
Pagi menjelang siang, setelah acara perjamuan sarapan, Aisyah, Senopati, Mahendra dan Frans dihadapkan pada baginda Raja untuk pembicaraan serius.
Mereka bersama para rombongan pengikutnya sudah berkumpul di aula kerajaan. Para rombongan dan tuannya duduk dibarisan yang sama.
Betapa terkejutnya Mahendra karena ada jamaahnya dari klenteng mengikutinya hingga ke tempat ini.
"Bagaimana kalian tahu saya ada disini?" tanya Hendra pada salah satu jamaahya.
"Anda pemimpin kami, tidak mungkin kami meninggalkan anda sendirian menghadapi masalah ini" kata seorang diantaranya.
"Memangnya masalah apa?" Hendra hanya membatin.
Saat hendak menanyakannya, prajurit meneriakkan kedatangan sang raja. Mengurungkan niatnya untuk bertanya.
"Baginda raja memasuki Aula" teriak prajurit.
Raja masuk bersama sang putri Sekar dan permaisuri dan beberapa anggota keluarga istana.
Mereka duduk di atas podium lebar dengan kursi yang ditata sedemikian rupa, hingga cukup untuk para keluarga istana ikut duduk diatasnya.
Raja dan permaisuri duduk bersebelahan, Sekar dan beberapa pangeran duduk di samping kanan dan kiri Raja. Sekar terlihat murung, tidak ada sapaan darinya pada teman-temannya.
"Silahkan dimulai acara diskusi ini" titah raja.
Seorang penasehat kerajaan memulai acaranya dengan sambutan, ternyata sejak dahulu memang sudah ada sambutan membuat mengantuk seperti itu.
Masuk inti sambutan, penasehat mulai mengutarakan permasalahan inti dari pertemuan ini.
"Rupa-rupanya, di luar istana heboh berita tentang perselingkuhan putri dengan Frans, yang menentang perjodohan dengan Senopati. Sedangkan ditemukannya Aishyah yang pingsan di depan klenteng membuat gosip miring tentang kedekatan putri saudagar Arab yang berzina dengan pimpinan klenteng, Mahendra" ucapnya lantang sambil menatap horor pada tersangka satu per satu.
Mereka tentu kaget dengan dituduhnya Aish yang berzina dengan Hendra. Wajah Aish memerah, belum pernah ada kesan buruk menimpanya selama 16 tahun hidup di dunia ini.
Apalagi masalah perzinahan, cukup kesalahan kakaknya dulu menghancurkan keluarganya. Dengan sungguh-sungguh, Aish selalu berusaha menjaga diri dan kehormatannya. Jangan sampai melukai hati bundanya.
Kini malah di dunia yang tak dikenalnya sama sekali, tuduhan menyakitkan itu datang dari mulut-mulut kotor tak bertanggungjawab.
"Jangan asal menuduh kau pak tua, memangnya kau punya bukti kalau aku sehina itu?" Teriak Aish yang tidak terima. Babah langsung menenangkannya, mengusap pundaknya dan membawanya duduk bersama.
__ADS_1
Seno, Hendra dan Falen ikut geram. Mereka sangat mengetahui kisah Aish yang membenci perbuatan semacam itu, dan kesedihan yang menimpa keluarganya dulu. Mereka hanya bisa mengepalkan tangan mendengar tuduhan itu.
"Tenanglah nak, ada saatnya kau membuktikan kebenaranmu" kata babah. Aishpun menurut, dia duduk dengan baik meskipun tidak bisa tenang.
" Akan kami tunjukkan beberapa buktinya nanti. Dan ada waktunya membela diri. Jadi jangan berbicara seenak hati disini" kata penasehat raja.
"Ada seorang saksi yang mengetahui kedatangan putri Aishyah ke kediaman tuan Mahendra sore itu. Dan tidak menemukan putri Aishyah pulang hingga pagi hari" lanjut penasehat raja.
"Apalagi ini?" geram Aish lirih.
Seorang rakyat jelata terlihat masuk, dia berdiri didepan untuk memberi kesaksian.
"Bagaimana tuan, siapa namamu?" tanya penasehat.
"Hamba Tirto" jawab orang itu singkat.
"Ceritakan yang kau tahu!" perintah penasehat.
"Hamba melihat tuan putri Aishyah dari bangsa Arab ini berjalan seorang diri ke kediaman tuan Mahendra siang itu. Hamba melihat putri seperti kebingungan. Lalu masuk bersama dengan tuan Mahendra, setelahnya hamba tidak melihat mereka keluar hingga pagi hari tuan" kata Tirto.
"Baiklah, apa pembelaanmu tuan putri?" tanya penasehat dengan senyum mengejek.
"Tempat Hendra dan jamaahnya beribadah, dan aku pingsan disana. Sedangkan Mahendra sedang beribadah di dalamnya bersama para jamaahnya"
"Kalian bisa bertanya pada senopati, dia bahkan membawa dua orang pengawalnya saat menemukanku tergeletak disana"
"Dan satu lagi, aku tidak mengingat siapa yang bersamaku untuk mengizinkan masuk ke kediaman Mahendra siang itu. Yang aku tahu hanya setelahnya, aku pingsan didepan klenteng" kata Aish.
Seno berdiri, berbicara untuk memihak sahabatnya.
"Iya, benar perkataan Aishyah. Aku dan dua orang pengawalku menemukannya pingsan didepan klenteng saat Mahendra sedang beribadah. Setelahnya, beberapa waktu saat senja habis, keluarga Aisyah datang bersama Mahendra ke rumahku untuk mencarinya. Lalu dia pulang bersama rombongan babahnya malam itu juga" kata Seno.
"Baiklah, cukup menarik. Lantas siapa yang berbohong disini?" tanya penasehat.
"Mari kita dengarkan penjelasan tuan Mahendra" kata penasehat.
Hendrapun berdiri, bersaksi sesuai yang dia tahu.
__ADS_1
"Maaf raja, tapi seingatku, seharian waktu itu aku berada di dalam klenteng. Karena kami sedang ada acara waktu itu. Kami sudah berada di klenteng dari pagi hingga saat babah Aishyah mencari putrinya malam itu. Saya meyakini putri ada di kediaman Senopati karena ada salah satu jamaah saya yang melihat putri keluar dari klenteng bersama dengan Senopati senja itu" kata Hendra.
"Semakin aneh" kata penasehat.
"Lantas darimana kau tahu jika putri berada di klenteng itu Senopati?" lanjutnya.
"Saya hanya berjalan-jalan saja sore itu bersama kedua pengawalku. Saya juga tidak pernah mengira bisa bertemu putri Aisyah disana. Apalagi dia saat itu pingsan. Jadi saya membawanya ke kediamanku untuk sementara. Dan ternyata dia dijemput malam harinya" kata Senopati.
"Baiklah, sekarang katakan pada kami siapa yang menemuimu di kediaman tuan Mahendra waktu itu putri Aisyah?" tanya penasehat raja.
Aish bingung, dia sama sekali tidak ingat siapa yang membawanya masuk ke rumah Hendra. Karena waktu itu bisa dipastikan dia sedang membaca mantra bersama sahabatnya di taman sekolah kan?
"Saya benar-benar lupa, saya tidak tahu siapa orang itu. Oiyah, kita tanya saja pak Tirto ini. Dia bilang dia yakin sekali jika Mahendra sendiri yang mempersilahkan saya masuk bukan?" tanya Aish pada Tirto.
"Ya, benar. Apa kamu yakin kalau itu tuan Mahendra, pak Tirto?" tanya Senopati.
Tirto kebingungan, " Saya tidak bisa melihat dengan jelas tuan. Hanya saya melihat putri Aisyah seperti terkejut kemudian dipaksa masuk ke rumah itu".
"Tapi saya juga sempat melihat ada kuda istana berada tak jauh dari rumah tuan Mahendra waktu itu. Tapi saya tidak tahu kuda milik siapa itu tuan" kata Tirto lagi.
Kini tampak Sekar yang bingung, dia sampai menoleh pada salah satu kakak laki-lakinya. Setahunya, ada kakaknya yang menyukai Aishyah, tapi Aishyah menolaknya.
Mungkinkah kakaknya tega memfitnah Aishyah seperti ini? Tapi bagaimana Aishyah bisa ditemukan didepan klenteng? Sungguh aneh.
"Baiklah, sekarang mari kita bertanya pada baba. Bagaimana baba bisa memberikan izin pada putrinya menemui seorang laki-laki?" tanya penasehat.
"Saya tidak mengetahui jika putri saya keluar dari rumah. Dia tidak pernah pergi tanpa izin sebelumnya. Sampai sore itu, ada utusan dari tempat tuan Mahendra memberitahu bahwa kemungkinan putri saya ada di kediaman Senopati"
"Tuan Mahendra memang berteman baik dengan putri saya, tapi tidak dengan senopati. Jadi, saya memutuskan menjemputnya malam itu juga. Tentu karena saya mengkhawatirkannya" kata babah sambil memeluk putrinya.
Aish merasa senang karena disinipun orang tuanya menyayanginya.
"Lantas apa yang membuatmu menemui tuan Mahendra nak?" tanya babah pada Aishyah
"Aish benar-benar lupa babah... Sepertinya kepala Aish habis terbentur hingga amnesia" jawab Aish mengada-ada.
"Apa itu amnesia?" tanya babah.
__ADS_1
"Hehe ...bukan apa-apa bah. Sekarang Aish benar-benar bingung siapa yang menyuruh Aish masuk ke rumah Hendra, hingga bagaimana Aish bisa pingsan ya bah?" tanya Aish pada babahnya yang juga bingung.