Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
Salah Sekar dimana?


__ADS_3

"Hai, gue ganggu kalian ya?" tanya Sekar yang baru datang.


"Enggak kok, sini gabung sama kita" kata Aish ramah.


"Makasih Aish" kata Sekar yang ikut bergabung dengan mereka, dia memilih duduk disamping Falen, berhadapan dengan Aishyah.


"Lo ngapain sih?" tanya Falen, sedangkan Seno dan Hendra mendadak diam saat Sekar datang.


"Falen, lo nggak boleh gitu dong" kata Aish tak tega melihat wajah Sekar yang sedih.


"Gue ganggu ya?" tanya Sekar.


"Syukur deh kalau ngerasa" kata Falen lagi.


"Falen apaan sih, enggak kok Sekar. Lo nggak ganggu sama sekali, cuma kita heran saja, nggak biasanya kan lo ikut gabung sama kita" kata Aish.


"Ya nggak ada apa-apa sih, ini kue buat kalian, terutama buat lo Falen. Gue buat sendiri loh kuenya, kalian cobain ya" kata Sekar.


"Uwah, terimakasih ya Sekar" kata Aish menerima kotak kue pemberian Sekar.


"Lo repot-repot segala bikinin kita kue?" tanya Seno.


"Ya nggak apa-apa sih, cuma semenjak gue temuin kalian di gudang sekolah waktu itu, gue ngerasa ada yang salah sama gue. Kayak ada perasaan nggak nyaman, perasaan seolah gue pernah berbuat salah sama kalian" kata Sekar.


"Perasaan lo aja kali" kata Hendra.


"Tapi rasanya gue tahu persis kalau kalian ada disana. Sebenarnya sebelum gue dengar teriakan kalian waktu itu, hati kecil gue bilang kalau kalian ada disana. Pas gue samperin ke gudang pagi itu, ternyata benar. Gue sempat lihat lewat jendela, lo lagi tenangin Aish yang nangis" kata Sekar.


"Terus?" tanya Falen.


"Gue ngerasa aneh, akhirnya gue ke tempat pak bon buat minta tolong bukain pintunya" kata Sekar.


"Bisa kebetulan gitu ya?" tanya Falen sinis, pria itu masih tidak suka pada Sekar, tapi ada getaran dalam hatinya setiap kali melihat Sekar. Seperti rasa rindu pada seseorang yang sudah sangat lama tidak pernah bertemu, tentunya harus dia tutupi dengan sikap dinginnya yang seolah tak menginginkan kedatangan Sekar.


"Gue juga nggak tahu, oh iya Aish. Teman-teman bilang, lo sempat sakit karena nolongin Richard ya?" tanya Sekar mengalihkan pembicaraan, sebenarnya dia masih ingin dekat dengan Falen.


"Kok lo bisa tahu?" tanya Aish.


"Gue juga anak PMR, lo lupa ya?" tanya Sekar.


"Oh iya, gue lupa. Kita nggak pernah jaga bareng sih" kata Aish.

__ADS_1


"Iya, jadwal kita beda. Jadi, gimana keadaan Richard sekarang?" tanya Sekar.


"Kemarin waktu dia ke ruangan gue, dia masih lemas gitu. Lo tahu nggak kenapa dia bisa kecelakaan?" tanya Aish.


"Teman sekelasnya bilang sih dia suka ikut balap liar gitu, padahal kan waktu itu malam Natal ya. Seharusnya dia sama keluarganya, tapi dia malah turun ke sirkuit" kata Sekar.


"Memangnya dia ngerayain Natal ya?" tanya Aish.


"Ya seharusnya dong Aish, kan dia Kristen. Tapi keluarga dia sibuk semua, gitu sih yang gue denger" kata Sekar.


"Lo sumber informasi banget sih" sindir Hendra, Sekar menunduk, merasa tidak nyaman.


"Sudah, jangan lo masukin hati. Si Mahendra ini memang mulutnya pedes banget" kata Aish.


"Makasih ya kuenya Sekar, nanti di jam istirahat kedua pasti kita cobain. Sekarang kita mau beresin tempat ini, sudah mau bel soalnya" kata Aish.


"Iya, yasudah kalau gitu. Gue balik ke kelas duluan ya. Dah semua" kata Sekar.


"Dah Sekar" hanya Aish yang menjawabnya.


"Kalian kenapa sih ketus banget sama Sekar?" tanya Aish pada ketiga temannya.


"Gue masih belum bisa terima perbuatan dia sama kita dulu" kata Hendra.


"Tapi kan dia memang seperti nggak tau apa-apa deh. Yasudah maafin saja kenapa sih" kata Aish.


"Lihat nanti deh, stok maaf gue kayaknya menipis" kata Hendra.


"Gue juga sama" kata Seno sambil merapikan tempat mereka.


"Ish, kalian ini ya. Pendendam banget sih, nggak baik tau" kata Aish.


"Lo juga kenapa jadi diem banget bule?" tanya Aish pada Falen.


"Khawatir banget lo sama gue" kata Falen.


"Hadeh, bodo lah" kata Aish, kadang cowok lebih susah memaafkan daripada cewek yang pada dasarnya gampang luluh.


Semenjak kejadian hilangnya empat sekawan beberapa bulan yang lalu, Sekar merasa bahwa dia berkaitan dengan mereka.


Dia merasa ada satu urusan yang belum selesai dengan mereka. Tapi dia bingung, rasa itu seperti saat kau bangun tidur dan kau bermimpi dalam tidurmu.

__ADS_1


Tapi kau lupa dengan isi dalam mimpimu, tapi tidak lupa dengan wajah-wajah yang hadir di dalamnya. Seperti kepingan puzzle dalam ingatan.


Sekar merasa bahwa dia harus mendapatkan maaf dari mereka, tapi dia juga bingung, karena dia yakin bahwa dia tidak pernah ada urusan dengan mereka sebelumnya.


Hal itu membuatnya merasa semakin tidak nyaman saat bertemu dengan mereka. Tapi lain halnya engan Falen, cowok bule itu seperti magnet yang sangat menarik bari Sekar.


Baginya, Falen seperti antalgin yang bisa menenangkan rasa sakitnya. Entah sakit karena apa yang membuat hatinya ngilu saat melihat Falen yang selalu merangkul Aish saat berjalan bersama.


Oh Falen, kenapa Sekar jadi begitu?


******


Dokter Siras memandangi pintu masuk, entah apa yang dia tunggu. Tapi dia selalu kecewa saat yang datang tidak sesuai harapan.


"Kenapa saya menunggunya ya? Rasanya ada yang kurang sebelum melihat gadis itu" batin Siras menerawang jauh, berandai-andai apa yang sedang Aishyah lakukan.


"Seandainya kemarin tidak ada operasi mendadak, pasti saya masih bisa bertemu dengannya. Seharusnya saya tidak memperbolehkan suster untuk menyuruh Aishyah pulang. Saya bisa memeriksanya sendiri setelah operasi selesai. Ah, sudahlah. Buat apa juga memikirkan gadis nakal itu" batin Siras masih bergemuruh.


Ponselnya berdering, panggilan masuk dari Sofia. Wanita itu masih saja berusaha menghubungi Siras. Berkali-kali melakukan panggilan dan juga mengirim pesan, tapi sama sekali tidak pernah digubrisnya.


Bagi Siras, sesuatu yang sudah putus, tidak mungkin bisa kembali seperti semula. Jika status pertemanan tidak mau diterima Sofia, maka menjauhinya adalah hal yang terbaik.


"Kamu sendirian saja Hendra?" tanya Siras melihat kedatangan Hendra di ruang UGD


"Iya dokter, Aishyah masih diberi waktu untuk istirahat sampai hari Minggu, Senin depan baru boleh bertugas lagi" kata Hendra.


"Oh begitu ya" kata Siras sedikit kecewa. "Waktu istirahat yang cukup lama" batin Siras menanggapi.


"Dokter perhatian sekali sama Aish" kata Hendra datar, tapi sedikit membuat Siras jadi salah tingkah.


"Tentu saja, dia kan pasien saya kemarin" kata Siras.


"Oh iya dokter, keadaan Richard bagaimana?" tanya Hendra.


"Dia sudah membaik, dan kondisinya juga sudah stabil. Mungkin secepatnya bisa pulang juga"Kata Siras.


"Baguslah kalau begitu, saya permisi mau ke nurse corner ya dok. Laporan harian untuk ekskul saya masih sangat berantakan. Harus segera saya selesaikan daripada menumpuk"" kata Hendra.


"Oh iya, silahkan" kata Siras. Dia cukup kecewa karena harus menunggu cukup lama agar bisa bertemu lagi dengan Aishyah.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2