Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
pawang


__ADS_3

Richard mengamati Aish yang bersimpuh, dia sedang mengadu pada Tuhannya. Aish berdoa dengan khusyuk di waktu sepertiga malam. Hatinya merasa tenang jika bisa melihat Aish dalam pandangan.


Selesai dengan kewajibannya, Aish kembali ke kursi dihadapan Richard. Tanpa melepas mukena birunya, Aish berbaring menatap langit yang hitam, ada beberapa bintang disana.


"Sorry ya, Ra. Gue belum bisa jagain lo dengan benar" kata Richard yang sejak tadi memandangi Aish yang berbaring menatap langit.


Aish menoleh, melihat wajah serius Richard. "Makasih ya, lo selalu datang saat gue butuh" kata Aish.


"Waktu itu, engmh... Yang lo lihat waktu itu nggak seperti yang lo pikirkan" kata Richard bingung, bagaimana menjelaskan pada Aish.


"Waktu apa?" tanya Aish.


"Kenapa lo lari waktu lihat gue sama Emily?" tanya Richard.


Aish menghembuskan napasnya dengan kasar, dia sedikit tidak suka dengan pembahasan ini.


"Lo tiba-tiba ngilang tanpa kabar selama beberapa hari, terus tanpa sengaja gue nemuin lo lagi meluk mantan lo. Menurut lo, kalau seandainya lo jadi gue, apa yang ada dipikiran lo? Mana mesra banget lagi, sampai nggak tahu lagi dilihatin sama orang lain" Aish berkata sedikit membentak, tapi menggerutu di akhir pertanyaannya. Membuat Richard merasa gemas.


"Iya, gue minta maaf ya" kata Richard.


"Masih belom lebaran, lo minta maaf terus daritadi" kata Aish semakin ngambek.


"Gue cuma ngerasa nggak pantes buat lo, Ra. Pagi itu gue dengar kalau orang yang baik, itu pasti jodohnya orang yang baik juga. Dan gue minder sama diri gue sendiri kalau ngotot pingin terus sama lo" kata Richard sambil menatap langit.


"Terus?" tanya Aish.


"Gue berusaha ngehindar dari lo, mungkin kalau kita nggak ketemu, perlahan rasa dihati gue buat lo bisa sedikit berkurang" kata Richard.


"Jadi, sekarang rasa lo sudah beneran berkurang?" tanya Aish yang masih menatap Richard.


Richard menoleh, mendapati kekasihnya sedang serius menatapnya, diapun tersenyum. Pandangan keduanya bertemu, mereka saling menatap dalam.


"Hati gue semakin sesak kalau harus jauh dari lo,Ra. Setiap hari gue amati lo dari jauh waktu lo kerja, tapi gue nggak berani buat sekedar nyapa. Apalagi lo blokir nomer gue" kata Richard.


Aish sedikit terkejut, "Jadi, lo lihatin gue lagi kerja gitu?" tanya Aish.


Richard mengangguk, "ya, gue bahkan ngikuti lo sampai lo nyampek rumah. Gue khawatir sama lo ,Ra".


"Terus, waktu gue lihat lo pelukan sama mantan lo itu, ngapain?" tanya Aish dengan lirikan mata sinis.


"Dia curhat sama gue, kalau Yopi berubah. Apalagi waktu dia putusin nggak mau aborsi, Yopi makin menjauh. Dia sempat nangis, gue cuma nenangin dia doang, nggak lebih. Bahkan dia yang kasih tahu gue kalau ada lo disana. Terus waktu gue kejar, lo sudah pergi" kata Richard.


"Eh, iya. Motor gue gimana ya? Besok anterin gue ngambil motor ya, gue takut kalau kesana sendirian nanti ketemu dia lagi" kata Aish yang baru sadar telah meninggalkan motornya.


"Iya" jawab Richard.


★★★★★


Richard tengah duduk diruang tamu di rumah Aishyah. Setelah sebelumnya mereka berdua telah mengambil motor biru milik Aish. Suasana kantor masih sepi waktu itu, jadi Aish bisa dengan mudah mengambil motornya dan dibawa pulang.


"Jadi, kenapa bisa lo bawa gue ke rooftop di cafe itu?" tanya Aish setelah menyajikan dua cangkir teh, kemudian duduk di depan Richard.


"Iya, bisa. Gue ada andil di cafe itu, makanya waktu itu gue tanya sama lo, kenapa nggak nyari kerjaan lain? Lo kayaknya malah semangat banget jadi satpam disana" kata Richard.


"Ya kan waktu itu gue mikirnya, kalau nyari kerjaan lain tuh susah, terus juga lama. Dari kirim CV, terus dapat panggilan interview sama banyak saingan, terus masih dipertimbangkan gara-gara gue masih sekolah, kan peluang diterimanya itu kecil".


"Kalau waktu itu kan bang Rian yang rekomendasikan ke temannya, jadi langsung bisa kerja. Lagian walaupun jadi satpam tuh ya, kerjaannya santai banget. Cuma duduk-duduk santai di pos, terus keliling doang nih tiap dua jam sekali. Jadi, waktu luangnya bisa buat belajar" kata Aish menjelaskan dengan panjang dan lebar.


Richard hanya memandangi Aish yang terus saja bicara, dia mendengar semua perkataan Aish dengan baik. Kadang dia juga tersenyum saat Aish menjelaskan dengan ekspresi yang lucu.


"Kenapa bengong? Lo nggak dengerin omongan gue ya? Nyebelin banget sih" kata Aish menggerutu.


"Gue dengerin kok. Gue senang saja, kalau lo sudah cerewet tuh artinya lo sudah baik-baik saja" kata Richard sambil tersenyum, membuat Aish tak bisa berkata-kata.


"Bibir lo masih sakit nggak?" tanya Richard.


"Nggak, ya sakit sih. Maksud gue, nggak sakit banget. Sudah mendingan" kata Aish.


"Kenapa jadi salting?" goda Richard.


"Nggak, siapa juga yang salting" kata Aish.

__ADS_1


"Cari makan yuk, gue laper" kata Richard.


"Mau gue masakin?" tanya Aish.


"Nggak, lama. Gue sudah kelaperan. Makan diluar saja ya?" tanya Richard.


"Boleh deh, pakai motor gue ya. Sekali-sekali boncengan pakai motor kan seru" kata Aish.


"Nggak, nanti rambut gue berantakan" kata Richard menolak.


"Bilang saja lo nggak bisa bawa motor, gue boncengin deh" kata Aish.


"Ngejek lo ya. Menurut lo biasanya gue balapan pakai apa?" tanya Richard.


"Bukannya pakai mobil ya?" jawab Aish.


"Ya kadang juga balapan motor" jawab Richard.


"Yaudah, sekarang pakai motor saja" perintah Aish sambil menyodorkan kunci motornya yang diberi gantungan kunci berbentuk Doraemon.


Kalau sudah begini, mana bisa Richard menolaknya? Dia jadi penurut semenjak pacaran dengan Aishyah. Atau memang Richard sudah ada pawangnya sekarang?


Jalanan cukup ramai pagi ini, Aishyah duduk menghadap ke samping sambil berpegangan pada jaket Richard, karena memang Aish memakai gamis longgar berwarna maroon. Mereka melintasi jalan yang cukup ramai, mereka berdua tak menyadari jika tidak ada yang memakai helm.


Saat melihat ke arah spion, Richard mendapati sebuah motor gede milik seorang polisi lalu lintas sedang mengejarnya. "Kita nggak pakai helm, Ra" kata Richard.


"Oh, iya. Gue lupa, terus gimana dong? mau balik dulu nih?" tanya Aish yang belum menyadari jika dia sedang dikejar polisi.


"Lo pegangan yang kencang ya, kita lagi dikejar polisi nih" kata Richard.


Aish menoleh ke belakang, dan benar saja, polisi itu sedang meneriakinya sambil membawa motornya dengan kencang. Seketika Aish mengeratkan pegangan tangannya. Richard menarik tangan Aish untuk mendekapnya dari belakang.


"Eh, ngapain?" tanya Aish kaget.


"Biar lo nggak jatoh. Gue mau ngebut" kata Richard semakin mempercepat laju motornya.


Dia belok kiri, mencari jalan kampung yang sekiranya lebih mudah dilewati karena di jalan raya sedang macet. Polisi itu tetap mengejarnya, kedua kendaraan itu saling memacu. Baru kali ini Aish berada disituasi seperti ini.


Sebenarnya deg-degan juga, tapi dia malah tertawa sambil menyemangati Richard yang fokus mengemudi.


"Pokoknya lo pegangan yang kenceng ya" kata Richard.


Polisi itu semakin mendekat, kurang sedikit lagi dia bisa menangkap mereka berdua. Aish semakin deg-degan saat melihat polisi itu sudah berhasil mensejajarkan kendaraan mereka.


Tapi Richard kembali belok kiri, mengambil jalan tikus yang hanya bisa dilewati satu kendaraan roda dua saja. Polisi itu kesulitan untuk mengejar karena motor besarnya tidak muat untuk dipaksa masuk.


Richard berhenti agak jauh dari tempat polisi yang berhenti, Aish malah dengan sengaja melambaikan tangan pada polisi itu.


"Dadah pak.... Sampai ketemu lagi..." teriak Aish dengan lambaian tangannya, lalu mereka berdua tertawa.


Hingga akhirnya mereka berhenti di sebuah warung makan di dalam kampung yang merekapun tidak tahu dimana. Aish sengaja mengajak Richard makan di warteg. Agar pacarnya itu terbiasa dengan menu sederhana yang sering Aish santap.


"Yakin mau makan disini?" tanya Richard yang memarkirkan motor Aish, dan melihat sekeliling.


"Yakin, memangnya kenapa? Bersih kok tempatnya. Sudah ayo masuk, pasti polisi yang tadi masih nungguin deh" kata Aish. Richard menurut saja, dia patuh sekali kali ini.


"Mau makan apa neng?" tanya penjual disana.


"Engmh.... nasi rames deh buk, dua ya. Minumnya teh hangat saja" kata Aish.


"Lauknya mau rendang, ayam goreng atau ati ampela?" tanya penjual lagi.


"Lo mau apa?" tanya Aish.


"Terserah lo deh" jawab Richard masih menelisik sekiranya.


"Rendang deh buk" jawa Aish.


Ibu itu meladeni dengan cekatan, tak butuh waktu lama untuk menyajikan pesanan.


Aish meneguk tehnya, berharap rasa deg-degan karena kejaran polisi segara hilang. Dan bersiap menyantap makanannya.

__ADS_1


"Kok dianggurin sih? Ayo makan" kata Aish.


Richard mencoba makanannya dengan gerakan lambat, seolah makanan itu akan meledak jika dia bergerak terlalu cepat.


Suapan pertamanya, dia masih mengambil sedikit untuk mencoba. Setelahnya, dia bersiap untuk berkomentar.


"Not bad, okelah" komentarnya.


Ponsel Richard berdering saat keduanya tengah menikmati sarapan. Aish melirik saat Richard melihat layar hapenya yang berkedip saat ada panggilan masuk.


"Mama? Tumben banget" gumamnya.


......"*Hallo ma"......


......"(...)"......


..."Oh, iya. Kapan?"...


......"(...)"......


..."Ok, nanti Richard pulang*"...


Richard menoleh pada Aish yang sedang mengamatinya, diapun tersenyum.


"Sorry ya, Ra. Kayaknya beberapa minggu ke depan gue kita nggak bisa ketemu dulu" kata Richard.


"Kenapa?" tanya Aish.


"Kakek gue meninggal, mama minta gue ikut ke Jepang buat pemakaman kakek. Semua kakak gue juga rencananya berangkat hari ini" kata Richard.


"Oh, gitu. Ya nggak apa-apa, kesempatan lo kan bisa kumpul sama keluarga lo" kata Aish tersenyum.


"Ya, kami berkumpul saat ada yang meninggal. Kebersamaan kami saat berduka, miris gue" kata Richard. Aish hanya diam, tak tahu harus bagaimana.


"Lo jaga diri baik-baik ya, jangan kemana-mana. Jangan keluyuran, nanti lo diculik sama orang" kata Richard.


"Memangnya gue anak kecil" kata Aish melanjutkan makannya.


Setelah kesasar cukup lama, akhirnya Aish sampai juga dirumahnya. Tapi terlihat ada tamu tak diundang yang sedang menunggunya di teras.


Richard memarkirkan motor Aish dihalaman, saat mereka tahu siapa yang datang. Aish malah bersembunyi dibalik badan Richard.


"Saya datang mau minta maaf sama kamu Aishyah" ternyata Siras yang datang, dia memakai masker untuk menutupi wajahnya yang masih babak belur. Bahkan terlihat matanya masih sangat merah.


"Lo masih punya muka ya buat datang kesini?" tanya Richard dengan senyum mengejek.


"Saya cuma mau minta maaf" kata Siras tak mau kalah.


"Cg, seharusnya lo malu. Umur doang yang banyak, tapi belum dewasa" ejek Richard.


Sebenarnya Siras geram juga pada perkataan Richard, tapi demi mendapat maaf dari Aishyah, dia diam saja.


"Mendingan bang dokter pergi saja deh, saya nggak mau ketemu sama abang" kata Aish yang masih bersembunyi dibelakang Richard.


Siras tak bisa berbuat banyak, diapun pergi karena tidak mau terjadi baku hantam lagi. Wajahnya masih belum sembuh.


"Mendingan lo jangan tinggal sendirian dulu ya, Ra. Gue khawatir dia nekat buat datang lagi" kata Richard yang kini berdiri di hadapan Aish.


"Terus gue harus nginap dimana? Nggak mungkin dirumah engkong, gue nggak mau engkong tahu masalah ini. Nanti pasti bisa tambah panjang kalau sampai bang Rian juga tahu" kata Aish.


Richard sedikit berpikir, akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi seseorang dan membiarkan Aish berada dalam jangkauannya saat Richard masih harus ada dalam urusan keluarganya.


"Kita tunggu dulu ya, bentar lagi teman lo datang buat jemput lo biar nginap dirumahnya" kata Richard.


"Teman gue yang mana?" tanya Aish.


"Bentar lagi dia sampai" kata Richard.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2