
"I Love You, My Khumaira" kata Richard lirih, dengan isyarat bibirnya saja setelah mendapat simbol hati dari kekasihnya.
"Uwah, wajah Richard seperti hape yang sudah di charge full" cibir Hendra yang berdiri di samping Aish.
"Gue jadi malu, Hen" kata Aish menggandeng lengan Hendra.
"Jangan godain gue terus dong" kata Aish menggoyangkan lengan Hendra seperti anak kecil.
"Aish" kata Nindi yang berdiri dihadapannya, memandangi arah tangan Aish yang menggandeng lengan Hendra.
"Mana Ilham?" tanya Aish celingukan mencari satu lagi temannya yang hilang.
"Lagi ngobrol sama anggota tim basket disana. Kamu ngapain disini?" tanya Nindi yang berada ditengah tim Mahardika.
"She is our princess" kata Hendra yang membuat alis Nindi bertaut setelah mendengarnya.
"Hahaha, ada-ada saja. Sudah lah, yuk Aish kita balik ke sana" kata Nindi menggandeng tangan Aish untuk mengikutinya.
Aish melambaikan tangan pada Richard dan mengepalkan tangannya ke udara melambangkan semangat berjuang untuk Richard dan timnya.
Peluit wasit sudah berbunyi, babak penentuan akan dilakukan. Kedua tim sudah berada di lapangan.
Awal pertandingan masih alot, Mike adalah lawan yang tangguh di bidang ini. Imbang dengan Richard.
Kalau saja ini pertandingan Taekwondo, mungkin Mike sudah habis di tangan Richard. Tapi ini adalah basket, apapun bisa terjadi.
Kedua tim sama-sama menunggu keberuntungan.
Tiga menit berlalu, keberuntungan bagi Richard karena berhasil mendapatkan operan bola dari Hendra yang berhasil merebut dribelan dari Mike yang tidak fokus.
Tanpa membuang waktu, Richard langsung melompat dan menshoting bolanya.
Three poin didapatkan olehnya karena shooting dilakukan dari luar garis lengkung. Bersamaan dengan peluit panjang yang wasit tiup sebagai tanda jika permainan telah usai.
Yel-yel kemenangan dinyanyikan dengan lantang oleh cheerleaders dari Mahardika. Suara tepuk tangan terdengar kencang menandakan kemenangan yang selalu menjadi langganan di sekolahnya.
"Yes, lo keren banget, Ri. Three poin di injury time. You are our hero today" kata Hendra berkomentar.
Richard mendekat pada anggota timnya, mereka berpelukan singkat dan melakukan tos sesama anggota untuk berselebrasi atas kemenangan yang didapatkan hari ini.
"Bapak bangga sama kalian, ketangguhan tim Mahardika masih tetap terjaga" ucap guru pembimbing dari Mahardika.
"Tentu saja, pak. Kita tim yang solid" kata Richard.
"Ya, tentu saja. Ucapkan selamat juga pada tim lawan" kata pak guru.
Richard dan timnya menghampiri tim 72. Bersalaman untuk saling menghargai.
"Hanya keberuntungan" kata Mike yang sudah berdiri di hadapan Richard, saling bersalaman.
"Terima saja kekalahan lo, nggak usah cari kesalahan orang lain untuk menutupi kekurangan diri sendiri" kata Richard dengan senyum smirk.
Mike membalas senyuman Richard dengan gaya yang tak kalah menjengkelkan juga.
Mereka berdua sama-sama memiliki skill yang bagus dalam olahraga ini. Juga sama-sama memiliki keangkuhan yang tinggi.
__ADS_1
★★★★★
Kompetisi telah selesai dilaksanakan. Pemenang sudah didapatkan, besok akan dilakukan penyerahan trofi dan hadiah bagi para juara.
"Setelah ini kita ke Cafe Destinasi ya. Ibu traktir kalian karena telah berhasil menjadi juara hari ini" kata bu Mirna.
"Asyiikk... makan-makan" kata Ilham senang.
Semua peserta sedang berkumpul di aula untuk mendengarkan pengumuman kegiatan esok hari saat ini.
Setelah menyelesaikan serangkaian acara di Mahardika, semua peserta menuju bus masing-masing untuk kembali ke sekolahnya.
Perjalanan menuju cafe hanya membutuhkan waktu satu jam saja, itupun karena kondisi jalan yang macet.
"Uwah, spot buat fotonya keren ya" kata Nindi yang memang baru pertama kali mengunjungi cafe yang sedang viral ini.
"Selamat datang, di Destinasi. Mau dibuatkan tempat private?" tanya waitress yang melihat rombongan anak-anak SMA datang.
"Boleh mbak, sekitar tiga puluh orang ya" kata Bu Mirna.
"Atau mau duduk lesehan di balkon lantai dua? Pemandangan disana cukup bagus untuk berfoto bersama" kata waitress menawarkan tempat.
"Bagaimana, Mike? Kamu mau disini atau di lantai dua?" tanya Bu Mirna.
"Diatas juga boleh, bu" kata Mike.
Rombongan itu digiring menuju balkon di lantai dua. Ada empat buah meja besar yang memang diperuntukkan bagi pengunjung yang datang rombongan.
Balkon disini cukup luas, mungkin cukup untuk lima puluh orang jika duduk berkelompok.
Rombongan 72 terbagi dalam dua meja, kebetulan Aish berada satu meja dengan Nindi, Ilham dan Mike yang duduk bersama timnya.
"Lo memang resek, coba kalau lo ngasih semangatnya sama gue, pasti tim gue bakalan jadi juaranya" kata Mike yang memilih duduk di sebelah Aish.
"Ngapain sih duduk disini? Jauh-jauh lo dari gue. Males banget gue deket-deket sama lo" kata Aish ketus.
"Gue juga sebenarnya males banget sama lo, cewek songong. Tapi karena nggak ada tempat lagi, terpaksa gue duduk disini" kata Mike cuek.
Aish hanya memutar bola matanya, malas untuk berdebat dengan Mike.
"Silahkan buku menunya, mau pesan apa?" tanya waitress yang menghampiri meja mereka.
Tidak butuh waktu lama untuk memilih makanan, waitress itu undur diri setelah memastikan pesanan para tamunya.
"Say cheese" kata Nindi yang sudah siap dengan tongsis dan kamera hapenya yang berada pada posisi timer aktif.
Teman satu mejanya langsung bergaya bebas dengan pose terbaik mereka.
Beberapa foto telah diambil, dalam beberapa kesempatan, Mike berhasil memposisikan dirinya bergaya berdekatan dengan Aish.
Setelah puas dengan sesi fotonya, Nindi mengutak-atik ponselnya untuk mengupload foto yang diambilnya barusan ke akun sosmed miliknya, tidak lupa men tag temannya juga.
Tak lama, pesanan mereka datang, acara berfoto tergantikan sementara dengan makan bersama.
Di lain tempat, sebuah notifikasi muncul di hape Richard. Notifikasi yang menunjukkan aktifitas di medsos Aish.
__ADS_1
Para murid masih disibukkan dengan beberapa kegiatan setelah kompetisi hari ini di SMA Mahardika.
"Sialan" umpat Richard saat melihat Mike yang duduk bersebelahan dengan Aish dalam unggahan foto dari Nindi.
"Kenapa?" tanya Reno yang selalu setia menemani Richard.
Dalam kompetisi tahun ini, Reno tidak berminat untuk ikut andil dalam bidang apapun. Bukannya tidak memiliki bakat, tapi memang Reno tidak berminat menjadi populer dan terkenal. Bahkan dia tidak berminat menjadi siswa yang dikenal gurunya.
Padahal reputasinya sebagai siswa yang sering mengunjungi ruang BP sudah diketahui oleh semua penghuni sekolah.
"Lo tahu si Mike?" tanya Richard dengan tatapan masih pada layar hapenya.
"Tahu, kapten tim basket 72 kan?" kata Reno.
"Iya, kayaknya dia lagi berusaha deketin Aishyah" kata Richard masih serius dengan ponselnya.
"Mana mungkin, lo terlalu over protective sama Aishyah. Jangan bikin dia jadi nggak nyaman sama lo, Ri" komentar Reno.
"Gue ngerasa kayak gitu sih, lo lihat nih foto mereka" kata Richard memperlihatkan foto yang diunggah Nindi.
"Wajar sih menurut gue, masih dalam posisi aman. Lo jangan memperlihatkan ke bucinan lo sama si Aish deh. Nanti lo diperlakukan semena-mena sama cewek lo. Jadi laki itu harus punya harga diri, Ri".
"Gue jadi kehilangan sosok asli lo kalau sudah berurusan sama Aishyah. Gue pikir dia juga nggak bucin-bucin amat sama lo. Nggak suka gue sama lo yang kayak gini" kata Reno.
"Gue cuma pingin jagain dia, Ren. Dia kan sudah nggak punya siapa-siapa lagi. Dia terlalu spesial di hati gue" kata Richard sambil mengelus dadanya.
"Jijik gue" kata Reno memandang Richard aneh.
Sejauh ini, Reno memang tidak pernah terlihat pernah dekat dengan siapapun. Melihat kedua temannya yang ribet jika sudah berurusan dengan yang namanya wanita, membuat Reno malas untuk mengikuti jejak kedua temannya.
Apalagi Yopi, sejak ditinggal Emily, temannya itu jadi sering absen nongkrong bersama. Alasan sibuk, atau sedang ada urusan yang selalu diandalkan. Entah apa yang sedang dia lakukan, tapi tugasnya untuk selalu menjaga Aish di sekolahnya masih dilalukan dengan baik.
"Lo tahu nggak Ren, gue berencana nikah muda sama Aishyah" kata Richard.
Reno kaget mendengar penuturan kawannya ini, hingga membuatnya tersedak minuman kaleng yang sedang diteguknya.
"Uhuk...uhuk" Reno terbatuk mendengar penuturan Richard.
"Lo jangan aneh-aneh, bro. Masa depan kita masih terlalu asik untuk dihabiskan hanya dengan satu wanita" kata Reno.
"Nggak, gue sudah mantap, Ren. Bahkan setelah gue lulus sekolah, gue pingin nikahin dia" kata Richard.
"Pikiran lo terlalu dewasa, atau jangan-jangan lo cuma pengen itunya doang ya setelah nikah. Lo pikir nggak bakalan ribet kalau sudah berkeluarga?" kata Reno yang tidak habis pikir dengan keinginan Richard.
"Remaja seusia kita ini biasanya masih mikir main, lah lo sudah pengen nikah. Heran gue" kata Reno.
"Nggak tahu juga gue, yang penting gue pingin nikahin Aishyah" kata Richard.
"Masa bodoh lah. Terserah, hidup lo sendiri" kata Reno.
.
.
.
__ADS_1
.