Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
berusaha


__ADS_3

"Aish kenapa dok?" tanya Hendra setelah masuk ke ruang rawat.


"Ya Allah nak, kenapa kamu bisa jadi begini sih? Bangun nak" seorang wanita berhijab syar'i datang memeluk Aishyah, wanita itu langsung menangis.


"Sebenarnya ini ada apa? Apakah anda dokternya?" tanya wanita yang satunya lagi.


"Iya bu, saya dokter disini. Sejak semalam saya berjaga bersama Aishyah" jawab Siras.


"Oh iya dok, lantas kenapa Aishyah bisa tidak sadarkan diri? Saya mamanya Hendra, dokter" mama Hendra memperkenalkan diri.


"Iya, semalam ada kecelakaan, ternyata korban kecelakaan itu adalah temannya Aisyah. Anak itu kehilangan banyak sekali darah, karena luka robek yang lumayan parah. Kebetulan stok darah yang sesuai dengannya sedang kosong, dia kekurangan beberapa kantong darah lagi. Tapi untuk menghubungi pihak PMI membutuhkan waktu yang lumayan lama" kata dokter Siras.


"Dan Aish mendonorkan darahnya?" tanya Hendra.


"Ya, Aisyah bersikeras mendonorkan darahnya. Saya sudah melarangnya, tapi dia bilang akan berusaha dengan keras untuk melawan phobianya. Saya sendiri yang menjaganya sepanjang dia melakukan donor darah. Tapi saya kecolongan, awalnya dia memejamkan matanya untuk mengurangi rasa mual. Tapi dia malah tak sadarkan diri, sepertinya jiwanya tersesat di alam bawah sadarnya" dokter Siras menjelaskan kembali.


"Lalu apa yang harus saya lakukan dokter?" tanya bunda Aishyah.


"Untuk bisa mengembalikan kesadarannya, yang pertama adalah keinginan kuat dari diri Aisyah sendiri untuk mau kembali, dan yang bisa kita lakukan adalah mencoba berinteraksi dengannya. Mengajaknya untuk mau kembali, dengan berkomunikasi. Dia bisa mendengarkan suara kita" kata Siras.


"Ya Allah nak, kamu tahu kalau kamu takut dengan darah. Tapi kamu rela membahayakan nyawa kamu demi menolong teman kamu. Sekarang kamu harus bangun nak, bunda marah kalau kamu terus-terusan tidur seperti ini" kata bunda sambil menggoyang pelan bahu Aish.


"Princess, kamu bangun ya.. kasihan bunda sendirian disini, ayo dong bangun" kata Hendra.


Ponsel Hendra bergetar, terlihat Falen sedang menghubunginya. Anak itu berpamitan pada mamanya untuk menerima panggilan.


..."Hallo, iya bule. Lo lagi dimana?" ...


tanya Hendra pada Falen, dia menerima panggilannya diluar ruangan rawat Aishyah.


..."*Gue dirumah Hen, Lo tahu keadaan Aishyah nggak? Dari semalam gue hubungi nggak bisa soalnya"...


..."Dia dirumah sakit Fal"...


......"Iya gue tahu itu, semalam dia telpon gue katanya Richard lagi dirawat disana. Gue mau ngabari dia kalau gue sudah mengabarkan orang tuanya Richard"......


..."Dan lo tahu apa yang sekarang terjadi sama princess?"...


..."Mana gue tahu Mahendra, gue kan sudah bilang kalau gue nggak bisa hubungi dia"...


......"Princess lagi dirawat juga bule, dia semalam donorin darahnya buat Richard. Sedangkan dia sendiri phobia sama darah. Sekarang dia nggak sadarkan diri"......

__ADS_1


..."Astaghfirullah... Yasudah, gue ke rumah sakit juga sekarang ya. Gue nyusul Seno dulu"...


..."Iya, gue tungguin kalian*"...


Hendra masuk kembali ke ruang rawat setelah selesai dengan panggilannya.


"Maaf dokter, sekarang keadaan Richard bagaimana?" tanya Hendra.


"Dia sudah membaik, tapi masih tidur karena pengaruh obat bius. Mungkin nanti sore baru sadar" kata dokter Siras.


"Dokter dari semalam bersama Aish?" tanya Hendra.


"Ya, kejadiannya bahkan sesaat menjelang jam jaga Aishyah berakhir" kata Siras.


"Terimakasih dokter sudah menjaga Aish" kata Hendra.


"Iya, sudah kewajiban saya sebagai dokter. Kalau begitu saya pamit dulu, nanti sore saya akan kembali lagi untuk mengecek keadaan Aishyah" kata dokter Siras pamit.


"Iya, terimakasih atas bantuan dokter" kata bunda Aish. Dokter Siras tersenyum tulus sebelum benar-benar pergi.


"Is, bangun dong. Kamu jangan bikin bunda khawatir. Bunda nggak punya siapa-siapa lagi selain kamu is.... Hiks...hiks...." bunda menangis disamping Aish yang tertidur.


Tak sampai satu jam, Falen, Seno dan juga mommy Seno datang ke ruangan Aishyah. Mata Seno bahkan sudah berkaca-kaca sejak tadi saat sampai di parkiran rumah sakit.


Mommy Seno masuk dan bercipika-cipiki dengan mama Hendra juga bunda Aish. Seno mengikuti Falen yang menyalami para orang tua.


"Waalaikumsalam, Aish masih tidur nak, dia tidak mau bangun juga. Bantuin bunda buat menyadarkan Aishyah ya nak" kata bunda dengan Isak tangisnya.


Seno bergantian menyalami bunda Aish, selanjutnya menerobos Falen yang berdiri menghalanginya untuk melihat kondisi Aishyah.


Falen yang tersingkir mendengus pada Seno, tapi mengingat bahwa hari ini adalah Natal, dia segera menghampiri Hendra.


"Bukannya sekarang seharusnya lo ke gereja ya Hen?" tanya Falen.


"Seharusnya iya, tapi tadi dokter Siras nelpon gue. Gue kan jadi panik, tanpa pikir panjang gue langsung jemput bunda, malah mama juga ikutan" Hendra menjelaskan.


"Princess, lo harus bangun. Lo kan janji mau nonton film gue nanti kalau sudah rilis kan. Jadi sekarang lo harus bangun, jangan tidur terus princess" kata Seno, cowok itu sudah berlinang air mata.


Memang diantara ketiganya, Seno yang paling manja. Dia juga yang paling sering dilindungi oleh Aish dari godaan kedua temannya yang lain.


Falen mendecak mendengar cara Seno membangunkan Aishyah.

__ADS_1


"Kalau lo mau ke gereja dulu nggak apa-apa Hen, disini sudah ada gue sama Seno yang jagain Aishyah. Lo bisa ke gereja sambil mendoakan Aishyah juga kan" kata Falen.


"Iya juga sih. Gimana ma? kalau kita ke gereja dekat sini saja dulu" tanya Hendra.


"Iya boleh Hendra. Sedikit terlambat tidak masalah" kata mama Hendra.


"Terimakasih sudah mau jemput bunda buat menemui Aisyah ya nak, kalau nggak ada kalian saya tidak tahu lagi" kata bunda Aish.


"Iya, sama-sama bu. Aisyah dan ibu sudah seperti saudara kami sendiri, jadi tidak usah sungkan" kata mama Hendra.


"Kami permisi dulu bun, nanti setelah acara selesai, kami datang lagi" kata Hendra.


"Iya nak, sekali lagi terimakasih" kata bunda.


Hendra dan mamanya berpamitan pada Falen, Seno dan juga mommy Seno.


"Ibu sudah sarapan?" tanya mommy Seno pada bunda.


"Nanti saja bu, saya masih mau menemani putri saya disini" kata bunda.


"Tapi ibu juga harus menjaga kesehatan ibu, bagaimana jika nanti Aisyah bangun, tapi ibu malah jatuh sakit juga? Pasti dia akan tambah sedih bu. Sekarang sebaiknya ibu ikut saya ke kantin dulu ya, biar Aisyah dijaga oleh Seno dan Falen" kata mommy Seno.


"Tidak bu, saya tidak mau merepotkan ibu" kata bunda.


"Sama sekali tidak repot Bu, saya hanya kasihan kalau sampai nanti Aishyah jadi sedih saat sadar nanti" kata mommy Seno.


"Benar kata mommy, bunda sebaiknya sarapan dulu. Saya dan Seno akan menjaga Aisyah dengan sangat baik. Bunda jangan khawatir" kata Falen.


"Mommy benar bun. Bunda sarapan dulu ya" kata Seno di sela tangisannya.


"Baiklah, bunda titip Aishyah ya" kata bunda.


Seno dan Falen mengangguk mantap. Mereka berdua duduk di sisi kiri dan kanan Aisyah.


"Princess, lo bangun ya. Jangan lama-lama tidurnya, atau lo pingin ada pangeran yang datang buat nyium lo biar lo bisa sadar?" kata Seno.


Falen melirik keras pada sahabatnya itu. "Lo jangan aneh-aneh deh Senopati. Jangan dengerin dia ya princess, yang penting sekarang lo harus cepetan bangun. Kasihan bunda sendirian princess, lo bisa kasihan sama Richard, seharusnya lo lebih kasihan sama bunda yang sendirian kalau lo masih tidur disini" kata Falen.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2