fahri yang menduakannya.
Nindi kembali terisak, beruntung dia duduk sendirian. Jadi tak ada yang tau kalau dia sedang menangis.
"Loh, kok lo nangis sih, Nin? Lo kenapa?" tanya Yopi khawatir.
"Aku sudah pulang, Yop. Aku beneran pulang, aku ndak mau lama-lama disana" kata Nindi dengan isakan kecil dari mulutnya.
"Lo tenang ya Nin, sekarang lo pelan-pelan jelasin sama gue. Ada apa?" tanya Yopi dengan nada yang jelas sangat khawatir.
"Aku sudah di bus, Yop. Aku pulang sendiri" kata Nindi.
"Aku naik bis, Yop. Turunnya ya di terminal dong" kesal Nindi.
"Oh, iya. Sampek jam berapa nanti? Biar gue jemput lo" kata Yopi memaksa.
"Masih lama, Yop. Paling jam satu malam nanti baru sampai. Aku pesan ojol saja deh, kamu ndak usah jemput" kata Nindi.
"Jangan dong, bahaya. Biar gue jemput lo ya. Nanti gue tungguin di terminal, jam satu gue sudah stay di terminal ya. Lo jangan pesan ojol, pokoknya" Yopi memaksa Nindi untuk menunggunya.
Bahaya memang seorang gadis secantik Nindi yang sedang galau harus sendirian di terminal.
"Iya, terserah kamu saja. Sudah ya, Yopi. Aku mau tiduran dulu, capek banget rasanya hati dan badanku ini" kata Nindi yang sedang malas berbicara.
"Iya, lo hati-hati ya. Jangan dekat-dekat sama orang asing yang sok kenal sama lo selama di perjalanan" kata Yopi memperingatkan Nindi.
"Iya, Yopi bawel. Dadah Yopi" kata Nindi sembari mematikan ponselnya.
Nindi butuh waktu sendiri. Dia akan menenangkan hatinya.
Sementara Yopi hanya bisa melihat layar ponselnya yang menggelap setelah sambungan teleponnya terputus beberapa saat yang lalu.
★★★★★
"Kenapa sih, Yop? Kayak orang kebingungan gitu" tanya Aish yang melihat Yopi sering sekali melihat jam tangannya.
"Nggak apa-apa kok, Sya. Lo lihat Richard nggak?" tanya Yopi mengalihkan perhatian Aish yang daritadi selalu saja melihat gerak-geriknya.
"Ada tuh, di dapur. Daritadi gangguin orang lagi kerja. Tegur sana, lo kan atasan kita Yop" kata Aish yang memang daritadi terus saja di ikuti oleh Richard saat bekerja.
"Oh, jadi itu alasan lo jarang masuk ke dapur? Emangnya gangguinnya sudah level apa?" goda Yopi.
"Tau ah, males gue diikutin mulu" kata Aish yang lebih memiliki stay di depan. Menangani pesanan pengunjung, dan membersihkan meja.
"Kalian tuh pasangan yang aneh, bentar-bentar berantem, bentar-bentar baikan, bentar-bentar nangis" kata Yopi, berdiri di sebelah Aish yang sedang mengelap meja.
"Daripada elo, punya pasangan nggak dicariin. Weekk" ejek Aish dengan menjulurkan lidahnya, mengejek Yopi seperti anak SD.
"Gue nyariin kali, Sya. Cuma lagi belum ketemu aja. Kalau sudah ketemu, gue kekepin, nggak bakalan gue bolehin pergi meski cuma satu centi dari samping gue" kata Yopi, kali ini pasti Aish sedang membahas Emily.
__ADS_1
"Ngemeng doang, buktiin dong" kata Aish yang pergi meninggalkan Yopi, dia beranjak ke dapur. Akan menaruh alat pembersih, lupa juka ada Richard didalam sana.
"Ra, sini deh" panggil Richard yang terlihat sedang bersama chef cafe.
"Nggak mau, eh Richard. Lo kok nggak pernah ngunjungin studio musiknya sih?" tanya Aish, berharap Richard mau pergi dari dapur.
Bagaimanapun, setiap karyawan pasti akan merasa canggung jika saat bekerja malah ditunggui oleh atasannya. Begitupun Aish, inisiatifnya menyuruh Richard pergi agar mereka lebih leluasa untuk bekerja dengan tenang.
"Lo ngusir gue? Suka-suka gue dong mau ada dimana" kata Richard merasa tak terima.
"Hengmh... Iya, terserah lo deh pak bos" kata Aish ingin pergi, kembali tangannya di tahan oleh Richard.
"Ra, gue serius. Lo jangan pernah tinggalin gue ya. Kejadian tadi sore, itu jangan pernah terulang lagi, ya" kata Richard yang daritadi masih saja membahas masalah itu, tentunya setelah chefnya pergi.
"Iya, tapi bisa nggak jangan nongkrong di dapur?" tanya Aish, masih berusaha membuat Richard pergi dari dapurnya.
"Bilang dulu, Richard I Love You, coba. Bisa nggak lo bilang gitu?" goda Richard.
"Ogah, dimana-mana yang nyatain cinta itu ya cowoknya dulu. Masak lo nyuruh gue sih?" kata Aish.
"Oke. My Khumaira, My love is only for you forever and ever" kata Richard, membuat Aish terkikik geli.
"Sekarang, lo harus bales" kata Richard setengah memaksa.
Aish mengambil sesuatu dari kantong celemek yang dipakainya, saat tangannya terlulur keluar, ternyata Aish mempertemukan ujung jari telunjuk dan jempolnya.
Membuat simbol love dengan ujung jarinya, lalu mengangkatnya tinggi hingga sebatas wajah Richard. Dan membalas perkataan Richard.
"Love you too, Hutama. hihihihihi" jawaban Aish sambil terkikik geli dengan perbuatannya sendiri.
Richard memegang dadanya seolah terkena serangan jantung, "Tolong, Ra. Jantung gue sakit" kata Richard membuat Aish sedikit panik.
"Hah, beneran sakit? Yang benar Richard, jangan bercanda deh" kata Aish yang ikut memegangi dada Richard.
"Jantung gue rasanya mau copot, Ra" kata Richard sambil menggenggam tangan Aish yang berada di dadanya.
"Richard, ih... Gue kira beneran sakit" kata Aish sambil menarik tangannya.
"Ups, sorry. Gue kira lagi nggak ada orang" kata Ilham dengan senyuman mengejek pada Aish yang di kelabuhi Richard.
"Diem, Ham" kata Aish sewot.
Baru kali ini Richard sukses membuat Aish malu. Dan Ilham suka melihat kedua orang di depannya ini terlihat akur.
Richard berlalu pergi setelah mengedipkan sebelah matanya pada Aish tanpa Ilham ketahui. Membuat pipi Aish menampilkan rona merah alami.
"Terus saja godain bos kerjaanya" Santi berkata sambil membawa nampan berisi pesanan makanan.
Rupanya Aish sedang satu shift dengan Santi kali ini. Orang yang diam-diam tidak menyukai Aish.
Aish dan Ilham mengendikkan bahu, lalu mereka berjalan keluar dari dapur bersama. Diluar dapur, masih nampak Yopi yang gelisah.
"Lo kenapa sih, Yop. Sumpah kelihatan banget muka lo kalau lagi galau" kata Aish yang sudah mendekat pada Yopi.
"Nggak apa-apa, sudah sana. Kerja, jangan gangguin gue" kata Yopi, tak tahu jika Aish yang bertanya.
"Oh, oke" kata Aish berlalu, dia mengerti jika Yopi butuh waktu sendiri.
Yopi menoleh untuk melihat lawan bicaranya, sedikit terkejut karena melihat Aish yang berlalu. Dia jadi menyesal karena membentaknya tadi.
Disana, Santi merasa senang karena akhirnya Yopi memarahi Aish yang dinilainya sok cari perhatian.
.
.
.
.
.
.
jangan pelit2 ya pembacaku yang Budiman, klik like itu semudah menarik nafas loh...
Kalau ngetik komentar itu membuat saya lebih bersemangat menulis.
kirim vote Alhamdulillah, kasih gift luar biasa...
__ADS_1
Dukungan para pembaca sangat berarti bagi saya...❤️❤️❤️❤️