Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
Romeo resek!


__ADS_3

Dua Minggu berlalu, sudah waktunya Aish melepas gibs di kakinya.


Richard selalu mendampingi Aish kemanapun gadis itu mau, tapi mereka tidak hanya berdua. Karena selama Romeo ada, maka dia senantiasa mau ikut kemanapun Richard dan Aish pergi.


Kecuali saat jam sekolah, maka Romeo akan pergi bersama teman-temannya sendiri.


"Lo nggak ada kerjaan lainnya ya? Kenapa ikut kita terus sih?" kembali Richard tak suka dengan keberadaan Romeo.


"Seharusnya lo senang, gue perhatian sama kalian berdua. Kan nggak boleh seorang laki-laki dan seorang perempuan itu hanya berduaan saja, iya kan dek?" Romeo mencari pendukung menggunakan keyakinan Aish.


Aish tertawa, ada-ada saja alasan Romeo untuk bisa ikut mereka.


"Gue cuma mau lepas gibs doang sih kak. Nggak ngapa-ngapain, nanti lo bisa bosan kalau nungguin lama" kata Aish sedikit membela Richard.


"Jadi, lo juga nggak suka kalau ada gue, dek?" manja Romeo seolah bersedih.


"Bukannya gitu, nanti lo bosan. Kalau mau ikut sih nggak masalah buat gue" kata Aish.


"Tuh kan Richard, Aish itu memang adek ipar yang baik" ucapan Romeo tak membuat Richard terganggu kali ini, dia diam saja.


"Teman lo kemarin cantik juga, dek. Yang rambutnya panjang itu lho, cuma sayang ngomongnya medok banget" kata Romeo menggibah Nindi.


"Maksudnya Nindi? Dia emang cantik sih, iya kan Richard?" Aish ingin mendengar pendapat Richard tentang gadis lain.


"Nggak ada yang lebih cantik daripada lo sih menurut gue" komentar Richard membuat Romeo tertawa di belakang sana.


"Gombalan lo receh banget tau nggak sih, es batu" kata Romeo masih dengan gelak tawanya.


"Biarin" masih dengan tampang datar, Richard memilih untuk fokus menatap jalan raya.


Dan Aish hanya senyum-senyum saja mendengarnya, dalam jati dia senang juga.


Sampai dirumah sakit, benar saja jika Romeo merasa jenuh saat menunggu Aishyah yang sedang dirawat di dalam ruangan.


Richard masih setia mendampingi Aish, kadang dia juga tidak sungkan untuk bertanya pada dokter jika ada sesuatu yang dia tidak mengerti.


Romeo memilih untuk berjalan-jalan di sekitar rumah sakit untuk mengurangi rasa jenuhnya.


Langkah kakinya tak sengaja membawanya ke bangsal penyakit kejiwaan. Dalam kegabutan, Romeo melihat seseorang yang sepertinya pernah dia temui sebelumnya.


Gadis cantik yang duduk sendirian di bangku taman rumah sakit. Dia hanya membolak-balik majalah yang berada dipangkuannya.


"Kayak benar kalau itu Franda" gumam Romeo mendekati Franda yang sebenarnya tidak begitu fokus pada majalah itu.


Romeo mendekat, dia ingat Aish pernah bercerita keadaan Franda.


"Maaf mas, mau apa?" rupanya dugaan Romeo salah, Franda sedang ditunggui oleh susternya.


Romeo bingung mau menjawab apa, dia memang tidak ada kepentingan apapun dengan Franda. Kenalpun tidak sama sekali.


Hanya saja dulu dia pernah sekali melihatnya datang ke rumahnya bersama kedua orang tuanya.


Mendengar susternya bicara, Franda mendongak. Mengalihkan perhatiannya pada seorang lelaki yang berdiri kebingungan.


"Kamu siapa?" tanya Franda yang didatangi seseorang, dia tak mengenali Romeo.


"Bukan siapa-siapa, cuma lagi kesasar doang sih" kata Romeo dengan cengir kudanya, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Lo ngapain disini?" tanya Romeo berbasa-basi, tak percaya jika Franda yang berpenampilan cantik seperti ini terkena gangguan jiwa.


"Kalau masnya tidak ada kepentingan, lebih baik tinggalkan mbak Franda saja ya. Jangan diganggu" kata suster memperingatkan, karena takut pasiennya itu tiba-tiba marah.


"Nggak apa-apa sus, biarin saja dia disini" kata Franda.


"Boleh gue duduk disini?" tanya Romeo.


Franda mengangguk, mengizinkan Romeo mendekat. Bahkan gadis ini bisa tersenyum, Romeo sangat tidak yakin jika Franda terkena gangguan jiwa.


"Lo ngapain disini?" lagi, Romeo menanyakan hal yang sama.


"Aku nggak ngapa-ngapain, lagi nyantai saja" kata Franda sambil mengibaskan rambut curlynya.


"Cantik juga, sayangnya nggak beres otaknya" dalam hati Romeo sebenarnya mengagumi Franda.


"Kamu sendiri ngapain disini?" tanya Franda.


"Oh, gue lagi nungguin adek gue lepas gibs di kakinya" kata Romeo.


"Kaki adek kamu kenapa? Patah?" tanya Franda.


"Nggak sih, sedikit retak doang. Katanya habis jatuh" Romeo menjelaskan.


"Kasihan sekali, adek kamu cewek apa cowok?" tanya Franda lagi.


"Adek gue cowok, tapi yang lagi sakit itu pacarnya. Jadi, yang lagi lepas gibs itu pacarnya adek gue" kata Romeo.


Franda hanya mengangguk, seolah paham dengan perkataan Romeo.


"Nama lo siapa?" tanya Romeo, penasaran juga dia, apa orang yang katanya sakit jiwa ini ingat pada namanya.


"Aku Franda, kamu siapa?" Franda bertanya balik.


"Oh, ternyata dia ingat namanya. Gue kira lupa. Tapi kan memang dia bukannya amnesia, cuma sedikit gila" Romeo menggumam dalam hatinya.

__ADS_1


"Gue Romeo" kata Romeo sambil mengulurkan tangannya. Franda menjabat tangan itu dengan tersenyum.


"Lo sendirian saja?" tanya Romeo setelah melepas jabatan tangan Franda.


"Iya, aku lagi nungguin pacarku datang" kata Franda.


"Uwah, menarik ini. Kira-kira siapa yang mau sama cewek stress ya?" batin Romeo.


"Memangnya pacar lo dimana?" tanya Romeo iseng.


"Lagi sekolah kata mamaku. Beberapa hari yang lalu dia kesini, tapi sedang mengantarkan saudaranya yang lagi sakit. Kasihan loh, sampai pakai kursi roda gitu saudaranya" Franda sedikit bersedih saat mengatakannya.


"Tapi aku sudah lama banget nunggunya, dia nggak datang juga. Padahal suster juga bilang kalau sebentar lagi dia mau datang" mulai terisak, Romeo jadi merasa bersalah telah bertanya.


"Nama pacar lo siapa?" Romeo masih penasaran juga.


"Namanya Richard, aku kangen banget sama dia. Tapi kemarin waktu kita ketemu, dia nggak mau nemenin aku disini" dan ya, menangislah Franda.


"Mas, jangan ngomong yang tidak-tidak ya. Kasihan mbaknya" suster memberi isyarat, tapi Romeo seolah tak mengerti.


"Bisa ikut saya sebentar mas?" suster mengajak Romeo, sepertinya ingin membicarakan tentang Franda.


"Sebentar, ya" pamit Romeo.


Romeo beranjak, mengikuti suster yang sedikit menjauh dari Franda yang masih menangis lirih.


"Mas, saya minta jangan tanyakan tentang urusan pribadi mbak Franda ya. Mbak Franda itu pasien dengan gangguan jiwa disini. Masnya jangan memancing emosinya ya, nanti dia bisa marah-marah" kata Suster.


"Oh, ternyata dia pasien disini ya, sus? Saya kira keluarga pasien. Kan penampilannya nggak seperti orang yang sedang terganggu kejiwaannya" komentar Romeo.


"Iya, dia sedang mengunggu pacarnya, yang dia bilang Richard itu. Jadi, setiap hari dia selalu dandan. Biar nggak malu saat nanti bertemu pacarnya, begitu yang dia bilang".


"Jadi, saya minta masnya jangan mengusik urusan pribadinya mbak Franda ya mas" kata suster mengingatkan.


"Iya sus" kata Romeo. Sekarang dia kembali berjalan menemui Franda lagi.


"Kalian ngomongin aku ya?" tanya Franda dengan tatapan tidak suka, sidah tidak ada lagi air mata di pipinya.


"Nggak kok, gue cuma tanya sama susternya kapan adek gue selesai dirawatnya" kata Romeo mencari alasan.


Franda hanya manggut-manggut saja mendengarnya.


Sementara di tempat lain, Aish sudah selesai dengan masalah kakinya. Sekarang dia sudah bisa berjalan sendiri tanpa bantuan kursi roda lagi meskipun masih harus memakai bantuan tongkat penyangga.


"Sialan memang si Romeo ini. Kemana sih tuh anak, nyusahin saja" Richard sudah merasa bosan dengan keadaan Rumah sakit.


Dia bahkan sempat berkeliling untuk mencari kakaknya, tapi tak ditemukan juga.


"Telpon dong, Richard. Apa lo lagi nggak punya pulsa?" kata Aish sedikit emosi, daritadi Richard sudah mengomel.


"Sudah daritadi gue telpon, tapi nggak diangkat juga sama tuh orang. Coba kalau lo yang telpon, mungkin dia mau angkat" kata Richard.


"Masak sih?" sedikit tidak percaya, tapi Aish mencobanya juga.


"Gue rasa sih hapenya dia sama kayak yang punya, cuma mau ditelpon sama cewek doang" kata Richard masih merasa sebal.


Ternyata benar, sambungan telpon dari Aish benar-benar diangkat oleh Romeo.


"Eh, beneran diangkat lho" gumam Aish sambil melihat wajah Richard yang cemberut.


"Dimana kak?" tanya Aish.


"Ada, di taman rumah sakit. Lo kesini saja sama Richard, dekat kok sama parkiran" kata Romeo, ada rencana usil dalam benaknya.


"Oh, iya deh. Kita susulin kakak. Jangan kemana-mana ya, nanti susah nyarinya" perintah Aish yang mengerti jika Romeo itu nggak bisa diam.


Aish mematikan sambungan telponnya, beralih menatap wajah Richard.


"Lagi di dekat parkiran dia bilang. Kita kesana saja ya Richard" ajak Aish.


"Nggak orangnya, nggak telponnya, settingan buat cewek doang. Dasar buaya darat" gerutu Richard.


"Nggak nyadar diri" balas Aish, "kayak situ bukan. Bahkan korbannya sampai sakit jiwa lho" masih menggerutu, Aish sedikit khawatir bertemu dengan Franda lagi.


Richard senyum-senyum dibelakang Aish. Gemas melihat gadis itu menggerutu tak jelas.


Berjalan dengan tangan merangkul pundak kekasihnya, Richard jadi ingin menggodanya.


"Apaan sih" tangan Aish menepis tangan Richard yang mencubit dagu Aish.


"Cemburu ya?" tanya Richard dengan senyum semakin jahil.


"Nggak banget" tapi dengan cemberut Aish berkomentar.


Richard semakin giat menggoda kekasihnya, kapan lagi dia bisa melakukan itu kalau tidak sekarang. Nanti sudah ada Romeo yang pasti akan mengganggu kegiatannya dengan Aish, apapun itu.


"Woi, gue disini" teriak Romeo, Franda memunggungi mereka berdua.


Melihat lambaian tangan dari Romeo, Aish dan Richard mendekat padanya. Richard masih memapah langkah Aish yang belum terbiasa untuk menggunakan tongkat penyangganya.


Mereka berdua belum melihat perempuan yang sedang bersama Romeo.


Franda menoleh, mendapati pemandangan saat Richard membantu Aish berjalan. Sesekali masih ada kejahilan dari Richard untuk Aish. Dan Franda tidak suka melihatnya.

__ADS_1


"Richard" gumam Franda. Senyumnya mengembang.


Dia berlari menghampiri Richard, segera memeluknya dengan erat. Membuat mata Aish membola dibuatnya, sementara Richard hanya bisa diam karena terkejut.


"Aku kangen banget sama kamu, katanya kamu nggak lama. Tapi kenapa baru datang sekarang?" tanya Franda dalam dekapan eratnya, kepalanya menyandar manja di dada Richard.


"Tuh kan, ketemu dia beneran" kata Aish dalam hatinya, wajahnya sudah cemberut optimal.


"Lepasin, lo ngapain sih" Richard berusaha melepas dekapan Franda.


Mata Richard memandang Aish seolah menyiratkan kata maaf yang mendalam.


Romeo sudah tertawa disana, kejahilannya sukses membuat kedua sejoli itu pasti berantem setelah ini. Dan dia bahagia membayangkannya.


Franda sudah mengurai pelukannya, sekarang dia memandang sinis pada Aish yang berdiri didekat Richard.


Romeo mendekat, berjalan perlahan dengan pandangan seolah bertanya-tanya.


"Sialan lo, kakak kurang ajar" umpat Richard pada Romeo.


"Malah nyalahin orang. Yuk balik kak" Aish malah mengajak Romeo, semakin membuat Richard emosi saja pada kakaknya yang durjana itu.


Sedangkan lengan Richard di gelayuti oleh Franda yang masih saja menampilkan senyum maksimalnya.


"Lepasin" bentak Richard yang sudah ketinggalan beberapa langkah dari Aish dan Romeo.


Seketika tangan Franda terlepas, kini dia membatu melihat Richard yang akan meninggalkannya.


Tangan Richard tergerak untuk merangkul lagi pundak kekasihnya, yang terlihat sedikit kesulitan saat berjalan dengan tongkat penyangga.


Emosi mendera hati Franda, gadis dengan gangguan kejiwaan ini nekat mendorong Aish dari belakang.


Tentu kejadian ini sukses membuat Aish terjatuh ke depan. Romeo kaget, tidak menyangka jika Franda akan senekat itu. Dia lupa jika Franda terkena gangguan mental, pasti tidak ada kata takut dalam pikirannya.


"Auwh" Aish merintih karena lututnya sakit, apalagi kakinya yang masih cedera. Rasanya ngilu saat kakinya terantuk lantai dingin rumah sakit.


"Hei, awas!!!" refleks Romeo mendorong bahu Franda yang sudah bersiap akan menginjakkan kakinya diatas kaki Aish yang dililit perban.


"Aaahhh" Aish hanya bisa berteriak saat melihat Franda sudah mengangkat salah satu kakinya tinggi-tinggi.


Franda hampir terjatuh, beruntung masih bisa berpegangan pada kaos yang Richard kenakan.


Moment yang pas, kembali Franda memeluk Richard agar dia tidak terjatuh karena didorong oleh Romeo.


Dengan sigap, Romeo membantu Aish untuk berdiri. Sedangkan wajah Aish sudah sangat cemberut karena melihat Franda masih asyik memeluk Richard.


Dan tidak ada gerakan apapun dari Richard untuk menolaknya. Richard terpaku karena lebih merasa terlalu kaget karena Franda yang akan menginjak Aish tadi.


"Pokoknya gue mau pulang sekarang, kak" kata Aish yang sudah sangat ngambek, dia sangat emosi.


Dia sudah bersiap meninggalkan Richard. Tentu dengan senang hati Romeo membantu Aish pergi.


"Lepasin, lo budeg ya" Richardpun kini sudah emosi, kakaknya keterlaluan sekali.


Kembali Franda sangat terkejut karena bentakan Richard. Sekarang dia sudah menangis, dan suster berusaha menenangkannya.


Richard beranjak dari tempatnya, sedikit berlari untuk mensejajari langkah Aish.


Sedikit mendorong tubuh Romeo yang daritadi membantu Aish berjalan.


"Ngapain sih, sana urusin dulu pacar lo" kata Aish yang ngambek.


"Pacar gue kan elo, Ra. Masak sih lo lupa?" kata Richard seolah tak pernah terjadi apa-apa.


Mendengar itu, Romeo sudah tertawa terbahak-bahak. Lega rasanya bisa melihat Richard dimarahi Aish seperti ini.


"Jangan sentuh-sentuh gue" kata Aish membuat Richard semakin gemas


Padahal dibelakang mereka, masih terdengar suara Franda yang menangis kencang.


Sampai di mobil, masih saja Aish menampilkan wajah cemberutnya.


"Lo keterlaluan banget sih, untung saja tadi kaki Aish nggak keinjak beneran sama tuh cewek" kata Richard yang sudah memutar kemudinya untuk keluar dari parkiran.


"Refleks gue masih bagus kali, buktinya dia nggak apa-apa" kata Romeo.


"Sialan memang lo Romeo" umpat Richard.


Romeo menahan tawanya, menghargai Aish yang sedang dalam mode ngambek.


Gadis itu tak bersuara sedikitpun, pandangannya juga asyik melihat jalanan.


Tak ada pembicaraan apapun dari keduanya, hanya celotehan Romeo yang sesekali terdengar karena mengeluh serasa berada di kuburan.


Sepi sekali.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2