
Disini senang, disana senang
Dimana-mana hatiku senang
lalala lalalala
lalalalalalala lalala lalalala lalalala
Para murid SMAN 72 bernyanyi layaknya anak TK di perjalanan menuju tempat mereka untuk camping.
Tawa riang membumbui perjalanan mereka agar tidak terasa membosankan.
Aish dan Nindi duduk di bangku yang sama. Dibelakangnya, Yopi duduk bersama Reyhan.
Ada tujuh bus yang dijadikan alat transportasi untuk perjalanan camping di siang menjelang sore ini. Tiga bus milik SMAN 72 sendiri, sedangkan empat lainnya didapat dengan menyewa.
Perjalanan cukup lama, karena selain jauh juga ini adalah week end. Banyak yang ingin berlibur bersama keluarganya masing-masing. Membuat jalanan menjadi macet tak beraturan.
"Kamu ndak merasakan lapar kawan? Ndak pingin makan camilan?" tanya Nindi yang melihat Aish hanya diam dan menikmati musik dari ponselnya melalui earphone yang dia gunakan.
"Eh, apa Nin?" tanya Aish kaget, Nindi sedang mengguncang lengannya.
"Makan camilan yuk, kamu bawa apa?" tanya Nindi yang mengeluarkan sekantong makanan ringan yang dia bawa.
"Boleh, gue nggak bawa banyak camilan sih" kata Aish yang juga mengeluarkan kantong camilannya.
Mendengar Aish akan menyemil, Yopi mengulurkan sebuah kantong dari tempatnya duduk.
"Apa sih Yop?" tanya Aish yang daritadi sedikit mendiamkan Yopi. Dia masih kesal saat melihatnya berkelahi dengan Richard kemarin.
"Titipan dari pacar lo" kata Yopi.
Aish menerima kantong dari Yopi, ternyata juga berisi banyak makanan untuknya.
"Uwah, kita makan yuk. Daripada bengong" kata Nindi mulai mengunyah.
"Kamu kenapa sih? Daritadi aku lihat seperti lagi sebel gitu" tanya Nindi.
"Nggak apa-apa, Nindi. Cuma lagi males aja. Aku tidur saja deh, nanti bangunin ya kalau sudah sampai" kata Aish. Dia memejamkan matanya sambil senderan.
Kemacetan parah yang berhasil dilalui oleh rombongan murid yang mau camping, membuat mereka kemalaman saat sampai di tempat tujuan.
"Aish, bangun. Sudah sampai" kata Nindi.
"Ehm .. Hoam .." Aish menggeliat dan menguap sebelum benar-benar membuka matanya.
"Sampai ya? Malam banget kayaknya" gumam Aish sambil merapikan hijab dan merapatkan jaketnya.
"Iya, tadi macet banget jalannya. Baru sampai jam tujuh ini" kata Nindi bersiap turun dari bus.
Yopi berdiri dibelakang Aish, senyum simpul dari bibirnya menyiratkan perdamaian yang sejati. Tapi Aish masih ogah membalas senyum.
"Senyum itu ibadah tau. Cantik lo berkurang kalau cemberut terus" goda Yopi.
"Bodo amat, gue lagi sebel sama lo" kata Aish.
"Salah gue apa coba?" tanya Yopi yang masih berdiri dibelakang Aish, berjalan sedikit demi sedikit untuk menuruni bus.
"Lo ngapain ngasih tahu Richard tentang video itu?" tanya Aish.
"Bukan gue kok, sumpah. Gue juga nggak tahu ada video semacam itu" kata Yopi.
"Benar bukan lo? Terus siapa dong?" tanya Aish tak mempercayai ucapan Yopi.
"Mana gue tahu, tuan putri" kata Yopi.
"Video apa sih?" tanya Nindi.
"Film pendek waktu Aish nolongin Mike beberapa bulan yang lalu" jawab Yopi.
"Oh, video itu memang sering timbul tenggelam di sosmed loh, terutama di grup sekolah kita. Kalian ndak pernah lihat ya? Aku sendiri lupa mau kasih tahu kamu, Aishyah" kata Nindi.
"Masak sih, Nin? Memangnya siapa yang upload?" tanya Aish.
"Ndak paham sih aku kalau pelakunya, cuma aku pernah lihat" kata Nindi.
Mereka berbincang sambil berjalan menuruni bus untuk berkumpul bersama murid yang lainnya.
"Baiklah, semuanya sudah kumpul?" tanya pak Bagyo, pembina pramuka.
"Sudah pak" jawab para murid kompak.
"Kita akan bentuk tim ya, tiap tim diisi oleh delapan orang. Empat laki-laki, empat perempuan. Karena lebih banyak stok perempuan, nanti akan ada yang kebagian cuma dua laki-laki saja" kata Pak Bagyo melalui pengeras suara yang biasanya digunakan oleh para pendemo.
"Pembagian timnya acak, ya. Saya dan bapak ibu guru yang lain sudah membuatkan tim untuk kalian sejak kemarin" kata Pak Bagyo yang mendapat sambutan tidak menyenangkan dari para muridnya.
"Kenapa nggak pilih sendiri sih pak anggota timnya?" tanya seorang murid mewakili isi hati teman-temannya.
"Maksud bapak mengacak anggota tim itu agar terjalin kekompakan dan persaudaraan diantara kalian. Jadi kalian bisa saling mengenal dan kompak".
"Itu susunan timnya sudah ditempel disana, silahkan kalian lihat sendiri siapa yang menjadi anggota dalam tim kalian" kata pak Bagyo.
__ADS_1
Para murid berhambur untuk melihat tim mereka masing-masing.
"Asyik, aku masih satu tim sama kamu" kata Nindi memeluk Aish dengan senang hati.
"Siapa saja tim kita, Nin?" tanya Aish.
"Nindi, Aishyah, Kumala dan Elok yang cewek".
"Untuk cowoknya Ferdi, Reyhan, Adit dan Mike" kata Nindi membacakan nama-nama anggota tim mereka.
"Bentar deh, Mike masuk tim kita?" tanya Aish tidak percaya.
"Iya, Adit juga masuk dalam tim kita, dia itu anak buahnya Mike yang setia. Kamu keberatan ya?" tanya Nindi.
Aish mendesah, untuk merasa keberatanpun dia bisa apa?
"Kita beda tim, Sya. Lo jaga diri baik-baik ya" kata Yopi seolah bersedih.
"Cg, bodo amat lah. Yuk kita ngumpul disana lagi, Nin" ajak Aish menarik tangan Nindi.
Yopi masih berusaha mengikuti kemanapun Aish pergi. Tak memperdulikan sama sekali penolakannya sejak tadi.
"Baiklah anak-anak, biar tidak kemalaman, kalian langsung saja mendirikan tenda dan silahkan berbaur dengan tim kalian".
"Perlu diingat, tenda laki-laki dan perempuan harus dipisah ya. Boleh berdekatan karena memang satu tim, tapi jangan sampai tidur di tenda yang sama" kata pak Bagyo yang mendapatkan riuh tawa mengejek dari anak muridnya.
"Nanti kami akan mengecek tenda kalian dan para penghuninya, setelah selesai urusan tenda, kita berkumpul di lapangan untuk acara api unggun dan akan kami sampaikan susunan acara selama kita disini".
"Sekarang, silahkan kalian dirikan tenda masing-masing" kata pak Bagyo membuyarkan barisan siswanya.
Mereka mencari anggota tim masing-masing, kemudian bersama mencari tempat untuk mendirikan tenda.
"Kita bangun tenda disana saja ya, lebih dekat dengan para pembina agar lebih mudah untuk kontrol tugasnya juga" saran Mike yang selalu tampil kharismatik saat menjadi ketua.
Semua anggota timnya setuju saat Mike disarankan menjadi ketua regu mereka.
"Iya, kita setuju" kata anggota tim lainnya.
Mike mencuri pandang pada Aish yang sejak tadi hanya diam tak memperdulikannya.
Aish berbaur dengan anggota tim putri, mendirikan tenda bersama.
Pengalaman pertamanya bercamping malah dihadiahi seorang ketua tim yang sangat ingin dihindarinya.
Satu jam berlalu, sekarang semua murid berkumpul berdasarkan regu masing-masing dan duduk melingkari api unggun.
Melihat ke sekitarnya, Aish hanya mendapati hamparan yang sangat luas. Seperti padang savana yang di sebelah kiri berupa jurang yang terlihat hitam di kegelapan malam.
Ada tiga sekolah yang melangsungkan camping malam ini. Satu diantaranya adalah SMAN 72.
Luasnya padang savana ini mampu menampung banyaknya murid yang membentuk tiga kelompok besar berdasarkan sekolah masing-masing.
"Kita kasih nama tim kita apa?" tanya Mike membuyarkan lamunan Aish.
Semua tim juga sama, saling berdebat nama tim yang mereka anggap cocok.
Yopi sendiri berada di sebelah tim Aish, dia selaku ketua timnya selalu berusaha untuk tidak jauh-jauh dari keberadaan Aish. Seperti titah tuan muda Richard.
Sedikit menyusahkan memang, tapi Yopi bisa apa? Dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga tuan putrinya yang sedang bertengkar dengan tuan muda.
Acara api unggun dilakukan dalam suasana santai, mengingat perjalanan mereka yang melelahkan ditambah pendirian tenda. Sekarang mereka masih ingin bersantai sebelum melakukan serangkaian acara esok hari.
Aish dan beberapa murid yang lain memilih untuk melakukan solat isya terlebih dahulu sebelum melanjutkan acara api unggun.
Dia bertemu Ilham di tempat wudhu. "Lo kemarin kenapa, Sya? Ada masalah ya?" tanya Ilham.
"Nggak apa-apa kok, Ham. Gue wudhu dulu ya" kata Aish berusaha menghindari pertanyaan Ilham.
Setelah isya, Aish berbaur dengan teman-teman-temannya lagi. Bersenang-senang sambil bernyanyi mengelilingi api unggun.
Senyumnya mulai terbit, Aish terhibur dengan tingkah konyol teman-temannya. Mike suka melihat Aish kembali ceria.
Pukul sepuluh malam, semua murid sudah diharuskan memasuki tenda masing-masing dan beristirahat.
Karena besok mereka akan dibangunkan untuk menghadapi serangkaian acara yang menyenangkan.
★★★★★
"Bangun... Bangun... Bangun..." teriak kakak pembina membangunkan seluruh murid dengan paksa.
Seperti baru saja memejamkan mata, para murid sudah diharuskan mengikuti acara pagi.
"Ayo semua kumpul dulu di depan tenda" kata kakak pembina.
Melihat ke arah jam tangannya, rupanya masih jam tiga pagi. Pantas saja mata Aish masih terasa sangat lengket. Dia baru bisa memejamkan matanya lewat tengah malam.
Dia dan anggota regu lainnya terlibat pembicaraan seru sebelum tidur. Membuat mereka harus dipaksa tidur oleh kakak pembina yang menyadari adanya murid yang belum istirahat.
"Aku ngantuk banget, Aish... Ya ampun, rasanya mataku ada lemnya" kata Nindi yang tangannya memegang mukena dan gayung yang berisi perlengkapan mandi. Tak lupa handuk kecil tersampir disalah satu bahunya.
"Sama, Nin. Gue juga ngantuk banget" kata Aish.
__ADS_1
"Kalian bersiap-siap dulu ya, yang mau mandi boleh. Yang cuma cuci muka juga boleh. Ada sungai yang sudah pasti aman di sebelah sana".
"Ingat, ada batas yang tidak boleh dilewati. Ada semacam sekat yang membatasi tempat para siswa dan siswi. Silahkan kalian bersiap, waktunya sampai jam empat, nanti kalian ditunggu di lapangan. Kita solat subuh berjamaah dulu ya" kata kakak pembina.
Aish dan Nindi berjalan bersama menuju sungai. Saat menceburkan kaki ke dalamnya, bahu Aish bergidik karena rasa dingin yang menjalar hingga ke ubun-ubun.
"Ah, segarnya .. Kamu mau mandi, Aish?" tanya Nindi.
"Enggak Nin, dingin banget. Cuci muka aja deh terus wudhu" kata Aish.
"Aku juga sama deh, nanti siang saja ya atau sorean gitu kalau ada waktu kita mandi" kata Nindi.
"Iya, gue setuju sama lo" kata Aish memulai ritual paginya bersama teman-temannya.
Tak sampai satu jam, hanya dua puluh menit waktu yang Aish butuhkan untuk cuci muka dan berwudhu.
Sekarang dia dan Nindi sudah duduk bersebelahan diatas sajadah yang terbentang. Mengenakan mukena parasut, mereka berdua terlihat berdzikir sebelum melakukan solat berjamaah.
Terdengar seseorang melantunkan adzan, suaranya merdu dan lantang. Menandakan waktu subuh telah datang.
"Bukannya itu Mike ya, Aish?" tanya Nindi menunjuk seseorang yang sedang berdiri mengumandangkan adzan dengan khusuk.
"Eh, iya. Mike yang sedang adzan ya" kata Aish tidak percaya.
Don't judge the book by it's cover, pepatah yang ternyata benar adanya. Dibalik sifat Mike yang arogan dan nakal, ternyata memiliki suara yang indah saat melantunkan adzan.
Pak Bagyo mengimami solat subuh pagi ini, setelah solat mereka masih berdzikir bersama dan melantunkan doa selamat, agar semuanya selamat saat melakukan kegiatan camping sampai pulang nanti.
Pukul lima pagi, matahari masih malu-malu untuk menampilkan diri. Suasana pagi yang petang dan dinginnya udara pegunungan, tak menyurutkan niat para murid untuk melanjutkan aktivitas mereka.
"Berkumpul sesuai kelompok" perintah pak Bagyo.
Dengan mengenakan seragam olahraga, para murid berbaris rapi sesuai kelompok. Laki-laki didepan, perempuan di belakang.
"Sekarang, kita akan sarapan dulu sebelum beraktivitas ya. Silahkan membagi tugas untuk menyiapkan sarapan di masing-masing kelompok. Pakai api unggun ya untuk memasak makanan kalian" kata Pak Bagyo.
"Baiklah, silahkan menuju ke depan tenda pada masing-masing tim. Balik kanan bubar, jalan!" kata Pak Bagyo yang dipatuhi oleh semua murid.
Mereka menuju ke masing-masing tenda untuk memasak sarapan.
"Kita harus bikin api unggun ya Mike? Nggak ada yang bawa kompor" tanya Elok.
"Iya, tadi pembina sudah bilang kalau acara masak memasak memang harus bikin api sendiri dari kayu" kata Mike.
"Terus, kita harus cari kayu dulu dong? Pagi-pagi gelap gini, Mike?" tanya Adit.
"Iyalah, bagi tugas. Siapa yang siapin bahan masakan, siapa yang cari kayu" kata Mike.
"Mendingan kita semua berpencar buat cari kayu dulu, Mike. Semakin banyak yang mencari, semakin cepat juga kan terkumpulnya. Setelah kita cari kayu, baru kita sama-sama memasak. Bagaimana?" tanya Nindi.
"Ide lo bagus juga, yang lainnya setuju kan?" tanya Mike.
Semua mengangguk, mereka setuju dengan ide Nindi.
"Oke, kita berpencar cari kayu ya. Jangan sendiri-sendiri, bahaya. Jadi kita berpasangan dua orang, berjalan berlawanan arah agar lebih mudah mengumpulkan kayunya. Dua puluh menit dari sekarang, kita kumpul lagi disini" kata Mike memberi perintah.
"Jangan lupa untuk membawa senter, jam tangan dan kompas, agar nanti nggak ada yang tersesat".
"Sekarang, kita tentukan pasangannya" kata Mike.
"Aku sama Aish dong" kata Nindi.
"Gue sama Elok" kata Kumala.
"Gue bareng Reyhan" kata Ferdi.
"Oke, jadi gue bareng Adit ya. Ingat, kita harus kerja sama. Jangan ada yang sendiri-sendiri" kata Mike mengingatkan anggotanya.
"Siap" jawab anggotanya kompak.
"Segera lapor kalau ada kejadian yang tidak diinginkan. Kita berpencar sekarang" kata Mike. Dia mulai berjalan memasuki area hutan lindung yang masih jarang dimasuki manusia.
Hutan itu cukup aman, karena sejauh ini masih belum ada laporan mengenai manusia hilang ataupun diserang hewan buas saat melintasi hutan itu.
Banyak jurang yang tersebar di beberapa titik di sekitar lokasi perkemahan. Jurang yang landai, seperti bangunan terasering yang suka disulap menjadi lahan pertanian oleh para petani lereng gunung.
Hanya saja, terasering alami pada jurang disekitar hutan itu terbentuk dari bongkahan batu dan pepohonan yang tumbuh sangat tinggi dan besar.
"Lihat nih Mike, gue bawa apaan" kata Adit mengeluarkan sebuah benda dari dalam bajunya.
Sempat-sempatnya anak nakal itu membawa barang seperti itu disaat seperti ini.
"Lo mau ngapain?" tanya Mike sedikit tidak suka.
Adit tersenyum menyeringai.
.
.
.
__ADS_1
.