Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
Bukan Rian, Tapi Fian.


__ADS_3

Sejak tadi dokter tampan itu selalu mengekor pada Aishyah, gadis itu jadi risih karena pandangan tidak suka dari lainnya.


"Bang dokter ngapain sih, lagi nggak ada kerjaan ya?" tanya Aish.


"Ada" jawab Siras yang tengah duduk di samping Aish yang sedang mengerjakan laporan harian.


"Apaan? daritadi ngikutin mulu. Sudah kayak anak bebek saja" ledek Aish.


"Kerjaan saya ya ngikutin kamu, makanya jangan ngambek an jadi orang" kata Siras.


"Saya biasa saja bang, itu hanya pemikiran abang dokter saja. Tuh lihat daftar tugas saya hari ini bang, sangat sedikit sekali. Itu semua gara-gara;bang dokter yang ngerjain Aish nih daritadi siang" kata Aish memperlihatkan daftar tugasnya yang memang sangat sedikit.


"Tidak apa-apa, nanti tetap saya tandatangani kok" kata Siras.


"Yasudah, kalau gitu abang kerjain tugas abang deh. Nggak enak dilihatin sama yang lain kalau abang ada disini terus" kata Aish.


"Kamu kok jadi ngatur-ngatur saya sih? Yang jadi atasan saya apa kamu?" goda Siras.


"Tau ah bang, terserah. Capek ngomong sama abang tuh" kata Aish melanjutkan tugas akhirnya, yaitu membersihkan dan mengecek perlengkapan di ruangan. Siras masih saja mengekor pada Aishyah.


"Bang, bisa nggak sih nggak ngikutin? Males kalau dilihatin sama yang lain. Dikiranya ada yang enggak-enggak lagi sama lainnya" kata Aish.


"Biarkan saja. By the way, kamu ada hubungan special ya sama Richard?" tanya Siras.


"Dia teman saya bang, dia baik banget sama saya" kata Aish.


"Masak sih cuma teman? Saya lihat dia perhatian banget sama kamu" kata Siras.


"Perhatian sama teman sendiri kan nggak ada salahnya bang" kata Aish yang sedang melihat stok hand scoon di lemari, sedangkan si abang dokter berdiri senderan di sebelah Aish sambil melipat tangannya dan memperhatikan Aishyah.


"Jadi, kalau saya mau perhatian sama kamu boleh?" tanya Siras.


Aish menatap jengah pada abang dokternya, "Terserah" jawab Aish singkat, tapi membuat Siras senang, senyum di wajahnya berkembang menambah kesan tampan.


********


Hendra telah sampai di pantai yang waktu itu, dia bersama rombongan Rian tiba sekitar pukul sembilan malam.


"Lo duluan kesana ya Hen, gue ke toilet dulu" kata Rian. Tanpa komando, anak buah Rian berpencar. Dua orang mengikuti Rian, dan dua lainnya mengikuti Hendra.


Tiba di lokasi, sosok itu masih saja berdiri terdiam di tempat yang sama sewaktu Hendra menemukannya dulu.


Tapi kini ada seorang pria yang berdiri membelakanginya, menatap ke arah lautan lepas. Hendra datang menghampiri, mungkin orang ini yang Rian ingin kenalkan pada Hendra.


Mendengar suara derap langkah yang menghampirinya, pria itu menoleh. Dia terlihat waspada saat ada tiga orang yang mendatanginya.


"Loh, bang Rian kok sudah ada disini sih? Tadi katanya mau ke toilet? Mana sudah ganti baju segala, cepat banget" kata Hendra menyapa orang itu.


"Siapa kamu?" tanya orang itu pada Hendra.


"Bang Rian ini jangan main-main ya di tempat seperti ini" kata Hendra.

__ADS_1


"Jadi, kamu datang bersama Rian?" tanya orang itu.


"Lah kan tadi memang sama situ bang" kata Hendra, sementara anak buah Rian hanya diam saja.


Tak berapa lama, Rian datang dengan dua orang dibelakangnya. Pemandangan yang aneh, mungkinkah ada dua Rian? Hendra jadi bingung.


"Sudah lama?" tanya Rian pada yang satunya.


"Baru saja, kamu selalu saja telat" kata orang itu.


"Sorry, tadi gue ke toilet bentar. Lo selalu saja sensitif" kata Rian.


"Kenalin, ini Hendra. Ada yang mau kita obrolin sama lo. Dan Hendra, ini Fian. Dia ini anggota kepolisian, kembaran gue" kata Rian.


"Oh... Bagaikan air dan api ya bang" kata Hendra mengomentari pemandangan di depannya.


"Saya Hendra, pak eh bang. Maaf, saya harus panggil apa?" tanya Hendra sambil mengulurkan tangannya.


"Panggil saja abang, sama seperti kamu memanggil Rian" kata Fian.


"Iya bang" kata Hendra.


"Jadi, apa yang bisa saya lakukan?" tanya Fian.


Hendra dan Rian muali bercerita, dari awal mula pertemuannya dengan sosok wanita hingga saat terakhir tadi Hendra mendapat penglihatannya.


****************


Aishyah keluar dari UGD tepat pukul sepuluh malam. Die lega karena akhirnya bisa lepas dari abang dokternya. Sebenarnya senang juga dia karena diperhatikan cowok ganteng, namanya juga remaja.


"Sudah pulang?" tanya Richard yang tahu-tahu sudah ada disampingnya.


"Kemunculan lo selalu bikin kaget" kata Aish.


Richard tersenyum, Aishyah sangat menawan di matanya.


"Gue kan sudah bilang kalau mau jemput lo. Sekarang gue anter lo pulang ya, atau masih mau makan dulu?" tanya Richard.


"Gue makan dirumah saja deh Richard, takut kemalaman. Nanti bunda marah" kata Aish.


"Oke, kita langsung ke rumah lo ya. Mobil gue ada disana" Richard menunjuk ke arah depan sebelah kiri.


Tinnn.... Tinn....


Terdengar suara klakson mobil dari belakang mereka yang sedang berjalan. Keduanya berjalan minggir, takut jika langkahnya terlalu ke tengah sehingga membuat pengguna jalan lain kesulitan untuk berjalan.


Seseorang membuka kaca jendelanya dan melongok keluar. "Saya antar kamu pulang Aishyah?" tanya Siras, rupanya orang itu masih mengikuti Aish.


"Saya yang akan mengantar sampai kerumahnya dokter. Dan bisa saya pastikan dia akan selamat sampai tujuan" kata Richard.


Siras menatap malas pada Richard, ternyata dia kalah start. "Bagaimana Aishyah?" tanya Siras.

__ADS_1


"Tadi Richard sudah duluan sih mau antar saya bang. Aish minta maaf ya" kata Aish.


Siras tersenyum menatap Aishyah yang cantik. "Kamu hati-hati ya, kabari saya jika sudah sampai dirumah nanti" katanya.


Aishyah jadi bingung sendiri, apa urusannya sampai harus mengabari Siras kalau dia sudah dirumah? Dokter itu memang aneh.


Richard segera mengajak Aishyah menuju ke mobilnya setelah kepergian Siras.


"Dokter itu perhatian sekali sama lo?" tanya Richard saat mereka berdua sudah duduk di dalam mobilnya.


"Bang Dokter juga bilang kalau lo tuh perhatian sama gue. Hehe... kalian kompak banget sih?" kata Aish sambil tertawa.


Richard bingung harus menjawab apa. Aishyah ini memang sangat tidak peka sekali jadi cewek.


***********


Hendra dan Rian telah menceritakan semuanya pada Fian. Berharap ada jalan keluar agar sosok itu tidak lagi menghantui Hendra.


"Jadi, kalian pikir ada mayat dibawah batang pohon buang sedang kita duduki ini?" tanya Fian.


"Iya bang, saya sangat yakin. Tapi untuk melaporkan pada polisi, pasti tidak akan percaya karena dasar dari laporannya adalah pernyataan dari sesosok hantu. Kan tidak logis bang" kata Hendra.


"Memang ada prosedurnya kalau untuk melakukan tindakan seperti itu. Dan jika terbukti ada mayat di bawah sini, tentunya akan menyeret nama kamu sebagai orang pertama yang mengetahui keberadaan mayat itu" kata Fian menjelaskan.


"Terus mau bagaimana, gue kesini nyamperin lo itu awalnya mau minta solusi agar si Hendra ini tidak terbawa-bawa namanya. Kalau masih dibikin ruwet ya mendingan gue langsung gali saja. Nggak guna gue nemuin lo disini" kata Rian.


"Saya memang harus berpikir untuk menetapkan kamu sebagai apa jika nantinya memang benar-benar ada mayat disini" kata Fian menunjuk Hendra.


"Semua ada prosedurnya, tidak boleh seenak kamu sendiri Rian. Kamu ini dari dulu tetap saja, tidak pernah berubah" kata Fian memarahi Rian.


"Kalau seandainya kita diam-diam saja saat melakukan itu semua gimana bang? Kalau memang ada mayat, langsung dibawa ke rumah sakit untuk diautopsi agar jelas tentang identitasnya. Lalu pihak kepolisian secara diam-diam juga melakukan pencarian terhadap pelaku bagaimana bang?" tanya Hendra memberikan usul.


"Itu ide yang bagus sih menurut gue. Lo sekali-sekali jalani tugas tidak sesuai prosedur masa nggak bisa sih Fian? Pangkat lo sekarang sudah lumayan bagus loh. Masak cari jalan lewat belakang gitu lo masih takut sih?" ejek Rian.


"Bukannya takut Rian, itu semua taruhannya jabatan saya loh" kata Fian.


"Lo kan punya orang kepercayaan, ajak mereka. Lo jadi orang jangan lurus-lurus banget deh. Datar amat hidup lo" Rian semakin mengejek agar Fian segera menyetujui idenya.


"Oke, baiklah. Kapan kita lakukan?" tanya Fian pada akhirnya. Dia tidak terima jika harus diejek terus oleh kembarannya yang kurang ajar ini, apalagi diejek dihadapan bocah semacam Hendra.


Hendra dan Rian tersenyum smirk, tujuannya berhasil untuk menghasut Fian melakukan ide dari mereka.


"Besok malam saja bagaimana bang? Abang hubungi orang-orang abang dulu, termasuk orang rumah sakit. Nanti jika memang ada mayat disini, bisa langsung kita bawa ke rumah sakit. Bagaimana bang?" tanya Hendra memberikan usul.


"Baiklah, ide kamu boleh juga. Saya akan hubungi orang-orang saya terlebih dahulu. Besok malam di jam yang sama kita bertemu lagi disini" kata Fian.


Dan setelah kesepakatan didapat, mereka kembali ke tempat masing-masing.


Sedikit lagi, tidak lama lagi akan diketahui siapa sebenarnya sosok wanita itu. Semoga saja bukan seperti yang Hendra pikirkan. Hendra tidak akan tega jika Aishyah akan menanggung kesedihan lagi jika benar kakak perempuannya menjadi korban pembunuhan.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2