Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
rencana Viona


__ADS_3

"Uwah... foto yang bagus" kata Viona yang membuat Sekar kaget bukan main. Padahal dia sudah mencari tempat yang aman untuk melihat galeri di ponselnya.


"Apaan sih. Ganggu saja lo jadi adik kelas" kata Sekar yang langsung berdiri dan menyembunyikan ponselnya dibalik badan.


"Jangan songong jadi orang. Kayaknya kita bisa kerjasama deh. Gue rasa kita punya masalah dengan orang yang sama" kata Viona dengan senyum licik.


Sekar memandangi Viona, adik kelasnya ini cukup berani untuk menegur kakak kelasnya. Dia harus waspada.


Saat mereka berdiri, tinggi keduanya hampir sama. Viona gadis yang cantik dengan rambut lurus, hitam dan panjang. Dari cara pandangnya, semua bisa mengartikan jika gadis itu ambisius. Entah apa maksudnya kalau dia punya masalah dengan orang yang sama.


"Kenapa bengong? Lo kaget gue bisa tahu lo disini?" tanya Viona.


"Lo nggak ada sopan-sopannya ya" kata Sekar.


"Sudahlah kakak kelas, bagaimana kalau kita melakukan kerja sama?" tanya Viona.


"Maksud lo?" tanya Sekar.


"Gue tahu lo suka sama kak Falen, ketua OSIS. Dan gue rasa, gue suka sama kak Richard" kata Viona dengan senyum simpul saat mengatakan nama Richard.


"Para pria itu nggak bisa lepas dari cewek nyebelin itu kan?" kata Viona memprovokasi. Sekar masih menyimak setiap perkataan yang keluar dari mulut Viona.


"Gimana kalau kita kerjasama?" tanya Viona.


"Kerja sama apa?" tanya Sekar yang sepertinya tertarik dengan tawaran adik kelasnya.


Viona membisikkan sesuatu ke telinga Sekar.


"Tapi itu bahaya banget loh, nanti bisa di skors kalau ketahuan" kata Sekar sedikit tidak suka.


"Makanya kita ngelakuinnya malam-malam saja pas sekolah lagi sepi" kata Viona.


"Nggak ah" kata Sekar.


"Kenapa? Lo takut? Cemen banget sih jadi orang" kata Viona.


"Oke deh. Kapan kita lakuin?" tanya Sekar yang merasa tertantang. Viona tersenyum licik, rencananya berhasil.


"Malam ini juga" kata Viona senang karena Sekar mau bekerjasama dengannya.


★★★★★


"Bang Fian ngabarin nih" kata Hendra saat mereka ada di tempat biasanya.


"Iyakah? Apa ?" tanya Aish penasaran, dia langsung duduk didekat Hendra kali ini.


"Mau ada olah TKP, lo mau lihat nggak?" tanya Hendra.


"Dimana?" tanya Aish.

__ADS_1


"Di rumah kontrakan kakak lo. Terus lusa di pantai" kata Hendra.


"Jam berapa? Kan kita sekolah" kata Aish.


"Malam deh kayaknya, lo mau kesana? Gue sih pengen nonton" kata Hendra.


"Lo kira layar tancap, ditonton? Tapi boleh deh. Gue kesana besok malam" kata Aish.


"Kita kesana sama-sama ya, pakai mobil gue saja. Kita rombongan, biar ada yang nyupir" kata Seno.


"Lo nggak lagi sibuk?" tanya Aish.


"Syuting gue sudah kelar, paling dua minggu lagi filmnya rilis" kata Seno.


"Uwahh, beneran? Nanti undang kita ya kalau ada acara nonton bareng" kata Aish senang.


"Pastinya dong. Jadi gimana, besok ngumpul di rumah gue ya" kata Seno.


"Iya deh" kata mereka menyepakati.


"Lo gue jemput dulu, jangan bawa motor sendiri" kata Hendra yang rumahnya searah dengan rumah Aish.


"Iyaa.. oke" kata Aish.


"Lo tahu nggak sih Hen, semalam tuh masak bang dokter nyamperin rumah gue" kata Aish keceplosan, karena hanya Hendra yang tahu permasalahannya dengan Siras.


Reflek Aish menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tapi Seno dan Falen sudah terlanjur mendengarnya.


"Engmh .. nggak apa-apa kok. Lupain saja" kata Aish mengelak.


"Lo main rahasia nih sama kita. Ok kalau gitu, baiklah" kata Falen memasang wajah ngambek.


Aish saling sikut dengan Hendra, bingung harus menceritakan pengalaman buruknya dengan Siras atau tidak. Tapi akhirnya dia memilih untuk tetap bungkam. Tidak enak kalau harus membuat hubungan Falen dan kakaknya semakin tidak akur.


Sepanjang hari itu membuat Falen jadi pendiam, merasa tidak suka karena Aish merahasiakan sesuatu darinya.


"Fal, pinjem jangka dong. Punya gue patah nih" kata Aish menghadap ke arah Falen yang duduk dibelakangnya. Tapi dia dicuekin.


"Bule, pinjem jangka napa, pelita banget sih" kata Aish masih tak menyadari ngambeknya Falen.


"Nih, ambil. Gue mana pernah sembunyiin apa-apa dari lo" kata Falen galak, memberikan dua buah jangka pada Aish.


"Nggak jadi deh, lo nggak ikhlas sih. Gue pinjem Seno aja" kata Aish menolaknya.


"Dasar wanita, sulit sekali dimengerti" gerutu Falen yang masih terdengar di telinga Aish.


"Seno, pinjem jangka dong" kata Aish.


"Dipakai princess, bentar ya" kata Seno yang sibuk dengan bukunya.

__ADS_1


"Haduuh... gimana nih" pikir Aish yang kemudian menoleh lagi pada Falen.


Tanpa meminta izin, Aish langsung saja mengambil sebuah jangka milik Falen yang masih ada diatas mejanya. Falen hanya menatap kesal pada Aish.


"Nggak peka banget jadi orang" kata Falen lirih.


"Gue denger bule, iya nanti gue cerita sama lo. Udah jangan ngambekan, cepet tua baru tahu rasa" kata Aish.


"Awas lo nggak cerita sama gue" ancam Falen. Aish hanya mengangkat jari jempolnya ke atas tanda persetujuan. Lalu sibuk lagi dengan tugasnya.


★★★★★


Sehabis Maghrib tadi Hendra sudah stand by dirumah Aish, mereka akan melihat oleh TKP yang akan dilakukan oleh pihak kepolisian.


Setelah berkumpul dirumah Seno, mereka berempat menuju Bekasi. Menuju rumah Alif.


"Lo hutang cerita sama gue, princess" kata Falen yang duduk disebelah kanan Aish.


"Iya, memangnya ada apaan sih?" tanya Seno yang duduk di sebelah kirinya.


Aish merasa terjebak karena Hendra yang duduk didepan, disamping supir, tidak bisa menolongnya kali ini.


" Haduh, gimana ya Fal. Masalahnya gue takut bikin hubungan lo sama bang dokter jadi makin nggak akur" kata Aish.


"Maksud lo apa sih? kan memang hubungan gue nggak akan pernah akur sama dia" kata Falen.


"Tapi lo janji nggak usah memperpanjang urusannya lagi ya kalau gue selesai cerita. Lagian semuanya sudah selesai kok" kata Aish mengangkat jari kelingkingnya, meminta Falen untuk berjanji padanya.


"Tergantung sih seperti apa nantinya" kata Falen.


"Tuh kan, kalau gitu gue nggak jadi cerita deh" kata Aish.


"Iya deh, gue janji nggak marah, nggak memperpanjang lagi" kata Falen menautkan jari kelingkingnya dengan Aish.


"Oke, gue pegang janji lo" kata Aish.


"Jadi, waktu itu kan gue sempat kerja jadi security kan di sebuah kantor gitu. Lo masih ingat kan?" tanya Aish.


"Iya, terus?" tanya Falen.


"Gue kan pernah bilang kalau kantor itu ternyata punya abang lo--" Aish menceritakan kejadian yang dia alami malam itu kepada Falen.


Bagaimana Richard datang untuk menolongnya juga tak luput untuk diungkapkan. Hanya saja bagian dia yang tidak sengaja meminum alkohol harus tetap di skip. Malu kalau sampai ketahuan orang lain.


Cukup dia, Richard dan Tuhan yang tahu. Jika seandainya nanti dia tidak ditakdirkan bersama Richard, biarlah semua itu menjadi kenangan indah.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2