
Pertemuan berjalan alot, belum ditemukan siapa pria yang menyuruh Aish memasuki rumah Mahendra, hingga bagaimana Aishyah bisa pingsan di halaman klenteng. Masih sebuah tanda tanya besar.
Diskusi itu diakhiri tanpa ada kesepakatan. Hanya akan dilanjutkan setelah sama-sama mempunyai bukti untuk melanjutkannya.
"Gue semakin heran, siapa ya yang nyuruh gue masuk ke rumah lo Hen?" tanya Aish saat keempatnya berbincang di taman belakang istana.
"Gue juga nggak tahu Aish cantik" jawab Hendra.
"Sialan lo nggombalin princess" kata Falen memukul pelan lengan Hendra.
"cg, apaan sih lo. Urusin tuh pacar lo yang suka ngambek" kata Hendra.
"Siapa? Sekar?" tanya Falen.
"Lo kan sangat mencintainya Frans bego" kata Hendra.
"Lo malah diem aja Sen, sariawan?" tanya Falen memperhatikan Seno yang mengamati prajurit yang sedang latihan.
"Kalau gue bisa bela diri keren kayaknya ya?" tanya Seno tiba-tiba.
"Anak mommy kayak lo mau bela diri? Yang ada nanti mommy lo bisa histeris" kata Falen.
"Falen, nggak boleh gitu dong. Ada teman yang mau belajar sesuatu yang baru tuh harus disupport dong" kata Aish.
"Gue bisa ajarin teknik dasarnya kalau lo mau belajar Sen" lanjutnya.
"Serius lo bisa bela diri Ai?" tanya Seno.
"Sedikit sih, masih belajar gue sama engkong di komplek gue tinggal. Belum pro player" kata Aish sambil senyum.
"Gue juga pernah belajar taekwondo dulu di SD sampai SMP, sama si Richard. Lo semua inget Richard kan?" tanya Falen.
"Inget lah, dia orang pertama yang ngebully gue di sekolah" kata Seno.
"Ya sebenarnya karena dia juga jagoan sih makanya berani ngebully lo" kata Falen.
"Ayo latihan, gue juga udah lama banget nggak nglemesin badan gue" kata Aish bangkit, disusul teman-temannya.
Mereka berjalan menuju para prajurit yang sedang latihan. Aish mulai melakukan pemanasan. Sambil matanya memperhatikan prajurit yang berlatih.
Falenpun melakukan hal yang sama. Awalnya Aish dan Falen berlatih dengan bertanding satu lawan satu dengan basic yang berbeda, Aish dengan pencak silatnya, sedangkan Falen dengan taekwondonya.
Sesaat prajurit memperhatikan mereka, lalu ketua regunya memerintahkan untuk bertanding bersama.
Beberapa orang prajurit mengitari Aish dan Falen. Mereka bersiap melakukan penyerangan. "Kita latihan bersama" ucap ketua regu prajurit.
Aish dan Falen mengangguk paham. Merekapun bertanding, lima orang yang mengitari mereka mulai maju satu per satu.
Ternyata ilmu yang Aish dapat sudah lumayan bagus, dia dapat menangkis dan menyerang dengan lihai. Para prajurit juga senang dengan latihan ini, mereka tampak bersemangat karena bisa berlatih dengan gadis cantik.
Sedangkan Falen yang berbeda aliran dengan mereka, sama-sama sedikit kewalahan karena adanya beberapa teknik yang berbeda. Tapi mereka tetap berlatih maksimal.
"Ayo Aish, Falen.. Semangat!! Go Aish, Go Falen!" Kata Seno menyemangati mereka.
Si ketua regu prajurit menghampiri Seno. "Tuan Senopati tidak ikut latihan bersama? Saya tidak menyangka tuan putri Aishyah yang cantik begitu bisa lincah berlatihnya".
Seno gelagapan mendengar ucapan si ketua. "Eh.. itu, saya sedang tidak enak badan. Jadi masih tidak bisa ikut berlatih" katanya sambil pura-pura sakit.
"Hei lo mau kemana Hendra?" tanya Seno yang melihat Hendra berjalan menjauh.
"Gue mau lihat latihan memanah, gue pingin ikutan" sahutnya. Senopun mengejar Hendra.
__ADS_1
"Bolehkan saya ikut latihan disini?" tanya Hendra.
"Oh, tentu saja. Tamu paduka juga tamu kami" ucap ketua tim memanah mempersilahkan.
"Pilihlah busur dan anak panahnya di sebelah sana. Selanjutnya anda bisa memanah disini" ucapnya.
Hendra berjalan menuju tempat busur panah, kemudian memilih salah satunya. Seno mengikuti kegiatan Hendra, mengambil salah satu busur dan anak panahnya, lalu ikut mengambil tempat untuk memanah sasaran.
Mereka berempat sibuk dengan kegiatan masing-masing. Sejenak melupakan masalahnya dengan berlatih bela diri dan memanah.
Sekar datang setelah mendapat laporan jika keempat tamunya sedang berada di tempat latihan bersama para prajurit. Dia bingung dengan sikap Aishyah akhir-akhir ini.
Seperti bukan Aishyah yang sebenarnya. Sekarang Aishyah pandai bela diri, padahal dia tidak seperti itu sebelumnya.
Dan juga kedekatannya dengan Frans sangat mengganggu pandangannya. Mereka terlihat kompak melindungi satu sama lainnya.
Lama dia memandang arah kedua teman yang sedang berlatih itu. Hingga saat Aish terkena pukulan di wajahnya, membuat sesikit bibirnya robek dan berdarah.
Aish limbung beberapa saat hingga akhirnya jatuh terduduk. Betapa terkejutnya Frans, pria itu berlari menuju Aish yang jatuh. Lalu membingkai wajah Aish dengan penuh kasih dengan kedua tangannya.
***** Yang sebenarnya terjadi*****
Bugh!!!!!
Satu pukulan mengenai wajah Aish yang tidak fokus.
Bibirnya berdarah, membuat pandangannya buram beberapa saat. Setelah limbung sebentar, dia menjatuhkan dirinya yang sudah hampir pingsan.
Falen terkejut karena Aish terluka. Segera dia berlari menuju teman tercantiknya itu.
"Maafkan saya tuan putri, saya tidak sengaja" ucap prajurit yang memukul Aish.
"Nggak apa-apa, namanya juga latihan. Kamu tidak usah cemas" ucap Falen.
"Lo nggak apa-apa Ai?" tanya Falen cemas.
"Nggak apa-apa Fal, cuma agak buram mata gue. Bentar ya" ucap Aish sambil menunduk dan masih terduduk.
Melihat Aish kesakitan, Falen menangkupkan kedua tangannya dipipi Aish. Merasa kasihan padanya.
"Aduh, bibir seksi lo yang bawel ini jadi memble deh" ucapnya, membuat Aish tertawa terbahak-bahak.
"Lo resek banget sih ngatain gue memble. Ini tuh sakit tahu!" kata Aish.
"Mana gue tahu Ai, gue kan tempe" ucap Falen semakin membuat Aish terpingkal.
Memang jika dilihat dari pandangan orang lain, mereka terlihat seperti sedang bermesraan. Tapi jika mendengar obrolan mereka, malah ikutan tertawa. Seperti para prajurit yang ikut mendekat, malah terbahak-bahak dengan tingkah konyol keduanya.
"Udah sih, lepasin tangan lo bau" kata Aish masih dengan tawa.
Falen melepas tangannya, kemudian melihat dengan seksama pada wajah memar Aishyah.
"Haduh, harus nyari salep dimana nih. Pasti sakit ya?" tanya Falen.
"Ada sih daun buat ngurangi memar, gue pernah dikasi tahu sama engkong waktu abis latihan dulu, bantuin gue cari yuk" kata Aish diangguki oleh Falen.
"Atau biar lebih mudah, kita tanya saja sama perawat atau dokter disini. Masak iya di istana nggak ada dokter, iya kan?" tanya Falen.
"Iya juga sih, yuk kita tanya dulu" kata Aish sambil memegangi sudut bibirnya yang masih berdarah.
"Bang, eh mas, aduh apa ya manggilnya. Ada dokter nggak sih disini?" tanya Falen pada salah satu prajurit.
__ADS_1
"Apa itu dokter tuan?" tanya prajurit itu.
"Orang yang bisa menyembuhkan orang sakit, masak sih disini nggak ada?" tanya Falen.
"Oh, tabib? Ada kok tuan. Sebentar saya panggilkan ya, biasanya ada tabib prajurit di pos jaga" kata prajurit itu sambil berlari ke arah pondok sederhana di pinggir lapangan.
********
Sementara hati Sekar kembali bergemuruh, benih-benih kebencian pada Aishyah mulai masuk dihatinya.
Laki-laki yang sangat dia cintai malah memperlakukan sahabatnya dengan sangat berlebihan di hadapannya. Hingga tak menyadari keberadaannya.
Diapun berlari ke arah Aish dan Frans berada. Berpura-pura ikut panik.
"Ya ampun. Kenapa jadi begini sih Aishyah? Memangnya sejak kapan kamu bisa bela diri? Kamu itu hanya membuat orang lain cemas" ucap Sekar membuat Falen melirik kesal.
"Yasudah kamu pergi saja kalau nggak mau direpoti" Ucap Falen malah mengusir Sekar.
Sekar merasa tambah benci pada Aish. Sungguh dia sangat cemburu saat ini.
"Sejak kapan sih kalian jadi sedekat ini? Kau sampai mengusirku Frans" ucap Sekar kembali berlinang air mata.
"Hadeehh ... nambah lagi satu masalah" ucap Falen lirih.
"Sudah, sudah nggak usah berantem. Bibir gue lagi sakit nih lagi nggak bisa ngomel" kata Aish pada Falen.
Hendra dan Seno yang baru saja mengetahui kecelakaan Aish, langsung menuju ke arahnya. Terlihat sudah ada Sekar yang menangis.
"Ada masalah apalagi nih?" tanya Hendra yang baru sampai.
"Loh Aish, bibir kamu sampai bonyok begitu. Pasti sakit ya?" tanya Hendra mendekati Aish.
"Aduh Ai, lo kok nggak hati-hati sih. Kan wajah lo jadi konyol begini" Seno berucap tak kalah absurdnya
"Cg!" Aish mendecak sebal dengan temannya yang khawatir tapi tetap saja bertingkah konyol.
"Ada apa ini?" tanya tabib yang datang,malah melihat ke arah Dewi Sekar yang menangis.
"Yang sakit tuh yang ini bib, lo pinter banget malah lihat yang sono" kata Falen.
"Oh maaf, siapa yang terluka? kenapa dewi yang menangis?" tanya tabib itu.
"Dewi menangis karena kasihan pada putri Aishyah" ucap Hendra datar.
" oh iya maaf, apanya yang sakit putri?" tanyanya lagi.
"Yaelah bib, masak lo nggak lihat bibir bonyok kayak gitu?" ucap Seno gemas.
"Iya maaf, saya periksa dulu" ucap tabib itu melihat bibir Aish.
" Minta maaf mulu lo bib, belum lebaran ini" kata Falen lagi.
"Kalian tuh bisa diam nggak sih" kata Aish tidak tahan lagi.
Ssstttt
kata Falen menyiratkan diam dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir.
"Ini tidak apa-apa putri Aishyah, saya berikan parem untuk mengompres lukanya ya, besok juga sudah pulih" kata Tabib sambil mengeluarkan bubuk yang disimpan di wadah botol becil.
"Campur ini dengan sedikit air, lalu oleskan minimal lima kali sehari agar lekas pulih" ucap tabib itu lagi.
__ADS_1
"Bahkan tidak ada yang memperdulikan ku" Sekar membatin kecewa, lalu dia berlari dengan air mata masih mengalir menuju ke kamarnya.
Sungguh dia merasa sakit hati, dia harus membalasnya kali ini.