Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
hanya stund man


__ADS_3

"Bagaimana Richard, kamu setuju kan sama iklannya? Kalau kamu sudah ok, segera akan saya luncurkan ke beberapa stasiun televisi" kata Willy setelah merampungkan iklan pesanan Richard.


"Iya, ok. Gue setuju" jawab Richard tanpa mau melihat hasil akhir dari iklan yang telah dia garap bersama kakaknya.


Richard masih sibuk dengan not balok yang sedang ditulisnya, dia berencana untuk membuatkan sebuah lagu untuk Aish.


"Kamu nggak mau lihat dulu hasilnya? Kalau ada yang nggak kamu setujui bisa langsung direvisi" kata Willy.


"Iya, kalau menurut kakak sudah bagus, gue setuju-setuju saja kak" kata Richard mulai tidak sabaran.


"Oke, pokoknya kakak sudah minta pendapat kamu ya. Nanti kalau sudah tayang di televisi, kamu sudah nggak bisa protes lagi" kata Willy mengingatkan.


"Iya, kakak nih ganggu banget sih. Gue lagi dapat inspirasi nih, jangan di gangguin dong. Keburu hilang nanti inspirasinya" keluh Richard ingin mengusir kakaknya pergi.


"Kamu ngusir kakak?" tanya Willy tak percaya.


"Bagus deh kalau kakak ngerti" gerutu Richard.


"Nyesel banget kakak capek-capek ngasih kamu informasinya" kata Willy yang menggerutu sambil keluar dari ruangan Richard.


Ya, Richard memang punya ruangan tersendiri di gedung studio musik lantai tiga. Saat Aish sedang bekerja, tak jarang Richard juga bekerja di dalam ruangannya.


Tapi kebanyakan waktunya dihabiskan di cafe, karena orang-orang lebih sering berkumpul disana.


★★★★★


Dua hari berlalu, iklan itu sudah benar-benar tayang di beberapa stasiun televisi.


Dan Richard siang ini sedang menjemput Aish pulang sekolah, tapi dia tak memberitahu Aish jika akan menjemputnya. Tadi pagi dia tidak sempat mengantarkan Aish berangkat sekolah karena bangun kesiangan.


Mobil mewah Richard sudah terparkir rapi di depan sekolah Aish, tinggal menunggu sang putri keluar dari dalam sana.


Cukup lama menunggu, sang putri sudah terlihat tengah berjalan menuju halte bersama teman sebangkunya, Nindi.


"Ngobrolin apaan sih mereka, kenapa Aish nggak nyamperin sih?" tanya Richard bergumam, Aish tak juga mendekat padanya.


Terlihat Nindi menunjuk ke arahnya, tapi kenapa Aish cuek saja?


"Gue tungguin sampai dehidrasi, kenapa dia nggak nyamperin juga sih?" gumam Richard masih membiarkan Aish duduk di halte.


"Wah, nggak bener nih. Nggak bisa dibiarkan" hati Richard memanas melihat Mike berbincang dengan pacarnya di halte sekolah.


Richard keluar dari mobilnya, segera menghampiri Aish yang entah kenapa jadi cuek padanya.


"Ra, gue nungguin lo daritadi di dalam mobil, kenapa lo nggak nyamperin juga sih? Malah asyik ngobrol disini" kata Richard sedikit ngegas, dia sudah cukup lapar saat menanti daritadi.


"Gue nggak minta lo jemput, masih ada angkot kok kalau lo ngerasa capek nungguin gue" kata Aish.


Loh, ini kenapa Aish jadi emosi juga? Biasanya kan langsung minta maaf kalau dia salah.


Richard segera menarik paksa tangan Aish agar memasuki mobilnya, tapi dihadang oleh Mike.


"Jangan kasar dong, kalau Aishyah nggak mau bareng sama lo ya jangan dipaksa dong" kata Mike pasang badan.


"Lo jangan ikut campur, mendingan lo pergi daripada gue patahin leher lo" ancam Richard dengan tangan yang masih menggandeng tangan Aish.


"Sudah Mike, kita pergi saja. Ndak usah ikutan ya daripada urusannya tambah panjang" kata Nindi menarik Mike untuk menjauh.


"Lo kenapa sih Ra? Nggak biasanya ngambek tanpa alasan" kata Richard yang sudah berhasil mendudukkan Asih di dalam mobilnya.


Dan sungguh, wajah muram itu sangat tidak enak dipandang.


"Nggak ada alasan kata lo? Males banget gue diem-diem ngambek, emangnya anak kecil" gerutu Aish masih mempertahankan kemuramannya.


"Ya udah, makanya jelasin dong sama gue kenapa. Gue kan nggak bisa baca pikiran lo" kata Richard melunak, mengalah saja daripada tambah panjang urusannya.


"Bodo amat lah, lo kan sudah jadi artis. Eh, nggak sih, baru saja jadi artis tapi sudah berani beradegan mesra banget. Gitu bilangnya nggak suka sama Indira, nggak mau dekat-dekat sama dia, nggak setuju kalau bintang iklan dari usaha lo itu dia. Tapi apa? Semua omongan lo tuh busuk banget" akhirnya Aish mengungkapkan perasaannya.


Richard terdiam, sedikit berpikir. "Adegan mesra? Maksudnya gimana sih?" tanya Richard dalam hatinya.


"Bentar deh Ra, adegan mesra itu yang kayak gimana sih?" tanya Richard tak mengerti, karena kemarin saat take adegan itu nggak ada satupun adegan yang aneh-aneh.


"Lihat aja sendiri, lo kan punya hape, punya paket data dong, masak bos nggak punya pulsa? Apa pakai hape gue?" Aish masih saja mengomel tak jelas.


Sekarang Richard mengerti, ternyata Aish sedang cemburu. Dan Richard suka itu.

__ADS_1


Diapun mulai mengecek ponselnya, akan melihat hasil iklan buatan Willy dan kru nya.


Mata Richard membola menyaksikan ending dari adegannya.


"Sumpah gue nggak pernah cium tuh anak, ini semua pakai stund man, Ra. Beneran" kata Richard berusaha menjelaskan.


"Ada adegan gitu pakai stund man? Ngaco banget lo" kata Aish masih dengan wajah cemberutnya.


"Hallo, kak" Aish melirik Richard yang rupanya sedang menghubungi Willy.


"Lo kenapa nggak bilang kalau adegan ciumannya jadi? Gue kan sudah bilang nggak mau, kak" kata Richard mengeluarkan unek-unek pada kakaknya.


"Saya sudah bilang sama kamu kemarin, Richard. Lihat dulu hasil akhirnya, tapi kamu malah sibuk sendiri. Katanya terserah saya, yasudah sekarang sudah terlanjur diputar. Sudah nggak bisa komplen lagi kamu " kata Willy yang sambungan teleponnya di loud speaker oleh Richard.


Aish mendengar perdebatan kakak beradik itu masih dengan tampang masam. Dia tidak suka saat Richard mencium pipi Indira, hatinya terasa terbakar.


"Tapi lo tahu sekarang jadinya Aishyah marah, kak. Coba deh lo jelasin kalau itu adegannya pakai stund man. Ini orangnya lagi cemberut" kata Richard sambil melirik Aish yang masih bernapas kasar.


"Hahahahhaaha .. Jadi kamu sedang cemburu ya, Aishyah?" Willy tergelak sebelum bertanya lebih lanjut pada Aish.


"Nggak, mas. Sebel aja" kata Aish tanpa mau melihat Richard, membuat Richard sangat gemas melihatnya.


"Kamu tenang aja, Richard itu sangat setia sekali sama kamu. Kemarin dia ngotot untuk ganti adegannya, tapi tim bilang sudah terlanjur nyaman seperti itu. Jadi kita pakai stund man buat adegan cium pipinya. Kamu tenang saja ya, jangan marah lagi dong. Mas Willy kan jadi merasa bersalah kalau kamu sedih".


Willy menggoda Aish yang jarang sekali bersikap manja seperti itu.


Richard geli sendiri saat Willy mengucap kata 'mas Willy' untuk menenangkan Aish.


"Sudah percaya kan sama gue? Gue nggak pernah bohong sama lo, Ra" kata Richard membela dirinya.


"Yasudah, mas tutup dulu teleponnya ya, Aishyah. Kamu jangan marah lagi, itu semua nggak seperti yang kamu pikirkan" kata Willy.


"Iya, mas" kata Aish singkat, sudah terlanjur malu.


"Yasudah, assalamualaikum" Willy menguluk salam sebelum menutup teleponnya.


"Waalaikum salam" jawab Aish lirih, hanya bisa menunduk karena sudah terlanjur malu.


Richard menolehkan badannya yang duduk, menghadap Aish yang terus menunduk malu. Rasanya dia ingin menerkamnya saja kalau seperti ini. Gemas sekali.


"Sudah percaya sama gue?" tanya Richard.


"Lo nagis, Ra?" tanya Richard tak percaya, kenapa jadi menangis. Kan Richard terkejut.


"Gue nggak nangis kok" kata Aish yang mengusap pipi basahnya.


"Eh, kenapa nangis sih?" tanya Richard bingung harus bagaimana.


"Gue takut lo suka sama dia, Richard. Gue takut lo pergi ninggalin gue" kata Aish lirih.


Pernah kan kalian merasa insecure banget sama perasaan kalian sendiri yang tiba-tiba takut kehilangan pasangan kalian?


Dan itulah yang sedang Aish rasakan, rasa kehilangan orang terkasih yang bertubi-tubi membuatnya ketakutan untuk merasakannya lagi.


Aish sudah terlanjur nyaman dengan adanya Richard, sebagai pelindungnya disaat orang lain menghina. Sebagai orang yang mau menjadi sasaran amarahnya dengan sabar meski dari luar terlihat begitu dingin dan kasar.


"Gue sayang sama lo, Ra. Dan gue selalu janji sama lo untuk selalu ada buat lo. Seharusnya gue yang takut kalau lo ninggalin gue" kata Richard dengan sabar, Aish sedang trauma.


Aish bergelayut di lengan Richard, mencari posisi nyaman disana dengan menyandarkan kepalanya di bahu Richard dan badannya tetap menghadap ke depan.


"Lo tumben manja banget" goda Richard.


"Gue juga nggak tahu, pas ngelihat video lo tadi perasaan gue jadi nggak nyaman. Gue takut ngerasa kehilangan lagi, Richard" gumam Aish masih dalam posisinya.


Richard hanya bisa mengelus kepala Aish dengan sabar. Kekasihnya sedang ingin dimanja.


"Gue laper, Ra. Kita cari makan ya" ajak Richard.


Aish mendongak, sudah bisa tersenyum rupanya. Gadis itu mengangguk senang, masalahnya sudah selesai.


Setelah duduk dengan tenang, Richard menjalankan mobilnya menuju cafe. Dia akan makan disana saja.


★★★★★


Pencapaian terbesar dalam hidup ini adalah saat kita berhasil mencapai salah satu impian kita.

__ADS_1


Meski orang bilang itu sederhana, tapi kalau menurut kita itu adalah kemustahilan yang terwujud, tentu akan menjadi suatu kebanggaan bagi kita.


Dan kali ini, setelah hampir satu tahun sekolah sambil bekerja di tempat Richard, Yopi telah berhasil membeli satu mobil impiannya, dan yang paling utama berasal dari kerja kerasnya sendiri.


Sebuah city car berwarna merah telah berhasil Yopi beli. Meski harganya sangat jauh dari mobil lamanya, tapi Yopi sangat bangga bisa membelinya sendiri. Meski harus sedikit ditambal dengan pinjaman ke tempat kerjanya.


"Bagus banget, tong. Engkong bangga bisa naik mobil baru lo" senyum bangga terukir jelas di wajah renta engkong.


Sore ini Yopi mengajak kedua orang tua angkatnya berkeliling kota dan dilanjutkan dengan makan mie ayam.


"Enyak juga senang lo bisa beli mobil bagus begini, tong" kata enyak dari jok belakang.


"Yopi juga makasih banget sama enyak dan engkong sudah mau menampung Yopi selama ini. Sayang lagi sama Yopi" kata Yopi tulus.


Bahkan dia merasakan lebih banyak kasih sayang dan perhatian dari dua orang tua ini. Ketulusan mereka tak terbantahkan meski tak berhubungan darah sama sekali.


"Apalagi bukan cuma enyak dan engkong yang sayang sama Yopi, bang Fian dan bang Rian juga baik banget sama Yopi" kata Yopi dengan senyuman yang tulus.


"Gue harap lo bisa capai cita-cita lo ya, Yop. Elo masih muda, harus bisa bedain yang salah dan yang benar, biar nanti di masa tua lo nggak ada penyesalan" nasehat engkong yang selalu Yopi dengarkan.


"Pokoknya hari ini semua yang enyak sama engkong inginkan, pasti Yopi kabulkan. Yopi lagi banyak duit, kong. Habis gajian juga. Hehehehe" kata Yopi yang serius ingin mewujudkan keinginan kedua orang tua itu.


"Gue diajak keliling kota gini aja sudah senang banget, tong. Rian sama Fian nggak pernah ngajak kayak gini" kata enyak yang merasa punya anak bungsu.


"Mereka sibuk nyak, kalau enyak mau kemana saja, bilang Yopi ya nyak. Pasti Yopi anterin kemanapun yang enyak mau" kata Yopi senang.


Ada kebanggan tersendiri di hatinya saat melihat senyum dari kedua orang tuanya ini.


Entahlah, rasa senang karena usaha yang kita lakukan mendapat penghargaan itu membuat hati ini jadi menghangat.


Perasaan yang belum pernah Yopi rasakan dari kedua orang tua kandungnya.


"Lo nggak kerja hari ini, tong?" tanya enyak setelah sampai di rumahnya petang ini.


Mereka berjalan-jalan ke pasar malam untuk menikmati aneka kuliner bersama. Dan sampai di rumahnya kembali saat jam menunjukkan pukul sepuluh malam.


"Hari ini Yopi sengaja libur biar bisa jalan-jalan sama enyak dan engkong" kata Yopi yang sudah masuk ke ruang tamu di rumahnya.


"Enyak senang banget punya anak kayak lo" kata enyak tulus.


Dan Yopi sangat bahagia saat enyak menyebutnya sebagai anak.


"Sekarang enyak sama engkong istirahat dulu ya, tidur yang nyenyak biar besok berubah jadi muda" goda Yopi.


"Lo ada-ada saja, tong. Kita tidur duluan ya, elo mau keluar lagi?" tanya enyak.


"Iya nyak, mau ketemu sama teman" kata Yopi berpamitan.


Diapun menjalankan kembali mobilnya untuk menjemput seseorang. Setelah chatt nya dibalas oleh temannya itu.


"Uwah, beneran mobil baru" kata Nindi yang daritadi sudah menunggu di depan rumahnya.


Yopi menyuruhnya masuk setelah berpamitan pada kedua orang tua Nindi.


"Sorry ya, gue ngajaknya malam begini. Soalnya daritadi siang ngajak enyak dan engkong keliling, mereka senang banget. Dan besok, gue nggak ada libur. Mau ke Bandung" kata Yopi yang sudah sibuk dengan setirnya.


"Iya, ndak apa-apa. Besok juga libur sekolahnya, hari-hari ke depan pasti kita sibuk sama persiapan ujian nasional yang sudah dekat" kata Nindi.


Mereka menghabiskan waktu bersama, berkeliling untuk menikmati malam panjang menggunakan mobil baru Yopi.


Tak banyak tempat yang mereka berdua kunjungi, hanya sempat mampir untuk makan nasi goreng dipinggir jalan.


"Kenyang banget, makasih ya Yopi. Acara dietku gagal gara-gara kamu" kata Nindi tersenyum.


"Nggak usah diet, badan lo sudah bagus kok Nin" komentar Yopi.


"Tapi kalau gendut nanti jadi jelek" kata Nindi.


"Nggak kok, lo tetap cantik" Yopi menggombal lagi.


"Istirahat bentar ya, Nin. Dari siang gue nyetir mulu, capek rasanya" mereka menepikan mobil di tempat aman, dan berbincang didalam sambil meminum soft drink yang Yopi beli tadi di minimarket.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2