
Nindi sudah tak tahan, dia sudah sangat ingin bertemu dengan belahan hatinya. Senyumnya terus tergambar di wajahnya yang ayu nan teduh.
Dia sudah tampil cantik dengan penampilan sederhananya. Celana jeans berwarna biru dengan kaos pink tanpa lengan, dipadukan dengan cerdigan rajut agar tak kedinginan saat diperjalanan.
"Mbak Nindi kenapa senyum-senyum sendiri sih?" tanya Rafa, adik laki-laki Nindi yang masih SD.
"Senang dong, kan mau mudik" jawab Nindi.
Nindi dan keluarganya sedang menunggu mobil travel yang akan menjemputnya.
Tin... Tin...
Mobilnya sudah datang, segera ayah, ibu, Nindi dan adiknya bersiap. Mereka berjalan keluar rumah dengan bawaan masing-masing.
"Tasnya mbak Nindi besar banget?" tanya Rafa.
"Tapi enteng kok ini dek, soalnya isinya makanan, hehehe" kata Nindi diiringi tawa riangnya.
"Asyik dong mbak, nanti aku dibagi ya" dengan tampang memelas, Rafa meminta Nindi menyetujui.
"Pasti dong" kata Nindi singkat.
"Ayo jalan" ajak sang ayah.
Keluarga Nindi adalah yang terakhir dijemput, jadi setelah ini mereka akan melakukan perjalanan panjang.
Satu jam perjalanan, kondisi masih ok. Dengan mulut yang tak berhenti mengunyah, Nindi dan Rafa terus saja bercanda.
"Kenapa berangkatnya hari Kamis, yah? Kan acaranya hari Sabtu?" tanya Rafa.
"Iya, soalnya ada proses panjang sebelum hari H pernikahannya. Kita kan juga jarang kumpul keluarga besar, jadi ya sekalian kumpul dan mbiodo (rewang/bantu-bantu untuk keluarga perempuan) atau nyinoman (rewang/bantu-bantu untuk keluarga laki-laki)"ayah Nindi menjelaskan.
"Kamu juga Nin, nanti kalau mau nikah itu prosesnya juga panjang dan melelahkan. Kamu kudu siap-siap" kata seorang saudaranya yang duduk di belakang.
Nindi hanya tersipu malu, "Masih lama budhe, Nindi masih mau lulus SMA, terus kuliah, terus kerja. Panjang deh pokoknya" kata Nindi.
"Hem, cah wadon jaman saiki isik kepingin dadi wong karir" (Hem, anak perempuan jaman sekarang masih ingin jadi wanita karir)" kata orang itu lagi.
Yang lain hanya menanggapi dengan tawa. Keluarga mereka sebenarnya hangat dan saling terikat. Apalagi jika sudah ada perayaan pernikahan semacam ini.
Pasti yang jauh mendekat, yang dekat merapat.
Empat jam perjalanan, rombongan mereka turun di rest area. Mereka dipersilahkan untuk makan siang dan solat dhuhur.
Setelah itu, perjalanan dilanjutkan kembali hingga sampai ke tempat tujuan. Jika tak ada kendala, nanti selepas maghrib mereka akan sampai.
Di sisa perjalanan, Nindi memilih untuk tidur sambil mendengarkan musik dari ponselnya.
Menunggu dengan hati berbunga ternyata cukup menguras energi. Kekuatan kebahagiaan yang meluap-luap membuat Nindi lekas lelah, dia sudah tidak punya kekuatan untuk membuka matanya.
★★★★★
"Coba sekarang lo jelasin sama gue, Ra. Siapa orang yang belakangan ini suka nelponin elo?" sudah tidak bisa lagi menghindar.
Aish sedang berduaan saja dengan Richard siang ini, berada di rooftop cafe. Mereka sedang makan siang sebelum waktu pergantian shift.
"Ehm, gimana ya ngomongnya. Soalnya dia bilang ini rahasia, Richard. Gue nggak boleh ngomong sama siapapun" kata Aish, tak ada alasan yang tepat untuknya mengelak.
"Cowok?" tanya Richard singkat.
"Cewek, kok" jawab Aish.
"Siapa? Gue kenal?" tanya Richard lagi.
"Kenal, kenal banget malah. Tapi, gimana ya. Gue takut dia marah" kata Aish bimbang.
Beruntung ponsel Aish berdering, sebuah panggilan masuk dari Falen.
Senyum Aish mengembang cantik sebelum mengangkat panggilannya, sedangkan Richard mendecak tidak suka.
"Assalamualaikum, Fal. Kenapa?"
tanya Aish, terdengar seperti bising kendaraan dari tempat Falen.
"Waalaikumsalam. Lo lagi di cafe kan, princess? Gue otw kesana nih" kata Falen setelah menjawab salam.
"Ada dong, sudah stand by ini. Kesini sendirian?" tanya Aish, siapa tahu Falen bersama Seno dan Hendra.
"Berdua, tapi sama Indira. Dia bilang suka sama kue yang waktu itu dia beli" jawab Falen.
"Oh, ok. Gue tunggu" kata Aish tanpa curiga.
"Ok, my best princess. Assalamualaikum" Falen mengucap salam sebelum menutup panggilan.
"Waalaikumsalam" segera Aish kembali mengantongi ponselnya.
"Brian?" tanya Richard.
"Iya, mau kesini sama Indira. Gue turun dulu ya, Richard. Bentar lagi ganti shift, nanti Yopi marah" kata Aish yang menyadari jika Yopi masih atasannya di cafe.
"Gue pecat kalau dia marah sama lo" kata Richard.
__ADS_1
"Lo masih belum ngasih tau gue soal cewek itu. Jangan menghindar lagi deh" kesal Richard yang selalu saja mendapat alasan untuk Aish kabur.
"Kita ngomongin itu diluar cafe ya, soalnya ini benar-benar rahasia. Sabar ya, nanti pasti gue ceritakan sama lo" Aish sudah bersiap turun, merapikan meja yang tadi dia tempati.
"Nanti kalau Falen datang, lo temui ya meski cuma sebentar. Kan kalian sudah berdamai" kata Aish, merayu Rich dengan suara dan senyum manja yang dibuat-buat.
"Geli gue lihat lo gitu. Iya, nanti gue turun. Lo chatt gue aja kalau dia sudah datang" jawab Richard.
Sebenarnya dia kurang suka saat mendengar ada Indira yang juga mau datang.
"Ish, lo tuh nyebelin. Yaudah deh, gue turun dulu ya" pamit Aish yang segera berlalu pergi.
Setelah pergantian shift, kebetulan Santi yang masuk pagi. Pandangan sinisnya masih terlihat pada Aish yang kali ini tidak terlambat.
"Tumben tepat waktu lo, Aish?" tanya Santi, sengaja menanyakan di depan semuanya.
Yopi sedikit mengangkat alisnya mendengar pertanyaan itu.
"Iya dong, kan gue rajin" jawab Aish dengan senyuman.
Ilham tertular senyum itu dan mengangkat kedua jempolnya.
"Masak? Seminggu paling cuma dua kali ikut brifing pergantian shift. Itu yang namanya rajin?" tanya Santi dengan raut wajahnya yang menjengkelkan.
"Dia tuh nggak pernah telat, dan nggak masalah kok kalau dia nggak ikut brifing. Kan gue selalu nginfoin sama dia sebelumnya" kata Yopi menengahi masalah, tak mau keryawannya berselisih paham.
"Enak dong kak, nggak dimarahi" kata Santi masih belum terima.
"Nggak enak lho jadi dia. Apa lo mau coba?" tanya Yopi yang merasa senasib.
"Tuh, lo tanya aja sama Ilham susahnya sekolah sambil kerja. Dia kan paling netral disini" kata Yopi.
"Beuh, capek banget teh Santi. Teteh mau nyobain nggak? Gue nggak ada waktu tidur siang, nggak ada santainya deh selama seharian. Gajian cuma lewat doang buat biaya sekolah dan makan" Ilham malah curhat dengan gesture tubuh yang lucu.
"Makanya Yop, naikin gaji dong" kata Ilham yang membuat semuanya tertawa, bisa saja dia mencairkan suasana.
"Bilang sendiri sama Richard" kata Yopi, membuat Ilham mengangkat kedua tangannya. Menyiratkan jika dia tidak berani.
"Yasudah, ayo kerja yok! Semangat, semoga pengunjung hati ini semakin banyak" doa Yopi di akhir brifingnya.
Menandakan waku bekerja sudah tiba. Semuanya berpencar setelah berdoa bersama. Menuju tempatnya masing-masing.
Saat keluar dari dapur, Aish sudah siap dengan buku catatan di tangannya.
"Princess, gue disini" Falen melambaikan tangannya begitu melihat Aish.
"Sudah lama?" tanya Aish, selalu dengan senyuman cantiknya.
"Ya memang dia lagi kerja, Fal. Malah nggak sopan kalau dia ikut duduk disini" kata Indira sambil mengamati penampilan Aish dari kepala hingga kakinya.
Merasa risih, Aish hanya bisa tersenyum. "Iya, lo benar, Indira. Kalian mau pesan apa?" tanya Aish berusaha sebiasa mungkin.
Falen menatap Indira tajam, tak suka mendengar penuturannya. Bagaimanapun, Aish masih menempati posisi sebagai princess di hati para punggawanya.
"Fal, mau pesan apa?" tanya Aish menepuk pelan pundak Falen, mengisaratkan jika dia baik-baik saja.
"Sebentar ya, princess. Gue lihat dulu" kata Falen. Aish mengangguk dan masih setia berdiri di sebelah mereka.
Richard mengetahui semua itu, dalam hati dia sangat menyayangkan sikap Falen yang tak bisa tegas pada Indira.
Merasa tak terima, Richard menghampiri Aish yang masih berdiri menunggu kedua manusia yang sedang memilih menu.
Merangkul pundaknya setelah dekat, Richard menatap tajam pada kedua makhluk yang dianggapnya kurang ajar.
"Kok sudah disini? Belum gue chatting lho" kata Aish, sedikit terkejut.
Falen mendongak, menatap Richard yang selalu menampilkan wajah tak bersahabat padanya. Sedangkan Indira sudah menampilkan senyum terbaiknya.
"Gue kan sehati sama lo, Ra. Gue bisa ngerasain kalau lo lagi sedih, nggak cuma dimulut doang" sindir Richard.
Falen merasa gagal untuk melindungi princessnya kali ini. Dia hanya bisa menunduk.
"Jadi pesan apa?" tanya Aish, tak suka dengan kondisi perang dingin antara Richard dan Falen.
Aish mencatat setiap pesanan mereka dengan teliti, lalu membacanya lagi sebelum pergi ke dapur untuk meneruskan pesanan pada pihak dapur.
Richard juga ingin pergi, tapi suara Indira terdengar mencegahnya.
"Richard, gue dengar lo jago nyanyi ya?" tanya Indira.
"Biasa aja" jawab Richard singkat.
"Nyanyi bareng gue yuk" Indira berdiri, menarik tangan Richard menuju panggung yang kebetulan sedang kosong.
Falen hanya bisa terdiam, bahkan Indira tak berpamitan padanya. Dia menatap keduanya yang berlalu mendekati panggung.
Sebenarnya Richard tidak suka, tapi untuk menolaknya, dia khawatir jika nantinya Indira akan komplen dari sosmednya. Dia khawatir pengunjung cafenya akan menurun.
"Kita duet lagu apa nih?" tanya Indira yang terlihat sangat bersemangat.
"Terserah lo" jawaban singkat dari Richard sedikit membuat Indira tak suka.
__ADS_1
Richard bersiap dengan gitarnya, duduk di kursi yang tersedia dengan standing mick di depannya.
"Sebuah lagu dari Vidi Aldiano, yang berjudul Tak bisa bersama" kata Indira yang tiba-tiba memutuskan lagu pilihannya.
Richard sedikit tercengang, tapi sudah terlanjur diumumkan. Diapun berpindah posisi di depan organ, karena lagu itu lebih cocok diiringi organ daripada gitar.
"Kemana Indira?" tanya Aish yang mendapati Falen hanya duduk sendiri saat dia mengantarkan pesanan mereka.
Falen hanya menunjuk keberadaan Indira dengan dagunya. Aish menoleh, melihat Indira akan berduet dengan Richard.
Aish duduk di sebelah Falen, sekarang dia masih bisa tersenyum.
Lamat-lamat suara nyanyian Richard dan Indira sampai ke telinganya. Aish jadi terlarut dalam setiap bait yang mereka lantunkan.
"Kok gue jadi sedih ya, Fal?" gumam Aish, matanya memanas. Seperti akan menangis.
Falen menoleh, merangkul pundak Aish dengan sayang.
"Lo sudah sesayang itu ya sama Richard?" tanya Falen yang tak mendapat respon apapun dari princessnya yang terlihat sedang menunduk.
Sadar matanya telah berair, Aish tak berani menatap Falen. Jari tangannya sibuk menghapus jejak air matanya.
"Jangan sedih ya, princess. Gue yakin Richard juga sayang sama lo" kata Falen.
Mereka berdua tahu lagu itu sangat mewakili keadaan Aish dan Richard kali ini.
Aish menghapus semua air matanya, mendongak dengan senyum terpaksa. "Gue nggak apa-apa kok, Fal. Jalani saja, lagian ada lo, Seno, dan Hendra yang masih mau nampung gue kalau gue nanti galau" kata Aish yang tertawa sambil menangis.
Falen tak tega melihatnya, apalagi suara Richard juga terdengar sangat menghayati lagunya.
Falen jadi merutuki kelakuan Indira yang tak terencana itu.
Padahal, itu semua sudah Indira rencanakan dengan baik. Gadis itu sampai mencari tahu biodata Richard dari teman-temannya yang satu sekolah dengan Richard.
Dari atas panggung, Richard menajamkan matanya mengamati tingkah laku Aish dan Falen. Richard tahu Aish sedang menangis, dan itu karenanya.
"Semangat dong princess, cinta bikin lo jadi lembek ternyata" ejek Falen, dia hanya tak mau Aish terlalu bersedih.
"Iya, semangat. Gue nggak boleh lemah ya, Fal. Gue harus kuat, meskipun nanti gue bakalan jalani semuanya sendiri, tapi gue masih punya kalian yang bakalan selalu ada buat gue, iya kan?" kata Aish yang sudah terbit lagi senyumnya.
Falen merangkul sayang pada pundak sahabatnya ini. Sudah lama dia tak melakukan itu, ingat kebiasaanya dulu yang selalu merangkul pundak Aish dimanapun mereka berjalan bersama.
"Gue sayang sama lo, princess. Lo jangan sedih lagi, ya" kata Falen setelah melepas rangkulannya.
Aish mengangguk, Falen berinisiatif melakukan video call dengan kedua temannya yang lain. Tapi hanya Hendra yang menerima panggilan itu.
Sedangkan Seno sudah pasti sedang sibuk syuting. Ada garapan baru dari pihak management untuknya, Seno sedang melebarkan sayapnya dengan mengeluarkan sebuah single setelah videonya viral saat menyanyikan lagu count on me bersama para punggawa untuk princessnya beberapa saat yang lalu.
Aish sedikit terlupa dengan kesedihannya barusan, mereka berdua tidak menyadari saat Richard dan Indira sudah menghampiri meja mereka.
"Sudah dulu ya, Mahendra. Gue mau lanjut kerja nih, bosnya galak" Aish terkikik sambil melirik Richard yang berdiri di dekatnya.
"Oke, semangat my Princess. Long life for you, ganbatte" kata Hendra yang membuat Aish kembali tertawa.
Falen mematikan ponselnya, dan meletakkannya diatas meja.
"Gue kesana dulu ya, Fal. Lo have fun ya, kalau mau nyanyi juga boleh kok, iya kan Richard?" Aish meminta dukungan pacarnya.
Richard hanya mengangguk, lalu menggandeng tangan Aish untuk segera pergi meninggalkan meja Falen, dia sudah sangat muak melihat Indira yang terus saja melihatnya dengan senyuman.
Sedikit tergesa karena tarikan di tangannya, Aish masih sempat melambaikan tangannya untuk Falen dengan tangannya yang lain yang juga sedang memegang nampan.
"Maafin gue ya, Ra" tiba-tiba Richard berkata aneh, mereka berhenti di pintu dapur.
Aish mengernyit, heran dengan kelakuan pacarnya.
"Lo aneh, ngapain tiba-tiba minta maaf?" tanya Aish.
"Lo harus percaya sama gue kalau gue pasti bakalan selalu berusaha buat pertahanin lo di samping gue. Nggak bakalan pernah gue lepasin, apapun rintangannya. Lo harus percaya sama hubungan ini" panjang juga ucapan Richard kali ini.
"Gue percaya takdir, Richard. Semua gue serahin sama takdir. Baik atau buruk, itu yang harus gue jalani. Dan sejauh ini, Alhamdulillah gue masih bisa bertahan hidup meski ditinggalkan sama semua keluarga gue" perkataan Aish tak membuat Richard lega.
"Dan untuk hubungan ini pun, gue serahin sama Tuhan, sama Allah. Gue yakin apapun itu nantinya, itulah yang terbaik buat gue" Aish berlalu pergi setelah mengatakannya.
Di dapur, dia berpapasan dengan Ilham yang memandangnya dengan sayu. Seolah merasa kasihan.
"Jangan kasihani gue, Ham. Kita sama-sama menyedihkan" kata Aish yang sudah kelolosan satu bulir air mata, dan segera dihapusnya.
"Maka dari itu, Sya. Kita harus semangat, kita buktikan kalau kita bisa. Gue mau jadi orang sukses, Sya. Demi ibu dan adek gue" kata ilham menyemangati Aish.
"Gue juga, Ham. Gue pasti bisa meskipun tanpa Richard nantinya" kata Aish berusaha tersenyum meski hatinya yang tiba-tiba bersedih.
.
.
.
.
.
__ADS_1