Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
Yopi?


__ADS_3

"Lagi lihat apaan sih?" Richard bertanya karena heran melihat Aish yang sangat serius dengan ponselnya.


"Kemarin Reno bikinin lo akun Yutub, buat upload video-video lo pas lagi tampil di panggung beberapa hari kemarin" jawab Aish dengan bibir masih tersenyum melihat tampilan video Richard yang telah berhasil terunggah.


"Terus?" mendekati Aish, diapun penasaran dengan penampilannya.


"Banyak banget follower lo, lihat deh. Banjir pujian, ada sih beberapa yang nggak suka juga. Tapi banyakan yang suka" kata Aish.


Seperti biasa, Richard menanggapi tanpa ekspresi.


"Lo seneng nggak?" tanya Richard.


"Tapi elo kan nggak keberatan ya kalau Reno bikin kayak gini?" tanya Aish.


"Gue sih terserah lo, Ra. Kalau lo keberatan ya nggak usah bikin, tapi kalau lo ngijinin ya gue nggak masalah" kata Richard.


"Kok jadi gue sih? Kan ini tentang lo, Richard. Kalau gue ya selama itu nggak merugikan orang lain kenapa enggak. Bikin orang lain bahagia kan dapat pahala" Aish tersenyum manis saat mengatakannya.


Hati Richard sangat senang saat melihat Aish tak bandel begini.


"Yopi kemana sih, sudah malam banget kenapa nggak balik-balik. Gue kan mau pulang" Aish menggerutu sambil menengok jam pada ponselnya, sudah mendekati pukul sebelas malam.


"Tahu gitu gue balik bareng Ilham saja kan tadi" lanjutnya mengomel.


"Ayo, gue anterin. Gue juga mau pulang, capek" kata Richard.


"Boleh deh, tugas buat besok masih ada yang belum selesai nih" Aish menyetujui ajakan Richard yang ingin mengantarnya pulang.


Tanpa banyak kata, keduanya segera saja melangkahkan kaki menuju parkiran.


Di perjalanan, Richard menghentikan laju kendaraannya saat lampu merah menyala.


"Itu Yopi bukan sih?" menunjuk kendaraan didepannya, sepertinya Yopi sedang bersama seseorang.


"Mana sih?" mata Richard masih belum menemukan sosok yang Aish maksud.


"Tuh, yang paling depan. Itu kan motor gue, Richard. Tapi dia lagi sama siapa tuh? Kayaknya lagi boncengan sama cewek ya? Mesra banget. Pantesan ditungguin daritadi nggak datang-datang, nggak taunya lagi pacaran tuh anak" bibir tipis Aish mengomel tiada henti.


"Biarin deh, Ra. Dia kan juga butuh sosok pengganti Emily" jawab Richard.


"Pengganti? Richard, lo lupa ya kalau Yopi tuh sudah jadi bapak? Sekarang pasti anaknya sudah lahir, dia tuh nggak ada usahanya sama sekali sih buat nyari anaknya" Aish sedikit tidak suka dengan jawaban Richard.


"Bukan urusan gue juga" kata Richard santai.


"Heh, pak boss. Lo lupa ya kalau selalu mencampur adukkan urusan pribadi lo sama urusan pekerjaan? Yopi itu seperti nggak ada batas-batas aturan pekerjaan tahu nggak".


"Lo suruh dia ngikutin gue sekolah dan masuk kelas IPA. Terus lo suruh antar jemput gue, dan lo juga nyuruh dia ngerjain tugas di studio musik lo kan".


"Terus, Lo nggak mau berusaha ngingetin tuh bocah yang nggak mau berusaha bertanggungjawab sama anaknya?" kesal Aish karena Richard terlalu cuek pada urusan Yopi, sahabatnya.


"Ya nanti kalau dia sudah kelewat batas biar gue hajar lagi" gemas Richard mendengar kecerewetan pacarnya ini.


"Maksud lo, kalau dia buntingin anak orang lagi, lo baru mau turun tangan gitu?" Aish melotot karena Richard masih juga bersikap tenang.


"Kalau sampai itu terjadi, gue izinin lo yang hajar dia pakai tangan lo sendiri. Tapi gue yakin sih kalau tuh anak nggak bakalan ngelakuin hal yang sama" kata Richard.


"Iya, memang cuma orang bodoh yang bisa jatuh ke dalam lubang yang sama sampai dua kali" kata Aish masih mengamati laju motor Yopi di depannya, penasaran dengan seseorang yang sedang bersamanya.


"Dan gue yakin kalau Yopi nggak sebodoh itu" Richard membela sahabatnya.


"Bentar deh, kok kayaknya gue nggak asing sama ceweknya ya? Lo ngerasa familiar juga nggak sih sama cewek itu?" tanya Aish dengan pandangan penuh selidik.


"Nggak tau gue, nggak ada cewek lain yang lebih penting dari pada elo" sebenarnya Richard itu mau merayu atau bagaimana?


Wajahnya terlalu datar untuk dikatakan sedang merayu, tapi perkataannya seperti sedang merayu.


"Ih... Gue serius es batu" Aish sampai mencubit lengan Richard karena tanggapannya yang sangat santai.


"Aduh... sakit, Ra. Ngapain nyubit sih" sedikit geram karena Aish mencubit lengan Richard sedikit keras.


"Lo keracuan Romeo, kalian sering chattingan ya?" tebakan tepat Richard membuat Aish merasa tidak enak.


"Biasa aja kok. Nggak sering-sering banget. Gue kan sibuk" kata Aish berpura-pura.


"Tuh kan, Yopi jadi hilang. Lo sih nggak konsentrasi" kata Aish.


"Ngapain konsentrasi lihat anak orang. Biarin saja kali, Ra. Masih muda juga, lo tuh jangan suka marah-marah" masih dengan santainya Richard berbicara.


"Beneran, gue serasa nggak asing sama ceweknya" kata Aish masih berfikir.


"Terserah lo, Ra" gumam Richard.


"Tasnya itu loh, mengingatkanku pada seseorang" Aish masih menggumam, sedikit berfikir untuk berusaha mengetahui cewek itu.


"Nindi bukan sih, Richard? Rambutnya kan selalu tergerai, kok gue ngerasa i

__ADS_1


kalau itu Nindi, ya?" kata Aish.


"Mungkin" sebenarnya Richard juga yakin kalau itu memang Nindi.


"Uwah, kalau memang mereka dekat, harus segera dihentikan ini. Nggak boleh dilanjutkan" kata Aish berapi-api.


"Biarin sih, Ra. Suka-suka mereka, kenapa lo jadi over protective banget sih sama Yopi. Gue cemburu tahu" sebenarnya Richard hanya bercanda.


"Sekalian batu juga lo cemburuin" kata Aish sambil melepas seatbeltnya. Mereka sudah sampai di halaman rumah Aish.


"Lo nggak usah turun ya, Richard. Langsung pulang saja, soalnya sudah malam banget ini. Nggak enak sama tetangga" kata Aish dengan sedikit membungkuk.


"Iya, sudah sana, lo buruan masuk. Gue balik dulu, ya" kata Richard.


"He em. Besok gue berangkat bareng Yopi aja, ya" kata Aish tak terbantahkan.


Richard hanya bisa mengangguk, pacarnya terlalu ikut campur urusan Yopi.


Setelah memasuki rumahnya, Aish segera mengirim pesan pada Yopi yang tak kunjung kembali. Biasanya sebelum menuju ke kamarnya di rumah engkong, dia pasti akan menaruh motor di rumahnya.


Tapi sudah selarut ini, cowok itu belum juga terlihat.


Taruh motornya dirumah engkong aja, gue sudah mau tidur. Besok pagi jemput hue dulu sebelum sekolah.✓


Sebuah pesan sudah terkirim ke ponsel Yopi, semoga saja dia membacanya.


★★★★★


Pagi hari, masih jam enam. Yopi dengan senyuman menawannya sudah mengunjungi rumah Aish.


Beruntung gadis itu sudah bersiap dengan baju seragamnya.


"Pagi bu bos" dengan senyuman, Yopi memasuki rumah Aish setelah dibukakan pintu.


"Senyum-senyum mulu, lagi senang banget yang habis ngedate" sindir Aish sambil mempersilahkan Yopi duduk di ruang tamu.


"Siapa juga yang ngedate, maaf ya semalam nggak nganterin lo pulang. Macet banget jalanan, gue aja sampai rumah hampir tengah malam" kata Yopi, dia menaruh rantangan yang tadi dibawanya di atas meja.


"Oh iya? Memangnya darimana lo kok kena macet? Gue pulang sama Richard semalam lancar-lancar saja tuh" kata Aish, tapi ekor matanya melirik rantangan Yopi karena tercium bau wangi masakan. Membuat lapar saja.


"Kan Richard sendiri yang nyuruh gue pesan stiker logo buat keperluan cafe, Sya. Lo sensi banget sih, ngalah-ngalahin pacar gue deh" goda Yopi.


"Gue laporin Richard lo, baru tau rasa. Itu apa sih di rantang?" akhirnya Aish bertanya, rasanya agak sedikit lapar.


"Tadi enyak nyuruh gue bawain buat lo, enyak masak kare ayam sama perkedel kentang. Tuh, makan dulu cepetan" kata Yopi.


"Lo nggak makan juga?" tanya Aish, karena hanya ada satu porsi saja yang tersedia.


"Sudah gue tadi dirumah" kata Yopi, dia beranjak ke dapur membuat sendiri dua gelas teh hangat untuknya dan untuk Aish.


Yopi sudah terbiasa dengan keadaan rumah Aish.


"Nih, teh hangat buat lo" Yopi menyodorkan segelas teh.


"Makasih" kata Aish dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.


Aish membereskan alas makannya, mencuci dan meletakkan di rak. Nanti sepulang sekolah akan dikembalikannya pada enyak.


Selesai dengan urusan sarapan, mereka berdua sudah siap berangkat ke sekolah.


Daritadi Aish lupa dengan kejadian semalam, tapi saat berhenti di lampu merah, dia jadi ingat lagi. Karena ingatan wanita sangat peka jika menyangkut kesalahan para pria.


"Semalam gue lihat lo lagi sama cewek Yop, pas lagi berhenti di lampu merah. Lo sama siapa sih?" tanya Aish.


Yopi mendesah, niatnya ingin membuat Aish lupa dengan berbuat baik sedari pagi, malah gadis itu masih saja ingat hanya gara-gara berhenti di lampu merah.


"Beneran, Sya. Gue nggak lagi sama siapa-siapa. Gue semalam tuh lagi di tempatnya orang yang bikin stiker, temannya bang Rian" kata Yopi.


Yopi hanya ingin pertemanan Aish dan Nindi terganggu jika berterus terang dengan kedekatan mereka akhir-akhir ini.


"Oke deh, kalau lo masih nggak mau terus terang. Tapi dari dulu pesan gue cuma satu, Yop. Lo jangan main-main lagi sama cewek, ingat masa lalu lo, jangan sampai terulang lagi" pesan Aish.


"Iya, mama. Lo cerewet banget kayak mama gue" kata Yopi.


Seketika Aish mencubit pinggang Yopi yang tertutup tas punggungnya dengan sangat keras.


"Aduh, ampun mama. Iya ampun gue kapok" teriak Yopi, membuat orang-orang disekitarnya menoleh karena teriakannya.


"Diam Yopi, malu dilihatin sama orang-orang" kata Aish.


"Makanya tangan lo jangan usil" sebal Yopi, pinggangnya terasa seperti terbakar. Cubitan Aish sangat berbahaya.


Hingga sampai di parkiran sekolah, Aish dan Yopi sudah bersikap biasa. Mereka berjalan bersama menuju kelas.


"Pagi bu Aish" sapa Nindi yang sudah berjalan mensejajari mereka. Berjalan di samping Aish.

__ADS_1


"Eh, bu Nindi. Baru datang?" sapa Aish, dia melirik ekspresi Yopi saat Nindi datang. Tapi datar saja, tak terlihat ekspresi berlebih darinya.


Dia sangat pandai menyembunyikan perasaannya.


"Dasar anak buah es batu, sama-sama sulit dipahami" gumam Aish dalam hati.


Dia gagal menggali informasi apapun dari Yopi pagi ini. Biarlah nanti dia akan bertanya pada Nindi.


Sampai dikelasnya, Yopi juga masih bersikap cuek dan duduk dengan tenang di bangkunya sendiri.


"Nin, lo semalam jalan sama Yopi ya?" tanya Aish berbisik, takut Yopi mendengarnya.


"Ndak tuh. Aku semalam dirumah saja, ngerjain tugasnya bu Yuli. Tugas kamu audah selesai apa belum?" Nindi berbisik juga saat menjawabnya.


Nindi dan Yopi sama-sama membuat kesepakatan untuk tidak memberitahu siapapun perihal kedekatan mereka berdua.


"Oh, oke deh. Tugas gue sudah selesai kok" Aish tersenyum.


★★★★★


Richard sudah berada di depan gerbang, menunggu Aish pulang. Terlihat Aish turun dari boncengan Yopi saat motornya dihentikan oleh Yopi yang melihat mobil tuannya.


"Tuh pacar lo sudah nungguin" kata Yopi meminta helm di kepala Aish.


"Iya, gue kesana ya. Sampai ketemu di cafe" kata Aish melambaikan tangannya. Terlihat masih ada Nindi di halte sekolah.


Sepeninggal Aish dan Richard, sudah waktunya Yopi menghampiri Nindi yang juga sedang menunggunya.


"Sorry ya, Nin. Jadi bikin lo nunggu" kata Yopi.


"Iya, ndak apa-apa. Langsung pulang?" tanya Nindi, biasanya Yopi masih akan mengajaknya makan siang sebelum mengantarkannya kembali ke rumah.


"Kali ini langsung pulang ya? Gue sudah ditungguin sama Richard dan Reno di cafe. Ada sedikit masalah" kata Yopi.


"Oke, ndak masalah" kata Nindi menampilkan senyum termanisnya. Dia memakai helm pemberian Yopi.


★★★★★


Tidak langsung ke bawah, Aish, Reno dan Richard masih menikmati makan siang di rooftop cafe.


Aish sudah siap dengan setelan seragamnya, dengan celemek berwarna kuning.


"Uwah, lagi makan ya" sapa Yopi yang baru saja datang.


Dia sudah berganti baju, memakai kaos dan celana jeans santai. Mereka sudah janjian untuk membahas masalah stiker yang akan digunakan untuk tempat makanan dan minuman yang dipesan pelanggan.


"Tumben cepet" kata Reno yang masih mengunyah makanan.


"Iya, gue bahkan belum sempat makan siang. Jatah gue ada nggak nih?" tanya Yopi.


"Ada, tuh" kata Reno.


Yopi ikut duduk, menikmati makan siang bersama teman sekaligus rekan kerjanya.


"Lo bawa kedelai rebus lagi, Yop?" tangan usil Reno sudah menjelajahi isi dalam tas yang Yopi bawa.


Rebo sudah selesai makan, dia butuh dessert. Tapi saat melihat tas Yopi, rasa penasarannya membuat tangannya tergerak untuk membuka.


"Lancang banget sih, kebiasaan jelek itu Ren" sindir Yopi, tapi membiarkan saja ulah temannya itu.


"Kemarin lo bilang dapat ginian kan belinya bareng siapa tuh teman kalian, Nindi kan ya?" tanya Reno yang sudah memakan butir-butir biji kedelai.


Yopi melirik Aish, gadis itu sudah menatapnya dalam. Richard hanya terdiam, belum selesai makan.


"Tadi gue ketemu penjualnya waktu pulang sekolah, jadi ya gue beli aja. Kan lo juga suka, Ren" kata Yopi.


"Oh, lo nggak bareng sama tuh cewek medok lagi?" pertanyaan Reno sungguh membuat Yopi harus ekstra memainkan ekspresinya.


"Enggak, gue pulang sendiri" kata Yopi.


"Gue ke bawah duluan ya, Richard" kata Aish yang sudah menyelesaikan makan siangnya.


"Iya, lo jangan kecapekan, Ra" kata Richard mewanti-wanti kekasihnya.


"He em" Aish meninggalkan mereka bertiga, tak menyapa Yopi karena masih menganggapnya tidak mau berterus terang.


Aish berharap Richard akan menasehatinya kali ini, Aish hanya berharap Yopi tidak akan salah langkah lagi.


Mengingat ada Emily di belahan bumi yang lain yang masih menunggu dan mungkin masih mengharapkan Yopi untuk mau bertanggung jawab pada belahan jiwa mereka.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2