Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
rumah terakhir


__ADS_3

Saat raga ditinggal nyawa,


hanya perih yang tertinggal dari banyaknya kenangan


kenangan baik tinggal di hati


kenangan buruk ikutlah terbawa mati


Ziadah doa tetap tersambung dari hati yang suci


semoga yang pergi mendapatkan kenyamanan berada di tempat terpuji.


*********


..."Assalamualaikum princess, Ada apa?" tanya Falen saat ponselnya berdering, terpampang nama princess Aishyah yang memanggilnya....


..."Lo harus segera ke rumah sakit, bundanya Aish nggak tertolong"...


kata Richard, baru kali ini setelah sekian lama dia harus menelpon Falen menggunakan ponsel Aish.


..."*L*o jangan main-main"...


..."Lo denger suara gue lagi pengen bercanda? gue serius"...


..."Innalilahi wa innailaihi rojiun. Gue segera ke rumah sakit sekarang"...


Tanpa menunggu persetujuan, Richard memutus panggilannya. Kembali dia mendekat pada Aishyah yang masih menangis di sebelah mayat bundanya.


Richard tidak tahu harus berbuat apa, dia tidak pernah berusaha menenangkan seorang wanita yang sedang bersedih sebelumnya.


"Maaf, jenazahnya mau diletakkan di ruang jenazah terlebih dahulu" tanya suster.


"Apakah jenazah wanita yang ada di ruang jenazah boleh dibawa sekalian malam ini sus?" tanya Richard yang teringat akan jenazah kakaknya Aishyah.


"Saya kurang mengerti untuk jenazah yang itu, kamu bisa bertanya langsung pada dokter yang bersangkutan" kata suster.


"Jenazah ini boleh dibawa ke ruangan yang sama dengan wanita itu sus, nanti biar lebih mudah kalau keduanya akan dibawa pulang" kata Richard.


"Baiklah kalau begitu, biar kami bawa ke sana sekarang" kata suster mulai mendorong brankar menuju ruang jenazah.


"Iya, terimakasih sus" kata Richard.


Richard memapah Aish untuk mengikuti dari belakang. Gadis itu masih belum bisa menghentikan tangisnya, padahal matanya sudah sangat sembab.


Falen, Hendra dan Seno datang bersama orang tuanya ke rumah sakit sekitar satu jam setelah Richard menghubungi.


"Yang sabar ya sayang" kata mommy Seno yang langsung mengambil Aishyah dari dekapan Richard.


Seno juga langsung memeluk kedua wanita tersayangnya itu, mereka bertiga menangis bersama. Seno baru tahu kabar tentang kematian kak Alif saat diperjalanan menuju ke rumah sakit tadi, Falen menceritakan dengan rinci kejadiannya.


"Maafin gue ya princess, sahabat macam apa gue yang nggak tahu kalau lo lagi dalam masalah yang serius" kata Seno di sela tangisannya. Dari ketiga punggawanya, Seno adalah yang tercengeng. Biasanya Aish yang menjaganya dari kejahilan Falen dan Hendra.


"Sudah Seno, cowok nggak boleh nangis. Lihat teman kamu yang lain nggak ada yang nangis" kata papi Seno.


"Tapi Aish lagi sedih pi, Seno nggak tega lihat dia seperti ini" jawab Seno masih memeluk keduanya.


"Terserah kamu saja. Bagaimana kalau kita urus kepulangan keduanya saja?" tanya papi Seno membiarkan anaknya menangis bersama istrinya. Beliau mengajak papa Falen untuk segera mengurus kepulangan jenazah untuk segera dikebumikan. Prosesnya terjadi sangat mudah, mengingat papanya Falen adalah pemilik rumah sakit itu.

__ADS_1


★★★★★


Awan mendung menggantung di langit sejak subuh. Takdir seolah sedang memainkan perasaan seorang gadis, Aishyah Khumaira. Kemarin sore dia pergi bersama sang bunda, ternyata sekarang dia pulang membawa dua oleh-oleh yang sarat kesedihan.


Dua jenazah tengah berada di ruang tamunya, setelah tadi disolati oleh warga kampungnya dan juga sahabat-sahabat terdekatnya.


Semalaman Richard menjaga Aishyah, dia benar-benar menepati janjinya untuk menjaga Aish. Baru tadi menjelang subuh dia pulang untuk mandi dan ganti baju. Lalu kembali ke rumah Aishyah. Dia tidak bisa membawa serta orang tuanya, mereka terlalu sibuk untuk berurusan dengan hal remeh seperti ini.


Dua mobil jenazah pergi beriringan menuju tempat peristirahatan terakhir. Mengeluarkan dua buah keranda yang salah satu mayatnya harus dimasukkan ke dalam peti mati saat dimasukkan ke liang lahat.


Richard, Falen, Seno dan Hendra membantu mengangkat keranda bunda. Tinggi mereka yang hampir sama memudahkan untuk membawa keranda. Sementara peti kak Alif harus diangkat beberapa orang karena memang cukup berat.


Falen dan Seno bahkan tak segan untuk ikut masuk ke dalam lubang saat menurunkan jenazah bunda. Sementara Richard dan Hendra yang tidak tahu cara penguburan seorang muslim, hanya bisa melihat dari atas, bersama para pelayat yang lainnya.


Adzan telah dikumandangkan, perlahan tanah mulai dimasukkan untuk menutup kedua wanita yang sudah terbujur kaku. Setelah semuanya selesai, rangkaian doa dikumandangkan. Dan satu persatu pelayat mulai pergi meninggalkan pusara setelah pak ustadz menyelesaikan doanya.


Aish duduk diantara makam kakak dan bundanya, dia menangis lagi. Kesedihan macam apa yang tuhannya berikan pada gadis remaja sepertinya.


Ketiga sahabatnya, yang kini juga ada Richard tetap berdiri dibelakang Aishyah. Menunggui dengan sabar sang princess yang sedang bersedih.


"Mommy pulang dulu ya sayang, maaf belum bisa menemani kamu. Seno tidak diizinkan untuk ijin hari ini. Nanti malam kami pasti datang untuk tahlilan dirumah kamu ya" kata mommy Seno berpamitan, dan memeluk Aish sejenak.


"Iya mom, terimakasih sudah sangat banyak membantu Aish ya" kata Aish dengan senyum terpaksa, berusaha tetap sopan pada wanita yang sudah menyayanginya seperti bunda.


"Maafin gue ya princess, nanti malam gue pasti datang. Lo jangan nangis terus ya, mata lo sudah kayak kodok" kata Seno berusaha bercanda, meski tak berpengaruh apa-apa. Aish mengangguk pada Seno, sedikit senyum dia berikan pada sahabatnya itu.


"Mama juga pulang dulu ya nak, sebentar lagi papanya Falen ada meeting. Kamu yang sabar ya nak, jaga kesehatan kamu" kata mama Falen yang juga berpamitan.


"Gue pamit juga princess, ada kegiatan OSIS yang nggak bisa ditinggal. Nanti malam gue datang lagi" kata Falen.


"Iya, hati-hati ya. Terimakasih lo sudah banyak bantuin gue" kata Aish.


"Gue pamit princess, lo segera pulang juga ya. Sebentar lagi hujan. Lo juga harus jaga kesehatan lo" kata Hendra sebelum pergi.


"Makasih ya Hen, karena lo kita semua bisa tahu keadaannya kak Alif" kata Aish melepas kepergian Hendra.


Aish kembali berjongkok di tengah makam wanita tersayangnya. Sang kakak dan bunda yang telah pergi. Tangannya mengelus kedua nisan yang bertuliskan nama mereka.


Gerimis mulai turun. Suasana di pemakaman terasa hening. Air mata menetes lagi dari netra Aish yang sebenarnya sudah sangat lelah.


"Bun, Aish harus bagaimana nantinya? Bahkan untuk bangun pagi saja Aish masih membutuhkan bunda. Bagaimana Aish harus menyiapkan sarapan sendiri, harus menanggung hidup sendiri?"


"Bunda, siapa yang nanti akan menyuruh Aish cepat pulang saat lupa waktu diluar rumah? Siapa yang akan bangga saat Aish mendapatkan piala? Siapa bun yang akan memeluk Aish saat sedih nanti?" kata Aish dengan deraian air mata, dia masih belum sanggup menerima kenyataan ini.


"Kak Alif, bahkan Aish belum mendapatkan maaf dari kakak. Aish belum kakak kenalkan dengan keponakan Aish. Siapa namanya kak? Dimana dia sekarang? Apa kakak pernah memberitahu kalau dia punya tante? Kakak biasa menyebut Aish sebagai tante atau aunty padanya kak?" Aish menjeda kalimatnya, suara tangisannya semakin kencang.


"Kak, kakak maafin Aish kan kak? Jawab kak jangan diam saja. Aish bilang kan kalau Aish minta maaf, ayo jawab kak" Aish berteriak sambil mengacak-acak permukaan tanah gembur yang menutupi peti Alif.


Gamis hitam yang Aish kenakan menjadi kotor karena dia mengacak-acak tanah yang masih basah. Hijab panjangnya sudah tidak karuan, bahkan beberapa kelopak bunga menempel di hijabnya.


Richard mendekat, dia mendekap Aish ke dalam pelukannya. Membiarkan kekasihnya menangis sepuasnya disana. Aish masih meronta, dia ingin mengacak tanah itu lagi. Tapi Richard tetap menahannya dengan pelukan yang semakin erat. Perlahan Aish semakin tenang, mungkin tenaganya sudah habis.


"Lo jangan kayak gini, bunda dan kakak pasti sedih lihat lo begini Aishyah. Dimana Aish yang dulu sabar, tenang dan nggak cengeng?" kata Richard sambil tetap memeluk Aish. Mereka berdua bahkan sudah duduk dipermukaan tanah.


"Lo nggak tahu rasanya ditinggal sendirian Richard. Lo nggak tahu rasanya ditinggal pergi saat belum mendapatkan maaf dari orang yang lo sayang. Lo nggak akan pernah tahu bagaimana hidup lo kedepannya yang terlihat semakin abu-abu" kata Aish sedikit menjerit untuk meluapkan sesak di dadanya.


"Ada gue disamping lo Aishyah, gue sudah janji sama bunda lo untuk selalu ada buat lo. Gue tulus cinta sama lo, gue sayang sama lo. Gue nggak akan pernah tinggalin lo apapun yang akan terjadi" kata Richard, dia sudah sangat yakin jika hatinya memilih Aishyah. Apapun yang nanti akan dia hadapi.

__ADS_1


Aish masih menangis, nyatanya semua perkataan yang keluar dari mulut Richard belum bisa meyakinkan Aish untuk percaya. Mereka hanyalah anak remaja yang masih sekolah, bahkan untuk makan saja Richard masih mengandalkan orang tuanya.


"Sekarang pulang ya. Hujannya semakin deras, nanti lo bisa demam. Apalagi daritadi pagi lo nggak makan apapun" kata Richard membujuk Aish agar mau pulang.


"Gue mau disini saja, gue mau ikut bunda" kata Aish, dia bergeming meski mendengar penuturan Richard yang ada benarnya.


Richard mengerti keadaan Aishyah, dia membiarkan Aish tetap duduk disana dan tetap memeluknya. Meski kini hujan turun semakin deras.


Lama kelamaan, Richard tak merasakan pergerakan dari Aish. Dia sedikit menunduk untuk melihat keadaannya. Rupanya dia tertidur, lama menangis dan kedinginan membuatnya lelah. Matanya tertutup sempurna.


Richard menggendong Aish dengan hati-hati, membawa Aish ke mobilnya. Dia cukup kesulitan saat akan membuka pintu, beruntung gadis itu tetap nyaman saat Richard mendudukkannya dan memasang seatbelt.


Hanya lima belas menit berkendara, Richard sudah sampai di halaman rumah Aish. Terlihat engkong, enyak, bang Rian dan beberapa orang sedang menunggunya. Richard kembali menggendong Aish ke kamarnya. Dia pasti sudah sangat kedinginan.


"Ya Allah, kenapa sama Aish? Kalian hujan-hujanan ya?" tanya enyak yang mengekor pada Richard.


"Bisa minta tolong gantikan baju Aishyah bu? Dia basah semua" kata Richard.


"Iya, biar enyak yang gantiin bajunya. Lo juga cepetan mandi ya. Sebentar gue minta tolong Rian buat minjemin baju buat lo" kata enyak langsung ke depan, untuk menemui anak laki-lakinya.


Tak lama, enyak kembali datang membawa satu stel pakaian. Semoga cukup di tubuh Richard yang tinggi.


"Ini baju ganti buat lo ya. Cepetan lo mandi, gue juga mau gantiin bajunya Aishyah" kata enyak.


"Terimakasih bu" kata Richard setelah mengambil baju dari tangan enyak.


"Panggil gue enyak saja ya, biar sama kayak yang lainnya" pinta enyak. Richard mengangguk dan segera menuju kamar mandi.


Richard berjalan ke ruang tamu setelah selesai dengan kegiatannya di kamar mandi. Disana sudah berkumpul beberapa orang, termasuk enyak. Semua mata memandangnya sedikit aneh, pasalnya baju yang dia kenakan sedikit kekecilan.


"Nama lo siapa?" tanya engkong mempersilahkan Richard untuk bergabung.


"Saya Richard" jawabnya, semua orang manggut-manggut setelah mendengar namanya.


"Enyak mau pulang dulu ya, mau siapin suguhan buat orang tahlilan nanti malam" kata enyak meninggalkan rumah Aish.


"Lo tolong jagain Aish dulu ya, kita mau bantu siapin tempat buat acara nanti malam" kata engkong.


"Iya pak, pasti akan saya jaga dengan baik" kata Richard.


"Panggil gue engkong saja" kata engkong sambil menepuk bahu Richard.


Setelah semua pergi dengan keperluan masing-masing, Richard menuju kamar Aish. Rupanya gadis itu masih tertidur, enyak sudah menyelimutinya hingga sebatas dada. Enyak lupa memakaikan hijab, mungkin karena Aish tidur jadinya enyak membiarkan rambutnya tergerai, lagipula rambutnya basah.


Richard duduk di ranjang, disamping Aish yang tertidur. Tangannya terulur mengelus kening gadis yang kini menjadi kekasihnya itu. Terasa panas, rupanya dia demam karena kelelahan dan kurang istirahat.


Dengan inisiatifnya, Richard mengambil baskom dan diisi air hangat. Saat membawa ke kamar Aish, dia melihat ada handuk kecil yang biasanya Aish pakai untuk dalaman mukena. Richard memakai itu untuk mengompres dahi Aishyah.


Bahkan dengan pergerakan sebanyak itu tak membuat tidur Aish terganggu sama sekali. Richard mengerti jika jiwa dan raganya sedang lelah. Kekasihnya sedang butuh banyak istirahat.


Dengan telaten, Richard terus mengganti kompres yang sudah dingin. Dia menunggu Aish yang sedang tidur dengan duduk di kursi belajar yang ada di dalam kamar.


Dia sedang memainkan ponselnya saat kantuk datang menghampiri, Richard tertidur sambil duduk. Kedua tangannya menopang kepala yang ada diatas meja.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2