
"Neng, lo kalau nulis laporan yang benar dikit napa. Semalam lo nulisnya gitu banget sih? Kan jadinya sekarang lo dipanggil sama pak bos" kata Tomi saat Aish baru saja menapakkan kakinya di dalam pos.
"Memangnya gue nulis apaan bang?" tanya Aish, rupanya dia lupa dengan tulisannya sendiri.
"Noh, lo baca sendiri" kata Tomi.
"Oh, iya. Semalam gue emosi bang, lupa gue kalau lagi nulis di buku laporan, gue kira lagi nulis di buku harian" kata Aish merutuki kebodohannya.
"Dah lah, sekarang lo temuin si bos tuh. Kalau bisa ngomong yang benar ya, ambil hatinya biar lo nggak dimarahi" kata Tomi.
"Iya bang, semoga bosnya nggak marah ya. Doain Aish ya bang Tomi" kata Aish mendramatisir keadaan dengan mengepalkan tangan ke udara.
"Semangat neng, gue doain dari sini" kata Tomi.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk" Aish membuka Handle pintu setelah dipersilahkan oleh orang yang ada didalam ruangan.
"Abang panggil saya?" tanya Aish.
"Duduk sini" kata Siras menyuruh Aish duduk di sofa didalam ruangannya.
"Ada apa bang?"tanya Aish pura-pura tidak tahu.
"Menurut kamu, kenapa saya panggil kesini?" tanya Siras ingin sedikit bermain dengan gadis kecil dihadapannya.
"Hehe, kalau soal laporan semalam, hengmg... Aish minta maaf ya bang. Pacar abang sih ngeledek Aish duluan" kata Aish membela diri.
"Lagian pacar abang kok seksi-seksi banget ya, mana semuanya pada nggak suka sama Aish lagi" kata Aish lagi.
"Siapa pacar saya?" tanya Siras mengernyit.
"Yang semalam itu, Hana. Sama tante Sofia ya yang dulu itu?" kata Aish berusaha mengingat.
"Yang ngebanting hape Aish sampai layarnya retak" Aish mengadu untuk membela diri.
"Masak sih, coba lihat hape kamu" kata Siras.
"Itu hape kamu masih dalam kondisi sangat bagus" kata Siras saat Aish memperlihatkan hapenya.
"Ini baru bang, dapat hadiah dari sekolah waktu itu. Yang layarnya retak kemarin sudah Aish buang" kata Aish.
"Lagian Hana itu bukan pacar saya" kata Siras.
__ADS_1
"Jadi, kamu kerja disini sejak Senin kemarin ya?" tanya Siras.
"Iya, bang" jawab Aish.
"Saya kira kamu bohong saat bilang sedang bekerja waktu saya telpon kamu waktu itu" kata Siras.
"Nggak lah bang, buat apa juga saya bohong" kata Aish.
"Kenapa kamu kerja?" tanya Siras.
"Buat menyambung hidup lah bang, kalau saya nggak kerja, siapa yang mau biayain hidup saya? Bang dokter?" tanya Aish.
"Kamu mau saya nafkahi?" tanya Siras.
"Sekarang kan memang abang yang menafkahi saya. Saya kan jadi anak buahnya abang disini" kata Aish, Siras hanya tersenyum.
"Saya nggak nyangka abang yang punya perusahaan ini. Abang nggak capek ya kerja double kayak gini?" tanya Aish.
"Nggak, saya suka bekerja"jawab Siras, membuat Aish menganggukkan kepalanya.
"Masih ada yang mau dibicarakan bang? kalau nggak ada, saya mau balik ke pos ya. Kasihan bang Tomi sudah waktunya pulang" kata Aish.
"Tidak ada, kamu boleh kembali" kata Siras. Ekor matanya memandang Aish yang pergi hingga tak terlihat lagi.
"Kamu benar-benar gadis yang unik Aisyah. Saya sangat kagum sama kamu" batin Siras sambil memejamkan matanya, membayangkan senyum ceria Aishyah. Gadis kecil yang memenuhi pikirannya belakangan ini.
Siras meninggalkan kantornya jam lima sore, ada panggilan dari rumah sakit untuk melakukan operasi.
"Saya pergi dulu ya Aishyah, kamu hati-hati saat bekerja" kata Siras menyempatkan diri untuk sekedar menyapa Aish.
"Iya bang dokter, hati-hati ya. Dadah" kata Aish sambil melambaikan tangannya, Siras juga melambaikan tangan sebelum menjalankan mobilnya keluar area kantor.
Saat akan menyebrang jalan, Siras melihat mobil Richard terparkir di seberang kantornya. Terlihat gerak-gerik yang mencurigakan dari Richard dalam pandangan Siras.
Setelah berhasil menyebrang jalan, Siras turun dari mobilnya dan menghampiri Richard. Seingatnya, bocah tengik ini juga terlihat mempunyai rasa tertarik pada Aishyah.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Siras melalui jendela mobil Richard yang sedikit terbuka.
"Sialan dokter ini" batin Richard.
"Nggak lagi ngapa-ngapain dokter" kata Richard yang telah keluar dari dalam mobilnya dan berdiri dihadapan sang dokter.
"Kamu sedang menguntit atau memata-matai Aishyah?" tanya Siras.
__ADS_1
"Gue cuma menjaga pacar gue dari pria hidung belang kayak lo" kata Richard yang juga tidak suka pada Siras.
"Maksud kamu apa? hahahhaa.... Kamu jangan berkhayal dengan berpura-pura menjadi pacarnya Aishyah ya. Karena itu adalah hal yang sangat mustahil" kata Siras meremehkan Richard.
"Kalau lo nggak percaya, tanya saja langsung sama Aishyah. Dia itu benar-benar pacar gue, brengsek" kata Richard yang terpancing emosinya.
"Apa kamu bilang? Saya brengsek? Kamu yang brengsek" kata Siras melayangkan tinjunya ke wajah Richard, sudut bibirnya kini berdarah karena tidak siap dengan pukulan Siras yang tiba-tiba.
"Sialan lo" kata Richard yang membalas menyerang Siras, tinjunya pada ulu hati Siras membuat dokter itu sedikit terpental dan jatuh tersungkur.
Sedangkan Aish yang menjadi bahan pertengkaran malah sedang asyik membaca buku didalam pos sambil mendengarkan musik dari hapenya.
Siras masih berusaha bangkit meski kini perutnya terasa sangat sakit. Dia terlalu gengsi untuk menyerah pada bocah ingusan seperti Richard.
"Lemah" cibir Richard sambil mengusap darah yang kembali keluar dari sudut bibirnya.
Siras melayangkan tinjunya lagi, dia masih mengarahkan pada wajah Richard. Tapi dengan mudah Richard menangkisnya, dan berbalik untuk memelintir tangan dokter itu.
Kini tangan Siras terkunci di belakang badannya, membuatnya tak bisa berkutik. Siras tidak tahu bahwa bocah ingusan yang dia anggap hanya bisa berbuat onar itu adalah mantan atlit taekwondo saat masih SMP, dan menjadi rival dari adiknya. Sekarang malah juga menjadi rival hatinya.
"Gue peringatkan sama lo ya dokter, jangan sekali-kali berusaha mendekati Aishyah. Dia itu pacar gue, dan gue nggak suka kalau ada yang berusaha sok caper sama pacar gue" kata Richard tepat di telinga Siras.
"Ouch, ok. Lepasin tangan saya" kata Siras.
Richard melepas kunciannya pada Siras, membuat dokter itu mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengurangi rasa sakit, dan memegangi perutnya yang juga masih sakit akibat tinju maut dari Richard si bocah ingusan.
"Dan saya harap, mulai saat ini kamu jangan sekali-sekali menjadi penguntit di kantor saya. Atau saya bisa saja melaporkan kamu pada polisi karena telah melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan, dan juga, kamu sangat mencurigakan" kata Siras mengancam.
"Hahahaha, laki-laki yang mengaku dewasa kayak lo ternyata bisanya hanya mengancam rupanya ya. Kalau lo macam-macam sama gue, bisa gue pastikan perusahaan receh lo ini bakalan gue habisin" kata Richard.
"Dan saya tidak takut pada ancaman bocah tengik ingusan seperti kamu. Waktu saya sangat terbatas jika hanya untuk meladeni kamu. Salah besar saya sudah menghampiri kamu tadi" kata Siras meninggalkan Richard yang menertawakannya.
Hati Siras bergemuruh, amarah dan cemburu membakar hatinya. Rasa ingin memiliki Aishyah menjadi lebih dominan kali ini. Jika sebelumnya dia ingin menarik hati gadis kecil itu dengan pelan tapi pasti, kini terbesit keinginan besar dalam hatinya untuk bisa mendapatkan gadisnya secepat mungkin.
"Aaahhhhhh, sialan" kata Siras memukul kemudinya dengan sekuat tenaga, membuat klakson berbunyi dengan keras. Padahal dia sedang berada di lampu merah yang sedang menyala merah terang. Membuat orang-orang disekitarnya memandang penuh benci padanya.
Sedangkan Richard masih bertahan, mengelap dengan hati-hati pada ujung bibirnya yang masih sedikit mengeluarkan darah. Kini dia duduk manis di dalam mobilnya, masih memandangi kekasih yang sangat dia cintai tanpa berani menyapanya.
Entahlah, sejak mendengar tausiah pagi itu membuat Richard merasa tak pantas untuk Aishyah. Tapi hati kecilnya masih sangat menyayangi dan mencintai gadis itu. Dia dilema antara harus menyerah atau berusaha untuk memperoleh kebahagiaannya bersama gadis pujaannya.
.
.
__ADS_1
.
.