Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
olah TKP


__ADS_3

Falen sangat geram setelah mendengar penuturan Aish, saat dia berjuang untuk bisa memberi rasa aman pada sahabat tersayangnya ini, malah dengan sengaja kakaknya sendiri yang berusaha merusak masa depan Aish.


"Sialan memang kak Siras, awas saja nanti ya" kata Falen tersulut emosi.


"Bahaya banget sih, untung saja Richard itu pacar siaga ya buat lo" kata Seno menimpali.


"Sudah ya Fal, lo kan janji nggak akan memperpanjang lagi masalahnya. Jadi, ya gue harap lo pegang janji ya" kata Aish berusaha menenangkan.


"Tapi dia itu bahaya loh buat keselamatan lo ke depannya. Biar gue tegur saja deh, gue kan jadi khawatir kalau ngebiarin lo sendirian" kata Falen.


"Terserah lo sih, tapi inget kalau dia itu kakak lo. Jangan aneh-aneh ya" kata Aish.


Tak terasa perjalanan panjang itu berlalu, mobil Seno sudah menepi. Mencari posisi aman untuk parkir.


Mereka berempat turun bersama, mencari keberadaan Fian agar bisa diijinkan untuk masuk dan melihat proses olah TKP.


Orang-orang sekitar bergerumbul untuk ikut melihat rekonstruksi kejadian malam itu.


"Bang Fian" teriak Hendra yang melihat Fian melintas.


"Oh, kalian sudah sampai. Ayo masuk, tapi jangan terlalu dekat ya" kata Fian memperingatkan mereka.


"Iya bang" kata mereka yang kemudian mengikuti arah gerak Fian.


Aish tidak tahu jika Richard juga datang bersama kakaknya, Willy. Hanya Richard yang menyadari keberadaan Aish. Mereka berdiri di sisi yang berbeda.


Willy bisa membaca kegelisahan Richard. Ekor matanya ikut melihat arah pandang sang adik.


Ternyata dia sedang memperhatikan seorang gadis cantik berhijab navy.


"Jadi, dia Aishyah?" tanya Willy. Richard hanya mengangguk, pandangannya masih belum lepas dari Aish.


"Sekarang dia cantik ya" kata Willy yang ikut memperhatikan Aish.


"Dulu seingat kakak, dia itu sangat pemalu dan juga pipinya tembem. Tapi sekarang sudah berubah jadi gadis yang cantik" kata Willy.


"Kakak pernah bertemu Aish sebelum ini?" tanya Richard.


"Ya, pernah. Hanya satu kali, saat kakak datang ke rumahnya untuk melamar Alif. Tapi ditolak oleh keluarganya" kata Willy merenung, membayangkan pertemuan pertamanya dengan keluarga Alif.


"Tentu saja ditolak. Lo kan brengsek kak" umpat Richard pada kakaknya.


"Cg, kamu memang adik sialan" balas Willy.


"Tapi kamu jangan khawatir, kakak akan usahakan agar bisa mempercepat sidang. Agar semua orang tahu jika kakak tidak berbuat sekeji itu pada istri kakak sendiri" kata Willy.


"Harus, karena hubungan gue sama Aish jadi taruhannya" kata Richard.


"Tenanglah, boy" kata Willy.


"Kamu sudah yakin dengannya?" tanya Willy lagi.


"Of course. Gue bukan lo yang nggak bisa setia. Maruk sekali sampai beristri dua" Richard mengeluarkan kata pedas pada kakaknya.


Willy mendelik mendengar kata-kata pedas yang Richard lontarkan padanya.

__ADS_1


"Kita memang jarang sekali bertemu, kakak yakin pertemuan kita bisa dihitung dengan jari. Tapi kakak tidak menyangka jika mulut kamu sepedas itu" kata Willy menggelengkan kepalanya, tidak menyangka jika Richard yang pendiam itu ternyata bermulut api, membuat hatinya panas saja.


"Kita bisa berantem kalau lo nggak suka" kata Richard dengan pandangan masih mengarah pada Aish yang sedang berbincang-bincang dengan Fian dan teman-temannya.


"Cg" Willy hanya bisa mendecak mendengar penuturan adiknya.


"Untung saja kamu adik saya" gumam Willy.


Sebuah mobil tahanan datang ke TKP pukul sembilan malam. Suara sirine polisi semakin membuat orang sekitar datang untuk sekedar memuaskan rasa ingin tahunya.


Beberapa orang polisi datang untuk mengamankan lokasi agar proses rekonstruksi kejadian berjalan dengan lancar.


Tomy turun dari kendaraan dengan pengawalan ketat. Baju berwarna orange khas tahanan melekat pada tubuhnya dengan borgol yang mengikat kedua tangannya ke belakang.


Pandangan Aish sempat bertemu dengannya saat melintas, sorot mata penyesalan terlihat jelas disana. Semoga Tomy mau buka mulut nanti agar proses pengadilan bisa segera usai.


Dari sini Aish tahu bagaimana bejatnya Tomy saat menghabisi kakaknya. Bahkan sebenarnya alasan Tomy sampai hilang kendali adalah sikap Alif yang tidak mau memuaskan hasrat kelelakiannya.


Percekcokan ringan terjadi karena Alif yang katanya akan dijemput Willy malah mendapati Tomy dengan mobil keluarga Willy.


Tomy masuk dan memberi penjelasan singkat, beralasan Willy yang sedang mempersiapkan makan malam romantis.


Saat sudah masuk, Tomi mengunci pintu dan terlena melihat penampilan Alif yang luar biasa cantik malam itu.


Balutan gaun berwarna navy dengan model sabrina sangat menggairahkan di mata Tomy yang otaknya sedang diliputi gairah.


Tentu saja Alif menolak dan mengancam Tomy yang akan berbuat kurang ajar padanya dengan memarahi dan mengatakan jika Tomy tidak level dengannya, yang notabene adalah istri dari Willy juga.


Penolakan itu membuat emosi Tomy naik, dia melepas gespernya dan mengikat leher Alif dengan kencang, mulut Alif diikat dengan taplak meja agar tidak mengeluarkan suara.


Bingung karena Alif tidak bergerak, Tomy segera membuka ikatan gesper di leher Alif. Disana Alif masih bisa bernafas lagi.


Alif melawan, kini dalam kondisi lemas tak berdaya, Tomy tega melecehkan Alif. Dari sinilah diketahui mengapa baju Alif masih utuh padahal jasadnya terbakar.


Tentu saja pemandangan seperti itu membuat Aish tak berdaya, air matanya seketika meleleh. Merasakan bagaimana kejamnya perilaku Tomy pada sang kakak.


Dekapan Falen menjadi sandaran nyaman untuk Aish menumpahkan emosinya. Tapi itu tentu menjadi pemandangan yang sangat menyesakkan bagi Richard. Seharusnya dia yang menjadi sandaran bagi Aish, hanya saja nasib sedang mempermainkan mereka berdua.


Apalagi Willy, emosinya kian membuncak. Alif selalu dijaganya dengan baik, selalu disayangi sepenuh hati, selalu dimanjakan. Tangannya mengepal menahan amarah, wajah putihnya bahkan sudah sangat memerah.


"Aarghhh..... Sialan...!" teriak Willy yang tidak sanggup lagi menahan amarahnya. Membuat semua orang menoleh ke arahnya.


Willh berlari ke arah Tomy berada, menerobos police line yang terpasang disekitar lokasi. Tujuannya hanya satu, dia ingin menghabisi Tomy sekarang juga.


Satu pukulan berhasil mendarat di kepala Tomy. Tapi para polisi menahan tubuh Willy agar tidak terlalu membuat onar.


Sumpah serapah keluar dari mulut Willy untuk Tomy. Sementara Tomy hanya bisa diam sambil menunduk malu dan merasakan sakit bekas pukulan di kepalanya.


Richard menghampiri sang kakak, dari sini Aish baru tahu kalau ada Richard disana. Tapi dia tidak perduli, dekapan Falen masih menjadi senderan ternyaman untuknya saat ini.


"Tenang pak, jangan menghambat proses penyelidikan. Kalau bapak tidak bisa bersikap kooperatif, silahkan pergi dari sini" kata Fian menengahi kejadian itu.


"Maaf pak, maafkan saya. Saya terbawa emosi" kata Willy dengan napas memburu, dia masih berusaha mengendalikan emosinya.


"Ayo kak" kata Richard membawa Willy ke pinggir lokasi, tempatnya tadi mengamati Aish.

__ADS_1


Sampai di tempatnya berdiri, Richard masih melihat ke arah Aish berada. Kini, Aish jadi merasa kalau Richard sedang memperhatikannya.


Masih dalam dekapan Falen, Aish menoleh dan melihat ke arah Richard. Pandangan mereka bertemu, rasa bergejolak dalam dada mereka terasa membakar memenuhi rongga dada.


Falen mengikuti pandangan Aish, "Abis ini gue yang dihajar sama cowok lo, princess" goda Falen.


"Gue lagi sedih, bule" kata Aish yang kemudian berdiri sendiri, menghapus jejak air matanya dengan lengan baju.


"Kayak bocah SD kalau gitu" goda Falen lagi.


Aish malah menarik kaos Falen untuk mengusap ingusnya. Membuat Falen menatap horor pada Aish yang bersikap biasa setelah melakukan itu.


Richard sedikit mengulas senyum melihat perilaku Aish, hanya sedikit senyum. Selebihnya, hatinya masih dikuasai cemburu.


"Masih bisa dilanjutkan?" tanya Fian pada Tomy.


Laki-laki itu mengangguk, sebenarnya masih merasa sedikit pusing. Tapi dia sudah tidak sanggup melihat Aish disana. Rasa bersalahnya sangat mendominasi mengingat ucapan Aish yang kini jadi sebatang kara karena ulahnya.


Reka ulang dilanjutkan dengan adegan Tomy yang menyulut korek api setelah membaluri tubuh Alif dengan sedikit bensin yang diambilnya dari tangki mobil Willy.


Tomy tak merencanakan pembakaran itu, saat dia melihat api mulai membesar. Dia bingung sendiri, jadilah dia menggunakan handuk basah untuk memadamkan api yang telah dibuatnya.


Api yang terpadam menyisakan tubuh gosong Alif. Tapi sebagian tubuh belakangnya masih utuh.


Tomy panik, dia menunggu kepulan asap menghilang tersedot oleh blower yang banyak terpasang disana.


Sambil menunggu asap menghilang, Tomy memasangkan kembali gaun Alif. Tentunya tanpa dalaman.


Galau melanda benak Tomy saat melihat jasad Alif. Dia mencari apapun yang bisa dipakai untuk menyimpan jasad itu.


Saat masuk ke kamar Alif, dia mendapati sebuah koper diatas lemari. Dia menggunakan koper itu untuk membawa jasad Alif pergi entah kemana.


Tomy bahkan sempat membersihkan keadaan rumah yang sudah sangat berantakan karena ulahnya.


Merapikan ruang tamu, mengepel bekas pembakaran, dan memasukkan handuk gosong ke dalam koper juga.


Perbuatannya sangat rapi, dia bahkan sempat menghapus jejak sidik jari di seluruh penjuru rumah dengan lap basah.


Proses olah TKP berakhir sampai disini, selanjutnya besok akan melakukannya lagi di kawasan pantai. Tempat Tomy mengubur jasad Alif.


"Bisa kita bicara?" tanya Willy yang membuat Aish terkejut karena melihat Willy lagi, dia ingat pernah bertemu dengannya dulu, sewaktu ayahnya masih hidup.


.


.


.


.


likenya jangan dikendorin yaa...


komennya juga masih ditungguin...


Vote nya apalagi... pasti dinanti

__ADS_1


semangat sehat❤️❤️❤️


__ADS_2