Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
bangkit


__ADS_3

Aish mengerjapkan matanya, rasa lelah kembali datang menghampiri. Kepalanya terasa pusing, seolah matanya tak bisa terbuka. Kelopak matanya bengkak karena terlalu banyak menangis.


"Aduh, pusing banget" katanya lirih, saat mendapati ada kain basah di dahinya, Aish berusaha duduk setelah mengambil kain itu dari dahinya.


Sekuat tenaga dia membuka mata, hal pertama yang membuatnya bisa sedikit tersenyum saat mendapati Richard yang tertidur di meja belajarnya.


Seketika dia tersadar, dia melihat tubuhnya yang tertutup selimut. Ternyata bajunya sudah ganti, bahkan dia tidak memakai hijabnya. Mulutnya membola, terkejut karena seingatnya tadi dia kehujanan dan tertidur di pelukan Richard.


"Tidak mungkinlah kalau Richard yang gantiin baju gue" kata Aish lirih sambil berpikir.


Dia mengamati wajah damai Richard yang tertidur. "Sebenarnya lo itu ganteng ya? Ganteng banget malah, tapi kelakuan lo yang suka keluar masuk ruang BP yang bikin image lo buruk" kata Aish dalam hati, yang sedang duduk dan mengamati wajah kekasihnya.


Aish membiarkan rambut panjangnya terurai, masih terasa sisa air hujan yang membuat rambutnya basah. Dia kembali merasa sangat sedih saat mendapati bahwa kematian kakak dan bundanya dalam hari yang sama. Dan itu semua bukanlah mimpi, tapi sebuah kenyataan pahit yang membuatnya menjadi sebatang kara.


Ayahnya berasal dari Jawa Timur, selama ayahnya masih hidup, seingatnya hanya satu kali dia bisa merasakan mudik dan bertemu keluarga besar ayahnya. Saat dia masih SD.


Sedangkan bundanya yang asli ibu kota adalah anak tunggal, dulu bunda diwarisi sejumlah harta yang digunakan sebagai modal usaha keluarga, tapi mendadak bangkrut dan membuat Aish tinggal ditempat yang kini menjadi rumahnya bersama bunda, karena ayahnya meninggal tak lama setelah mereka pindah.


Kini dia merasa sendiri, bagaiman nasibnya nanti? Semua itu terasa sulit jika harus dipikirkan, Aish akan mencoba melanjutkan hidupnya dengan baik. Dia tidak ingin bundanya kecewa jika melihatnya putus asa.


Melihat ke arah jam dinding, rupanya sudah menjelang sore. Aish tertidur cukup lama. Dia harus segera solat dhuhur sebelum waktunya habis.


Kembali Aish menatap wajah Richard, ternyata dia yang sudah merawatnya. Sebenarnya kepalanya masih terasa sangat pusing. Pasti nanti dia akan masuk angin.


Mata Richard tiba-tiba terbuka saat Aish sedang menatap wajah itu dalam-dalam. Sontak Aish memalingkan pandangan dan merasa sangat malu.


"Lo sudah bangun ya?" tanya Richard tersenyum, sebenarnya dia sudah bangun dari tadi saat Aish mengamati badannya yang tertutup selimut. Kelakuan Aish membuat Richard tak tahan untuk tertawa, tapi sebisa mungkin dia berpura-pura tetap tertidur.


"Kenapa tidur disitu?" tanya Aish.


"Gue nggak tega ninggalin lo sendiri, apalagi tadi gue lihat lo demam" kata Richard sambil meregangkan otot-ototnya. Dia merasa cukup sakit karena tidur sambil duduk.


"Bukan lo yang gantiin baju gue kan?" tanya Aish dengan rona merah diwajahnya, sebenarnya dia malu harus menanyakan hal itu pada Richard.


"Siapa lagi?" tanya Richard semakin menggoda Aish.


"Jadi beneran lo?" tanya Aish sedikit keras.


"Nggak usah ngegas, bukan gue kok. Siapa itu tadi, enyak ya? iya, enyak yang gantiin baju lo. Lo nggak usah panik" kata Richard.


Aish bisa sedikit bernapas lega. Diapun berdiri untuk pergi ke kamar mandi. Dia harus segera menunaikan kewajibannya.


"Aduh, pusing banget" keluh Aish yang mendapati segala sesuatu berputar-putar saat dia berusaha bangkit.


"Lo mau kemana sih? Badan lo masih demam" kata Richard yang sigap membopong badan Aish.


"Gue mau ke kamar mandi" jawab Aish.


"Biar gue bantu" kata Richard yang malah menggendong Aish.


"Eh, lo ngapain sih? Nggak usah digendong juga Richard. Biar gue jalan sendiri" Aish berusaha memberontak dalam gendongan Richard.


"Sudah, lo diem aja. Kalau jatuh, lo bisa tambah pusing" kata Richard yang membuat Aish berpegangan pada lehernya.


Richard menurunkan Aish didepan kamar mandi, membiarkan Aish masuk sementara dia tetap berdiri didepan kamar mandi untuk menunggu Aish selesai.

__ADS_1


Terdengar suara gemericik air dari dalam, rupanya Aish sedang mandi. Tak butuh waktu lama untuknya menyelesaikan kegiatan di kamar mandi. Saat Aish membuka pintu dan akan berjalan, dia terkejut karena Richard masih disana.


"Gue pikir lo sudah pergi" kata Aish.


"Gue gendong lagi ya" kata Richard.


"Jangan, nggak usah. Nanti wudhu gue batal lagi. Gue mau solat dhuhur dulu ya, lo bisa tinggalin gue sendiri nggak apa-apa kok" kata Aish.


"Lo mau solat dimana?" tanya Richard.


"Disitu" Aish menunjuk mushola kecil di samping kamar bunda, tepat sebelum memasuki dapur.


"Oh, ok" kata Richard membiarkan Aish berjalan didepannya.


"Gue ke depan ya" kata Richard setelah memastikan Aish masuk ke mushola itu.


★★★★★


Dua minggu berlalu, Aish sudah merasa lebih baik sekarang. Meski saat malam datang, dia masih selalu menangisi kepergian bundanya.


Hari ini adalah pengambilan raport, Aish datang sendiri ke sekolahnya. Dia tidak tahu harus meminta tolong pada siapa untuk mengambilkan laporan hasil belajarnya itu.


Seperti biasa, Richard selalu menjemputnya. Kali ini dia berpakaian santai, padahal pihak sekolah menghimbau para muridnya untuk tetap memakai seragam. Tapi bukan Richard namanya kalau selalu patuh pada peraturan.


"Lo kok pakai seragam sih?" tanya Richard saat melihat Aish keluar dari rumahnya.


"Memangnya kenapa?" tanya Aish.


"Cg, lo ambil jaket saja deh kalau gitu. Cepetan gue tungguin" kata Richard.


"Iya, iya" kata Aish membuka kembali pintu rumahnya yang telah dikunci.


Aish datang agak terlambat, jalanan cukup macet saat dia berangkat tadi. Untung saja acara pengambilan raport masih baru akan dimulai saat dia sampai disekolah.


"Aish, sayang. Biar mommy yang ambilin raport kamu sama punya Seno nanti ya. Kamu tenang saja, Seno sudah nungguin kamu daritadi loh. Katanya dia lagi ada di taman dekat perpustakaan" kata mommy Seno yang memeluk Aish saat melihatnya datang.


"Iya, makasih ya mom. Kalau gitu, biar Aish samperin teman-teman di taman deh" kata Aish tersenyum karena mommy Seno sudah sangat baik padanya.


"Iya sayang, kamu have fun saja sama teman-teman kamu ya" kata mommy.


Aish menuju taman, dia tidak sabar untuk bertemu teman-temannya. Tadi dia berpisah dengan Richard karena harus ke kelasnya sendiri. Aish tidak tahu apakah orang tua Richard yang akan mengambilkan raportnya.


"Hai teman-teman" sapa Aish ceria.


"Princess, lo lama banget sih? Masih pacaran dulu pasti ini mah" kata Seno.


"Enggak kok, tadi agak macet. Kesiangan berangkatnya" kata Aish yang ikut bergabung dengan ketiga temannya.


"Nanti pulang sekolah, lo ikut kita ya? Bang Fian minta lo datang buat nyari keberadaan keponakan lo" kata Hendra dengan hati-hati. Dia takut Aish akan kembali bersedih, mengingat betapa kacaunya dia beberapa hari yang lalu.


"Iya, gue ikut sama kalian nanti" jawa Aish singkat, dia masih belum secerewet dulu.


"Sudah, jangan sedih lagi ya princess. Nih es krim buat lo" kata Seno menyodorkan sebungkus es krim coklat vanila.


"Makasih ya Seno" kata Aish menerima dengan senang hati.

__ADS_1


Cukup lama mereka menunggu rapat wali murid kali ini. Sudah jam sebelas, tapi masih belum nampak para orang tua keluar dari ruang kelas.


Richard datang dengan sedikit tergesa, dua orang bodyguard mengikutinya dari belakang. "Gue minta maaf karena nggak bisa nganterin lo pulang siang nanti Aishyah" kata Richard.


"Iya nggak apa-apa kok" kata Aish sambil melihat pria kekar dibelakang Richard.


"Lo tenang saja, gue jagain Aish dengan sepenuh hati" kata Falen, membuat Richard sedikit tidak suka mendengarnya.


"Mama nyuruh gue pulang ke rumah, ada masalah penting katanya. Sekali lagi gue minta maaf ya Aishyah" kata Richard.


"Iya, nggak apa-apa. Kan ada mereka" jawab Aish menunjuk pada teman-temannya.


"Gue pergi dulu ya, mama sudah nungguin" kata Richard yang masih sempat mengelus sayang kepala Aishyah. Setelahnya, Richard pergi diikuti bodyguardnya.


"Gila sih tuan muda itu, ada bodyguardnya loh" kata Hendra.


"Richard bilang mamanya selaku dikawal bodyguard kalau keluar rumah" kata Aish kembali duduk.


"Kamu memang the best sayang, nilai kamu selalu nomer satu" kata Mommy Seno yang bangga pada Aishyah. Para orang tua sudah selesai mengambil raport.


"Alhamdulillah mom, Aish lega deh" kata Aish memeriksa hasil belajarnya.


"Nilai Seno juga not bad lah" kata Mommy memberikan raport Seno.


Hendra tahu mamanya akan langsung pergi ke kantor setelah acara usai, jadi dia cuek saja. Yang penting naik kelas.


Sedangkan Falen, orang tuanya malah tidak bisa hadir. Pasti asisten papanya yang akan mengambil raport, atau bisa juga pihak sekolah yang mengantar langsung ke rumahnya. Seperti semester yang lalu.


"Seno hari ini bisa cuti kan mom? Seno mau nemenin Aish hari ini" kata Seno.


"Iya, kamu boleh cuti hari ini. Syuting kamu buat film ini sudah selesai, tinggal proses editing. Jadi, kamu bisa sedikit santai" kata mommy.


"Akhirnya, gue bisa ikut kalian hari ini" kata Seno senang.


"Mommy pulang saja deh kalau begitu. Kalian hati-hati ya, Seno mau ikut Falen atau mau diantar supir?" tanya mommy.


"Ikut Falen saja mom. Mommy pulang saja" kata Seno.


Mommy mengerti, dan membiarkan anaknya bermain dengan teman sebayanya kali ini.


Falen membawa ketiga temannya dalam satu mobil, tadi Hendra datang bersama mamanya. Dan mamanya langsung ke kantornya lagi setelah acara.


"Kita ketemuan dimana Hen?" tanya Falen.


"Dirumahnya bang Rian, mereka sudah nungguin kita" kata Hendra.


Setelah satu jam perjalanan, Falen memarkirkan mobilnya dengan hati-hati didepan rumah Rian.


"Assalamualaikum" sapa Aish saat akan memasuki ruang tamu.


"Waalaikumsalam" jawab mereka kompak dan mempersilahkan mereka duduk.


Fian sudah menunggu mereka, beberapa berkas ditangannya telah siap untuk menjadi bahan pembahasan siang itu.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2