Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
oh mama


__ADS_3

"Bik, tolong siapkan kamar di sebelah kamarku ya." Richard memerintahkan seorang art nya untuk menyiapkan kamar, karena dia yakin jika sore ini juga Aish akan menempatinya.


"Mau ada yang nginep, den?" tanya artnya.


"Iya, jadi rapikan sebaik mungkin. Beri sprei motif bunga dan pilih warna biru, dia suka sekali warna biru" sambil tersenyum Richard membayangkan Aish yang suka warna biru.


Artnya turut tersenyum, dia turut gembira melihat tuan mudanya bahagia.


"Buat teman special ya, den?" tanya art itu lagi.


Richard meliriknya tajam, art itu menunduk. Merutuki kesalahannya yang terlalu ikut campur.


Tapi beberapa detik kemudian, Richard mengubah raut wajahnya dengan senyuman.


"Bibik mau tahu saja" katanya.


Membuat art itu bernafas lega, dia pikir Richard akan marah.


"Mama kemana, bik?" tujuannya pulang juga untuk memberitahu mamanya kalau sore ini Aish akan menempati kamar dirumahnya.


"Tadi bibik lihat, nyonya sedang membaca di dekat kolam renang, den" jawab artnya.


"Oh, iya. Makasih bik" Richard berlalu meninggalkan artnya untuk mencari keberadaan sang mama.


Lagi-lagi, bibir art itu tersenyum karena Richard sudah sangat berubah. Tidak sekaku dulu.


Langkah Richard terhenti saat melihat mamanya sedang menikmati segelas coklat hangat dengan sebuah buku tebal ditangannya.


Kacamata baca menghiasi wajah cantik wanita katurunan Jepang yang rambutnya tergerai indah.


Mamanya terlihat sangat serius ketika membaca.


"Tumben mama dirumah?" tanya Richard mendekat, ikut duduk dikursi sebelah mamanya.


Dia mencomot sepotong kue dengan selai stroberi, memakannya sambil menunggu sang mama menyahuti obrolannya.


"Iya, papa kamu sedang tidak ada perjalanan dinas ke luar kota. Jadi, mama bisa bersantai sekarang" mamanya menutup buku setelah menaruh pembatas. Dan meletakkan buku itu di atas meja.


Lalu memandang heran pada anak bungsunya. "Tumben kamu mau ajak mama ngobrol?" dahi mamanya mengernyit, hanya diajak ngobrol oleh Richard, beliau menganggap itu sebagai hal yang aneh.


"Mama nggak suka ngobrol sama Richard?" tanya Richard, dia masih belum menghabiskan kuenya.


"Ya tumben banget. Mama terlalu sibuk ikut kegiatan papa, sampai tak punya waktu untuk anak-anak mama. Lihat saja, kamu sudah sebesar ini. Tapi bukan mama yang mengasuh kalian" sedikit rasa sesal menghinggapi hatinya, andai waktu bisa terulang.


"Sudahlah, ma. Yang penting semua baik-baik saja. Oh iya ma, teman yang Richard ceritakan kemarin, rencananya mau datang sore ini. Mama beneran kan mengizinkan dia tinggal disini?" kini pandangan Richard sangat serius.


"Tentu, tapi kamu juga ingat kan konsekuensinya? Kamu harus belajar bisnis di perusahaan papa" kata mamanya mengingatkan.


"Iya, Richard nggak lupa" kata Richard, dia memandang ke arah kolam setelah mengatakannya.


"Apa yang membuat kamu sangat tertarik dengan gadis itu, Richard? Padahal mama bisa saja mencarikanmu gadis lain yang lebih segalanya daripada dia" serius, mamanya sangat penasaran.


Richard menunduk, matanya terpejam untuk membayangkan sosok cantik Aishyah yang entah mengapa sudah menjadi ratu dalam hatinya.


Sebenarnya tidak alasan khusus yang membuat Richard sangat menyayangi Aishyah.


Saat ditanya seperti ini, diapun bingung akan menjawab apa.


"Richard juga tidak tahu, ma. Tiba-tiba saja dia hadir dalam kehidupan Richard. Padahal memang sebelumnya, bukanlah gadis seperti Aishyah yang menjadi tipeku" Richard bingung, harus seperti apa menjelaskan perasaannya.


"Jadi, kenapa bisa dia yang menjadi pacar kamu?" mamanya masih penasaran.


"Dia itu berbeda, ma. Dia bisa menjadi gadis yang tegar dan manja dalam satu waktu. Saat dia kehilangan kedua sosok orang terpenting dalam hidupnya, dia bisa rela didepan semua orang, tapi menjadi rapuh saat sendiri" kata Richard mengingat saat bunda dan kak Alif dikebumikan.


"Dia mengajarkan banyak hal buatku, ma. Dia itu satu-satunya orang yang berani memarahi Richard" seketika mamanya menoleh, pandangannya fokus pada sang anak.


"Dia memarahi kamu?" mama Richard sungguh heran kali ini, biasanya Richard yang suka marah pada orang lain.


"Iya, bahkan dia sering melakukan itu, ma. Tapi, dibalik kemarahannya pasti selalu ada hal yang dia lindungi" ungkap Richard mengenang saat pertama kali dia bertemu Aish ketika sedang membully Seno.


"Oh, bagus dong. Memang kamu yang salah, pantas saja dia marah" kata mamanya.


"Tapi waktu dia kehilangan keluarganya, hubungan kami waktu itu sudah diujung tanduk, ma. Kalau saja aku nggak berusaha sabar, pasti kisah kami hanya tinggal kenangan" sungguh kesabaran Richard sangat teruji saat itu.


Saat dimana Aish mengira bahwa Willy penyebab kematian seluruh keluarganya.


"Oh, mama tahu. Buntut dari masalah kakak kamu itu ya?" tanya mamanya.


"Darimana mama tahu?" tanya Richard, karena baik dia maupun Willy tidak pernah membicarakan masalahnya dengan orang tua mereka.


"Semua tentang kalian mama tahu" kata mamanya sambil membuka kembali buku yang tadi sempat diletakkan.


Richard memandang pada mamanya, dia tidak yakin. Tapi mungkin juga memang mamanya selalu melindungi anak-anaknya dengan cara mereka sendiri.


Kembali mamanya terkejut, saat tiba-tiba Richard duduk di bawah kakinya. Dan meletakkan kepalanya diatas pangkuannya.


"Ma, sebenarnya Richard sangat ingin punya waktu seperti ini. Berdua dengan mama".

__ADS_1


"Pernah Richard melihat Aish sangat manja saat tidur dipangkuan bundanya, dan Richard iri ma. Karena Richard tidak pernah seperti itu sama sekali" Richard memejamkan matanya, menenggelamkan kepala di pangkuan seorang ibu memang sangat menyenangkan.


Mama Richard terdiam, menaruh bukunya diatas meja. Lalu tangannya tergerak untuk mengelus kepala anaknya yang ternyata sudah cukup dewasa.


Bungsu dari empat bersaudara, anak paling cuek, pendiam dan cerdas.


Banyak waktu terlewat percuma hanya untuk bekerja. Melewatkan banyak kesempatan tanpa pernah meluangkan waktu untuk bersama keluarga.


Papa Richard adalah orang yang kaku, hanya pekerjaan yang ada di kepalanya. Dan sekarang, beliau juga bingung sendiri untuk mewariskan usahanya untuk siapa.


"Mama sadar keluarga kita tidak punya hubungan yang baik antara satu dengan lainnya. Dan semuanya salah mama yang tidak bisa membagi waktu" mulailah suasana melow diantara mereka.


Tangan sang mama masih mengelus sayang pada kepala Richard yang berada dipangkuannya.


Tanpa mereka sadari, papanya juga melihat semuanya.


Beliau mendekat, dan duduk di kursi Richard.


"Sudah besar kenapa kamu manja sekali, Richard?" tanya papanya, tapi tak mendapat sahutan dari Richard yang masih merasa nyaman.


Pemandangan yang langka, karena hampir tidak pernah lebih dari dua orang dari pemilik rumah ini yang akan berada di dalam rumah dalam waktu yang sama.


"Bagaimana kabar pacar kamu?" sebenarnya hanya iseng papa Richard menanyakannya.


"Sudah lebih baik, pa. Sore ini dia pasti sudah berada dirumah ini" kata Richard memastikan.


"Sayang sekali kami tidak bisa menyambutnya, papa sebentar lagi akan bertemu dengan klien. Salamkan saja untuknya, dan ingat, kamu harus tepati janji kamu untuk belajar bisnis papa setelah ini" kembali papanya mengingatkan.


"Iya, pa. Richard tidak pikun" terpaksa Richard mematuhi orang tuanya kali ini. Demi bisa menjaga Aish.


"Oke, papa pegang janji kamu".


"Ayo ma, kita siap-siap pergi" ajak papanya.


Kembali Richard merasa sepi, baru saja bisa bermanja dengan mamanya.


★★★★★


"Yop, lo bener kan nginep dirumah gue selama gue disini?" kembali Aish memastikan jika rumahnya tidak dalam kondisi kosong.


"Iya bawel, lo sudah tanya lebih dari tujuh kali dalam waktu kurang dari lima jam" kata Yopi, jengah karena harus menjawab pertanyaan yang sama.


"Eh, kemarin doang enggak, Sya. Gue kan nginap disini juga" kata Yopi.


Yopi dan seorang suster tengah membantu Aish membereskan barang-barangnya. Aish sudah boleh pulang sore ini.


"Jadi, lo tenaga saja" jawab Yopi.


Tapi masih saja Aish khawatir, tapi dia terlalu sungkan untuk bertanya langsung pada Richard.


Hingga pukul lima sore, Richard baru saja sampai dikamar Aish.


"Maaf ya, tadi macet banget jalannya" kata Richard yang baru sampai.


"Tuan putri sudah nunggu daritadi" komentar Yopi yang sudah siap dengan satu tas ransel milik Aish.


Tidak banyak barang bawaan Aish selain bermacam-macam pembalut yang Richard belikan kemarin.


"Suster, tolong panggilkan dokternya ya. Kami mau pergi sekarang" kata Yopi sopan.


"Iya, tunggu sebentar ya" kata suster.


Tak lama, Siras datang.


"Jangan lupa kamu harus terapi, dan mungkin beberapa minggu lagi kamu sudah bisa melepas gibsnya jika keadaannya sudah semakin membaik" Siras mengatakan itu sambil mengecek gibs di kaki Aish.


Saat membaca tulisan dengan warna spidol yang berbeda, Siras menggelengkan kepalanya. Tidak habis pikir dengan tulisan itu.


Aish yang menyadari langsung menutup kakinya dengan selimut.


Malu.


"Iya, terimakasih bang dokter. Saya mau pulang sekarang" Aish sudah tidak tahan, disamping juga tidak suka melihat Siras.


"Silahkan, hati-hati ya" kata Siras, tak ada respon berlebih dari Aish.


Richard mendorong kursi roda, sementara Yopi membawakan barang-barang Aish.


Tiba didalam mobil, kembali Yopi harus menjadi supir bagi Richard dan Aish yang memilih duduk dibelakang.


"Kalau gini, gue berasa jadi supir kalian" kata Yopi yang sudah berhasil keluar dari halaman rumah sakit Persada.


"Memang rencana gue, lo itu mau gue angkat sebagai tangan kanan gue. Orang kepercayaan gue dalam urusan apapun" kata Richard dari kursi belakang.


"Oh, saya sangat terharu tuan. Dan saya berjanji akan menjadi asisten yang bisa tuan andalkan dalam segala situasi" kata Yopi terkesan bercanda, tapi ada keseriusan dalam hatinya.


"Kalian berdua memang nggak normal" gerutu Aish masih terdengar.

__ADS_1


Dia memilih melihat keluar jendela, karena Richard dan Yopi lebih memilih membahas tentang beberapa alat musik yang sudah diproduksi untuk dijadikan isi di dalam studio musik yang sedang Richard renovasi.


Masih kurang separuh jalan untuk bisa menempati gedung itu. Perjalanan mereka masih baru dimulai.


"Eh, Yopi. Lo salah arah. Rumah gue nggak kesini jalannya. Makanya kalau nyetir itu yang fokus, jangan ngobrol terus" kata Aish yang memang tidak tahu kalau Richard akan membawa Aish ke rumah papanya.


"Benar kok kesini" Yopi memang yakin kalau arah yang dia tuju sudah benar. Tapi dia lupa jika Aish masih belum tahu rencana mereka.


"Salah Yopi. Ini tuh sudah jauh banget dari arah rumah gue. Amnesia lo lagi kambuh ya?" kata Aish mengejek.


"Enak aja tuh bibir kalau ngoceh" kata Yopi yang sukses mendapat jitakan dari Aish.


"Sakit, Sya" keluh Yopi.


"Makanya, yang benar kalau nyetir. Kan gue bilang kalau kita salah arah" kata Aish kekeuh.


"Nggak apa-apa, lewat sini saja, Ra" kata Richard.


Aish terdiam, sedikit aneh memang. Tapi nggak apa-apa lah, kan dia juga cuma numpang.


Yang paling penting nanti dia bisa sampai dirumah dengan selamat.


"Uwah, macet parah, Ri" kata Yopi yang kini terjebak kemacetan.


"Iya, nggak apa-apa, Yop" Richard sabar menghadapi kemacetan karena memang sedang bersama dengan Aish.


Coba saja kalau sendirian, pasti segala umpatan sudah keluar dari bibirnya.


Hampir tiga jam waktu yang dibutuhkan untuk menapaki jalanan yang biasanya dicapai dalam waktu hanya empat puluh lima menit.


Yopi merenggangkan tubuhnya sebelum turun dari mobil.


Sedangkan Aish tertidur, terlalu lama didalam mobil membuatnya mengantuk.


Richard tak tega untuk membangunkannya, terpaksa dia harus menggendong Aish sampai ke kamarnya.


"Romantis banget" komentar Yopi, sebenarnya sedang mengejek Richard.


"Diam. Bawain barang-barangnya, terus bukain pintu cepetan" perintah tuan muda tak terbantahkan.


Bagai dibius, Aish sama sekali tak terganggu oleh keributan dua sahabat itu.


Saat memasuki rumah, beberapa artnya menyambut hanya dengan anggukan kepala karena melihat tuan mudanya sedang menggendong seseorang yang sedang tertidur.


Mereka sudah diberitahu jika akan ada tamu spesial yang akan datang dan menginap disana.


Dengan hati-hati, Richard membaringkan Aish di ranjang. Setelah memastikan Aish merasa nyaman, dia menyelimuti Aish.


Sementara Yopi masih setia mengekor dibelakangnya.


Seorang art juga terlihat sigap membawakan barang-barang Aish yang didorongnya menggunakan kursi roda.


Setelah mengisyaratkan untuk diam, Richard meminta Yopi dan artnya ikut untuk bicara diluar kamar.


"Lo malam ini tidur dirumah Aish dulu ya, Yop. Terus lo yang gue percaya buat nyiapin semua kebutuhan Aishyah" kata Richard memberi perintah pada Yopi dan seorang artnya.


"Iya, gue tidur disana. Sekalian gue pamit deh, takut masih macet jalanan" kata Yopi yang takut kemalaman.


"Lo bawa mobil gue ya, besok pagi lo jemput Aish. Gue yakin seribu persen, pasti besok tuh anak sudah ngotot mau masuk sekolah" kata Richard yang menolak saat Yopi akan memberikan kunci mobilnya.


"Siap" kata Yopi menurut, padahal kalau harus ke rumah Richard dulu, harus rela memutar arah.


"Terus, siapa nama lo?" tanya Richard yang memang tak mengenal artnya.


"Saya Widya, den" jawab art itu.


"Oke Wid. Lo yang gue percaya buat jagain pacar gue ya. Karena gue lihat lo nggak setua yang lain. Jadi, masih bisa diajak ngobrol sama Aish kalau lagi nggak sama gue" kata Richard.


"Iya, den" jawab Widya, yang kini mendapat tugas baru.


"Kalau gitu gue langsung pamit, Ri" Yopi bersalaman ala mereka sebelum pulang.


Sementara Widya juga langsung turun ke kamarnya setelah mendapat ijin dari Richard.


Richardpun masuk ke kamarnya setelah memastikan Aish masih tertidur dengan nyenyak.


"Ahhh.... Nyaman banget" gumam Richard yang sudah merebahkan diri diatas ranjang empuknya.


Beberapa hari ini tidurnya tidak nyenyak saat menemani Aish dirumah sakit.


Tak butuh waktu lama baginya untuk terlelap, karena memang tubuhnya terasa cukup lelah.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2