
"Is, pokoknya lo jangan kemana-mana. Diem disitu, terserah lo mau ngapain aja. Pokoknya jangan kemana-mana. Abang jemput lo sekarang juga, ya".
Rian sangat mengkhawatirkan Aishyah yang telah dia anggap seperti adiknya sendiri.
Sebenarnya jarak dari tempatnya menuju tempat Aish cukup jauh, tapi dia rela untuk menjemputnya sendiri tanpa menyuruh anak buahnya.
"Iya bang. Aish tungguin abang disini sama mereka".
jawab Aish, kini berteman dengan preman-preman yang tadi ingin mengeroyoknya.
"Kasih hape Lo sama si Bimo dulu sekarang".
kata Rian.
"Bimo siapa bang?"
tanya Aish yang tak tahu siapa itu Bimo.
"Orang yang duduk di sebelah lo itu" kata Rian.
Aish langsung saja menyerahkan ponselnya pada orang yang berada disampingnya.
"Jagain benar-benar adik gue, kalau sampai bonyoknya nambah dikit doang nih, awas kalian semua. Gue abisin sampai ke akar-akarnya" .
Ancam Rian pada anak buahnya.
"Siap bang, gue jagain dengan aman pokoknya"
kata Bimo sedikit ketakutan.
Setelahnya, Rianpun menutup panggilan itu.
Aish cemberut lagi, setelah mengantongi hapenya ke dalam tas, diapun menoleh ke kanan dan ke kiri.
Mencoba menghafalkan wajah-wajah preman yang tadi sempat berseteru dengannya.
"Kenapa neng?" tanya Bimo.
"Abang hafalin muka gue ya, jangan bikin masalah lagi sama gue. Nama gue Aishyah" kata Aish, dia sudah tak menangis lagi meski matanya masih terasa sangat sakit.
"Siap neng, maafin kita ya neng. Jangan ngadu yang macam-macam sama bang Rian. Nanti kita semua bisa mati konyol" kata Bimo mewakili isi hati teman-temannya.
"Gue bukan tukang ngadu kali bang" kata Aish.
"Kalau boleh kita tahu, si eneng kenapa nangis tadi?" tanya Bimo penasaran, seingatnya tadi saat Aish datang memang sedang menangis.
Aish menghela nafas, kembali teringat dengan Richard lagi. Air matanya sudah siap menetes, membuat Bimo khawatir.
"Eh neng, jangan nangis lagi dong. Nanti kalau bang Rian datang terus lihat Eneng nangis, bisa tambah runyam neng" kata Bimo.
"Ehm, abang pernah patah hati nggak?" tanya Aish setelah mengusap air matanya, dia melihat ke wajah semua preman yang ada untuk mencari jawaban.
Ke enam preman saling melirik, mereka ingin menjawab tapi malu pada kawannya yang ada.
"Ngomong dong bang" kata Aish agak ngegas.
"Eh, maaf neng. Abang nggak pernah patah hati neng, soalnya abang nggak pernah juga jatuh cinta" jawab Bimo mendahului yang lain.
"Bisa ya kayak gitu?" tanya Aish.
"Kalau Abang? Nama abang siapa?" tanya Aish pada preman yang di sebelahnya.
"Nama abang Budi, neng. Abang pernah dulu patah hati, sama cinta pertamanya abang. Dan itu bikin abang hampir gila" jawab Budi.
Aish memandangnya penuh tanya, benarkah patah hati bisa membuat orang hampir gila?
"Terus caranya supaya abang bisa cepat move on gimana tuh bang?" tanya Aish yang juga segera ingin agar hatinya pulih lagi.
"Abang cari yang lain neng, terus abang jadi play boy gitu deh neng" kata Budi membanggakan diri.
"Huuuu.... Dasar lo, Bud. Jangan ngajari yang enggak-enggak lo" kata yang lainnya sambil menoyor kepala Budi.
Aish tergelak, dia bisa tertawa kali ini.
Ternyata berkumpul dengan orang seperti mereka tidak buruk juga. Mereka lebih terbuka dan apa adanya.
"Gitu dong neng, kalau ketawa kan jadi cantik" goda Bimo.
"Ada tukang jualan nggak sih bang disini? Gue kalau abis marah-marah suka laper" keluh Aish sambil memegangi perutnya.
"Banyak sih yang jualan neng, tapi di SD sono. Kita musti jalan dulu ke sananya" jawab Budi.
"Jauh nggak bang?" tanya Aish.
"Nggak juga kok neng, mau kita anterin?" tanya Bimo.
"Boleh deh bang, bentar gue kabari bang Rian dulu ya biar jemputnya disana saja nanti" kata Aish yang mengetikkan kabar pada Rian melalui wa.
Aishpun diantarkan ke SD terdekat. Dan benar saja, di siang seperti ini banyak sekali penjual yang menjajakan aneka jajanan khas anak sd disana.
"Mau yang mana neng?" tanya Bimo.
Tapi melihat kedatangan beberapa preman seperti itu membuat para penjual jadi sedikit takut dipalak.
"Ehm, mau tempura lima ribu bang. Es wawannya satu yang rasa coklat, telur gulung lima ribu juga, sama sosis bakarnya deh bang lima ribu juga. Jangan lupa air mineralnya bang" kata Aish yang ingin dilayani kali ini.
Mumpung dia lagi mager, dan ada preman yang mau disuruh-suruh. Aish jadi sok bossy kali ini. Sedikit manja tidak apa-apa lah, dia kan lagi patah hati.
"Yakin mau beli sebanyak itu neng?" tanya Bimo.
"Yakin bang. Kalau abang mau pesan aja, nanti biar bang Rian yang bayarin, hehe" tawa Aish yang tak mau mentraktir mereka, karena memang belum gajian juga.
__ADS_1
"Nggak deh neng. Gue nggak suka sama jajan gituan. Kita pesenin dulu deh neng. Lo tunggu disini ya" kata Bimo yang juga memerintahkan beberapa temannya untuk membelikan pesanan Aish tadi agar tak memakan banyak waktu.
Dan benar saja, tak sampai lima belas menit semua pesanannya sudah tersaji di hadapan Aish.
"Uwah, makasih ya bang" kata Aish yang menerima bungkusan dari mereka.
"Lo kenal juga sama di Yopi, neng?" tanya Bimo.
"Yopi yang mana nih bang?" Aish menanyakan ciri-cirinya, siapa tahu bukan Yopi temannya Richard.
"Yang ganteng, pakai motor matic biru, tinggal sama babenya bang Rian katanya" jawab Bimo.
"Oh, iya. Kenal dong" kata Aish sambil menikmati makanannya.
Jika sedang marah, memang biasanya nafsu makan Aish jadi berlipat ganda. Bahkan beberapa menu yang tadi dipesannya sudah banyak yang sudah habis.
"Lo cantik-cantik tapi makannya banyak ya neng" kata Bimo.
"Iya bang, makanya nggak ada yang mau sama gue" kata Aish tak memperdulikan omongan Bimo.
Cukup lama Aish menunggu Rian hingga dia harus memesan lagi beberapa makanan untuk mengganjal perutnya.
Dan Rian datang saat Aish sedang menikmati seporsi jumbo jasuke. Mulutnya dari tadi tak berhenti mengunyah.
"Is, mereka nggak ngapa-ngapain lo kan?' tanya Rian yang berdiri di hadapan Aish.
"Nggak bang, mereka baik banget mau nraktir Aish" kata Aish.
"Bagus kalau gitu. Itu mata lo sudah baikan? Tadi siapa yang nonjok lo?" tanya Rian.
Para preman di sekitar Aish hanya bisa menunduk pasrah.
"Lupa gue bang. Lagian mereka sudah baik banget mau traktir Aish makan" kata Aish memperlihatkan banyak sekali plastik kosong bekas makanan.
"Adeknya abang makannya banyak" kata Bimo sambil menunduk.
"Jadi lo nggak ikhlas beliin adek gue jajan gituan?" tanya Rian sedikit membentak.
"Eng, enggak kok bang. Kita semua ikhlas kok" kata Budi gugup.
"Gitu dong. Ayo is, pulang" ajak Rian.
Aish mengangguk, tak lupa membuang sampahnya di tong sampah sebelum pergi.
"Aish pulang dulu ya bang Bimo dan teman-teman, kapan-kapan kita ketemu lagi" kata Aish sambil melambaikan tangannya.
"Hati-hati di jalan neng" teriak mereka.
"Akrab banget lo sama mereka" kata Rian yang duduk di sebelah Aish.
"Iya bang, mereka orangnya Asik ternyata" kata Aish, jasuke ditangannya belum juga habis.
Aish menghentikan kunyahannya, dia jadi tak berselera lagi mengingat kejadian tadi pagi.
"Malah bengong, gue tanyain juga" kata Rian menyenggol lengan Aish.
"Nanti kapan-kapan deh Aish ceritanya bang, sekarang Aish lagi sedih" kata Aish yang kembali mengunyah jasuke.
Rian hanya bisa diam, tak mau mencerca Aish dengan banyak pertanyaan. Karena dari matanya yang sangat sembab bisa dipastikan jika Aish sedang sedih berat.
"Lo mau gue anterin kemana?" tanya Rian.
"Pulang deh bang, gue capek banget pengen tidur" kata Aish. Apalagi nanti sore dia masih harus bekerja.
"Oke" jawab Rian.
★★★★★
Sementara di tempat lain, Richard yang juga sedang galau akut tak tahu mau pergi kemana.
"Tadi Aishyah bilang kalau hubungan kita nggak direstui oleh orang tua. Masak sih papa sama mama nggak setuju?" gumam Richard.
Mengingat jika orang tuanya masih dirumah, Richard segera membelokkan setirnya untuk kembali ke rumahnya.
Dengan kecepatan penuh, Richard ingin segera menanyakan hal itu pada orang tuanya.
Sampai dirumahnya, Richard segera berlarian masuk ke dalam.
"Bik, bibik. Papa mana?" tanya Richard.
"Baru saja pergi, den. Katanya mau ke Kalimantan" kata Bibik.
"Tapi mobilnya ada" kata Richard.
"Tadi berangkatnya dijemput sama pak Burhan, den" kata bibik.
"Aahhh, sial" teriak Richard mengagetkan bibik.
Segera dia pergi ke garasi, mengamati sejenak jejeran mobil balap yang sudah lama tak disentuhnya tapi masih dirawat dengan baik.
Memilih salah satu mobil kesayangannya, Richard memutuskan untuk kembali ke arena balap.
Kegiatan yang sudah lama tak dilakukan Richard karena mendengar nasehat Aish. Dan kini saat semuanya terpaksa harus diakhiri, Richard kembali pada kebiasaan lamanya.
Sampai di arena, banyak sekali perubahan. Masih belum sore saja sudah banyak yang mendatangi tempat itu.
"Hei, lihat siapa yang datang" kata Acing, bandar yang disegani di sana.
"Hai, ko. Apa kabar?" sapa Richard yang sudah keluar dari dalam mobilnya.
"Lama banget lo kagak kesini? Gue kira lo sudah menggeluti dunia keartisan" kata Acing, pria berwajah oriental yang sangat kental itu matanya hanya tinggal segaris jika sedang tertawa.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Richard.
"Anak gue yang SMP ngefans sama lo karena kebanyakan nonton video lo" kata Acing dengan gelak tawanya.
"Oh ya? Boleh tuh lo kenalin sama gue" kata Richard bercanda.
"Oh, sorry bro. Yang satu itu tentu gue jaga sepenuh hati" kata Acing.
"Nanti malam ada event, bro. Lo mau ikut nggak? Babak penyisihan sih, untung lo datangnya hari ini" Acing menginformasikan event disana.
"Banyak yang ikut?" tanya Richard.
"Kalau cuma sedikit nggak ada babak penyisihan dong Richard, Lo mau ikut?" tanya Acing
"Boleh, nanti gue kesini lagi" kata Richard memberikan beberapa lembar uang untuk pendaftaran.
"Hehe, senang berbisnis sama lo. Gue tunggu nanti malam" kata Acing.
Richard meninggalkan lagi arena balap, tujuannya kali ini adalah cafe. Berharap nanti Aish akan datang untuk bekerja.
Suara bising knalpot dari mobil balap membuat sebagian pengunjung cafe terlihat kagum pada Richard dan mobilnya yang baru sampai.
Tatapan sombong kembali terlihat dari aura Richard yang memilih kehidupan lamanya.
Tanpa basa-basi seperti biasanya, Richard langsung melangkahkan kakinya ke rooftop cafe.
"Gue harap bisa ketemu lo disini, Ra" gumam Richard yang sudah duduk tenang di singgasananya.
Sibuk dengan pikirannya membuat Richard semakin terlihat kusut. Dan mungkin karena tidak pernah menangis, jadi pengalaman pertamanya ini membuatnya menjadi mengantuk.
Diapun tertidur dengan ponsel yang masih menampilkan foto-foto Aishyah.
★★★★★
Aish benar-benar datang untuk melakukan kewajibannya. Bekerja meskipun suasana hatinya masih terlalu sakit.
Gadis itu lebih banyak menghabiskan waktu di depan wastafel tempat cuci piring. Karena tak mau yang lain tahu kalau matanya sedang memar.
Chef Jaya, ahli masak yang satu shift dengannya kepikiran untuk iseng pada Aish yang sejak tadi terus memunggungi.
Tangannya tergerak untuk menutup mata Aish dari belakang.
"Aaahhhh ..... Sakit" teriak Aish saat matanya tertutupi oleh tangan Jaya.
"Eh, maaf. Gue sengaja sih, Aish. Tapi sumpah gue nggak tahu kalau mata lo lagi sakit" kata Jaya panik.
"Aduh.. duh, duh, duh" kata Aish berusaha menahan rasa sakit di matanya.
"Bentar gue ambilin kompres ya" kata Jaya yang segera mengambil lap bersih dan es batu dari dalam freezer.
Setelah memasukkan seplastik es batu yang sudah dihancurkan ke dalam balutan lap bersih, Jaya membantu Aish mengompres matanya.
Jaya bersender di meja wastafel dan Aish berdiri memunggungi pintu masuk ke dapur.
"Pelan-pelan kak, sakit" rengek suara manja Aish terdengar oleh Richard yang sengaja datang untuk mencarinya.
Dia terbangun saat hari sudah sangat sore. Karena tak melihat Aish berkeliaran di luar, Richardpun pergi ke dapur.
Saat melihat posisi Aish dan Jaya yang terlihat mesra, membuat emosi Richard naik seratus persen.
Dengan paksa, Richard menarik lengan Aish hingga menghadap ke arahnya.
"Apa sih?" tanya Aish sambil menutupi mata kirinya dengan lap dingin.
"Jadi lo dengan mudahnya berpaling dari gue, Ra?" tanya Richard penuh amarah.
"Bentar bos, lo salah paham" kata Jaya yang tak mau di fitnah bosnya sendiri.
"Mata gue masih awas buat ngelihat kelakuan bejat kalian" kata Richard, seketika air mata Aish meleleh mendengar ucapan itu. Harga dirinya seolah hancur.
Jaya tahu kalau hanya dengan kata tak akan bisa menghentikan emosi Richard. Diapun menurunkan tangan Aish yang masih mengompres matanya.
"Ra, lo kenapa?" tanya Richard yang luluh melihat mata kiri Aish yang lebam kebiruan dan berair mata.
Aish menepis tangan Richard yang memegang bahunya.
Tanpa banyak bicara, Aish meninggalkan dapur dan pergi ke ruang loker yang ada di lantai dua.
Tentu Richard masih mengejarnya, dadanya penuh rasa bersalah karena telah menuduh Aish terlalu hina.
"Ra, maafin gue. Jangan pergi, please" kata Richard memohon.
Aish tak menggubrisnya. Dituduh seperti itu membuatnya juga emosi. Linangan air matanya tak bisa berhenti. Aish memakai jaket dan tas slempangnya.
"Ra, please. Maafin gue. Kenapa lo bisa kayak gini sih, Ra? Kenapa mata lo bisa lebam kayak begitu? Maafin gue, Ra. Please" kata Richard yang masih berusaha mengejar Aish.
Tapi Aish pun cukup egois untuk tak mau mendengarkan permintaan maaf dari Richard.
Berkali-kali Richard berusaha menggenggam tangan Aish, berkali-kali pula Aish menepisnya.
Bahkan gadis itu tak mengeluarkan sepatah katapun saat pergi dari cafe Destinasi.
.
.
.
.
.
__ADS_1