
"Aish" sapa Ilham yang melihat gadis itu melamun di ambang pintu dapur, menunggu chef menyelesaikan pesanan pengunjung untuk dibawanya.
"Hem" jawab Aish singkat.
"Itu ada yang nyariin lo di depan, meja nomor delapan" kata Ilham meneruskan informasi.
"Siapa?" tanya Aish penasaran, tumben ada yang nyariin dia.
"Nggak tahu gue, om-om gitu. Hayoo, siapa?" tanya Ilham menggoda Aish, dia mengekor di belakang Aish untuk mengetahui siapa yang datang.
"Hah? kok tumben banget" Aish yang kaget saat melihat siapa yang datang, dia menghentikan langkahnya tiba-tiba. Hingga Ilham menubruknya dari belakang.
"Lo ini ya, berhenti nggak bilang-bilang" kata Ilham.
"Memangnya siapa sih, Aish? Sugar daddy lo ya?" goda Ilham, obrolan mereka terdengar oleh Santi yang mencuri dengar obrolan mereka.
"Gue jitak juga kepala lo. Dia itu om Hutama, papanya Richard, tahu. Awas lo, siap-siap gue aduin lo" geretak Aish, hanya ingin bercanda saja.
"Oh, maaf-maaf. Kan gue nggak tahu, Aish. Lo jangan jadi tukang ngadu dong" kata Ilham berlagak takut, padahal dia juga tahu kalau Aish hanya bercanda.
Mereka berdua juga tahu kalau ada Santi disana yang sedang mencuri dengar.
"Gue bukan tukang ngadu ya, apalagi tukang nguping. Najis banget" kata Aish yang membuat Santi menoleh padanya dan pergi dengan langkah kaki yang dihentakkan setelah melototi mereka sebentar.
"Yaudah, gue temuin dulu ya. Siapa tahu penting" kata Aish, Ilhampun mengangguk dan ikut pergi ke belakang saja.
"Malam, om" sapa Aish yang menghampiri papa Richard, diapun mencium punggung tangan orang tua itu terlebih dahulu.
"Iya, malam. Duduk disini" kata papa Richard, dia memang agak sedikit kaku. Sama seperti Richard, dan istrinyalah yang biasanya mencairkan suasana.
Aish duduk di seberang meja, "Tumben sendirian om, Tante kemana?" tanya Aish berbasa-basi.
"Istri saya sedang sakit, dan kamu tahu kan kalau Richard dari tadi sepulang sekolah sedang ada pelajaran dirumah" kata papa Hutama.
"Oh, sakit apa om? Richard nggak kasih tahu saya apa-apa" tanya Aish yang memang tidak berkirim kabar sejak tadi pagi dengan pacarnya itu.
"Sakit biasa saja, dan istri saya bilang mau makan ayam goreng sama sayur kangkung bikinan kamu setelah mendengar cerita Richard yang bilang kalau kamu pintar memasak" kata papa Hutama, sebenarnya ada sedikit tantangan untuk gadis itu dari kedua orang tua Richard.
Aish sedikit terkejut, "Richard apa-apaan sih, cerita yang enggak-enggak ini pasti" kata Aish merutuki kelakuan Richard.
"Richard ada-ada saja. Saya nggak pandai masak kok, om. Ya bisa sih, sedikit. Cuma masakan sederhana yang gampang-gampang saja" kata Aish yang tiba-tiba merasa stok percaya dirinya merosot tajam.
"Tapi istri saya sudah terlanjur menginginkan itu, dan asal kamu tahu kalau saya akan memberikan apapun yang istri saya inginkan" kata papa Hutama, sungguh sangat persis dengan tabiat Richard yang sangat kaku.
"Hem, iya. Saya pasti akan membuatkan itu dengan senang hati. Biar saya ke dapur dulu ya, om. Saya buatkan sekarang juga" kata Aish menyanggupi permintaan aneh dari mama Richard.
"Baiklah, biar saya lihat saat kamu memasak. Saya takut bahan-bahan yang dibuat tidak higienis" kata papa Hutama, sungguh mirip Richard saat sedang mencela.
Aish jadi melihat Richard dalam diri papanya ini, sungguh tidak diragukan lagi jika Richard adalah titisan dari orang yang sedang duduk dihadapan Aish saat ini.
"Iya, terserah om saja. Kita ke dapur sekarang, om?" tanya Aish.
Papa Richard hanya mengangguk sebagai jawabannya.
Aish berdiri, berjalan bersisian dengan papa Hutama yang membuntutinya.
Sampai di pintu dapur, chefnya bertanya "kamu bawa siapa, Aish?" tanya chef.
"Oh, ini papanya Richard, kak" jawab Aish yang dijawab dengan bentuk mulut O tanpa suara.
Chef itu melihat dengan seksama pada papa Hutama, diapun tak menampik jika memang beliau dan Richard memiliki sifat yang sama. Dingin.
"Silahkan duduk, om" kata Aish memberikan sebuah kursi plastik pada papa Hutama.
"Kak, pinjam dapurnya sebentar ya. Gue mau masak, nggak sampai satu jam, kok" kata Aish meminta izin sebelum beraksi.
Tentu saja chef itu mengizinkan untuk berbagi dapur dengan Aish.
Memang Richard sering minta dibuatkan ayam goreng Laos dan tumis kangkung pada Aish, jadi di kulkas sudah tersedia bahan-bahan masakan itu.
Dan beruntungnya lagi, baru kemarin Aish membuat ayam laos yang sudah dibumbui, siap goreng. Jadi tinggal membuat bumbu tumis saja.
"Sebenarnya yang kepingin makan itu Richard apa Tante, ya?" gumam Aish dalam hati.
Karena sudah hampir seminggu ini Richard tak makan masakan itu.
__ADS_1
Dan tiga hari dalam satu minggu, pasti Richard disibukkan dengan tugas tambahan dari papanya.
Sambil berpikir, tangan Aish juga sibuk bekerja. Papa Hutama melihat itu semua dengan senyum tertahan, dia sebenarnya suka dengan kepribadian Aish yang ceria.
"Sya lo jangan salah paham ya. Tadi yang lo lihat gue sama seseorang itu bukan siapa-siapa gue kok. Sumpah gue cuma nganterin dia pulang aja" kata Yopi yang tiba-tiba masuk dan tak menyadari adanya tuan besar disana.
Aish melirik jam dinding, sudah hampir jam delapan malam. Dengan ******* ringan, Aish menoleh pada Yopi yang bertampang sok imut.
Dan sumpah, Aish benar-benar ingin menghajarnya.
Menghentikan sejenak kegiatannya, Aish membalikkan badan Yopi pada papa Hutama yang sedang duduk dibelakangnya.
Kini raut wajah penuh tanya terlihat jelas di wajah orang tua dari sahabat Yopi itu, "masalah lagi ini" gumam Yopi.
Tanpa kata, Aish kembali pada aktifitasnya, dan membiarkan Yopi berdiri tertegun di tempatnya.
"Eh .. Om, ehm... sudah lama?" tanya Yopi dengan tampang yang di buat setenang mungkin, meski nada suaranya terdengar gugup. Dia melangkahkan kakinya mendekat pada papa Hutama.
"Sudah, sekarang tolong jangan ganggu Aishyah dulu. Biarkan dia menyelesaikan tugasnya" kata papa Hutama.
"Kamu bisa melakukan kegiatan yang lain" kata beliau lagi.
"Baik, om. Saya keluar dulu kalau begitu" kata Yopi berpamitan padanya.
"Tumben banget papanya Richard kesini, ada apa ya" gumam Yopi sambil berjalan keluar, melihat laporan pergantian shitf hari ini.
Di dalam dapur, Aish masih berkutat dengan peralatan masak. Dua menu sudah tersaji dalam waktu kurang dari satu jam saja.
Dan Aish memasukkan dua menu makanan itu ke dalam wadah kotak makanan.
"Mau sekalian saya bungkuskan nasinya, om?" tanya Aish yang sudah siap dengan dua kotak makanan berlogo Destinasi cafe.
"Nggak usah, ada banyak nasi dirumah. Bawakan saja ayam dan kangkungnya" jawab papa Hutama.
"Iya, om" kata Aish, memasukkan dua kotak makanan ke dalam kantong kresek, dan Aish menambahkan dua kotak puding mangga khas cafe Destinasi yang juga digemari Richard. Takut-takut kalau mamanya juga mau itu.
"Ini om, sudah siap" kata Aish memberikan kantong kresek berwarna putih pada papa Hutama.
"Terimakasih ya, Aishyah" kata papa Hutama masih dengan tampang datar.
Membuat gadis itu tersipu malu, menundukkan kepalanya agar tak terlihat calon mertuanya.
Papa Hutama melangkahkan kakinya keluar dari dapur, Aish mengekor pada orang tua itu.
"Saya pergi dulu ya, Aisyah. Oh iya, salam dari Richard tadi buat kamu" kata papa Hutama.
"Iya om. Nanti saya hubungi Richard. Mari saya antar ke luar, om" kata Aish.
Aish menghentikan langkahnya setelah berada di luar pintu. Dan kembali menyalaminya sebelum orang tua itu pergi.
"Hati-hati dijalan, om" kata Aish sambil melambaikan tangannya, dia masih tersenyum sampai papa Hutama memasuki mobilnya.
"Hepi banget yang abis di samperin papa mertua" goda Ilham dengan tangan masih membawa nampan kosong.
"Deg-degan gue, Ham. Horornya sampai ke tulang" kata Aish dengan tawa riangnya, terasa sangat lega setelah papa Hutama pergi.
"Kelihatan banget sih, Aish. Muka lo tegang banget" kata Ilham menertawakan Aish.
"Masak sih, Ham" kata Aish dengan tangan memegang kedua pipinya.
Ilham tertawa karena berhasil mengerjai Aish, tampang gadis itu tampak sangat lucu.
"Ih, Ilham. Lo nyebelin banget. Oh, iya. Gue masih ada urusan sama Yopi, kemana tuh anak?" tanya Aish yang teringat belum memarahi Yopi, belum lega rasanya.
"Ada tuh, lagi lihatin laporan kayaknya" kata Ilham.
Dengan langkah tergesa, Aish kembali merasa jengkel pada Yopi. Padahal tadi sudah hilang perasaan itu.
"Yop, gue mau ngomong sama lo" kata Aish yang tiba-tiba berada di sebelah Yopi.
"Apaan sih, Sya. Eh, lo tadi telat ya?" pertanyaan yang salah terujar dari mulut Yopi.
"Gue telat juga gara-gara lo kali, lo bawa motor gue dari semalam. Tadi gue barangkat sekolah hampir telat, untung saja ketemu sama Mike".
"Dan lagi, pulang sekolah kan lo tahu sendiri kalau angkot yang gue tumpangi kena macet. Lo nggak lupa kan kalau kita ketemu tadi di jalan. Sekarang lo jujur sama gue, yang tadi itu Nindi kan?" tanya Aish yang kembali bersungut.
__ADS_1
"Eh, tunggu. Elo tadi pagi dianterin Mike? Uwah, gue aduin ke Richard lho" kata Yopi ingin bercanda di waktu yang tidak tepat.
"Ini kan salah elo Yopi, coba kalau lo hubungi gue dari semalam kalau nggak bisa bareng gue ke sekolah. Gue kan bisa nebeng sama Ilham, motornya sudah baru. Nggak butut lagi" kata Aish masih dengan amarah tertahan, dia mencubit lengan Yopi dengan sangat keras.
"Dan satu lagi, tadi Nindi kan?" Aish menegaskan lagi pertanyaannya.
"Auwh .. aduh, ampun mama.." kata Yopi yang mengaduh.
"Buk- Bukan kok, mana ada Nindi disini. Dia kan lagi ada di Solo sama keluarganya. Kan ijinnya gitu karena nggak masuk sekolah" kata Yopi meyakinkan Aish, sambil mengusap lengannya yang tadi dicubit. Sangat terasa sakit dan panas.
"Terus yang semalam elo nggak pulang sampai bikin enyak khawatir itu kemana?" tanya Aish lagi, sudah melampaui kecerewetan mamanya Yopi.
"Gue ada urusan, Sya. Sama teman-temannya bang Rian kok. Beneran. Lihat deh log panggilan masuk di hape gue" kata Yopi memperlihatkan jika semalam Yopi melakukan panggilan Video dengan abangnya itu.
Aish mengamati ponsel milik Yopi dengan seksama, memang benar ada panggilan dengan abangnya itu.
"Oke, gue percaya sama lo. Awas ya kalau sampai lo bohong. Terus, kenapa nggak ngabari enyak?" tanya Aish masih mengintrogasi.
"Batre hape gue habis, Sya. Hape gue mati" kata Yopi.
"Terus yang tadi siapa?" pertanyaan Pamungkas dari Aish yang belum terpikirkan jawabannya oleh Yopi.
"Ehm, itu tadi .. ehm... dia itu, tadi korban maling, Sya" kata Yopi yang entah mendapat cerita bodoh darimana.
"Iya, kasihan banget tahu nggak sih. Gue tadi nemuin dia nangis di pinggir jalan. Dia kena copet, Sya. Semua barang dan uangnya hilang. Kasihan banget deh pokoknya".
"Gue sebagai cowok gentleman harus nolongin dia dong. Gue cuma nganterin dia pulang, kok. Niatnya gue mau jemput lo dulu tadi, tapi cewek itu lupa alamat rumahnya. Kayak ngelantur gitu, Sya. Kayaknya habis kena hipnotis deh. Duh, kasihan banget deh pokoknya" Kata Yopi dengan tampang memelas.
"Masak sih, Yop?" tanya Aish dengan wajah sedih, hatinya terbawa dengan cerita yang Yopi sampaikan.
Ya, selembek itu memang hati Aish.
"Iya, coba deh lo bayangin kalau jadi dia. Kasihan banget kan?" tanya Yopi.
Aish menganggukkan kepalanya, terbayang jika ada di posisi cewek itu dan tidak ada yang mau menolongnya. Atau bahkan ditolong oleh orang yang salah.
Yang justru berniat lebih buruk padanya, seperti yang sering dia lihat di acara berita kriminal di televisi.
Aish menggelengkan dengan cepat kepalanya, membuyarkan segala lamunan mengerikan yang tidak-tidak.
Sedangkan Yopi tentu merasa sangat lega, "Gampang banget nipu ibu negara. Kalau begini kan gue aman" kata Yopi dalam hati.
Yopi menggoyang lengan Aish pelan, membuyarkan lamunannya.
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Cewek itu sudah aman, kok" kata Yopi.
"Iya, lo benar sih kali ini. Gue harap lo jujur sama gue, ya Yop. Lo jangan ngelakuin kesalahan yang sama lagi, karena itu bikin banyak orang jadi benci sama lo" kata Aish memulai petuahnya.
"Tahan sebentar lagi, yop. Nanti lo bakalan dapat kejutan menarik kalau lo mau jadi anak baik dan nggak aneh-aneh".
"Gue harap lo mau dengerin gue, sekali lagi gue kasih tahu sama lo. Jangan dekat-dekat sama Nindi. Gue takut kalian punya hubungan lebih, dan itu bakal bikin lo menyesal seumur hidup lo" kata Aish yang pergi setelah berbicara seperti itu.
Yopi tertegun di tempatnya, dia ingin bertanya lebih. Tapi Aish sudah pergi.
Dia bingung dengan ucapan Aish, apa memangnya yang akan terjadi kalau dia berhubungan dengan Nindi? Kenapa bisa menyesal seumur hidup?
Yopi menggelengkan kepalanya, "Ada-ada saja Aishyah si ibu negara" gumam Yopi dengan tersenyum.
Dia kembali mengecek laporan absensi karyawan floor, karena sudah mendekati tanggal cut off untuk menghitung gaji yang akan diterima karyawannya.
Sebagai ketua tim Floor, Yopi harus memastikan jika jumlah gaji yang akan diterima oleh karyawannya benar.
Yopi senang dengan pekerjaannya, dia merasa jadi lebih berguna. Tidak seperti dulu saat dia hanya tahu kemewahan dan foya-foya. Ternyata bekerja untuk mendapatkan uang itu sulit, dan kini Yopi sadar untuk bisa menjadi orang yang lebih baik.
Dibalik tabiatnya yang tak bisa menahan nafsunya, Yopi adalah orang yang berhati baik.
.
.
.
klik like nya yaa...
komen dan vote juga...
__ADS_1
Terimakasih 🤗🤗🤗