Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
Persada lagi


__ADS_3

Kedua kaki Richard sudah berhasil mendarat dipermukaan batu di depan gua. Matanya bertemu pandang dengan mata Mike yang tak memakai kaos, dia bertelanjang dada.


"Sialan lo, cowok brengsek. kurang ajar" lega rasanya Richard bisa mengeluarkan unek-unek dalam hatinya.


Lagi-lagi Mike harus merasakan tonjokan keras di wajahnya, siapa lagi pelakunya kalau bukan Richard.


"Lo bisa nggak sih tenang dulu. Jangan main pukul sembarangan" kata Mike setelah berhasil menguasai dirinya.


"Lo apain cewek gue brengsek?" tanya Richard, matanya nanar menatap tajam pada mata Mike yang secara fisik sangat kelelahan.


"Sumpah demi lo sebagai keturunan terakhir Hercules, gue nggak apa-apain Aishyah. Kedua kakinya terluka, dia tadi sempat digigit ular. Sekarang dia demam tinggi, bahkan sampai mengigau" kata Mike berusaha menjelaskan.


Tak lagi mendengarkan ucapan Mike, langkah lebar Richard memasuki dalam goa yang menampung Aish.


Richard mendapati tubuh Aish yang meringkuk. Luka dikakinya mengalirkan darah yang lumayan banyak.


Setelah mendaratkan punggung tangannya di kening Aish, Richard mendengar gumaman dari mulut gadisnya.


"Richard, tolongin gue" rintih Aish dalam keadaan setengah sadar.


"Ini gue, Ra. Lo bisa dengar suara gue kan?" tanya Richard yang kini melihat wajah Aish dengan mata berkaca-kaca.


Sebelumnya mereka berpisah dalam keadaan hati yang sama-sama emosi. Pertengkaran yang masih berlangsung hingga saat Aish harus pergi camping, malah mempertemukan mereka berdua dalam keadan seperti ini.


Sirna sudah amarah dalam hati Richard, hanya satu yang dia inginkan sekarang. Pergi dari tempat ini.


Mendengar suara Richard, perlahan kelopak mata Aish terbuka. Sedikit senyumnya terukir singkat, lalu Aish menangis.


"Maafin gue ya" kata Aish lirih sambil menangis, dia tak kuasa menahan rasa sakit di dalam hati dan juga di kedua kakinya.


Ditambah lagi sekarang badannya terasa dingin, dan kepalanya sakit. Air matanya semakin deras mengalir di pipinya.


"Lo nggak salah, ngapain minta maaf? Jangan nangis lagi ya" kata Richard mengusap kedua pipi Aish yang dilinangi air mata.


Mike hanya bisa melihat pemandangan menyesakkan hatinya itu dari belakang tubuh Richard yang menghadap Aish.


Richard lupa jika masih ada drone yang memperlihatkan aktivitas di dalam goa.


Sekarang orang-orang didalam tenda sudah bisa saling pandang, mereka sedikit malu dengan kelakuan kedua murid beda sekolah itu.


Tapi melihat Aish yang kesakitan, rasanya Falen tidak tahan untuk menyuruh Richard segera membawa pergi Aishyah ke rumah sakit.


"Mana yang sakit, hem?" tanya Richard yang kini meletakkan kepala Aish di tangannya, Richard berjongkok untuk bisa membantu Aish duduk.


Tangannya terulur untuk merapikan anak rambut yang menghalangi pandangan mata Aishyah.


"Kaki gue sakit, tadi sempat digigit ular. Sekarang kepala gue ikutan pusing" keluh Aish seperti anak kecil, air matanya masih saja menetes. Rasa bersalahnya semakin kuat, apalagi melihat wajah Richard yang melukiskan kegelisahan.


Richard melihat ke arah kaki Aish, telapak kakinya sudah membiru karena terlalu lama pergelangan kakinya diikat menggunakan kain.


Terjawab sudah pertanyaan di benak Richard tentang hilangnya hijab Aish. Ternyata digunakan untuk mengikat kakinya yang terluka.


Pandangannya beralih ke kaki kanan Aish, luka berdarah yang juga diikat dengan kaos kaki yang sudah memerah karena rembesan darah.


"Kaki gue yang kanan juga sakit, tadi gue kesangkut di pohon" kata Aish diiringi Isak tangis, tangannya mengusap air mata yang masih saja turun di pipinya.


"Kesangkut gimana?" tanya Richard tidak paham, dia kembali menoleh pada wajah ayu yang kini terlihat sembab.


"Kakinya kesangkut, posisi gue kebalik tadi" kata Aish manja.


Richard tertawa, membayangkan posisi Aish yang tersangkut.


"Lo nyebelin banget sih, gue kesakitan malah lo ketawain" kata Aish lemah. Kalau tidak sedang dalam kondisi sangat memprihatikan, pasti sudah Aish tonjok muka Richard dengan sepenuh hati.


Sekarang dia hanya bisa memukul pelan dada Richard untuk menghentikan tawanya.


"Iya, sorry sayang. Maaf ya, sekarang kita pergi dari sini ya. Lo bisa jalan apa enggak?" tanya Richard setelah berhasil meredakan tawanya.


Aish menggelengkan kepalanya.


"Terus gimana caranya lo kesini tadi?" tanya Richard.


"Gue yang gendong Aish tadi" kata Mike.


Richard dan Aish malah melupakan keberadaan Mike disana.


Kepala Richard menoleh, melihat Mike yang sedang melihat ke arah mereka juga.


Richard mendecak, dia segera membawa Aish dalam dekapannya. Menggendong sang pujaan hati menggunakan kedua tangannya yang diletakkan di depan dada.


Mike melihat itu dengan tatapan tidak suka, tapi untuk melarangnya, diapun tak punya hak.

__ADS_1


Aish mengeratkan pegangannya di leher Richard, kepalanya bersandar di dada bidang sang kekasih yang kembali menjadi super hero dalam kehidupannya.


Keluar dari dalam gua, Richard berdiri dengan sedikit membungkukkan badannya. Karena hujan yang masih saja turun, dia ingin melindungi Aish dari tetesan air hujan.


Sebuah tali terulur dari atas, lengkap dengan pengaman yang harus dikaitkan pada beberapa bagian tubuh Aish.


"Tolongin gue" kata Richard pada Mike yang berdiri di belakangnya.


Mike mengerti, tanpa mengeluarkan kata persetujuan, Mike menggapai tali itu dan meletakkan pengaman berupa beberapa tali berukuran lebih pendek yang diberi pengait yang ukurannya bisa diubah-ubah.


Satu tali diikatkan di perut Aish, satu lagi di dadanya. Richard melarang Mike memasangkan tali di dada Aish.


Cowok pencemburu itu hanya mengijinkan Mike memasang tali di perut Aish. Setelahnya, Richard menyuruh Mike untuk bersedia menjadi sandaran lagi bagi Aish. Sementara Richard memasangkan pengait di dada kekasihnya, mengikat kuat tali yang dililitkan melewati celah di bawah ketiak.


Aish sudah bisa diangkat, perlahan tali yang terulur itu bergerak ke atas membawa tubuh Aish semakin mendekati helikopter.


Sekarang giliran Mike yang harus memasangkan tali di tubuhnya, Richard sama sekali tidak mau membantu urusan Mike. Biarlah dia berusaha sendiri.


Mike ditarik ke atas setelah Richard berhasil memasuki helikopter. Dia segera membuka lilitan tali di tubuh Aish terlebih dahulu. Baru setelah tali itu terlepas, Richard membuka talinya sendiri.


Segera Richard memposisikan Aish dengan nyaman di ruangan sempit di dalam helikopter itu.


Setelah Aish berada dalam posisi yang nyaman. Rupanya Mike baru sampai di dalam ruangan sempit ini.


Dia mendudukkan tubuhnya dengan pandangan masih mengkhawatirkan Aishyah.


Aish kembali memejamkan matanya dalam dekapan Richard.


"Ra, lo dengar gue nggak?" tanya Richard yang tak merasakan adanya pergerakan dari Aish.


"Ra, lo tidur kan?" tanya Richard menatap wajah Aish.


Tepukan ringan dia berikan, tapi tak ada respon apapun. Richard dan Mike kembali panik, padahal tadi Aish sempat mengadu pada Richard. Kenapa sekarang malah pingsan lagi?


"Pak, kita langsung ke rumah sakit saja ya. Sepertinya Aishyah pingsan" kata Richard.


"Bagaimana kapten?" tanya pilot.


"Laksanakan" perintah kapten itu menyetujui saran Richard.


Helikopter terbang menuju satu-satunya rumah sakit yang dilengkapi landasan Helikopter di rooftopnya.


Perjalanan cukup memakan waktu karena jarak pandang pilot yang dibatasi oleh tebalnya awan mendung.


Semoga kenekatan mereka memberi keselamatan bagi semua.


★★★★★


Kembali ke lokasi perkemahan, sekarang mereka sedang berembuk tentang siapa dan bagaimana Aish bisa terjatuh ke dalam jurang.


Nindi, penyebab pertama yang membuat beberapa orang berlari ke dalam hutan. Karena panik, gadis itu tidak menyangka jika mereka salah arah.


Mike sebagai ketua tim bekerja sangat profesional, karena berkat dialah Nindi dan Aish berhenti berlari.


Tapi saat kesadaran mereka berdua telah kembali, malah Aish terpeleset karena berdiri terlalu dekat dengan mulut jurang.


Jadilah Aish dan Mike terjatuh, dan Mike memilih untuk menemani Aish dan menyuruh Nindi mencari bantuan.


Aditlah orang pertama yang berada di dekat Nindi setelah kejadian jatuhnya Mike.


Sekarang giliran Adit yang dicerca pertanyaan. Maukah Adit jujur kalau semua ini berawal dari keisengannya?


Bagaimana nasibnya kedepan jika masalah ini benar-benar memojokkannya?


★★★★★


Didalam helikopter, Richard duduk dengan gelisah. Aish masih juga belum sadarkan diri, berulang kali Richard mencoba membangunkannya tapi hasilnya nihil.


"Sayang, bertahan ya. Sebentar lagi kita sampai rumah sakit" kata Richard dengan tangan membelai pipi gadisnya.


Semua itu tak luput dari pandangan Mike, rasanya hati Mike seperti tertusuk sesuatu. Sakit tapi tak berdarah.


Diapun membuang pandangan, lebih asyik melihat ke arah luar. Melihat gumpalan awan yang menghitam menyelimuti seluruh penjuru kota.


Empat puluh menit berlalu, helikopter terbang lebih lambat daripada biasanya karena cuaca buruk.


Pihak rumah sakit telah bersiap menyambut kedatangan Aishyah, tadi Willy sempat mengabarkan pihak Rumah sakit Persada jika akan ada pasien yang dibawa menggunakan Helikopter dan akan mendarat beberapa menit lagi.


Dokter dan beberapa perawat telah siap menyambut dengan memakai jas hujan. Brankar darurat akan darurat akan disiapkan setelah memastikan pasien datang.


"Sudah sampai, Ra. Lo harus kuat, gue selalu disamping lo" kata Richard lirih di telinga Aish saat helikopter sudah mendarat dengan sempurna.

__ADS_1


Guyuran hujan sudah mereda, menyisakan rintik air yang sangat kecil membasahi apapun yang mereka gapai.


Dokter dan beberapa perawat telah sigap, brankar juga telah dikeluarkan.


Richard dibantu oleh Mike mengeluarkan Aish dengan sangat hati-hati. Dibawah, perawat telah siap menggantikan posisi Richard dan Mike.


Aish telah dipindahkan dengan selamat, dia sudah terbaring diatas brankar. Tapi ada pandangan yang membuat Richard kembali merasa khawatir.


Saat dia sudah berhasil menuruni helikopter, segera dia berlari dan menggapai tangan dokter yang akan masuk dengan perawatnya.


Mike ikut berlari, dia kira ada sesuatu yang terjadi hingga Richard menghentikan langkah sang dokter.


Pandangan Richard dan dokter itu beradu, rahang Richard sedikit mengeras. Rupanya ada amarah dari dalam dirinya. Membuat Mike penasaran saja.


"Jangan macam-macam sama dia, atau karir lo gue hancurin!" ancam Richard dengan pandangan tajam dan serius.


Dokter itu tersenyum miring, sejenak membuang muka pada kelakuan anak SMA yang baru saja mengancamnya.


"Saya ini profesional" kata dokter Siras, dokter itu menangani Aishyah lagi saat ini


"Gue masih ingat kelakuan lo sama anak buah lo malam itu, jangan sampai lo ulangi lagi atau bukan cuma karir lo yang gue hancurin, tapi hidup lo juga gue kelarin" kata Richard yang sangat muak melihat senyum mengejek yang selalu Siras tampilkan.


"Sayangnya, saya tidak takut pada ancaman bocah bau kencur seperti kamu. Tapi kamu tenang saja, selama Aishyah masih dalam kondisi memprihatinkan seperti ini, saya pastikan akan memberi pelayanan terbaik untuknya. Kamu jangan khawatir" kata Siras berlalu pergi, meninggalkan Richard yang masih terdiam di tempatnya.


Mike sejak tadi masih kebingungan pada keadaan di depannya, tapi bukan urusannya juga untuk iseng bertanya.


Seorang perawat menghampirinya, "Kamu juga salah satu korbannya ya? Kenapa kamu malah hujan-hujanan?" tanya suster itu sembari menyampirkan selimut garis-garis khas rumah sakit.


Mike lupa jika sudah meninggalkan kaosnya di depan goa tadi pagi. Sekarang dia mulai merasa kedinginan setelah sadar jika gerimis masih menuruni bumi.


Richard menoleh ke sumber suara, mendapati Mike yang telah berjalan mendahuluinya masuk ke dalam rumah sakit bersama suster.


Baju Richard juga basah, dia juga memasuki lebih dalam ke area rumah sakit. Mengikuti arah para dokter dan perawat yang membawa Aish dan Mike ke dalam UGD.


Aish sudah dimasukkan ke dalam UGD bersama Mike, meninggalkan Richard yang harus menunggu didepan pintu.


Dia duduk disalah satu kursi, merasakan dinginnya terpaan AC. Kepalanya tertunduk, matanya terpejam. Dia mengingat terakhir kali pertemuannya dengan Aish, gadis itu terlihat sangat pucat. Banyak darah yang keluar dari kakinya, dan lagi,ike bilang tadi dia sempat digigit ular.


"Semoga lo baik-baik saja ya, Ra. Gue nggak akan maafin siapapun yang celakain lo kalau sampai terjadi sesuatu sama lo" kata Richard lirih.


Tak lama, Yopi sudah datang bersama beberapa teman terbaik Aish, siapa lagi kalau bukan para punggawanya.


Yopi memberikan paper bag pada Richard "Lo ganti baju dulu ya, baju lo basah semua. Gue gantiin lo jagain Aish disini" kata Yopi.


Richard melihat ke wajah Yopi, bekas pukulannya masih membiru di pipinya. Sejenak rasa bersalah melingkupi hatinya.


Dia memang terlalu emosional, beruntung semua temannya selalu pengertian dengan memaafkan tingkahnya yang seperti itu.


"Kenapa malah bengong?" tanya Yopi yang masih diperhatikan oleh Richard.


"Gue minta maaf ya, lo selalu jadi korban emosi gue" kata Richard.


Yopi tersenyum, pertama kali baginya mendengar Richard meminta maaf atas kelakuannya yang suka tiba-tiba memukul orang lain.


Pengaruh kehadiran Aish dalam kehidupan Richard benar-benar telah mengubah pribadi batu Richard perlahan melunak.


Dalam hati Yopi berdoa, pertama kali juga baginya setelah sekian lama mengingat tuhannya. Semoga Richard semakin berubah menjadi orang yang lebih baik.


Begitu juga Falen, sorot matanya tak lepas dari kejadian di depannya. Richard meminta maaf, sesuatu yang sangat langka dan pertama kali terjadi selama dia mengenalnya.


"Lo tenang saja, Ri. Gue bakalan selalu jadi satu-satunya orang yang tetap bersama lo saat semua orang menjauh dari lo" kata Yopi tulus, pengorbanan yang Richard lakukan padanya juga sudah tak dapat diukur dengan hanya materi.


Falen merasa tersentil, dulu pertemanan mereka hancur gara-gara wanita. Cukup sulit baginya untuk kembali pada situasi pertemanan yang normal.


Tapi demi Aish, dia akan berusaha lebih dekat lagi dengan bekas sahabatnya ini.


Mereka sama-sama menyayangi Aishyah.


.


.


.


Ini ayang Richard yang punya hati tulus, tapi emosian. Dikit-dikit mukulin orang.



dan ini bebeb Aishyah, yang sulit banget dikasih tahu, kalau sudah sakit baru ingat kalau apa yang Richard katakan padanya adalah benar😊


__ADS_1


__ADS_2