Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
Livy


__ADS_3

"Rencana lo ke depannya gimana, Ra? Mau sekolah dimana?" tanya Richard serius, dia masih belum selesai membaluri badan Yopi dengan tumbukan daun sambiloto.


"Kayaknya SMAN 72 bagus juga. Kalau duit buat biaya sekolah, gue masih ada. Yang nggak ada tuh, siapa yang mau jadi wali gue? Nggak mungkin kalau gue daftar sekolah tanpa ada wali muridnya kan?" tanya Aish, ketiga orang disana terdiam ikut berfikir.


"Iya, sekolah itu bagus juga" kata Reno.


"Oh, gue tahu siapa yang pasti mau jadi wali murid buat lo" kata Richard.


"Siapa?" tanya Aish.


"Ada, abis ini langsung gue hubungi deh orangnya" kata Richard.


"Eh, iya loh. Jadi adem kulit gue, lo bisa tahu yang kayak gini darimana, Sya?" tanya Yopi yang merasa kulitnya sudah membaik.


"Ayah gue juga alergi obat, jadi bunda menanam ini dirumah" jawab Aish.


"Sudah selesai nih" kata Richard memberikan plastik bekas dari bungkus daun pada Aish.


"Yaudah, cuci tangan dong" kata Aish yang kembali duduk di tempatnya setelah membuang sampah.


"Sebentar ya, gue mau telpon dulu" kata Richard yang berjalan keluar ruangan.


★★★★★


"Nanti kita ketemu sama orangnya sekalian makan ya, Ra?" tanya Richard. Dia sudah selesai dengan telponnya, dan kini duduk disamping Aish di ruangan ini.


"Iya, gue mau solat dulu nih. Gue tinggal sebentar ya" kata Aish yang ingin ke mushola.


"Biar gue temenin" kata Richard yang ikut berdiri.


"He em" kata Aish sambil mengangguk.


"Kita pergi sebentar ya" kata Aish berpamitan.


Aish berjalan bersisian dengan Richard. Rasanya lama sekali mereka tidak bersama seperti ini.


Sesekali mereka saling pandang, lalu menunduk malu.


"Gue kangen sama lo, Ra" kata Richard yang tiba-tiba menggandeng tangan Aish.


Richard mempererat pegangannya saat Aish akan melepaskan. "Malu, Richard" rengek Aish.


"Panggil gue, sayang. Baru gue lepasin" kata Richard yang tetap melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan ucapan Aishyah.


Aish berhenti, Richard juga. Cowok itu menoleh ke arah kekasihnya. "Kenapa?" tanya Richard.


"Malu, lepasin" kata Aish yang sedikit cemberut.


"Lo gemesin banget kalau cemberut gitu. Beneran gue kangen sama lo, Ra. Lo nggak kangen apa sama gue?" kata Richard memandangi Aish yang sedang malu. Gadis itu menundukkan kepalanya.


Aish menggeleng dengan kepala yang masih menunduk, tapi sebenarnya dia tersenyum. Lalu menampilkan wajah datar untuk menjawab pertanyaan Richard.


"Sayangnya gue nggak kangen tuh sama lo" kata Aish.


"Oh, iya" kata Richard yang merasa sedang digoda.


Richard menarik tangan Aish agar mendekat, lalu memeluknya erat.


"Lepasin Richard, jangan aneh-aneh deh. Malu dilihat orang" kata Aish mendorong dada Richard, berusaha melepaskan diri dari pelukannya.


"Bilang dulu kalau lo juga kangen sama gue, baru gue lepasin" kata Richard dengan senyum mengembang. Hatinya sedang sangat bahagia.


Aishpun sama, senyumnya terukir manis di bibir tipisnya.


"Iya, iya... Gue kangen sama lo, sudah ya lepasin, gue mau solat ini" kata Aish.


Richard melepaskan pelukannya, tapi tetap merangkul pundak kekasihnya saat berjalan bersama.


"Biar nggak cuma si Brian yang ngerangkul pundak lo. Gue sebagai pacar lo lebih berhak" kata Richard.


Aish hanya mencebikkan bibirnya. Dan melangkah menuju mushola di rumah sakit itu.


Diiringi senja, kedua sejoli ini melangkah dengan senyum yang tak pernah hilang menghiasi bibirnya.


"Semoga nggak ada lagi masalah yang buat gue jauh dari lo, Ra. Gue nggak akan sanggup" kata Richard.


"Gombal, pantesan mantan lo banyak" kata Aish.


"Mereka cuma masa lalu gue, Ra. Tapi lo masa depan gue. Nggak akan pernah gue lepasin" kata Richard.


"Pasti dulu juga lo bilang gitu sama mantan lo waktu masih jadi pacar" kata Aish.


"Le mese depen gewe" kata Aish menirukan kata-kata Richard dengan mencebikkan bibirnya, sengaja mengejek.


"Lo tuh benar-benar ya..." kata Richard yang tiba-tiba menggendong Aish di bahunya, seperti sedang menculik balita.


"Eh, ngapain sih. Hahaha. Turunin nggak. Richard" kata Aish setengah berteriak dan memukul ringan punggung Richard saat mendapat perlakuan seperti itu.


Richard menurunkan Aish didepan mushola, orang-orang yang ada disana hanya tersenyum melihat kelakuan remaja yang absurd seperti mereka.


"Dah sana solat dulu" kata Richard dengan napas yang memburu.


"Lo berat juga ternyata" goda Richard yang langsung mendapat pukulan keras di lengannya.

__ADS_1


"Aduuuhh.... Sakit, Ra" keluh Richard.


"Maksudnya gue gendut gitu?" kata Aish tidak terima.


"Memang, gendut" kata Richard dengan tawa yang membuatnya semakin terlihat menawan.


"Ssttt... Sudah mau adzan, kalian nggak ambil wudhu? Malah berisik disini" tegur salah satu jamaah di mushola itu.


"Iya, maaf bu. Ini juga mau wudhu kok" kata Aish.


"Tuh kan, lo sih berisik. Gue masuk dulu ya. Lo beneran mau nunggu?" tanya Aish.


"Iya, beneran. Gue tungguin lo disini" jawab Richard yang duduk di teras mushola.


Richard mengamati dengan seksama proses ibadah solat Maghrib disana. Mulai dari terdengarnya adzan hingga para jamaah yang tinggal untuk berdoa setelah solat.


Dia teringat kebersamaannya dulu bersama Brian, yang kini menjadi sahabat dekat Aish, kekasihnya.


"Kemana sih? Yang lainnya sudah pergi, kenapa dia belum keluar ya?" gumam Richard yang belum juga melihat Aish keluar dari mushola.


Menelisik kedalamnya, ternyata hanya tinggal beberapa orang saja yang masih tinggal. Ada yang berdzikir, ada juga yang berdoa.


Di ruangan khusus wanita, Richard melihat Aish yang sedang khusyuk dalam doanya. Bahkan terlihat dia meneteskan air mata dengan mata terpejam.


"Kira-kira apa yang lo pinta, Ra?" tanya Richard dalam hatinya.


Cukup lama menunggu, akhirnya Aish menyudahi doanya. Dia berdiri setelah menghapus jejak air matanya, dan mulai merapikan mukenanya.


"Gue kelamaan ya? Sampai nyusulin kesini" kata Aish yang melihat Richard sedang menungguinya.


"Nggak kok, ayo balik" ajak Richard.


Aish tersenyum, merapikan dengan cepat mukenanya dan memasukkan kembali ke dalam tasnya.


Melihat Richard hanya diam, Aish jadi tidak berani untuk mulai bicara duluan.


Dia hanya sesekali melirik pria disebelahnya itu. "Aneh banget, kadang kayak gunung es, kadang kayak lava panas, kadang kayak hujan petir. Orang apa peristiwa alam sih lo ini sebenarnya?" tanya Aish dalam hatinya.


"Gue tahu lho apa yang sedang lo pikirin" kata Richard tetap memandang lurus ke depan.


"Oh iya? Emang apa?" tanya Aish.


"Gue diem itu cuma lagi mikir, lo tadi minta apa sih sampai nangis gitu?" tanya Richard.


"Rahasia dong, cuma gue sama Allah yang tahu" kata Aish yang langsung mendapat lirikan tajam dari Richard.


"Hii, serem" kata Aish mendahului langkah Richard.


"Lagi pacaran sama kolong wewe" jawab Aish asal.


"Lo itu kolong wewenya" kata Richard yang tiba-tiba muncul dan mencubit kedua pipi Aish hingga memerah.


"Kalian pasangan tak kasat mata, berantem mulu" cibir Reno.


"Ayo kita temui calon wali murid buat lo" kata Richard sambil memakai jaket dan mengambil kunci mobilnya.


"Motor gue gimana?" tanya Aish.


"Biar disini dulu" jawab Richard.


"Iya, tadi belum gue isi bensin juga, Sya.bAbis gue pakai buat muter-muter cari angin. Bosen disini terus ngelihatin muka menjijikkannya Yopi" kata Reno.


"Yaudah deh, kalau gitu gue sekalian pamit ya Ren, Yop. Cepat sembuh ya Yopi" kata Aish.


"Makasih ya, Sya" kata Yopi.


Richard membawa Aish ke suatu restoran untuk menemui seseorang sekalian mengajaknya makan malam.


"Kita mau ketemu sama siapa sih?" tanya Aish.


"Ada deh, sebentar lagi lo juga tahu" jawab Richard yang fokus pada kemudinya.


Tiga puluh menit berlalu, mereka sampai di sebuah restoran yang menyajikan masakan khas Eropa sebagai menu andalan.


Memasuki kawasan restoran, suasana romantis langsung terasa. Pendaran lampu berwarna kuning dengan adanya lilin di beberapa sudut ruangan.


"Mau pesan apa?" tanya Richard yang melihat Aish hanya membolak-balik buku menu.


"Terserah lo deh, gue ngikut" kata Aish.


"Pesan Bratwurst dua, Lasagna without pork dua, minumnya citronn presse dua, ya mbak" kata Richard pada waitress yang sedang menunggu.


"Baik, ditunggu sebentar" kata Waitress kemudian berlalu.


"Gue nggak ngerti sama makanan kayak gini, mana harganya mahal. Kalau beli mie ayam di langganan gue bisa dapat tiga porsi plus es tehnya nih " kata Aish yang masih sibuk membaca daftar menu.


Richard hanya tertawa pelan mendengar gumaman Aish.


Beberapa saat berlalu, semua pesanan sudah tersaji diatas meja.


Aish menyatukan telapak tangannya dan mulai berdoa sebelum makan. Richard hanya bisa memandanginya.


Aish mulai mencoba minumannya setelah pelayan pergi.

__ADS_1


"Agak asem ya" komentarnya.


"Memang sari lemon, jadi ya asem" kata Richard.


"Cuma sari lemon doang harganya segitu?" kata Aish sedikit terkejut. Lalu mencoba makanan yang ada.


"Uwah, yang ini enak ya. Padahal cuma sosis bakar, hehehe" kata Aish pada Bratwurst pesanannya.


"Sudah, makan dulu. Ngobrolnya nanti saja" kata Richard.


Aish mengangguk, dia mulai makan dengan tenang.


"Nggak pakai nasi nih?" tanya Aish yang tidak terbiasa makan tanpa nasi.


"Nggak ada" jawab Richard.


Aish hanya mengendikkan bahu dan melanjutkan makannya.


"Hai, maaf terlambat. Jalannya macet banget tadi" kata seseorang yang baru datang dengan membawa seorang balita cantik.


"Mas Willy?" tanya Aish sedikit kaget, tapi fokusnya pada si balita.


"Dia keponakan Aish ya, mas?" tanya Aish dengan mata berbinar.


Willy mengajak Livy duduk didekat Aish yang masih menunggu jawabannya.


"Kenalin, saya Livy tante" kata Willy menirukan suara anak kecil, membuat Richard melirik sedikit padanya.


"Ayo, cium tangan tante dulu" kata Willy yang dipatuhi oleh Livy.


"Hai Livy, ini tante kamu. Nama saya Aishyah" kata Aish mulai memeluk lalu mencium pipi Livy, sementara Richard masih sibuk dengan makanannya.


"Geli, tante" kata Livy tertawa, karena Aish menciumi seluruh wajah Livy.


"Kamu cantik banget sih, Livy. Tante kan jadi gemes sama kamu" kata Aish mengajak Livy bicara.


"Mbak, tolong bawa Livy dulu ya. Saya ada perlu sama mereka berdua" kata Willy yang menyerahkan Livy pada susternya.


"Baik pak" jawab suster itu sambil mengangkat Livy dari pangkuan sang ayah.


"Yaahh.... kok dibawa sih Livynya? Nggak apa-apa kok sama saya, mas" kata Aish sedikit protes.


"Nanti lagi, Ra. Kalau perlu gue suruh dia nginap dirumah lo" kata Richard.


"Benar ya?" tanya Aish, raut wajah memohon seperti itu sangat menggemaskan dimata Richard.


Suster sudah membawa Livy, tapi Richard dan Aish masih saja berpandangan. Willy jadi teringat tentangnya dan Alif dulu.


"Ehem.." Willy berdehem karena kedua adiknya masih juga lihat-lihatan. Aish gelagapan, sementara Richard terlihat biasa saja.


"Jadi, kalian ada perlu apa?" tanya Willy.


"Gue mau kakak jadi wali murid buat Aishyah" kata Richard tanpa ingin berbasa-basi, sementara Aish hanya terbengong. Dia baru ingat kalau mau menemui walinya saat ini.


Dan dia baru menyadari jika wali yang Richard maksud adalah Willy.


"Saya? Memangnya kenapa?" tanya Willy sebelum menyetujui permintaan Richard.


"Aish dikeluarin dari sekolah" kata Richard.


"Lho, kok bisa sih? Bukannya kamu murid berprestasi di sekolah ya, Aishyah?" tanya Willy.


"Iya mas, ada yang nyebarin foto hoax tentang saya. Nggak ada bukti yang menguatkan kalau foto itu cuma kebetulan saja. Tapi meskipun sudah dua minggu saya dan teman-teman mencari bukti, nggak ada yang menguatkan posisi saya di sekolah sama sekali".


"Bahkan cctv juga dalam keadaan Off di hari yang diduga para pelaku melakukan aksinya disekolah".


"Jadi, ya kepala sekolah memutuskan untuk mengeluarkan saya dari sekolah. Dengan alasan sebagai pelajaran untuk siswa lain agar tidak berbuat yang aneh-aneh gitu deh mas" kata Aish dengan panjang lebarnya.


Willy manggut-manggut mendengar penuturan Aish. Kamu ngerasa nggak sih kalau ada campur tangan pihak terkait dalam masalah ini? Kenapa pelaku visa mematikan cctv? Lalu, dimana foto-foto itu dipublikasikan?" tanya Willy.


"Di papan mading, mas" jawab Aish.


"Papan madingnya terkunci apa tidak?" tanya Willy lagi.


"Terkunci sih, eh iya juga ya. Bagaimana bisa pelakunya dapat kunci mading? kan adanya di ruang OSIS yang dijaga ketat tentunya" kata Aish mulai memahami kecurigaan Willy.


"Awas saja kalau ada yang mau ngehancurin nama lo, Ra. Gue sendiri yang bakalan ngasih pelajaran sama tuh orang" kata Richard geram.


"Sudahlah, nggak usah diperpanjang lagi. Lagian gue juga sudah di DO kan dari sekolah" kata Aish.


"Nggak bisa gitu dong, mereka sudah seenaknya sama lo. Biar nanti gue yang kasih pelajaran" kata Richard dengan santainya.


"Terus rencananya kamu mau lanjutin sekolah dimana? Biar nanti mas usahakan supaya kamu bisa cepat masuk ke sekolah baru" kata Willy.


Aish melihat ada kesungguhan dimata Willy. "Mas Willy kenapa mau jadi wali buat aku?" tanya Aish sedikit penasaran. Walaupun Aish tahu jika Willy sebenarnya adalah orang yang baik.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2