Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
tinggal sama engkong


__ADS_3

"Hebat kamu ya, Yopi. Luka bekas operasinya sudah sangat membaik. Keadaan kamu juga sudah stabil. Tinggal menghabiskan sisa obat dan kontrol rutin, pasti kamu akan segera pulih" kata Dokter setelah memeriksa Yopi sore ini.


"Jadi, saya sudah boleh pulang dok?" tanya Yopi senang.


"Besok juga sudah boleh pulang kalau kamu memang sudah tidak betah" kata dokter.


"Terimakasih, dok" kata Yopi dengan senyum yang mengembang.


"Baiklah, saya permisi ya" kata dokter.


"Lo denger kan, Ren. Gue sudah boleh pulang" kata Yopi setelah kepergian dokternya.


"Iya, gue denger. Gue nggak budek, bego. Tapi yang jadi masalahnya sekarang, lo mau pulang kemana?" tanya Reno dengan fokus pada pertarungan di hapenya.


Yopi jadi sedih, dia kan sudah tidak punya rumah sebagai tempat berteduh.


"Richard kemana sih, bukannya dia mau cariin gue rumah, ya" kata Yopi.


"Pacaran kali" kata Reno tetap asyik dengan hapenya. Tak sadar juga kalau temannya sedang sedih.


Satu jam berlalu, Richard datang dengan senyum yang masih tersisa. Sesekali bahkan sambil menggelengkan kepalanya.


Tanpa permisi dia langsung duduk disamping Reno.


"Lo sudah nggak waras ya, ngeri gue dekat-dekat sama lo" kata Reno seolah berusaha menghindari Richard.


"Lo mana tahu rasanya hati berbunga-bunga, boncel. Pacar lo kan Layla" kata Richard yang mendengar bunyi 'You have slain an enemy' dari hape Reno.


Reno melirik tajam pada Richard sebelum membalas untuk mengoloknya.


"Apa? Lo mau berantem sama gue?" kata Richard yang mendapat lirikan tajam dari Reno.


"Nanti ya, kalau gue punya cewek yang cantiknya melebihi cewek lo, jangan naksir sama cewek gue, apalagi berusaha merebutnya dari gue" kata Reno yang membuat kedua temannya tertawa keras.


"Siapa yang mau pacaran sama lo? Ada tuh Bu Kris yang perhatian banget sama lo, pacarin gih" kata Yopi masih dengan sisa tawanya.


"Sialan memang kalian berdua, anak tidak tahu diuntung. Pantas saja lo diusir dari rumah lo" kata Reno tanpa memperdulikan perasaan Yopi


Richard lagi-lagi menjitak kepala Reno.


"Lo kenapa hobi banget jitak kepala orang?" tanya Reno tanpa berani membalasnya.


Richard hanya menggerakkan kepalanya, memberi isyarat pada Reno untuk melihat Yopi yang menunduk karena ucapannya.


"Yaelah, bercanda gue Yop. Lo sensitif banget sih kayak cewek lagi PMS aja" kata Reno cuek.


"Oh iya, Ri. Lo bilang mau cariin gue rumah sementara?" tanya Yopi.


"Iya, gue sama Aishyah tadi sudah diskusiin masalah ini sama engkongnya Aishyah. Awalnya Aish ngotot biar lo dirawatnya dirumah Aishyah, tapi engkongnya ngelarang".


"Katanya takut ada omongan nggak benar dari tetangga sekitarnya, mereka kan tinggal di perkampungan. Jadi keputusannya, lo tinggal sama engkongnya Aishyah" kata Richard.


"Gue kan nggak kenal mereka, Ri. Malu lah gue. Mending cari kontrakan saja deh, nanti kalau gue sudah ada duit biar gue gantiin" kata Yopi.


"Gue pikir sih mending lo dirumahnya si engkong saja, Yop. Daripada lo nggak ada yang ngurusin. Bikin mie instan saja lo nggak bisa, terus mau makan apa kalau lagi nggak ada duit?" kata Reno.

__ADS_1


"Gue pikir juga gitu sih. Mereka orang-orang baik, kitanya saja dari dulu yang nggak mau berbaur dengan orang seperti mereka. Dari dulu


kita terlalu memandang rendah orang lain" kata Richard.


"Iya, lo sekarang jadi bijaksana banget, Ri. Salut gue sama Aishyah yang bisa merubah batu kayak lo jadi spons cuci piring yang lembut" kata Reno.


"Lembut dan berbusa" tambah Yopi terkekeh.


"Gue serius, Ren. Mereka orang-orang yang baik, gue jamin Yopi pasti betah tinggal sama mereka" kata Richard.


"Kalau gue tinggal sama mereka, nanti anaknya apa nggak keberatan, Ri?" tanya Yopi.


"Anaknya sudah tinggal dirumahnya sendiri, jadi mereka cuma berdua doang dirumahnya" kata Richard.


"Boleh deh, Ri. Nanti kalau gue sudah dapat kerjaan, gue bakalan pindah" kata Yopi.


"Lo nggak mau sekolah? Mana ada kerjaan buat tamatan SMP doang" kata Reno.


"Itu bisa kita pikirin lagi nanti, yang penting lo sehat dulu. Baru pikirin lainnya" kata Richard.


★★★★★


"Selamat datang, Yopi. Tadi gue sudah siapin kamar buat lo disini. Ya meskipun sederhana, gue harap lo betah ya tinggal sama engkong" kata Aish menyambut kedatangan Yopi siang ini, Yopi sudah boleh keluar dari rumah sakit.


Jauh dari prediksi dokter yang mengharuskan Yopi dirawat paling tidak satu minggu setelah operasi, nyatanya dia sudah boleh pulang hanya dalam 4 hari.


"Ini yang namanya Yopi, ya?" tanya enyak.


"Iya, nek, eh bu" kata Yopi bingung untuk menyebut enyak bagaimana.


"Iya, nyak. Saya yang seharusnya berterimakasih karena enyak sudah mau menampung saya" kata Yopi.


"Lo nyantai saja sama gue. Gue senang ada lo, jadinya nggak sepi rumah gue" kata enyak.


"Ayo, gue anter ke kamar lo. Lo masih harus banyak istirahat kan" kata enyak yang masih melihat perban menempel di luka bekas operasi Yopi.


"Iya nyak, terimaksih" kata Yopi melangkah mengikuti enyak yang sudah jalan duluan.


Richard, Reno dan Aish mengikuti dari belakang.


"Lo tiduran saja dulu, kita pergi ya. Biar lo bisa istirahat" kata enyak.


Mereka semua pergi, meninggalkan Yopi sendirian di kamar sederhana itu.


Yopi menelisik isi kamar barunya, luasnya tidak lebih dari separuh kamarnya yang dulu. Tidak ada kamar mandi di dalamnya, hanya ranjang dengan kasur busa dan lemari. Meja kecil diisi dengan vas yang ada bunga plastiknya.


"Kamar yang bersih, semoga saja gue betah tinggal disini" gumam Yopi.


★★★★★


"Pemandangannya bagus ya" kata Aish melihat ke sekelilingnya.


Berada diatas balkon berdua dengan Richard, menikmati sore berdua saja. Tadi Aish diajak Richard ke rooftop ini lagi setelah pulang sekolah.


Richard berdiri disamping Aish, memandang kota dari atas memang menyenangkan.

__ADS_1


"Kok lo bisa dapat akses keluar masuk cafe ini sih?" tanya Aish.


"Gue punya andil yang cukup besar lah di cafe ini. Beberapa bulan yang lalu cafe ini sudah mau bangkrut karena pemiliknya terlilit hutang. Teman gue nyaranin buat nanam modal disini, jadi modal dari gue bisa dipakai untuk bayar hutang dan juga mengembangkan cafe ini sampai ramai lagi kayak sekarang" kata Richard.


"Oh... gitu?" kata Aish. Pikirannya masih terlalu cetek untuk urusan bisnis semacam ini.


Aish tidak menyangka jika Richard sudah sedewasa ini memikirkan peluang bisnis di usia sekolah. Bahkan cowok yang sering keluar masuk ruang BP ini jadi terlihat dewasa jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda.


"Lo tahu apa yang jadi alasan gue ikut dalam bisnis semacam ini?" tanya Richard.


Aish hanya menggeleng, dia menatap Richard dengan serius. Seperti seorang murid yang diberi penjelasan dari gurunya.


"Awal gue tahu lo, waktu itu gue nggak sengaja hampir nabrak lo kan? Terus lo ngomel-ngomel sama gue. Dan entah kenapa, omelan lo tuh nancep ke dalam hati dan pikiran gue" kata Richard mengingat kejadian itu.


"Oh, yang waktu itu ya. Gue ingat lo yang hampir nabrak gue, tapi tentang omelannya gue lupa. Mungkin karena keseringan ngomel jadinya gue lupa, hehe" kata Aish.


Richard tersenyum, melihat Aish tertawa membuatnya sangat bahagia.


"Lo bilang kalau hidup gue tuh miskin akhlak dan etika. Entah kenapa omongan lo waktu itu selalu gue ingat".


"Jadi, sejak saat itu gue putusin buat jadi lebih baik. Dan tak lama sejak kejadian itu, ada teman gue yang cerita tentang cafe ini sama gue. Akhirnya, ya gue iseng saja nyoba peruntungan disini, dan berita baiknya, lo bisa lihat sendiri gimana keadaan cafe ini sekarang" kata Richard.


"Gue rasa, dengan gue bantu keuangan disini, sudah bisa membantu banyak karyawan yang setia, mereka butuh pekerjaan buat keluarga mereka" kata Richard lagi.


"Kalau begini, lo seperti bukan anak SMA" kata Aish.


"Maksud lo?" tanya Richard bingung.


"Gue serasa dengar pak ustadz lagi ceramah" kata Aish menggoda Richard.


"Sialan" kata Richard sambil tertawa.


"Kalau lo mau, lo boleh kerja disini. Jadi waitress lebih baik menurut gue daripada lo harus jadi security. Jadi security itu resikonya besar" kata Richard.


"Tapi, kalau lo mau, lo juga bisa langsung jadi bos besarnya" kata Richard.


Sebenarnya Richard sudah mengatasnamakan segala surat kepemilikan cafe ini atas namanya sendiri. Dia optimis jika cafe ini akan bertahan, jadi dia secara full membeli cafe ini.


Kelebihan uang jajan yang orang tuanya berikan sudah bisa dirupakan sebuah tempat usaha.


"Benar nih gue bisa kerja disini?" tanya Aish.


"Boleh dong, apa sih yang enggak buat My Khumaira" kata Richard.


"Gombal. Tapi gue serius loh kalau memang disini lagi butuh pegawai" kata Aish.


"Iya, boleh. Nanti gue obrolin sama pengurus cafe ini ya" kata Richard.


Aish mengangguk, dia tersenyum senang.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2