
"Yop, gue bingung nih. Menurut lo, kalau sudah diperbolehkan pulang, mendingan Aish dibawa ke rumahnya apa kemana ya?" tanya Richard, dia sedang berdiri di pagar rooftop cafenya.
"Kemana ya enaknya? Menurut lo gimana, Ren?" tanya Yopi yang malah melempar pertanyaan pada Reno.
"Malah nanya gue, bawa ke rumah gue juga nggak apa-apa. Cuma ya lo tahu sendiri gue hidup sama mama tiri gue" kata Reno.
"Mulut lo, Ren... Gimana kalau ke rumahnya sendiri terus tiap hari biar dijagain sama enyak?" tanya Yopi.
"Jangan deh, tuh orang tua sudah mau gue titipin lo saja sudah bagus banget. Masak sekarang mau gue titipin Aish juga sih? Kasihan lah" kata Richard.
"Rumah lo saja, Ri. Art lo kan banyak, suruh saja salah satu dari mereka buat jagain Aish" saran Yopi.
Sedikit berfikir, memang art dirumahnya banyak juga. Lagian, kamar dirumahnya juga banyak yang kosong. "Benar juga kata lo. Tapi Aish mau apa enggak ya?" kata Richard ragu.
"Diem-diem saja, Ri. Kalau sudah boleh pulang, ya langsung lo bawa ke rumah lo saja. Pasti dia nggak akan bisa nolak, kakinya kan sakit, nggak bisa kabur" kata Reno.
"Betul juga. Tinggal bilang sama orang tua gue" kata Richard, ini yang agak ribet. Meminta ijin orang tuanya.
"Menurut gue nih, cepetan lo bilang sama ortu lo. Nanti kalau si Aish sudah boleh pulang, biar nggak ada hambatan lagi" kata Yopi.
"Iya, kalian benar. Bentar gue telpon mama dulu" kata Richard menghubungi mamanya.
"Hallo, mama dirumah?"
tanya Richard saat mamanya sudah mengangkat penggilan darinya.
"Iya, dirumah. Ada apa? Tumben kamu nanyain mama?"
tanya Mamanya heran.
"Ada yang mau Richard omongin sama mama dan papa. Richard harap papa sama mama nggak pergi kemana-mana dulu malam ini. Jam tujuh malam, Richard pulang"
kata Richard yang langsung mematikan panggilannya. Kalau tidak begitu, pasti orang tuanya akan banyak alasan untuk tidak mau menemuinya.
"Kebiasaan lo, Ri. Main matiin telpon" kata Reno.
"Lo kan sudah terbiasa, Ren. Kenapa baru complain sekarang" kata Richard.
"Tumben lo tenang ninggalin pacar tercinta lo? Lagi sama siapa dia sekarang?" tanya Reno yang heran.
"Lagi sama Brian dan Hendra. Mereka nggak akan ngapa-ngapain Aish, nggak kayak lo berdua" kata Richard.
"Anda lupa kalau setiap hari tuan putri selalu dalam penjagaan hamba tuan? Buktinya hamba tidak berbuat sesuatu yang merugikannya sedikitpun" sindir Yopi.
"Cg, gue lupa" kata Richard tergelak.
"Gue balik dulu deh, keburu ortu gue kabur" kata Richard.
"By the way, thank's ya sudah kasih saran" kata Richard sambil berlalu pergi.
Reno dan Yopi hanya melambaikan tangan untuk membalas perkataan Richard.
★★★★★
Masih setengah tujuh malam, Richard sudah datang dirumah besarnya. Tempat yang biasanya sepi itu rupanya sedang dikunjungi oleh sang pemilik rumah dan anak bungsunya.
"Ma, mama" teriak Richard saat memasuki ruang tamu.
"Mama ada bik?" tanya Richard saat melihat artnya yang kebetulan lewat.
"Ada den, sepertinya ada diruang kerja bapak" kata Art itu.
"Makasih" kata Richard meninggalkan art yang berdiri terpaku, baru kali ini Richard mengucapkan terimakasih padanya.
Wanita yang sudah cukup tua itu tersenyum senang.
Tok... Tok... Tok ...
"Ma, pa, boleh Richard masuk?" tanya Richard.
Handle pintu bergerak, mamanya membukakan pintu ruang kerja papanya.
"Tumben kamu permisi, biasanya langsung masuk" kata Mamanya.
"Permisi salah, main selonong tambah salah" gumam Richard yang berjalan memasuki ruangan, membuat mamanya sedikit menghindar karena Richard yang melewatinya.
Richard duduk di sofa di depan meja kerja papanya yang sedang sibuk dengan laptop di depannya.
Sedangkan mamanya juga ikut duduk di sofa sambil membaca buku tebal di hadapan Richard.
"Pa, Richard mau ngomong sama papa" kata Richard yang tak juga mendapat respon apapun dari papanya meski telah duduk beberapa saat disana.
Sengaja papanya melakukan itu untuk menguji seberapa sabar Richard sejauh ini.
__ADS_1
Papanya melorotkan kacamata yang sedang dipakai hingga ke tengah hidungnya. Lalu melihat ke arah Richard yang sedang menatapnya.
Masih terlihat aura ketegasan dan ketampanan di wajah sang papa. Watak keras dan tegasnya diturunkan pada Richard, juga sikapnya yang dingin. Hanya pada mamanya saja sang papa terlihat bersikap lumer.
"Ada apa?" tanya Papanya.
Ditanya seperti itu saja sudah membuat Richard sedikit gugup. Pertama kali baginya untuk meminta seorang gadis agar diijinkan tinggal dirumahnya.
"Kenapa diam? Waktu papa tidak banyak" kata papanya masih dengan tatapan tajam.
Mamanya jadi penasaran, apa yang akan disampaikan anaknya ini.
"Ehm... Ini serius pa, ma" kata Richard sambil melihat wajah orang tuanya secara bergantian
"Teman Richard baru saja kecelakaan, terjatuh ke jurang waktu camping. Dia tidak punya keluarga lagi. Dirumahnya, dia hanya sendiri" kata Richard mengawali pembicaraan.
"Kakinya retak, tidak bisa berjalan normal" kata Richard menghentikan ucapannya.
"Lalu?" tanya sang papa.
"Boleh nggak kalau teman Richard itu untuk sementara waktu tinggal dirumah ini. Richard kasihan kalau dia sendirian" kata Richard sambil menunduk.
Papanya jadi heran, sampai sebegitunya Richard pada temannya ini. Dan, tunggu! Baru kali ini juga Richard terlihat khawatir.
Bibir sang papa terangkat, senyum liciknya mengembang. "Bisa dimanfaatkan" gumamnya dalam hati.
"Teman kamu itu, laki-laki atau perempuan?" tanya papanya.
Mama Richard ikut tersenyum, beliau mulai mengerti alur pemikiran suaminya.
Sedikit ragu, Richard melihat ke arah papa dan mamanya bergantian.
"Ehm, perempuan" jawab Richard sambil memejamkan salah satu matanya, dan menggigit bibir bawahnya. Berharap bisa mengurangi sedikit ketegangan dalam dirinya.
Papanya melepas kacamata yang sedang dipakai, meletakkan dengan sedikit menghempas agar terdengar bunyi nyaring.
Lalu beliau berdiri, dan berjalan mendekat pada anak bungsunya yang ternyata sudah cukup dewasa.
Papanya mengamati sang anak. Tak terpikir olehnya jika anak kecil yang dulu sering beliau tinggalkan untuk bekerja, ternyata sekarang sudah sebesar ini.
Banyak waktu terbuang percuma, hingga beliau tidak bisa menemani tumbuh kembang anak-anaknya. Sedikit rasa bersalah hadir dalam benak sang papa.
Bahkan pernah beliau membandingkan tinggi badan mereka, ternyata Richard, anaknya ini malah lebih tinggi darinya.
Sekalinya berkumpul, pasti sedang membahas sebuah masalah.
Sekarang papa dan mamanya saling menatap, mereka tersenyum. Dan mamanya mengangguk. Lalu, mereka berdua kompak memasang wajah serius lagi.
"Kenapa kamu sangat perhatian pada gadis ini? Apa istimewanya hingga papa harus mengijinkan dia untuk bisa tinggal dan dirawat dirumah ini?" tanya papanya.
Richard mendongak, menatap papanya yang sedang duduk di senderan kursi di depannya. Tempat mamanya duduk.
Kedua tangan papanya bersedekap didepan dada. Dengan sorot mata tajam menatap anak bungsu yang sedang dilanda rasa gusar.
"Ehm, Aishyah itu sudah tidak punya orang tua pa. Dalam kondisinya yang sedang sakit seperti ini, paling tidak ada Art yang merawatnya kalau dia ada disini" kata Richard memberi alasan sebisanya.
"Seandainya, Franda yang sakit dan tidak punya keluarga lagi. Apa kamu juga mau menampungnya disini?" tanya papa Richard.
Richard terkejut, gerakannya cepat saat menoleh ketika mendengar papanya menyebut nama Franda.
Dia ingat, Franda adalah salah satu pacarnya saat kelas sembilan SMP dulu. Setiap hari dia datang ke rumahnya karena tidak mau diputuskan hubungannya secara sepihak oleh Richard.
Gadis bar-bar itu sampai mengaku hamil, padahal Richard tidak pernah berbuat sesuatu diluar batas saat berpacaran.
Orang tuanya bahkan sudah percaya pada anak gadisnya. Tapi, ya... Dengan sedikit kekuasaan, papa Richard menangani dengan baik masalah kecil seperti ini.
Setelah keadaan terbalik, kedua orang tua Franda yang sempat marah-marah, jadinya meminta maaf pada papa Richard.
Franda dan keluarganya harus pergi dan tinggal diluar kota atas permintaan papa Richard.
"Pa, kejadian itu sudah berlalu. Richard malah sudah lupa sama dia" kata Richard.
"Papa kan cuma tanya, seandainya Franda yang sakit, apa kamu mau menampungnya?" tanya papanya lagi.
"Enggak pa, Richard kan nggak suka sama dia" akhirnya terucap sudah alasan utamanya.
Papanya sedikit menyunggingkan senyum. "Jadi, dia teman spesial kamu ya?" tanya Papanya.
Richard kembali menunduk, dia terpancing dengan mudahnya.
"Seperti apa Aishyah itu?" tanya papanya lagi. Padahal beliau sudah tahu seperti apa gadis itu, beliau memberi bodyguard tanpa sepengetahuan Richard. Dan dari mereka, papanya selalu tahu kegiatan anak-anaknya diluar.
Begitupun Romeo, papanya juga memberi bodyguard tanpa sepengetahuannya saat berada di negri orang.
__ADS_1
"Aishyah itu baik, pokoknya papa harus ngijinin dia untuk tinggal sementara waktu dirumah ini. Paling tidak, sampai kakinya sembuh, pa. Richard mohon" kata Richard sambil menangkupkan kedua tangannya didepan dada.
"Kamu sampai memohon seperti ini. Baiklah, papa akan ijinkan" kata papanya, Richard sudah menerbitkan senyumnya. Terasa lega.
"Tapi ada syaratnya" kata papanya, membuat wajah Richard kembali lesu.
"Bisa nggak sih, papa ngasih sesuatu tanpa syarat?" tanya Richard.
"Kalau kamu tidak mau ya tidak apa-apa, papa nggak akan maksa" kata papanya.
"Syaratnya apa?" tanya Richard.
"Papa mau laporan keuangan dari cafe yang sudah kamu beli dan sudah kamu kelola sejauh ini tanpa sepengetahuan papa. Dan juga laporan dari renovasi tempat usaha yang akan kamu jalankan. Dan satu lagi--" papanya menjeda ucapannya agar Richard mau melihat ke arahnya.
"Belajarlah bisnis papa, belajarlah urusan perusahaan papa" kata papa Richard.
Richard tak percaya dengan ucapan papanya. Darimana papanya bisa tahu jika cafe itu miliknya? Richard tak pernah memberitahu siapapun, kecuali Willy.
Dan Richard yakin jika Willy tidak akan membocorkan rahasianya karena memang Willy dan papanya tidak cocok dalam hal bisnis.
"Papa memaksa Richard?" tanya Richard lirih.
"Terserah, kalau kamu tidak mau ya tidak apa-apa. Papa juga tidak akan mengijinkan pacar kamu itu untuk tinggal disini. Asal kamu tahu ya Richard, tidak ada yang gratis kan didunia ini" kata papanya.
Richard mendesah, kedua tangannya menyugar rambut yang diwarnai blonde itu.
Kalau sudah begini, Richard bisa apa selain menuruti kemauan papanya demi Aishyah?
Anggaplah itu semua pengorbanan demi bisa bersama dengan kekasihnya.
Ya ampun, pemikiran kamu sudah cukup dewasa ya, Richard...
"Baiklah, baik... Atur saja jadwalnya, yang penting biarkan Aishyah tinggal disini. Dan pastikan ada yang merawatnya dengan baik" kata Richard yang akhirnya menyetujui permintaan papanya.
Lalu dengan segera, dia pergi meninggalkan kedua orangtuanya yang sedang saling tatap dengan senyuman penuh arti.
"Kasihan lho pa, syarat kamu itu cukup berat untuk anak seusianya" kata mamanya, setelah Richard pergi dengan membanting pintu ruangan seperti biasanya saat dia sedang marah.
"Papa nggak ada pilihan lain, ma. Cuma dia satu-satunya anak yang bisa papa harapkan" kata papa Richard yang kini duduk disebelah sang istri.
"Kamu lihat Alan, dia bahkan tidak pernah mau ke Indonesia sejak tinggal di Jepang dan mengurus bisnisnya disana".
"Dan Willy, setelah menikah dengan Helda dan tidak punya anak, papa tahu dia menikah dengan wanita lain yang bernama Alif. Dan lihat, sekarang kedua istrinya bahkan sudah tak ada disampingnya".
"Meninggalkannya dengan kedua anak yang masih butuh kasih sayang. Tapi papa bangga karena Willy mampu membagi waktunya untuk keluarga, tidak seperti papa" kata papa Richard sambil menunduk.
Ada rasa penyesalan karena beliau tidak bisa menjadi papa yang baik untuk keempat anaknya.
Mama Richard hanya bisa membelai sayang pada lengan suaminya agar bisa sedikit mengurangi rasa sedih yang tiba-tiba hadir.
"Dan kamu lihat Romeo. Papa sudah mengikuti kemauannya untuk tinggal diluar negri. Tapi apa? Kelakuannya semakin liar. Papa tahu seperti apa dia disana. Foya-foya, *** bebas, dan belajarnya sangat kurang" kata papanya bersedih.
"Harapan papa cuma Richard, ma. Dia yang sekarang sudah lebih baik daripada dulu. Papa yakin Aishyah itu anak yang baik, hingga bisa sedikit merubah sifat dingin dan kaku Richard menjadi lebih baik".
"Papa dengar dari para Art, Richard sering bilang terimakasih pada mereka" kata papa Richard sambil tersenyum.
"Mama juga senang dengan perubahan Richard, pa. Ya, semoga dia berada di tangan yang tepat agar bisa menjadi lebih baik" kata mamanya.
"Papa jadi ingin bertemu secara langsung dengan gadis yang bernama Aishyah ini, ma. Apa kecantikannya melebihi istriku tercinta ini, sehingga bisa meluluhkan batu seperti Richard" kata papanya menggoda sang istri.
"Mana bisa dibandingkan seperti itu, pa? Kalau dia lebih cantik, memangnya papa mau merebutnya dari Richard?" tanya mamanya dengan wajah cemberut.
Mana bisa dibandingkan dengan gadis remaja? Papanya ini aneh-aneh saja.
Papa Richard tergelak melihat ekspresi cemberut istrinya.
"Tapi papa penasaran, ma. Kenapa Richard begitu menyukai gadis ini. Nanti kalau ada waktu, kita temui dia sama-sama ya ma" kata papa Richard.
"Kenapa nggak papa sendiri saja yang menemui Aishyah itu? Kenapa harus sama mama?" tanya mamanya memancing emosi.
"Papa takut kalau niatnya kadi belok. Nanti gimana kalau papa malah ingin jadi sugar daddynya Aishyah. Terus anak itu papa jadikan sugar baby?" kata papa Richard semakin menggoda istrinya.
"Oh, jadi papa mau rebutan perempuan sama anak sendiri toh?" kata mama Richard semakin cemberut.
Papa Richard makin tergelak, tawanya sulit diredam.
Penampilan kedua orang tua itu sangat berbeda jika sudah berada di muka umum. Kesan tegas dan berwibawa lenyap sudah jika sedang berduaan seperti ini.
.
.
.
__ADS_1
.