Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
amarah ibu negara


__ADS_3

"Assalamualaikum, pak. Bagaimana keadaan anak saya, pak?" terlihat ibu Nindi datang dengan tergesa-gesa.


Beliau mengenal Yopi yang sering menjumpai Nindi di rumahnya. Jadi, dia tadi langsung bergegas menemuinya.


"Waalaikumsalam, bu. Nindi masih ditangani dokter. Saya atas nama sekolah, minta maaf yang sebesar-besarnya karena kecelakaan yang menimpa Nindi ya, bu" kata pak guru.


"Sebenarnya ada apa, pak? Kenapa Nindi harus dilarikan ke rumah sakit?" tanya Ibu Nindi.


"Tadi sewaktu pelajaran olahraga, Nindi terkena lemparan bola di perutnya. Kami tidak tahu jika Nindi sedang datang bulan. Dan menurut dokter, terjadi sesuatu dengan rahimnya. Jadi perlu penanganan lebih lanjut" kata pak guru menjelaskan dengan bahasa formal.


"Ya Allah, nduk. Kasihan sekali kamu" kata ibu Nindi.


"Tidak apa-apa bu, yang penting Nindi sudah ditangani dengan baik. Semoga dia bisa cepat pulih ya, bu. Biar bisa ikut UNAS" kata Aish yang berdiri di samping ibu Nindi.


"Iya nak. Terimakasih sudah mau menemani Nindi ya, nduk" kata ibu Nindi.


"Iya, bu. Ibu naik apa tadi?" tanya Aish yang melihat ada adik Nindi yang ikut bersamanya.


"Naik angkot, nduk. Ayahnya Nindi masih kerja, nanti sore batu bisa kesini" kata Ibu Nindi.


"Oh, gitu. Oh iya, pak. Kalau bapak perlu ke sekolah, biar Yopi antar saja. Biar saya yang menemani ibu Nindi disini" kata Aish.


"Boleh juga itu, saya memang masih harus merekap nilai ujian kalian hari ini. Tadi saya sudah minta guru lain untuk menilainya" kata pak guru.


"Iya pak. Sekalian minta tolong bawain tas gue ya, Yop. Lo bawa pulang ke rumah saja. Biar nanti gue pulang bareng Richard" kata Aish.


"Iya, lo tunggu disini aja ya, Sya. Nanti gue telpon Richard lagi buat jemput lo" kata Yopi.


"Iya. Makasih ya" kata Aish.


"Yasudah kalau begitu, saya mohon pamit ya bu. Besok kalau ada waktu, saya akan kunjungi Nindi lagi" kata Pak guru.


"Iya pak. Saya juga terimakasih karena bapak mau mengantarkan anak saya" kata ibu Nindi.


Ibu Nindi, Aish dan adik Nindi duduk di luar IGD, menunggu kabar dari dalam tentang keadaan Nindi.


"Ibu kok bisa tahu kalau Nindi di rawat disini?" tanya Aish memecah keheningan.


"Tadi ibu di telepon dari sekolah, nduk. Katanya Nindi kecelakaan saat pelajaran olahraga. Ibu masih nungguin adiknya Nindi pulang sekolah dulu untuk kesini. Kasihan kalau nanti dia pulang nggak ada orang dirumah" kata Ibu Nindi.


"Iya bu. Ehm, ibu tahu Yopi? Teman saya yang barusan pergi itu?" tanya Aish.


Jika Yopi dan Nindi tidak mau berterus terang padanya, biarlah dia bertanya langsung pada ibu Nindi.


"Nak Yopi, ya? Kenal ibu. Dia sering datang ke rumah untuk bertemu Nindi. Tapi Nindi bilang Yopi itu cuma teman biasa saja" kata Ibu Nindi.


"Mereka sering keluar bersama nggak, bu?" tanya Aish lagi.


"Sering sih, Yopi itu anak yang sopan. Kalau dia mau mengajak Nindi keluar, pasti pamit dulu sama ibu, dan juga sama ayahnya Nindi" kata ibu Nindi.


"Oh, gitu ya bu" gumam Aish.


"Memangnya kenapa, nduk? Kamu pacarnya Yopi, ya? Jangan salah paham ya, mereka itu cuma berteman kok" kata Ibu Nindi membela anaknya.


"Oh, bukan bu. Yopi itu saudara saya. Saya cuma takut Yopi bersikap kurang sopan sama Nindi dan keluarga ibu" kata Aish.


"Oh, jadi kamu saudaranya Yopi. Memang sih, kalian sama-sama sopan. Ibu senang Nindi punya teman yang baik seperti kalian" kata ibu Nindi.


Sampai hampir setengah tiga, masih belum ada kabar lanjutan dari dalam IGD. Tapi Aish sudah menjelaskan pada ibu Nindi tentang keadaan Nindi di dalam.


Tentunya penjelasan yang sama seperti yang dia jelaskan pada pak guru.


Aish masih harus menutupi kejadian yang sebenarnya menimpa Nindi. Aish takut Nindi akan dimarahi oleh kedua orang tuanya.


Dia hanya berusaha agar semuanya aman, sampai setidaknya selesai ujian nasional.


Dan saat mereka sudah lulus, terserah Nindi untuk mau berterus terang pada keluarganya atau tidak.


Itu terserah Nindi.


"Ra, sorry lama. Tadi masih ada pengumuman dari sekolah" Richard datang dengan sedikit tergesa, daritadi pikirannya hanya takut jika Aish di perlakukan tidak baik oleh Siras.


"Nggak apa-apa, gue baik-baik saja kok. Nih lagi nemenin ibunya Nindi" kata Aish.


Richard hanya tersenyum dan mengangguk sopan pada orang tua Nindi.


"Gue antar lo pulang sekarang, ya? Soalnya kak Willy sudah di cafe, ada yang perlu gue bahas sama dia" kata Richard.


"Bu, Aish pamit dulu ya. Besok pulang sekolah saya datang lagi buat menemani ibu disini" kata Aish berpamitan.


"Iya nak, terimakasih ya" kata ibu Nindi.

__ADS_1


Langkah Richard sedikit terburu-buru, sepertinya sedang ada perlu penting dengan Willy.


"Langsung ke cafe saja deh, Richard. Gue kan harus kerja juga" kata Aish.


"Lo sudah makan?" tanya Richard.


Melihat Aish yang menggelengkan kepalanya, dia malah berbelok ke kantin rumah sakit.


"Kita makan dulu saja, ya. Gue nggak mau lo sakit. Ini sudah terlalu sore buat makan siang" kata Richard.


"Tapi lo kelihatan buru-buru banget. Nggak apa-apa kok gue makan di cafe aja" kata Aish.


"Makan dulu deh, Ra. Gue bosen sama makanan cafe" kata Richard yang sebenarnya juga merasa lapar.


Sebenarnya Aish memang sudah sangat lapar, karena dia hanya sempat sarapan saja tadi saat mau berangkat sekolah.


Dan karena kejadian Nindi, dia harus menahan lapar karena tidak mau meninggalkan ibu Nindi sendiri. Beliau terlihat sangat cemas.


★★★★★


Semalam Nindi sudah di kuret, semuanya berjalan lancar. Sekarang Nindi sudah berada di kamar inap untuk proses pemulihan.


Aish sudah tidak sabar untuk mengintrogasi Nindi dan Yopi. Kali ini, Richard harus menemani Aish karena takut kalau gadis itu akan benar-benar menghabisi Yopi di rumah sakit.


"Pokoknya lo jangan lari kemana-mana, Yop" berkali-kali Aish memperingatkan Yopi dengan perkataan yang sama.


"Memangnya gue mau kemana, Sya" gerutu Yopi.


Sebenarnya dalam hatinya, Yopi sudah sangat cemas menantikan nasib wajahnya. Sejak kemarin Aish terlihat gemas pada wajah tampannya itu.


"Assalamualaikum" sapa Aish saat membuka ruangan Nindi.


"Waalaikumsalam" jawab ibu Nindi yang masih ditemani adiknya.


Dari dua ranjang di dalam ruangan ini, hanya ada Nindi saja yang terbaring diatas salah satunya. Jadi, semalam pasti ranjang yang lain itu dipakai keluarga Nindi.


"Ibu sudah makan?" tanya Aish.


"Belum nak, kasihan Nindi nggak ada yang menemani kalau ibu tinggal" kata Ibu Nindi.


Kesempatan bagus bagi Aish untuk memuluskan niatnya.


"Ehm, ibu sebaiknya makan dulu ya sama adik di kantin. Biar saya dan Yopi yang menemani Nindi disini" kata Aish, tapi ibu Nindi masih terlihat bimbang.


"Baiklah, ibu titip Nindi ya nak" pada akhirnya ibu Nindi pun mau dibujuk.


"Iya, bu. Pasti" kata Aish lega.


"Ayo dik. Kita cari makan dulu" ajak ibu Nindi pada anaknya.


Setelah memastikan jika ibu Nindi sudah pergi, Aish bersiap mengeluarkan unek-uneknya sejak kemarin.


Perlahan dia menghampiri ranjang Nindi, duduk diatas kursi dan memandangi Nindi dengan seksama.


Yopi dan Richard berada di belakang Aish yang sedang duduk.


"Nin, gue tanya sama lo. Gue harap, lo kali ini mau jujur sama gue. Lo berbuat zina sama siapa? Kenapa lo bisa sampai hamil?" tanya Aish.


"Maksud kamu apa, Aish. Aku ndak ngerti. Dan aku juga ndak pernah berbuat seperti yang kamu tuduhkan sama aku" kata Nindi masih mengelak.


"Jangan bohong lagi sama gue, Nin. Dokter Siras bilang sama gue, lo itu keguguran. Lo lagi hamil makanya perut lo sakit waktu kena lemparan bola kemarin" kata Aish, Nindi hanya menunduk dan mulai menitikkan air mata.


"Lo jawab jujur sama gue sekarang, atau gue bakalan buka semua rahasia besar lo ini sama keluarga dan teman-teman di sekolah?" kata Aish memberi pilihan yang sulit untuk Nindi.


Hati Yopi sudah tidak karuan, berkali-kali Aish memperingatkan Yopi. Tapi tak digubrisnya, dan sekarang. Perbuatannya kembali memakan korban.


"Hiks... Hiks... Iya, memang aku sudah kotor, Aish. Aku ngelakuin itu sama Yopi, tapi tolong jangan beritahu siapapun tentang ini. Terutama sama orang tuaku, ya. Aku mohon sama kamu" kata Nindi dengan berlinang air mata.


Dada Aish bergemuruh, jadi benar jika mereka berdua sudah berbuat terlalu jauh. Sengaja Aish berdiri. Tanpa ada yang menduga, tangan Aish terangkat untuk menampar pipi Nindi.


Dan itu dilakukannya dengan sangat keras. Richard dan Yopi terkejut, Aish bisa semengerikan itu.


"Gue sudah bilang sama lo, Nindi. Jangan dekat-dekat sama Yopi. Gue sudah peringatkan lo dari awal kan kalau dia itu sudah ada yang punya?" tanya Aish.


Mata Aish sudah berkaca-kaca, tangannya terasa sedikit kebas karena memukul Nindi terlaku keras.


Dan pipi Nindi sangat sakit, dia menangis kencang kali ini. Hati, perasaan dan harga dirinya seolah hancur bersamaan dengan tangan Aish yang menghampiri wajahnya.


Aish mengeluarkan ponselnya, memperlihatkan sebuah video yang sudah Emily edit sebelumnya.


Sebuah video yang berisi kumpulan kegiatan Silvia, anak Yopi yang sedang berjuang untuk tumbuh tanpa adanya Yopi, sang ayah di sampingnya.

__ADS_1


"Lo lihat video ini!" kata Aish pada Nindi.


Nindi melihat video itu dengan masih sesenggukan.


"Ini anak Yopi, Silvia. Dia sedang tumbuh tanpa ayahnya disana, Nin. Ini alasan kenapa gue selalu ngelarang lo buat dekat-dekat sama Yopi. Gue takut lo tertarik sama Yopi, gue takut jika akan ada Silvia lainnya" kata Aish.


Perasaan Yopi sama hancurnya, dia bahkan menitikkan air mata melihat gadis mungil yang terlihat bahagia di dalam dekapan Emily.


Sedangkan Richard hanya bisa diam dengan tangan yang disilangakan di dadanya. Membiarkan Aish menghukum Yopi, selama itu masih wajar. Richard hanya membiarkan.


Karena Richard sudah janji untuk membiarkan Aish berbuat apa saja saat Yopi benar-benar melakukan kesalahan lagi.


"Dan lo, Yop. Kenapa sih lo itu bodoh banget? Kenapa lo nggak belajar dari kesalahan lo sebelumnya? Lo sudah hampir mati dulu dengan kesalahan seperti ini, sekarang kenapa lo lakuin lagi sih?" giliran Yopi yang mendapat wejangan dari ibu negara.


Bukannya Aish mau turut campur, tapi Yopi tinggal bersama orang yang Aish kenal.


Aish tidak mau enyak dan engkong merasa malu karena merawat laki-laki bejat seperti Yopi.


Yopi hanya menunduk saat Aish bertanya, hatinya menjadi rapuh kali ini. Melihat wajah gadis kecil yang sangat mirip dengannya, membuatnya merasa sangat bersalah.


"Ngomong dong Yop. Jangan diam saja, kenapa sih lo itu bodoh banget?" tanya Aish mulai memukuli dada Yopi.


Tapi Yopi hanya terdiam dengan air mata bercucuran. Dia seolah menjadi ayah yang sangat buruk.


"Ngomong, Yop. Gue mau denger alasan lo" kata Aish mulai emosi, sejak kemarin wajah Yopi sudah menjadi incarannya.


Tangan Aish mengepal, dan mulai terangkat untuk memukul wajah Yopi.


Bugh!!


Satu pukulan mendarat indah, sedikit emosi Aish berkurang. Tapi belum hilang.


"Sudah, Aish. Jangan pukul Yopi terus" kata Nindi.


Richard mulai pasang badan. Berdiri di depan Yopi yang kesakitan.


"Minggir, Richard. Teman lo yang satu ini lagi butuh banyak pelajaran. Dia itu terlalu bego buat dibiarkan lepas begitu saja" kata Aish yang tidak suka saat Richard mengamankan Yopi.


"Sudah, Ra. Yopi memang salah, tapi ini rumah sakit. Lo bisa ganggu yang lain kalau bikin keributan disini" kata Richard.


"Justru karena ini rumah sakit, Richard. Jadi nanti kita nggak perlu jauh-jauh untuk mencari dokter kalau dia butuh pertolongan" kata Aish yang masih berusaha untuk menjangkau Yopi yang ditutupi tubuh Richard.


Tapi Richard bergeming, dia tidak mau Aish memukul Yopi lagi.


"Minggir, Richard" kata Aish yang masih berusaha memukul Yopi.


"Lari, Yop" kata Richard.


Yopi berlari keluar ruangan, tapi Aish masih mengejarnya. Dia masih belum puas meski sudah berhasil memberi satu pukulan di wajah tampan Yopi.


Dan Richard masih menjadi penengah diantara mereka. Sedangkan Nindi masih menangis diatas ranjangnya, dia masih belum kuat untuk menapakkan kakinya.


"Berhenti lo, Yop. Cowok sialan, brengsek. Sini lo" teriak Aish.


Yopi berhenti di luar ruangan, mereka sudah menjadi tontonan. Dan Richard juga masih berusaha menenangkan Aish.


"Sudah, Ra. Malu dilihat orang" kata Richard yang menahan kedua tangan Aish.


"Lo diam ya, Richard. Atau lo juga mau gue pukul?" kata Aish menakut-nakuti Richard.


Yopi kembali berlari, langkahnya menuju taman belakang rumah sakit. Tempat terbuka yang dikiranya akan lebih aman dari amukan Aishyah.


Tapi Aish masih saja mengejarnya meski harus diseret oleh Richard.


"Bandel banget sih" gumam Richard yang tak juga berhasil meredam amarah Aish.


"Sudah, Ra. Biarin Yopi pergi, gue yakin dia sudah mau menyadari kesalahannya. Lo jangan terlalu emosi kayak gini dong. Malu sama orang lain. Nanti kalau orang lain tahu masalah mereka gimana?" kata Richard.


Dan kali ini, Aish mendengarnya. Benar juga kan, susah-susah Aish meminta Siras merahasiakan semuanya, masak iya rahasia itu harus diketahui orang lain karena perbuatannya sendiri.


"Astaghfirullah. Awas lo Yopi" kata Aish yang masih berusaha meredam emosi.


"Lagian kenapa sih lo emosi banget, jangan bilang lo cemburu sama Nindi karena Yopi" kata Richard yang membuat Aish menatapnya tajam.


"Lo jangan mancing emosi gue lagi deh, Richard" kata Aish.


Tangannya masih digenggam erat oleh Richard, dan Yopi masih berdiri disana. Agak jauh, dia terlalu takut untuk berdekatan dengan Aish dan Richard.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2