Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
perjanjian


__ADS_3

"Masih disini?" tanya Aish yang melihat Richard berdiri senderan di dinding depan toilet wanita.


"Gue nungguin lo" jawab Richard.


"Mau ngapain?" tanya Aish berusaha tenang meski ada getaran rasa aneh saat melihat Richard digandeng cewek lain, apa itu yang namanya cemburu? Aish tidak mengerti hal yang begituan.


"Yang lo lihat tadi itu nggak seperti yang lo pikirkan" kata Richard bingung, bagaimana harus menjelaskan pada Aish.


"Memangnya gue lihat apa? Itu hak lo ya mau jalan sama siapa saja, mau gandengan sama siapapun, mau pamer sama semua orang kalau memang lo famous, itu semua hak lo, gue nggak ada hak buat ngelarang lo ngelakuin apapun yang lo sukai. Gue memang cewek ngebosenin yang jauh sama sifat lo yang suka bergaul, suka kumpul sama teman-teman lo. Bahkan teman gue cuma Falen, Hendra sama Seno doang. Nama anak tetangga depan rumah gue saja gue nggak tahu".


Aish takjub pada dirinya sendiri yang bisa mengutarakan kalimat sepanjang itu dalam satu tarikan nafas. Hingga membuatnya harus mengambil napas sebanyak mungkin setelah mengatakannya. Lagian, apa hubungannya dengan anak tetangganya?


Richard jadi bingung sendiri mendengar penuturan Aish, bukan begitu maksudnya. Dia pasti menerima apapun sifat yang melekat dalam diri Aishyah, dia tidak pernah mempermasalahkan itu semua.


"Tau lah, maaf gue marah lagi sama lo. Permisi, gue mau ke kelas" kata Aish yang jalannya dihadang oleh Richard.


Richard memiringkan tubuhnya, membiarkan Aish berjalan menjauhinya. Seketika pikirannya tersadar, segera dia menarik lagi tangan Aish.


"Setahu gue, lo masih pacar gue" kata Richard.


Aish mendesah pelan, lelah dengan pikirannya sendiri. "Awalnya gue rasa juga begitu, tapi gue rasa lo masih belum lupa sama apa yang terjadi sama keluarga gue. Dan gue harap, lo bisa ngejauh dari gue selama masih belum terbukti jika kakak lo beneran nggak bersalah" kata Aish dengan ragu, tapi kata-katanya terucap dengan mantap.


"Dan selama itu, lo bebas mau ngelakuin apapun yang lo mau" kata Aish sambil menyerahkan cincin pemberian Richard tempo hari. Dia tak ingin menggantung sebuah hubungan yang akhirnya hanya akan sia-sia.


"Kalau benar kakak gue nggak bersalah, gue harap lo pegang kata-kata lo untuk tetap bertahan sama gue. Dan gue akan pastikan kalau cincin ini akan tetap melingkar di jari lo" kata Richard serius. Dia sangat serius dengan perasaannya pada Aishyah.


Aish memejamkan matanya sebentar, nyatanya mengingat senyum manis di wajah Richard yang biasanya terkesan dingin, sebenarnya sudah membuat hatinya ketar-ketir.


"Gue selalu menunggu kabar baik itu datang" kata Aish yang kemudian berbalik dan pergi meninggalkan Richard yang masih terbengong di tempatnya, tangannya menggenggam cincin pemberiannya untuk Aish yang kini, -untuk sementara waktu-, kembali padanya.


Sementara di kelasnya, konsentrasi Aish pada pelajaran agak sedikit terganggu karena perdebatan dengan Richard barusan. Beruntung dia masih bisa melalui pelajaran hari ini dengan cukup baik hingga bel pulang berdenting.


"Lo kelihatan resah banget sih princess?" tanya Seno yang melihat gelagat tak biasa dari Aish.


"Tau nih. Eh, dapat kabar apa-apa nggak dari bang Fian?" tanya Aish.


"Masih belum ada sih kayaknya" kata Hendra mewakili yang lain untuk menjawab.


******* nafas frustasi keluar dari mulut Aish, dia kembali merapikan peralatan sekolahnya dan bersiap pulang.


"Gue duluan ya" kata Aish lesu pada ketiga temannya yang kini saling melirik satu sama lainnya.


Dia langsung pergi tanpa menunggu jawaban, membuat yang lainnya mempercepat kegiatannya dan menyusul sahabatnya yang sedang tidak baik-baik saja.


"Gue anterin lo ya" tanya Falen yang sudah mensejajari langkah Aish.


"Gue kan bawa motor, bule" jawab Aish yang pundaknya sudah dirangkul oleh Falen.

__ADS_1


"Hai Falen" sapa Sekar yang tidak suka melihat perilaku Falen.


"Eh, hai" kata Falen.


"Jadi pulang bareng?" tanya Sekar.


"Oh, iya gue janji mau ngantar lo ya?" tanya Falen bingung. Sekar hanya mengangguk.


"Tuh kan, lo ada janji. Gue duluan ya" kata Aish mempercepat langkahnya, dia ingin segera sampai dirumahnya. Dia ingin istirahat.


Kali ini Falen cukup khawatir pada Aish, tidak biasanya dia seperti ini. Diapun mengikuti laju motor Aish dari belakang, hanya ingin memastikan keselamatan sahabat tersayangnya.


"Kok lewat sini sih Fal? Kan berlawanan sama arah rumah kita?" tanya Sekar tidak mengerti.


"Sorry ya Sekar, gue mau pastiin dulu kalau Aish selamat sampai rumahnya. Dia lagi emosian kayaknya, gue cuma khawatir sama dia" kata Falen yang fokus pada jalanan, takut kalau Aish menyadari jika sedang dibuntuti.


Kembali Sekar merasa hatinya sesak, sepenting itukah Aishyah dimata Falen. Hingga tak menyadari jika Sekar sedih mendengar penuturannya. Rasa tidak sukanya pada Aish semakin besar.


★★★★★


Diam-diam Willy juga menyelidiki kasus kematian Alif, wanita tercintanya. Setelah mengunjungi makamnya kemarin, hatinya seolah hancur berkeping-keping karena gagal dalam melindungi istrinya.


Dia telah gagal menjadi seorang suami, padahal anaknya masih sangat memerlukan sosok sang ibu.


Terbesit janji dalam hatinya untuk mencari dalang dibalik semua ini. Meskipun tak bisa merubah keadaan, setidaknya dia melakukan itu untuk adiknya, dan juga adik dari istri kesayangannya. Sebagai hadiah terakhir yang bisa dia berikan.


Dua hari yang lalu dia menyewa seorang detektif swasta untuk melakukan penyelidikan. Beruntung dia mendapat orang yang tepat, karena dalam waktu singkat dia sudah mendapat banyak sekali informasi dari orang itu.


"Bapak bisa membaca laporan dilembar berikutnya" kata detektif itu mengingatkan Willy yang ingin menutup laporan di tangannya.


Matanya membola saat membaca baris demi baris dari laporan yang detektif itu berikan. "Kamu yakin dengan tulisan kamu ini?" tanya Willy seolah tak percaya.


"Sebisa mungkin bapak bersikap wajar dulu untuk saat ini, saya akan mencari beberapa bukti untuk memperkuat laporan saya ini" kata si detektif.


"Tentu, saya tunggu secepatnya laporan selanjutnya" kata Willy mengakhiri pertemuannya.


Selanjutnya dia bergegas pulang setelah detektif itu berpamitan. Dia ingin segera menemui putrinya. Darah dagingnya, buah cintanya.


★★★★★


Aish yang masih ada dirumah engkong belum berani pulang ke rumahnya sejak sepulang sekolah tadi.


Mendapati Siras yang duduk di teras rumahnya membuat Aish takut untuk sendirian. Diapun melajukan motornya hingga ke rumah engkong, pak tua yang sudah Aish anggap seperti kakeknya sendiri. Beruntung Siras tidak tahu kalau Aish punya motor, membuatnya tidak ketahuan saat melintas di depan rumahnya tadi.


"Lo kagak mau ganti baju dulu?" tanya enyak yang menemani Aish mengerjakan PRnya di ruang tamu.


"Nanti aja nyak, Aish masih mau disini" kata Aish tetap sibuk dengan bukunya.

__ADS_1


"Ajarin teknik ngitung cepat lagi dong nyak, ilmu orang dulu memang the best deh. Kalah kalkulator mah" kata Aish semangat.


Enyakpun mengajari Aish dengan senang hati, gadis itu mudah menyerap ilmu yang dia berikan.


Sampai jam delapan malam, Aish mengendap-endap untuk memastikan kalau Siras sudah tidak ada di teras rumahnya. Dengan masih memakai seragam sekolahnya, dia menuju ke pagar samping dan mengintip dari celah pagar tinggu di halaman rumahnya.


"Haduh, tuh dokter sinting kenapa masih disitu sih. Gue kan capek, kenapa nggak pergi juga sih" gumam Aish yang mendapati Siras masih duduk santai di teras rumahnya, bahkan dia membawa minuman sendiri.


Dengan bibir sedikit cemberut, Aish kembali berjalan ke rumah engkong. Dia akan meminta bantuan engkong agar mengusir Siras.


"Kenapa bibir monyong begitu?" tanya engkong yang melihat Aish kembali memasuki rumahnya.


"Bantuin Aish dong, nyak" kata Aish.


"Apaan?" tanya enyak.


"Tolong usir orang yang nungguin di teras rumah Aish, dia belum pergi juga. Bilangin kalau Aish nginap di rumah temannya gitu loh nyak" rengek Aish yang sudah ingin pulang dan rebahan di kamarnya.


"Kenapa nggak lo temuin saja sih, ada masalah tuh diselesaikan baik-baik. Jangan main petak umpet begini" kata enyak.


"Kalau enyak nggak mau bantu, biar engkong saja deh. Ya, tolong ya engkong yang baik" kata Aish.


"Gue kan nggak bilang kalau gue nggak mau bantu lo. Yasudah, gue temuin dulu tuh orang" kata enyak yang kemudian pergi meski masih terdengar menggerutu.


Aish tertawa kecil mendengar enyak yang mengoceh tidak jelas. Dalam hati Aish tahu kalau enyakpun mengkhawatirkan keselamatannya.


Beberapa saat berlalu, enyak kembali dengan senyum di wajah tuanya.


"Gimana nyak?" tanya Aish tidak sabaran.


"Aman, dia sudah pergi" kata enyak senang, misinya sukses kali ini.


"Makasih banyak ya nyak, Aish sayang enyak deh pokoknya" kata Aish memeluk singkat tubuh wanita renta itu.


"Iya, lo mau balik sekarang?" tanya enyak lagi.


"Bentar lagi deh nyak, tanggung lagi main SOS sama engkong" kata Aish yang melanjutkan permainannya.


"Yah, lo enak-enakan main gituan" kata enyak yang ikut mendudukkan dirinya di ruang tamu.


.


.


.


Ayo jangan lupa klik likenya yaa... ditambah vote biar lebih semangat buat update...

__ADS_1


Maaf kalau banyak typo bertebaran, harap maklum adanya...


salam sehat semuanya❤️❤️❤️❤️


__ADS_2