Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
Mike, menyebalkan!


__ADS_3

"Hei, lo. Sini nggak! Cepetan lo beli nih donat sebanyak-banyaknya. Kalau nggak mau beli, awas aja lo!" ancam Mike pada murid lain yang dia temui di jam istirahat ini.


Sesuai kesepakatan, Ilham akan membawa 50 buah kue yang akan Mike jual. Entah bagaimanapun caranya, yang penting kuenya harus laku.


"Lo jualan kok maksa sih, Mike?" tanya teman sekelasnya.


"Terserah gue dong, yang penting lo harus beli" kata Mike yang memang ditakuti oleh teman-temannya.


Berhasil dong, berkat pamornya, dalam waktu singkat saja dia sudah berhasil menjual hampir seluruh donat yang Ilham bawa.


"Satu, dua, tiga, empat. Nih buat kalian, bayar dulu dua ribu" kata Mike menyuruh ke empat temannya membeli sisa donat yang Ilham bawa.


"Nyesel gue bantu lo jualan, Mike. Seharusnya kita nggak usah bayar dong, jatah bro..." kata seorang temannya.


"Nggak ada ya, pokoknya kalian harus bayar. Lagian cuma dua ribu doang" kata Mike meminta uang dari temannya.


"Cg, besok gue nggak nemenin lo jualan lagi, Mike" kata temannya yang lain.


"Terserah lo" jawab Mike sambil menghitung uang yang telah terkumpul.


"Woi!! Ilham, sini lo" teriak Mike yang melihat Ilham berjalan menuju kelasnya.


"Apaan?" tanya Ilham.


"Nih, uang donat lo. Ini kotaknya. Cepet lo bawa pergi" kata Mike menyerahkan setumpuk uang dua ribuan pada Ilham.


"Ngitungnya nanti saja dikelas lo" kata Mike mengusir Ilham.


"Thank's ya Mike, nggak nyangka gue kalau lo bakat berniaga" kata Ilham.


"Sana pergi buruan" usir Mike.


Ilham kembali ke kelasnya dengan riang, tanpa bersusah payah donatnya bisa laku terjual ludes.


Sedangkan Mike dan gerombolannya menuju ke kantin untuk mengganjal perutnya yang sudah keroncongan.


Baru saja mereka mendudukkan diri di kantin untuk menikmati makanannya, bel sudah berbunyi saja.


"Belum juga makan, sudah bel. Gara-gara jualan donat nih" gerutu teman-teman Mike.


"Nggak usah pedulikan, makan saja sampai habis. Pelajaran urusan nanti kalau sudah kenyang" kata Mike melanjutkan sesi makan siangnya.


★★★★★


"Sya, gue ikutan belajar sama lo ya" kata Yopi yang menghampiri meja Aish.


"Boleh, tungguin si Mike ya. Tuh bocah tengil semoga nggak mangkir hari ini" kata Aish yang masih merapikan peralatan tulisnya.


"Hai, Aish. Hai Yopi" kata Ilham yang memasuki kelas Aish.


"Kok belum pulang, Ham?" tanya Aish.


"Gue mau nemenin lo ngajarin si Mike, boleh nggak?" tanya Ilham.


"Lo ngajarin gue aja, Ham. Biar si Aishyah yang ngajarin Mike" kata Yopi memberi usul.


"Begitu juga boleh. Ngomong-ngomong, si Mike kenapa belum datang juga?" tanya Ilham.


"Apa lo nyariin gue?" tanya Mike yang tiba-tiba muncul.


"Gue pikir lo mau mangkir. Kita belajar disini atau dimana nih?" tanya Aish.


"Disini aja, keburu males gue kalau pindah tempat" kata Mike yang mendudukkan dirinya di depan Aish.

__ADS_1


"Teman lo yang satu lagi kemana?" tanya Mike.


"Nindi maksud lo? Sudah pulang dia" kata Aish.


"Sini coba gue lihat buku pelajaran Matematika punya lo" kata Aish.


Mike membuka tasnya, mengambil satu-satunya buku yang dia miliki. Dan menyerahkan pada Aish.


Dengan pandangan aneh, Aish mengambil buku dari tangan Mike dan membukanya perlahan.


"Nggak ada yang lain bukunya? Kok semua pelajaran campur jadi satu sih, Mike?" tanya Aish.


"Gue nggak minat sama pelajaran, masih untung gue punya buku" kata Mike cuek.


"Astaghfirullah, ada ya makhluk kayak lo?" tanya Aish.


"Ada, gue buktinya" kata Mike.


"Huft, oke lah. Kita mulai saja, jadi sekarang coba lo kasih tahu gue. Bagian mana yang belum lo ngertiin?" tanya Aish.


"Gue nggak ngerti apa-apa" kata Mike.


"Terus gimana caranya lo bisa masuk SMA kalau lo nggak ngerti apa-apa, Mike?" tanya Aish setelah menghela napasnya.


"Gue masuk lewat jalur prestasi olahraga. Lo tahu sendiri kemarin waktu pertandingan, gimana kerennya permainan basket gue. Coba kalau lo nggak keganjenan ngasih semangat sama tim lawan, pasti gue keluar sebagai juaranya. Lagian ngapain sih lo ngasih semangat ke mereka?" tanya Mike kesal.


"Nggak usah bahas yang kemarin, sekarang kita mulai dari rumus dasar aljabar saja ya. Coba lo kasih tahu gue seperti apa bunyi rumus aljabar" kata Aish.


"Gue sudah bilang kalau gue nggak paham, lo jangan paksa gue" kata Mike yang semakin membuat Aish harus ekstra sabar.


"Oke, kita mulai dari awal" kata Aish mengeluarkan buku dan bolpoinnya. Lalu menulis sebuah gambar segitiga yang ketiga garisnya diberi nama huruf A, B dan C.


"Perhatiin ya, Mike. Dari ketiga garis ini, kita bisa ambil sebuah rumus, yaitu A²+B² \= C². Kalau kita diharuskan mencari panjangnya garis C, maka kita bisa cari pakai rumus C \= √A²+B²" kata Aish menjelaskan, sementara Mike berusaha mendengarkan meski tak mengerti


"Gue cuma hafal saat pertama gue ketemu sama lo di lapangan, dan gue mau minta maaf karena waktu itu sempat kasar sama lo" kata Mike membuat Aish jengah.


"Lo bisa serius nggak sih? Waktu gue nggak banyak buat ngeladeni becandaan lo doang" kata Aish.


"Gue nggak paham, otak gue nggak nyampek" kata Mike jujur.


"Mike, lo tuh sudah SMA, masak perkalian doang nggak hafal sih?" kata Aish.


"Bodo amat gue sama perkalian" kata Mike santai, membuat Aish semakin geram.


"Ok, tugas lo selama tiga hari ke depan itu hafalkan perkalian ya, sampai perkalian sepuluh. Sambil gue ajari pelan-pelan rumus dasar matematika" kata Aish sambil menuliskan tabel perkalian untuk Mike.


Mike sendiri malah memfokuskan pandangannya pada Ilham yang dengan santainya mengajari Yopi belajar di sampingnya.


"Mike, lo dengerin gue nggak sih?" kata Aish membentak.


"Iya, gue denger bawel. Untung cantik lo, kalau enggak sudah gue beri juga lo" kata Mike.


"Kenapa? Lo mau berantem lagi sama gue? Ayo, gue ladeni! Nggak takut gue sama lo" kata Aish mulai marah.


Mike ternyata lebih menyebalkan daripada Richard dalam mode cemburu. Entahlah, Aish merasa tiba-tiba rindu pada punggawanya yang sangat baik dan pengertian padanya.


Aish diam, memandangi Mike yang masih memperhatikan Ilham dan Yopi.


"Lo kenapa perhatiin mereka? Lo naksir sama Ilham ya?" tanya Aish yang membuat Mike menoleh padanya.


"Nggak apa-apa, ayo belajar lagi" kata Mike.


"Aneh" gumam Aish.

__ADS_1


★★★★★


"Lo tadi balik jam berapa dari sekolah, Ra?" tanya Richard.


"Jam lima sampai dirumah, lo tahu nggak sih, Mike itu susah banget buat ngertiin pelajaran. Bingung gue harus ngajari model gimana. Masak perkalian saja nggak hafal" kata Aish menceritakan kegiatannya hari ini.


Richard memandangi wajah Aish yang seperti tertekan menghadapi Mike. "Kasihan juga dia" gumam Richard dalam hati.


"Lo nggak berduaan doang kan sama tuh anak. Gue nggak suka sama gayanya, songong banget" kata Richard.


"Enggak lah, ada Yopi sama Ilham juga. Gue senang deh sama perubahannya Yopi. Dia sekarang rajin belajar, terus juga pulang sekolah nggak pernah keluyuran kemanapun. Enyak bilang Yopi juga rajin bantu pekerjaan rumah" kata Aish.


"Gue senang juga dengarnya. Tadi dia gue ajakin kesini juga nggak mau, katanya ada perlu sama bang Rian. Memangnya bang Rian itu profesinya apa sih, Ra?" tanya Richard.


"Nggak begitu paham gue sama dunianya bang Rian. Setahu gue dia itu selalu berlawanan sama bang Fian. Kalau bang Fian polisi, berarti dia penjahatnya, hehehe" kata Aish sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


Richard sedikit berfikir, mungkinkan jika Yopi akan mengikuti jejak Rian yang sepertinya memang seorang penjahat?


Semoga saja tidak!


"Terus, hukuman lo sampai Sabtu depan kan? Gue nggak mau lo terus-terusan dekat sama tuh cowok berandalan. Sudah otaknya bego, nyusahin orang lain. Pokoknya Sabtu hari terakhir lo ngajari tuh cowok belagu" kata Richard.


Aish menghela napasnya, sudah bisa diduga jika Richard pasti akan berfikiran yang aneh-aneh.


"Iya, gue usahain Sabtu terkahir gue berurusan sama dia. Gue sendiri juga kurang suka sama sikapnya yang seenaknya sendiri" kata Aish.


★★★★★


"Aduh, kong ... Sakit, ampun kong, ampun" teriak Yopi yang mendapat pitingan keras di lehernya dari engkong.


"Makanya, lo tuh harus konsentrasi. Kalau latihan, pikiran lo jangan kemana-mana" kata engkong yang melepaskan pitingan di leher Yopi.


"Iya, maaf kong" kata Yopi mengusap lehernya.


"Kenapa sih? Lo mikir apaan?" tanya Engkong.


"Gue kangen seseorang, kong" ucap Yopi sendu. Dia sudah sangat nyaman dengan engkong, berbagi cerita dengan pria tua itu sudah sering dia lakukan.


"Siapa?" tanya Engkong.


"Emily, kong. Pacar Yopi, tapi sekarang dia ada diluar negri. Padahal dia lagi hamil anak gue, kong" kata Yopi menunduk. Ujung matanya sudah berembun.


"Yang audah terjadi, ya sudah. Lo jadikan pelajaran hidup, nggak semua hal bakalan berjalan sesuai dengan kemauan lo. Karena ada tuhan yang sudah punya takdir buat semua hambanya" kata engkong menasehati Yopi.


"Iya, kong. Gue cuma pengen tahu, apa dia dan calon anak kami baik-baik saja" kata Yopi.


"Sepertinya lo cukup dekat sama Rian akhir-akhir ini, kenapa nggak lo coba minta tolong saja sama tuh anak buat nyariin pacar lo. Akses Rian sidah mendunia kalau gue lihat-lihat" kata engkong.


Yopi mendongakkan kepala, melihat ke wajah engkong yang ternyata penuh keseriusan. Sedikit senyumnya mengambang, dia sangat ingin tahu kabar Emily.


"Engkong benar, bang Rian pasti bisa bantu gue. Makasih ya, kong" kata Yopi.


Engkong mengangguk, drama percintaan Yopi ini cukup unik. "Sekarang, kita lanjutin latihannya. Fokus, lo punya tujuan yang harus lo lakukan".


Kini Yopi sadar, ada banyak orang tang perduli padanya. Orang yang tak punya hubungan darah, tapi kepeduliannya sangat tinggi. Melebihi orang tuanya sendiri.


Dalam hati, Yopi sudah berjanji untuk menjadi orang yang lebih berguna untuk orang disekitarnya. Dan suatu hari nanti, saat dia sudah punya karir yang bagus, dia akan menjemput Emily.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2