
Aish merasakan sempit dan pengap, tapi tangisannya masih terdengar pilu menyayat hati. Mata sembabnya masih terpejam menikmati tangis yang tak bisa di redam.
Menyadarkan Falen yang seperti jatuh dalam posisi duduk di suatu tempat yang sempit dan juga gelap dari tidurnya yang sesenggukan?
"Kenapa? Kenapa gue nangis?" tanya Falen pada dirinya sendiri sambil mengusap air mata yang meleleh di wajahnya.
"Aduuhh.... badan gue sakit semua. Dimana sih ini?" lanjutnya yang berusaha bangkit tapi seperti duduk didalam kardus.
Telinganya masih mendengar tangisan yang sangat memilukan. Tidak terlalu keras, tapi nyatanya malah membuat bulu kuduk meremang.
Falen berusaha bangkit, rasa penasarannya membuat tubuhnya bergerak meski terasa sangat ngilu.
Tangannya meraba, berusaha membuka pintu di depannya, ternyata ringan.
Matanya menyipit karena sinar terang yang masuk saat pintu itu terbuka. Ternyata dia sedang duduk didalam sebuah lemari? Bagaimana bisa?
Diapun bangkit, mencari sumber suara tangisan yang ternyata berasal dari pintu lemari disebelahnya.
Falen membuka pintu lemari itu perlahan, mengintip pada apa isinya. Seorang perempuan yang memakai baju yang sama sepertinya, dan berhijab.
Falen mengedarkan pandangannya, dia berada di sebuah gudang. Banyak sekali barang yang tidak terpakai, dan lemari kosong ini juga salah satunya.
Ternyata sebelumnya, dia berada di dalam lemari yang mempunyai dua pintu. Salah satu pintunya adalah tempatnya tersadar tadi. Dan pintu lainnya ada di hadapannya, berisi seorang perempuan yang sedang menangis meringkuk memeluk kedua lututnya yang ditekuk, bahunya sampai naik turun.
"Hei, lo kenapa nangis?" tanya Falen mengguncang salah satu bahu perempuan itu.
Lambat laun perempuan ini mendongak, rupanya dia telah sadar ada orang lain ditempat itu. Matanya yang sangat sembab terpicing karena silau.
"Aish, lo baik-baik saja kan?" tanya Falen kaget, bercampur senang.
"Falen.... ini beneran lo kan ya?" tanya Aish senang.
"Iya ini gue. Ayo gue bantuin bangun" kata Falen mengulurkan tangannya.
Aish menyambut uluran tangan Falen. Bangkit perlahan dan secara refleks memeluk sahabatnya yang dikira telah mati bersama. Falen membalas pelukan sahabatnya itu, membelai singkat kepala Aish yang tertutup hijab.
"Gue seneng banget masih bisa ketemu sama lo. Dimana Hendra dan Seno? Lo lihat mereka belum?" tanya Aish mengurai pelukannya.
"Belum, ayo cari mereka" kata Falen.
Masih terdengar Aish yang menangis, sesekali dia mengusap air matanya dengan ujung hijabnya. Membuat Falen merasa kasihan.
"Sudah, lo jangan nangis lagi ya. Kita cari mereka sama-sama".
"Iya" Aish mengucap sambil mengangguk.
Mereka berdua mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan itu. Berharap menemukan kedua temannya.
Aish melihat ujung sepatu dari balik badan Falen, tepatnya di sebelah lemari. Tidak begitu jelas karena pintu lemari itu masih terbuka.
"Ada orang dibelakang lo Fal. Di dekat lemari" kata Aish.
Falen memutar tubuhnya, lalu menutup pintu lemari. Selanjutnya, mereka berdua berjalan ke sisi lemari untuk melihat siapa yang ada disana.
"Hendra?" Aish setengah berteriak sangking senangnya.
__ADS_1
Dia mendekat, lalu duduk disampingnya, langsung menggoyang bahu Hendra yang tertidur sambil duduk bersandar pada sisi lemari.
"Hen, Hendra... Bangun, bangun Hendra" kata Aish.
Masih belum ada respon dari temannya itu.Dia masih asyik terpejam. Sambil sesekali meringis seperti menahan sesuatu.
Falen ikut berjongkok, lalu menepuk-nepuk kaki Hendra yang selonjoran sambil memanggil namanya.
"Hendra, lo tidur apa pingsan sih? Bangun dong" kata Falen.
Setelah beberapa saat berusaha membangunkan, Hendra mulai merespon. Saat kedua matanya terbuka secara perlahan, objek pertama yang dia lihat adalah kedua tangannya
Kemudian, kedua tangan itu meraba rambut hingga lehernya. Terus menuruni bahu hingga menyentuh lengannya.
"Gue masih hidup" kata Hendra.
Aish dan Falen tertawa dengan respon pertama Hendra. Masih dengan nyawa yang belum lengkap, dia malah seperti orang linglung.
"Hah, lo berdua juga selamat? kita dimana ini sekarang? bukannya tadi gue didorong oleh seseorang ya?" tanya Hendra yang masih bingung.
"Alhamdulillah Hen, kita selamat. Kayaknya kita masih disekolah deh. Lihat saja, kita masih memakai seragam kan?" kata Aish.
"Iya benar. Dimana Seno?" tanyanya lagi.
"Kita masih belum tahu. Ayo kita cari" kata Falen.
Hendra berdiri dibantu Falen. Rasanya dia masih gemetaran mengingat kejadian dimana dia yang didorong masuk kedalam kobaran api. Membuat lututnya agak tremor.
"Seno, Seno... Lo dimana?" mereka berteriak memanggil Seno.
"Mungkin nggak sih kalau dia ketinggalan?" tanya Hendra.
"Jangan dong. Kasihan tau" kata Aish.
Cukup lama mereka mencari, masih belum menemukan anak mommy itu. Tersangkut dimana dia saat ini. Membuat ketiganya cemas.
Lamat-lamat terdengar suara dengkuran ringan, seperti orang yang tertidur pulas. Tapi darimana?
" Kalian dengar nggak sih ada orang ngorok?" tanya Falen.
"Iya, masak Seno sih? Tapi darimana asalnya ya?" tanya Aish.
Hendra mencari dalam diam, mengikuti sumber suara berasal. Mereka mengelilingi gudang itu, berpencar meski masih dalam satu ruangan.
Bruuutttt...
Ketiganya kaget mendengar bunyi sakral itu. Sumpah demi apapun, menjengkelkan.
Mereka bertiga sama-sama menoleh dan melihat satu sama lainnya. Dan berjalan mendekat.
"Kalau dari bunyinya seperti dari atas" kata Falen sambil memencet hidungnya.
Hendra dan Aish mengangguk bersama dan melihat ke arah yang sama sambil memencet hidungnya juga, tidak keras sebenarnya. Karena mereka masih bisa bernapas dengan baik.
"Sialan memang tuh anak mommy, situasi gawat kayak gini malah gaje" kata Falen jengkel.
__ADS_1
Aish tersenyum dan berkata "nggak sadar dia, yang penting dia selamat".
Mereka lega melihat Seno mendengkur membelakangi dinding, ternyata dia tertidur diatas lemari.
"Seno, bangun. Awas jatoh" kata Aish yang hanya bisa memandangi kelakuan temannya, badannya yang imut todak bisa menjangkau tubuh Seno yang terdampar diatas lemari tinggi itu.
Falen mengguncang tubuh Seno, tangannya terulur untuk menggoyang-goyang kaki Seno.
"Bangun Seno" kata Falen. Tapi tak kunjung membuat Seno tersadar.
"Sen, bangun! Lo tidur apa pingsan sih" kata Hendra ikut menggoyangkan tubuh Seno.
"Banguuuunnnnn!" kata Falen menggunakan kertas yang dibentuk menyerupai corong, dan menggunakannya seperti speaker di dekat telinga Seno.
Seno yang kaget langsung duduk, tapi kepalanya malah terbentur atap, karena memang lemari itu sangat tinggi.
"Aduuuhhh, kepala gue sakit banget" kata Seno memegangi kepalanya dan duduk menunduk, takut terbentur lagi.
"Hahahha, bego banget!" Hendra malah menertawakan.
"Sialan lo emang" kata Seno menoleh pada temannya, dan betapa terkejutnya dia saat sadar berada pada posisi seperti itu.
"Kenapa gue bisa ada disini sih, bantuin gue turun dong" kata Seno panik.
Hendra dan Falen mencari kursi untuk dijadikan pijakan, dan menyuruh Seno turun perlahan, tentu dengan bantuan.
"Huft, sialan. Kenapa gue bisa ada disini sih?" tanyanya sambil mengedarkan pandangan.
"Ya ampun..... Demi apapun gue seneng banget bisa bebas dari dunia aneh itu" kata Seno gembira sambil memeluk ketiga temannya dan meloncat-loncat kegirangan.
Karena kegembiraan Seno yang seperti anak kecil, menular pada ketiga temannya. Bahkan Hendra yang cuekpun malah ikut jingkrak-jingkrak seperti anak TK.
Mereka berpegangan tangan sambil loncat kegirangan dan berteriak-teriak tidak karuan.
Lelah dengan euforianya, keempat sekawan itu duduk melingkar. Tangan mereka masih berpegangan, senyum senang menghiasi wajah lelah mereka.
"Ya ampun, serasa sangat nyata semuanya. Kira-kira kita sekarang dimana ya?" tanya Seno.
Mereka memindai seluruh ruangan dengan netranya, dan yakin dengan satu hal.
"Gudang sekolah" ucap Aish, Hendra dan Falen serempak.
.
.
.
.
.
.
Pliiss klik tombol likenya juga ya teman-teman...... Terimakasih...
__ADS_1