Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
dipaksa pulang


__ADS_3

"Ingat apa?" tanya Aish dengan es krim memenuhi mulutnya.


Iya, beberapa saat yang lalu mbak-mbak penjual es krim baru saja memberikan pesanan Aish dan Romeo saat keheningan melanda mereka.


"She is funny girl. Kamu tahu nggak dek, apa yang dia lakuin supaya nggak diputusin sama Richard?".


"Padahal mereka waktu itu masih kelas 9 SMP lho" Romeo berkata dengan senyum terkulum, menurutnya, waktu itu adalah kesialan terdalam untuk adiknya.


"Kok lucu sih kak? Memangnya ada apa?" sangking penasarannya, sendok es krim masih ada dalam mulut Aish saat bicara.


"Gue tahu sih, memang Richard waktu itu cocok banget jadi most wanted di sekolahnya, tapi dia masih SMP lho. Heran gue, anak jaman sekarang masih SMP sudah punya pacar".


"Dan yang lebih parahnya, Franda itu ngaku-ngaku hamil biar Richard nggak mutusin dia".


"Richard itu nggak pernah kasih alamat rumah ke teman-temannya. Seingat gue, cuma ada Reno, Yopi sama Brian yang sering diajak ke rumah" cerita Romeo tentang masa SMP Richard yang masih belum Aish ketahui.


Sedikit memakan pie stroberinya, Aish masih juga mendengar cerita yang Romeo sampaikan.


"Terus, Franda itu beneran hamil?" tanya Aish.


Ketar-ketir juga sebenarnya mendengarkan itu, tapi kan semua harus diluruskan. Aish nggak mau ada cerita masa lalu Richard yang belum selesai dan akan mengganggu hubungannya nanti jika memang serius.


"Nggak lah dek. Gue tahu, senakal-nakalnya Richard, dia nggak bakalan ngelakuin itu sama pacarnya" kata Romeo.


Sedikit lega, tapi masih saja mengganjal bagi Aish.


"Darimana kalian yakin kalau Franda nggak hamil? Mereka sudah masuk fase remaja loh kak. Kalau memang mereka ngelakuin itu, pasti kan terjadi pembuahan yang menyebabakan kehamilan" kata Aish sok bijak.


"Omongan lo, dek.... Sudah kayak dokter Boyke" sedikit mengejek, karena memang ucapan Aish terdengar terlalu berlebihan.


"Menurut pelajaran biologi kan seperti itu kak" kata Aish.


"Nggak lah, papa maksa Franda diperiksa ke dokter kandungan. Tapi ya gitu, bahkan dia masih perawan. Mana ada perawan hamil?" kata Romeo.


"Terus?" tanya Aish, masih penasaran.


"Pokoknya rame banget waktu itu. Keluarga kita sampai masuk berita, headline news. Keren nggak si bandel Richard itu" kata Romeo menggelengkan kepalanya.


"Gue nggak tahu sih kak. Terus nasibnya Franda bagaimana kak?" tanya Aish.


"Keluarganya dipaksa dong buat membersihkan nama baik keluarga Hutama, terus setelahnya gue nggak begitu paham sih. Kayaknya papa nyuruh keluarganya ke luar kota deh" seingat Romeo sih gitu.


"Jadi, dia beneran sakit jiwa dong, kak. Tadi gue ketemu dia di Rumah Sakit, masih ingat dia sama Richard. Nangis dia itu, ibunya juga. Kasihan ya kak" pikiran Aish mulai menerawang, mengasihani Franda yang sangat tergila-gila pada Richard.


"Heran juga sih gue, apa bagusnya sih si Richard itu. Masih bagusan juga gue kan, gue humble, periang, penyayang, daripada dia es batu yang keisi nyawa" kata Romeo dengan gelak tawanya.


Aish mencebikkan bibirnya, apa Romeo lupa kalau sedang menjelek-jelekkan Richard didepan pacarnya?


"Iya, lo memang pecinta wanita kak. Kalau Richard kan pecinta gadis, hahaha" tawa Aish diakhir ucapannya mengagetkan Romeo.


"Malah ketawa. Aneh lo, dasar" kata Romeo.


"Lo sendiri, punya pacar kak?" tanya Aish.


"Nggak minat gue punya hubungan serius" kata Romeo, memang banyak wanita disekitarnya. Tapi tak ada yang berstatus sebagai pacarnya, hanya sebatas teman kencan.


Ya, sebebas itulah Romeo.


"Masak sih? Nggak percaya gue sama lo" kata Aish.


"Ya jangan percaya sama gue, dek. Musyrik lo, percaya sama tuhan lo aja" kata Romeo.


Lagi, bibir Aish mencebik mendengar ucapan Romeo.


Setelahnya, hening melanda saat keduanya lebih fokus dengan es krim masing-masing.


Tangan Romeo yang iseng, malah mengambil gambar Aish yang sedang menaruh es krim diatas kue pie, dan menggigitnya dengan wajah yang terlihat sangat menikmati.


"Rasanya tuh asem manis, kak" komentar Aish dengan mulut masih dipenuhi kue.


Aish tidak sadar jika Romeo sedang memvideokan perbuatannya.


Romeo sudah mematikan videonya, dia sedang mengedit video itu yang menurutnya, Aish terlihat lucu saat memakan kuenya. Sambil sesekali mencomot es krimnya.


"Hai, Sya".


Sebuah suara mengagetkan Romeo dan Aish yang sedang fokus dengan es krim masing-masing.


"Hai, Mike. Lo disini? Ngapain?" tanya Aish.


"Lagi ngajak adek gue beli es krim" Mike memperlihatkan seorang anak kecil yang berdiri di belakang tubuhnya.


Gadis kecil itu hanya diam, pemalu dia rupanya.


"Hai cantik, kamu siapa namanya?" gemas melihat adik Mike yang imut, Aish suka dengan anak kecil.


"Sini, duduk dekat kakak" kata Aish mempersilahkan adik Mike duduk di kursi sebelahnya.


Anak itu menurut saja, Mike ikut duduk di sebelah Aish. Sementara Romeo di seberang sana.


Romeo masih diam, melihat interaksi antara Aish dan temannya itu.

__ADS_1


"Nama kamu siapa?" tanya Aish lagi.


"Oliv" kata adik Mike dengan suara lirih.


"Dia ini pemalu banget, Sya. Lo kesini sama?" tanya Mike yang melihat ke arah Romeo.


"Gue Romeo" kata Romeo memperkenalkan diri.


Mike hanya manggut-manggut, ragu untuk bertanya hubungan keduanya.


"Dia itu kakaknya Richard, Mike. Lo pasti penasaran kan?" tembakan yang tepat, Mike hanya tersenyum kaku.


Romeo sudah menghabiskan es krimnya.


"Temenin gue beli sepatu ya, dek" ajak Romeo yang tidak suka melihat pandangan Mike seolah mendamba pada Aish. Bahkan adiknya sendiri dicuekin.


"Eh, bentar kak. Nanggung, dikit lagi" kata Aish menghabiskan es krimnya dengan cepat, membuat belepotan di sekitar bibirnya.


Mike mengambil tisu, rupanya ingin membersihkan bibir Aish yang terkena es krim.


"Eh, makasih" Aish segera mengambil tisu dari tangan Mike yang sudah mendekati wajahnya.


Mike hanya bisa tersenyum.


"Pienya gimana dong kak?" tanya Aish, sayang sekali makanan seenak itu harus dibuang.


Romeo mengambil kue itu dan melahapnya dalam sekali suap.


"Ih, kak Romeo. Kan itu punya gue" sebal dengan kelakuan Romeo, Aish jadi cemberut.


"Nanti gue beliin. Ayo buruan, nanti Richard keburu nyariin lo" kata Romeo berdiri, beranjak untuk mendorong kursi roda Aish.


"Kakak duluan ya Oliv cantik, nanti kapan-kapan kita ketemu lagi" Aish berpamitan pada adik Mike yang diam saja daritadi.


"Gue duluan ya, Mike" hanya bisa mengangguk, Mike membiarkan Romeo membawa Aish.


"Dia itu siapa sih, dek?" tanya Romeo.


"Teman sekolah kak. Dia juga jatuh ke jurang loh waktu itu, sama kayak gue. Cuma nasib dia lebih beruntung" kata Aish.


"ooh" hanya itu kata yang keluar dari mulut Romeo. Enggan untuk berkomentar lebih jauh.


"Lo mau makan apa?" tanya Romeo yang hanya mengajak Aish berkeliling, tak berniat membeli apapun.


"Katanya mau beli sepatu?" tanya Aish.


"Nggak jadi, sepatu gue masih banyak" Aish heran dengan kakaknya ini, mereka sama-sama terlihat tidak suka pada Mike.


"Loh, Is... Aishyah... Kamu kenapa? Kamu benar Aishyah kan?" lagi, Aish bertemu seseorang yang dikenalnya.


Romeo melihat ke sumber suara, seorang pria muda. Bersama seorang wanita cantik.


Pria itu berlutut di hadapan Aish yang terlihat kaget juga.


"Bang Fian, eh ... Ehm .. Abang, darimana?" gugup Aish bertemu dengan abangnya yang satu ini.


Niatnya untuk berusaha menyembunyikan keadaannya dari keluarga, tapi malah tak sengaja bertemu.


"Kamu kenapa bisa begini? Apa yang terjadi sama kamu?" cerca Fian, lama tak melihat Aish, malah bertemu dalam keadaan seperti itu.


"Terkilir doang sih bang, nggak apa-apa kok beneran" kata Aish.


Fian sedikit menyingkap baju yang Aish kenakan, ingin melihat ada apa dengan kaki Aish.


"Patah? Kok sampai di gibs?" tanya Fian, sedikit tersenyum melihat coretan yang Richard buat.


Menyadari itu, segera Aish menutup kakinya.


"Nggak bang, retak dikit. Dokternya lebay pakai acara di gibs segala. Sudah dong, abang berdiri".


"Uwah, abang sama dokter Retno ya? Kalian lagi kencan ya?" goda Aish, sementara Retno hanya tersipu.


"Kamu sama siapa itu?" Fian bertanya balik karena bukan Richard yang menemani Aish.


"Oh, ini kak Romeo. Kakaknya Richard".


"Kak Romeo, kenalin ini bang Fian"


Aish memperkenalkan mereka berdua.


"Siapa lagi, ini" batin Romeo, tapi juga menerima uluran tangan Fian.


"Romeo" katanya memperkenalkan diri.


"Jadi, kamu lama nggak pulang gara-gara ini? Yopi tahu keadaan kamu?" tanya Fian.


"Tahu bang. Aish nggak dibolehin tinggal dirumah sama Richard. Dia bilang kalau sendirian takut nggak ada yang bantuin gue bang. Maafin Aish ya, nggak ngasih kabar" kata Aish menunduk, takut juga dia sama abangnya.


"Kamu seharusnya bilang sama enyak, ijin dulu. Nggak baik Is tinggal dirumah laki-laki yang bukan muhrim. Kamu dirumah bisa enyak rawat kan? Enyak khawatir banget sama kamu".


"Yopi cuma bilang kalau kamu ada urusan, tapi nggak jelasin urusannya apa. Kemarin enyak telpon abang, katanya sudah lebih dari seminggu kamu nggak pulang" kata Fian.

__ADS_1


Aish hanya bisa menunduk, memang benar yang Fian katakan. Tapi Aish memang nggak bisa apa-apa.


"Kamu pulang sama abang ya?" ajak Fian, tak tega juga melihat Aish menunduk karena nasehatnya.


"Biarlah Aishyah dirumah gue dulu, bang. Ada art yang membantu semua keperluannya di rumah. Lagian juga, dia nggak sekamar kok sama Richard. Dia punya kamar sendiri di rumah kami" kata Romeo, tak mau berpisah secepat ini dengan Aish.


"Bukan masalah kalian punya kamar sendiri, tanggapan orang bagaimana kalau sampai mereka tahu, Is? Kamu itu perempuan, nggak baik kalau serumah dengan laki-laki yang bukan muhrim kamu" Fian menjelaskan dengan hati-hati.


"Lebih baik kalau dirumah kamu sendiri, biar nanti enyak yang ngerawat kamu. Abang cuma nggak mau terjadi sesuatu sama kamu, Is" kata Fian menyesalkan keputusan Aish yang tak mau memberitahu keadaannya pada keluarga.


"Kamu nggak anggap kita ini saudara kamu, ya? Masalah sebesar ini kamu simpan sendiri. Kamu masih punya kita, Is. Abang sayang sama kamu, seperti adik abang sendiri. Sudah berapa kali abang bilang itu sama kamu" kata Fian, berharap Aish mau pulang.


"Aish sudah janji sama Richard bang, selama masih pakai kursi roda, Aish dirumahnya dulu. Nanti kalau sudah lepas gibs, pasti Aish pulang" Aish berkata dengan hati-hati.


Meskipun pasti akan sulit, keluarga engkong masih beradat ketimuran yang kuat.


Sebenarnya Aishpun sama, hanya karena keadaan yang mengharuskannya sementara menginap dirumah Richard.


"Oke, biar abang ikut kamu pulang ya. Nanti kita bicarakan sama Richard. Jujur Is, abang nggak suka kalau kamu tinggal disana" Fian masih saja tak memperbolehkan Aish tinggal dirumah Richard.


"Sekarang kamu telpon Richard ya, bilang kalau ada abang mau ketemu sama dia. Kita ke rumah Richard sekarang" keputusan Fian sudah bulat.


"Iya bang" Aish menurut, beberapa saat mengusap layar ponselnya untuk menghubungi Richard yang sedang bersama Willy.


"*Hallo Richard, lo bisa pulang sekarang? Bang Fian mau bicara sama lo"


(.....)


"Iya, maaf. Kita tungguin dirumah lo ya*".


(....)


"Sudah bang" kata Aish setelah mengakhiri panggilannya.


"Oke, sekarang kita ke rumah Richard" keputusan Fian sudah bulat.


Fian mendorong kursi roda Aish, takut Romeo mengajaknya kabur.


Sepanjang perjalanan, banyak nasehat yang Fian katakan. Fian sangat menyayangkan keputusan Aish yang mau-maunya tinggal dirumah Richard.


Sampai di parkiran, mereka mengendarai mobil masing-masing.


Romeo masih bersama Aish, dan Fian juga bersama Retno yang daritadi tak banyak bersuara.


"Dia siapanya lo sih, dek?" tanya Romeo, melihat Aish sangat menurut padanya.


"Bang Fian?" tanya Aish.


Romeo mengangguk.


"Dia itu sudah seperti abang gue sendiri, kak. Engkong dan enyak yang gantiin orang tua gue selama ini" kata Aish.


Sementara dalam mobil Fian, laki-laki itu masih saja menggerutu karena menyayangkan sikap Aish yang seolah tak mau membagi permasalahan yang sedang dia hadapi.


Iringan mobil sudah memasuki pelataran rumah Richard, Fian mengagumi besarnya rumah ini.


"Besar banget rumahnya ya, yan?" kata Retno yang juga mengagumi bangunan megah yang dihuni Aish belakangan ini.


"Pantesan tuh anak betah tinggal disini, yan" kata Retno.


"Aish bukan gadis yang seperti itu, aku yakin dia cuma terpaksa saja" Fian sedikit tidak terima dengan ucapan Retno.


Turun dari mobil, rupanya Richard sudah sampai duluan. Di ruang tamu, sudah ada Yopi dan Reno. Bahkan Willy juga ikut pulang kali ini.


Lama sekali Willy tak bertemu dengan Romeo, rupanya kehadiran Aish bisa sedikit menyatukan keretakan hubungan keluarga mereka.


"Assalamualaikum, pak Willy. Apa kabar?" sapa Fian.


"Waalaikumsalam, pak Fian. Senang bertemu anda disini. Saya Alhamdulillah baik, bapak sendiri?" tanya Willy.


Romeo sedikit heran, dia belum tahu jika Willy adalah seorang mualaf.


"Kak Willy, apa kabar?" tanya Romeo, mereka berdua berpelukan singkat.


"Kakak baik, kamu sendiri bagaimana Romeo. Kakak dengar kamu nggak fokus ya sama kuliah kamu" kata Willy, membuat Romeo sedikit kesal karena sudah pasti Aish mendengar.


"Biasa lah kak, anak muda" jawab Romeo yang ikut duduk bersama mereka.


"Jadi, ada perlu apa bang Fian mengajak bertemu?" tanya Richard tanpa basa-basi.


Dia juga sudah memandang curiga, karena Aish yang datang bersama Romeo. Padahal tadi dia sudah menyuruh agar Aish tinggal dirumah, jangan kemana-mana.


Aish hanya bisa menunduk, ada Fian, abangnya. Dan ada Richard, pacarnya yang sedang memandangnya dengan tatapan tajam.


"Huft, setidaknya gue bisa pulang. Kalau tidak malam ini, paling lambat esok hari pasti sudah bisa dirumah sendiri" batin Aish sedikit lega, dia bisa pulang.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2