Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
step 2, done


__ADS_3

"Assalamualaikum, selamat pagi semua" kata Aish yang baru sampai di sekolah bersama Willy.


"Waalaikumsalam" jawab orang-orang yang ada di dalam ruangan rapat.


Terlihat semua sudah berkumpul saat ini. Richard, Falen dan papanya, Sekar dan ibunya, Viona, orang tua Seno, dan beberapa donatur lainnya.


Sedangkan dari pihak sekolah, bu Kris selaku guru BP, pembina OSIS, dan pastinya kepala sekolah juga sudah hadir.


Kepala sekolah tidak menyangka jika Aish akan datang bersama Willy, anak dari salah satu donatur terbesar di sekolah ini.


Sedikit terkejut juga karena pasti karirnya akan terancam kali ini.


"Baiklah, sekarang bisa kita mulai rapat pagi ini" kata Bu Kris mengawali acara.


"Mohon maaf karena kami mengganggu waktu bapak-bapak yang pasti sangat sibuk. Karena memang yang akan kita bahas cukup penting".


"Beberapa waktu yang lalu, pak Winata selaku kepala sekolah telah membuat sebuah keputusan untuk mengeluarkan Aishyah Khumaira dari sekolah ini karena permasalahan yang ada".


"Aishyah adalah salah satu siswi berprestasi disekolah ini, karena prestasinya dia mendapatkan beasiswa penuh sesuai prosedur yang telah sekolah ini lakukan sejak dahulu".


"Lantas kenapa Aish dikeluarkan?" tanya papa Falen yang terkejut, karena setahunya Aish adalah anak yang baik.


"Maaf pak, ada yang menyebarkan foto Aish dalam posisi yang cukup intim. Salah satunya dengan dokter Siras, anak bapak. Dan juga Richard, adik dari pak Willy. Ada juga yang bersama Brian" kata bu Kris.


"Nggak masuk akal, saya kenal baik dengan Aishyah. Itu semua tidak mungkin, kenapa tidak dicari dulu kepastiannya? Kenapa bisa langsung main dikeluarkan saja?" kata papa Falen geram.


"Ya, saya juga sependapat dengan anda, pak. Anak saya jadi uring-uringan semenjak Aish dikeluarkan dari sekolah ini" kata papi Seno.


Aish tersenyum, menggelengkan kepala mendengar penuturan papi Seno. Memang Seno yang paling childish diantara yang lainnya.


"Maaf bapak-bapak, perbuatan Aishyah ini tidak bisa dibenarkan. Kalau dibiarkan bisa mencoreng nama baik sekolah kita" kata pak Winata sedikit gugup. Dia tidak menyangka jika Aish akan dibela oleh orang-orang sepenting mereka.


"Sudah ketemu pelakunya?" tanya papi Seno.


"Sudah pak. Kedua siswi ini adalah pelakunya" jawab bu Kris menunjuk Sekar dan Viona.


"Benar itu nak?" tanya ibu Sekar terkejut.


Sekar hanya bisa menunduk takut


"Apa ada bukti kalau anak saya yang melakukan itu semua?" tanya ibu Sekar.


"Ada bu, seseorang berhasil memvideokan percakapan mereka" kata Bu Kris.


"Sebentar saya putarkan" kata Bu Kris memutar video kemarin.


Semua yang ada diruangan itu menyimak dengan seksama percakapan Sekar dan Viona mengenai foto Aish yang telah mereka sebarkan.


Terlihat Willy dan papa Falen tersenyum sambil menggelengkan kepalanya karena alasan yang kedua gadis itu utarakan.


"Jadi, kamu naksir sama adik saya yang berandalan ini ya?" tanya Willy merasa geli.


"Banyak juga fans kamu ya, Richard" canda Willy yang membuat Richard membuang muka, dan orang-orang disana tersenyum.


"Kamu tahu kan kalau Aishyah itu pacaran sama Richard? Dan saya sudah setuju loh" kata Willy yang membuat Viona sangat malu, sementara pipi Aish sudah bersemu merah. Richard menatap Aish tanpa malu.


"Lantas apa penjelasan yang akan bapak Winata katakan untuk kelakuan adik Viona ini? Dari video itu, kita semua jadi tahu kalau dia ini anak bapak" kata papa Falen.


Pak Winata bingung, matanya berulang kali mengerjap. Dan gerakan tubuhnya seolah tak terkontrol karena merasa grogi.

__ADS_1


"Maaf bapak-bapak semua, memang Viona ini adalah anak saya. Tapi saat dia meminta kunci duplikat ruang OSIS kepada saya waktu itu menggunakan alasan jika ruang OSIS tidak bisa dibuka. Makanya saya memberikan kuncinya dengan mudah kepadanya".


"Lagian juga dia kan anak saya, jadi saya pikir kalau dia tidak akan menyalahgunakan kepercayaan dari saya" kata pak Winata menjelaskannya.


"Kamu sendiri bagaimana, Viona? Apa ada yang mau kamu sampaikan untuk membela diri?" tanya Bu Kris.


"Maafkan saya bu" hanya itu kata yang berhasil keluar dari mulut Viona yang sudah sangat ketakutan.


"Jadi, bagaimana nasib Aish sekarang? Apa masih bisa melanjutkan sekolahnya disini?" tanya Willy.


"Bagaimana mungkin saya mencabut keputusan yang sudah diambil, pak?" tanya Pak Winata.


"Tapi dia tidak bersalah lho pak. Dia cuma sebagai korban. Seharusnya kan anak bapak sendiri yang semestinya dikeluarkan dari sekolah ini karena dengan sengaja sudah memfitnah orang lain" kata Willy.


"Tapi pak---" belum selesai pak Winata bicara, Aish sudah memotongnya.


"Bapak kepala sekolah tidak usah khawatir. Saya sadar diri kok. Mendengar penuturan dari bapak sejak tadi, bisa disimpulkan kalau bapak keberatan mencabut keputusan yang sudah bapak ambil".


"Jadi, saya tidak akan pernah mengemis untuk bisa kembali sekolah disini. Saya akan melanjutkan sekolah saya ditempat lainnya" kata Aish.


"Jangan dong, princess. Seharusnya lo tetap sekolah disini, dan seharusnya yang di DO itu ya Viona dan Sekar dong. Kan mereka terbukti bersalah" kata Falen membela Aish.


Sekar dan Viona semakin gemetaran, bahkan ibu Sekar sudah menitikkan air mata.


"Kalau keputusannya sudah seperti itu, pihak sekolah tidak berhak lagi meminta Aishyah untuk kembali belajar disini" kata Richard yang menyadari jika Aish sudah tidak nyaman dengan keadaan sekolah.


"Tapi kan dia nggak salah, Richard" kata Falen yang masih keukeh membela Aish.


"Kalau kamu meminta keadilan, suruh kepala sekolah untuk mengeluarkan Viona dan Sekar. Berani atau tidak dia?" kata Richard.


"Jadi, setelah bapak tahu jika Viona sebagai anak bapak sudah menyalahgunakan kepercayaan bapak sendiri, bagaimana keputusan bapak?" tanya Willy.


"Ehm, itu bisa saya pikirkan nanti" kata pak Winata.


Viona sudah ketakutan, bagaimana kalau sampai dia dikeluarkan dari sekolah? Keringat dingin terus bercucuran, dia sudah gemetaran.


"Kalau korbannya saja dikeluarkan dari sekolah, maka pelaku juga harus mengalami nasib yang sama dong" kata papa Falen.


"Iya, benar itu" kata yang lainnya memberi usul.


"Tapi, tapi itu tidak mungkin pak" kata pak Winata gugup. Bagaimana bisa mengeluarkan anaknya sendiri dari sekolah?


"Kenapa tidak bisa? Mengeluarkan siswi berprestasi saja bapak bisa, kenapa mengeluarkan siswi pembuat ulah bapak tidak bisa?" kata yang lainnya.


"Kalau begitu, ganti saja dengan kepala sekolah yang baru. Memalukan".


Pak Winata semakin tersudut, sedikit saja salah langkah. Maka jabatannya menjadi taruhan.


Dia berpikir keras, bagaimanapun Viona adalah putrinya. Tapi sebagai seorang siswi dia juga bersalah. Dia bimbang.


Lama dalam keadaan tertekan, banyak yang mengusulkan agar jabatannya sebagai kepala sekolah dilengserkan.


"Kami memberikan dua pilihan untuk bapak, pertama, keluarkan Viona dan Sekar maka jabatan bapak aman. Atau pilihan kedua, biarkan mereka tetap sekolah disini tapi jabatan bapak yang akan kami lengserkan" kata seorang donatur mewakili keputusan yang telah disepakati.


Sekar dan Viona sudah menangis, kini nasibnya sudah diujung tanduk. Sungguh masalah hati bisa serumit ini.


Lama dalam kebimbangan, akhirnya pak Winata harus bisa mengambil keputusannya.


"Bagaimana, pak?" desak para donatur.

__ADS_1


"Baiklah, Viona dan Sekar memang harus dikeluarkan juga dari sekolah ini. Terlepas dari salah satu diantara mereka adalah putri saya sendiri, tapi setiap perbuatan harus dipertanggungjawabkan" kata pak Winata yang akhirnya memberi sebuah keputusan.


Dia lupa, jika sudah dikeluarkan dari sekolah ini secara tidak hormat, maka akan sulit untuk mendapatkan sekolah baru dengan mudah.


"Sudahlah nak, jangan menangis lagi. Memang salah kamu sudah merugikan orang lain" kata ibu Sekar menenangkan anaknya yang terus menangis.


Nasibnya sangat sial, sekali saja mendengarkan hasutan orang lain, malah imbasnya sangat besar untuk masa depannya.


Sekar yang malang.


★★★★★


"Ren, gue sudah nggak tahan. Pengen cepat keluar dari sini" kata Yopi yang sudah bisa duduk dan sedikit berjalan.


"Nanti kita tanyakan dokternya, ya" kata Reno tanpa memperdulikan Yopi, dia sedang asyik dengan game di hapenya.


"Lo dengerin gue nggak sih? Gue lagi ngobrol sama lo" kata Yopi sedikit merajuk.


"Tuh kan, kalah deh gue. Lo sih ganggu melulu, ada apaan sih?" tanya Reno yang akhirnya mau meletakkan hapenya.


"Gue pengen keluar dari rumah sakit, tapi gue juga bingung mau kemana kalau sudah keluar nanti. Gue kan diusir dari rumah" kata Yopi.


"Benar juga ya, lo sekarang jadi gembel ya" kata Reno yang tak pernah memfilter omongannya.


"Iya, gue gembel elit" kata Yopi.


"Mana ada, gembel elit itu meskipun gembel tapi banyak duit. Lah lo, atm lo saja sudah diblokir sama bokap lo, hahahaha" kata Reno menertawakan nasib Yopi.


"Iya nih, mana gue lagi sakit gini, nggak punya duit. Malang banget nasib gue" kata Yopi bersedih.


"Loh, kenapa muka lo sedih gitu, Yop?" tanya Aish yang datang bersama Richard. Mereka membawa banyak makanan ringan di dalam kantong kresek putih bergambar lebah warna merah.


"Yopi sedih gara-gara sudah jadi gembel" kata Reno yang mendapat jitakan di kepalanya.


"Lo suka banget sih jitak kepala gue, Ri? Nanti kalau kepala gue cidera dan harus dioperasi kayak Yopi, lo mau tanggung jawab?" kata Reno sambil memegangi kepalanya.


"Makanya punya mulut itu dijaga" kata Richard.


"Memangnya kenapa sih, Yop?" tanya Aish.


"Gue nggak betah dirumah sakit, tapi kalau gue sudah boleh keluar dari sini, gue harus kemana?" tanya Yopi.


"Ke rumah gue juga boleh" kata Richard.


"Enggak, gue malu sama orang tua lo" kata Yopi.


"Ehm, ke rumah gue juga nggak apa-apa. Selama masih belum ada tempat, dirumah gue ada kamar kosong kok" kata Aish.


"Nanti kalian digerebek sama warga kampung, Sya. Terus kita dipaksa nikah, nanti Richard bunuh diri dong" celetuk Reno.


"Gue coba obrolin sama engkong dulu deh, siapa tahu dibolehin sama engkong" kata Aish.


"Nanti gue bantu bicara sama engkong ya" kata Richard.


"Iya" kata Aish tersenyum.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2