Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
dirumah Richard


__ADS_3

"Enghm .... Kebelet pipis" gumam Aish yang terjaga dari tidurnya.


Aish meregangkan otot-ototnya, lalu menguap sebelum benar-benar membuka matanya.


Saat dia membuka mata, pancaran sinar lampu memasuki kedua netranya. Aish memang tidak suka mematikan lampu saat tidur.


Dia berusaha duduk, lalu mengamati sekitarnya.


"Masih jam tiga malam ya?" gumamnya saat melihat jam dinding masih berputar ke kanan.


Melihat ke arah jendela yang tertutupi gorden berwarna biru.


Jendela yang sangat besar, gordennya juga sangat bagus. Warna biru laut cerah yang panjangnya menjuntai hingga nyaris mengenai lantai.


"Loh, gue dimana ini? Perasaan tadi Richard ngajak gue pulang. Masak iya gue dibawa ke hotel?" dengan mata yang masih memindai seluruh isi ruangan, dia bergumam sendirian.


Bukan hal yang aneh jika Aish sering bangun di waktu ini. Biasanya, saat dalam keadaan tidak datang bulan. Dia akan melakukan solat tahajud, dan kebiasaan itu terbawa meski dia sedang berhalangan untuk solat.


Tubuhnya seolah memberi alarm untuk bangun diwaktu ini, waktu sepertiga malam. Waktu dimana semua doa didengar oleh tuhan.


Doa yang pasti terdengar, meski tak harus terjawab. Karena apa yang kita inginkan, belum tentu itu yang menurut tuhan yang terbaik untuk kita.


Jadi, berdoa saja. Dan yakin jika tuhan akan memberi yang terbaik untuk kita.


Kembali ke kamar besar ini, ruangan yang luasnya hampir dua kali dari luas kamar Aish . Ada sebuah pintu di dekat jendela, sepertinya itu menuju ke kamar mandi.


"Oh, itu kursi rodanya" Aish bergumam sambil berusaha menggapai kursi roda.


Dia sedikit kesulitan, kasurnya terlalu empuk. Hingga saat dia berusaha menggapai pinggir kasur, pentalan kasurnya membuatnya kembali ke tempat semula.


"Duh, susah banget sih" kini Aish berusaha menarik tubuhnya dengan berpegangan ditepian ranjang. Berhasil.


Dengan menggunakan satu kakinya, dia berusaha berdiri dan melangkah dengan sangat hati-hati untuk bisa duduk diatas kursi roda yang berada tak jauh dari ranjang.


"Kaki gue sudah nggak begitu sakit yang ini, tinggal yang digibs doang sih sepertinya. Aduh, kamar mandi dimana ya?" Aish bergumam sambil mendorong kursi rodanya menuju pintu yang terlihat didekat jendela.


Aish menarik handle pintu, sedikit mengintip ruangan yang baru saja terbuka.


"Uwah, kamar mandinya luas banget. Mana nggak ada bak airnya, terus gimana caranya mau pipis coba?" Aish masih menggerutu karena tidak berhasil menemukan bak air.


"Gayung mana gayung? Ya ampun, kebelet banget" ocehannya masih saja terdengar, acara dadakan dipagi harinya harus sedikit lebih lama karena masih harus berusaha mengerti cara kerja kamar mandi tanpa bak air seperti ini.


"Oh, itu closetnya. Nggak apa-apa deh pakai closet duduk, kaki lagi sakit soalnya" kata Aish yang masih berusaha menyelesaikan ritual paginya.


Cukup lama berselang, akhirnya gadis itu berhasil keluar dari kamar mandi.


"Nah, lega. Segar lagi, sudah cuci muka, gosok gigi..." dengan mengamati seluruh isi ruangan, dia masih saja menggerutu.


Tadi dia menemukan sikat gigi baru, jadi sekalian saja dia bersih-bersih diri sendiri.


Saat menyibak gorden besar, pemandangan yang terlihat dari jendela itu adalah gazebo yang berada didekat kolam renang.


"Kayak pernah tahu tempat ini, tapi kapan ya?" Aish berusaha mengingat meskipun tak ingat juga.


Dia menutup lagi gorden itu, "Bentar gue lihat keluar, lagian Richard bawa gue kemana sih?".


Saat membuka pintu kamar dengan lebar, suasana hening menyambut. Temaramnya lampu ruangan di pagi buta seperti ini masih bisa melihat dengan jelas seluruh isi ruangan dirumah besar ini.


"Uwah, keren banget. Pasti nih, pasti Richard bawa gue ke hotel. Tapi kemana tuh anak, masak iya gue ditinggalin dihotel sendirian sih?" gumamnya sambil melihat ke lantai bawah.


Ada dua tangga, tapi keduanya menuju tempat yang sama dilantai dua. Dan kamar yang dia tempati berada ditengah, disebelahnya ada dua kamar. Entah siapa yang berada didalamnya, Aish kurang tahu.


Suara gesekan kursi roda dengan lantai terdengar cukup keras saat sepi seperti ini.


"Richard mana sih?" gumamnya yang ingin kembali memasuki kamar yang tadi dia tempati.


"Nona, kenapa keluar sendiri?" sebuah suara mengagetkan Aish.


"Ya Allah, kaget gue" katanya sambil mengusap dadanya yang berdegup.


Rasanya seperti seorang maling yang ketahuan mencuri saja.


"Mbak, siapa?" tanya Aish.


"Saya Widya, non. Tadi den Richard menyuruh saya untuk membantu non Aish" kata Widya, art Richard dirumahnya.


"Jadi, Richard juga ada disini dong mbak?" tanya Aish.


"Iyalah non, kan ini rumahnya" jawab Widya.


"Oh, saya pikir ini hotel loh mbak" komentar Aish. Widya hanya tersenyum.


Dulu saat Aish ke rumah ini, dia tidak sempat melihat-lihat isinya. Kan dulu hubungannya dengan Richard cuma teman biasa. Mana berani dia bertindak seenaknya sendiri.


"Nona mau apa? Biar saya bantu, atau nona lapar ya?" tanya Widya yang masih melihat Aish melamun.

__ADS_1


"Eh, enggak kok mbak. Jangan panggil saya nona dong mbak. Dengernya kayak gimana gitu, panggil Aish saja ya" Aish risih saat mendengar orang memanggilnya nona.


"Jangan dong, non. Nanti den Richard marah sama saya" kaya Widya menolak permintaan Aish.


"Kan lagi nggak ada Richard, mbak. Aneh banget rasanya dipanggil gitu, hehehe" Aish menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kata siapa nggak ada gue?" tanya Richard mengagetkan kedua gadis yang sedang bercakap, Aish dan Widya.


"Astaghfirullah, gue kaget Richard. Bisa jantungan gue kalau sepagi ini sudah kaget-kaget" Aish menggerutu.


"Lo ngapain pagi-pagi begini keluyuran? Kenapa nggak tidur dikamar, sih?" tanya Richard yang sudah berjongkok dihadapan Aish.


"Gue kebangun tadi, terus bingung. Gara-gara lo nggak bawa ke rumah gue sendiri. Tadi gue sempet mau kabur lho. Gue kira lagi diculik" kata Aish, Richard hanya tersenyum.


Widya sendiri juga ikut tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Ada orang yang nggak suka tinggal dirumah mewah? Apalagi yang nyulik seganteng den Richard?" batin Widya merasa lucu dengan tingkah laku Aish.


"Lebay, lo tuh makannya banyak, rugi penculiknya" sindir Richard, memang Aish makanannya banyak. Belum makan kalau belum ada nasi masuk ke dalam perutnya.


Aish memicingkan matanya, "Jadi, lo rugi tiap ngajak gue makan?" tanya Aish berpura-pura marah.


"Enggak dong, gue kan sayang sama lo" kata Richard sambil mengambil tangan Aish yang sejak tadi ada diatas pegangan kursi rodanya.


"Hati adek meleleh bang" kata Aish menirukan video-video anak muda jaman sekarang.


Dia tidak suka suasana yang tiba-tiba serius.


"Lo tadi mau ngapain? Kenapa bangun juga?" tanya Aish, kembali dia menaruh tangannya dipegangan kursi.


"Nggak ngapa-ngapain sih, cuma tadi gue denger berisik, jadi kebangun" Richard berkata sambil bangkit dan mendorong kursi roda Aish masuk kembali ke kamarnya.


Widya masih mengekor, takut jika masih dibutuhkan.


"Bik, ambilin gue minum ya, air putih" tuh kan, Richard beneran memberinya perintah.


"Iya, den" jawab Widya, dia segera keluar kamar.


" Tidur lagi, ya" kata Richard.


"Iya, deh" jawab Aish, dia sudah berusaha berdiri, tapi Richard langsung menggendongnya dan menurunkan Aish diranjang.


"Makasih, ya" kata Aish tersenyum.


"Nanti gue bangunin waktu sarapan, ya" kata Richard, dia ikut duduk ditepi ranjang.


"Oh iya, nanti lo sekolah ya?" tanya Aish. Dia jadi berpikir akan melakukan apa dirumah orang, saat yang punya rumah masih sekolah?


"Nanti gue juga mau sekolah, tapi seragam sekolah gue ada dirumah" kata Aish.


Tuh kan, benar dugaan Richard kalau Aish pasti ngotot mau masuk sekolah.


"Nanti gue suruh Yopi kesini bawain seragam lo, sekalian ngantar lo ke sekolah" kata Richard.


"Beneran ya? Makasih ya Richard. Gue nggak tahu lagi bagaimana mau balas kebaikan lo" kata Aish.


"Dengan lo selalu ada disamping gue, sudah lebih dari cukup" kata Richard, bahkan terdengar oleh Widya yang masuk dengan air putih yang Richard minta.


"Ini den, minumnya" kata Widya yang menyerahkan segelas air putih dari atas nampan.


Richard mengambilnya, meneguk secara perlahan sambil pandangannya tak lepas dari wajah Aish yang sudah tersipu malu.


"Kalau minum jangan meleng, keselek baru tahu rasa" kata Aish.


"Uhuk... uhuk" Richard benar-benar tersedak.


"Tuh kan, makanya kalau minum itu hati-hati" kata Aish sambil menepuk punggung Richard.


Suasana romantis yang Richard harapkan dengan terus memandangi Aish sambil minum tak terjadi gara-gara dia yang tersedak.


"Makanya, jangan suka doain yang jelek dong" kata Richard setelah merasa lebih baik.


"Kok jadi gue sih? Kan lo sendiri yang nggak hati-hati kalau minum, pasti juga nggak baca bismillah" tuh kan, Aish salah ngomong.


"Sudahlah, sana lo pergi. Gue ngantuk, mau tidur lagi" kata Aish yang berusaha menyelimuti tubuhnya, tapi kesulitan karena kakinya tak bisa bergerak.


Richard membantunya, meski masih sedikit jengkel. Masih pagi sudah berdebat.


"Makasih" kata Aish yang tidur membelakangi Richard.


"Bik, lo jagain nih anak orang ya. Kadang-kadang dia suka tiba-tiba ngilang soalnya" kata Richard.


Widya hanya mengangguk, tak berani tersenyum, apalagi tertawa. Karena yang dia dengar jika Richard itu suka marah-marah. Tapi sejauh yang dia lihat, malah kedua orang dihadapannya ini terlihat lucu.


Mendengar ucapan Richard, Aish menoleh dan memberinya tatapan tajam.


"Lo kira gue hantu?" tanya Aish yang tak dihiraukan oleh Richard yang sudah melangkah ke arah pintu keluar.

__ADS_1


Aish menoleh setelah Richard pergi beberapa waktu lalu, tapi dia masih mendapati Widya berdiri ditempat semula.


"Lho, mbak Wid ngapain masih disini?" tanya Aish.


"Saya kan disuruh jagain, non" kata Widya.


"Ya ampun, patuh banget" kata hati Aish.


"Ya nggak harus disini juga kali mbak, saya jadi nggak bisa tidur. Mbak bisa ke kamarnya sendiri, saya nggak akan kemana-mana kok. Kaki saya kan sakit" kata Aish.


"Tapi nanti kalau den Richard marah?" tanya Widya.


"Nggak akan, kalau dia marah sama mbak Widya, biar saya yang marahi dia, ya. Mbak bisa kembali ke kamar mbak sendiri, saya mau tidur lagi mbak" kata Aish.


"Baik, non" akhirnya Widya mau kembali ke kamarnya.


Aish jadi tidak bisa tidur lagi. Untuk menghabiskan waktu hingga benar-benar pagi, dia akan belajar saja. Mengulang kembali pelajaran yang tertinggal saat dia tidak masuk dua hari kemarin.


Saat dia membuka laptopnya, ternyata ada tugas rumah yang harus diserahkan besok. Tugas kimia, pelajaran yang lumayan menguras otak.


Tapi dia berusaha mengerjakan dengan baik, tapi masih juga ada beberapa soal yang membutuhkan cukup banyak energi untuk berpikir.


Aish meloncati soal itu untuk dikerjakan nanti saja. Setelah semua soal yang lain sudah terjawab.


Cukup lama dia belajar, hingga terdengar suara seseorang memasuki kamarnya.


"Lo lagi ngapain?" tanya Richard yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya.


Aish melihat jam dinding, sudah jam setengah enam ternyata.


"Ngerjain tugas, tapi sudah mau selesai kok" kata Aish.


"Sarapan dulu yuk, sudah ditungguin dimeja makan. Jarang banget lho orang tua gue punya waktu sarapan bareng" kata Richard.


"Gue malu, Richard. Gue sarapan di kantin saja deh sama Yopi nanti" kata Aish berusaha menolak.


Terdengar suara ketukan di pintu, Yopi datang dengan seragam sekolah Aish. Bersama Widya yang akan membantu Aish bersiap ke sekolah.


"Nih seragam lo. Richard bilang lo mau masuk hari ini" kata Yopi.


"Tuh, ada Yopi juga. Kita sarapan bareng ya dibawah. Gue tungguin" kata Richard yang berjalan keluar kamar Aish, tak lupa mengajak Yopi ikut duduk di meja makan.


"Saya bantu siap-siap ya, non" kata Widya.


Aish mengangguk, dia dan Widya bersama masuk ke dalam kamar mandi.


Jam enam lebih sepuluh menit, Aish sudah rapi dan bersiap ikut sarapan. Dia berhenti diatas tangga. Bingung, bagaimana menuruni tangga itu dengan kursi rodanya.


"Gue bantuin" kata Richard sedikit berlari saat melihat Aish sudah siap.


"Caranya?" tanya Aish.


Richard langsung menggendong Aish seperti semalam, dan menyuruh Widya mendorong kursi roda ke bawah.


Setelahnya, Richard kembali mendudukkan Aish diatas kursinya.


"Gue berat Richard, nanti gue pulang kerumah gue sendiri ya. Biar lo nggak repot-repot gendong gue" kata Aish saat Richard sudah mendorongnya ke arah meja makan.


"Richard, gue mau pulang ke rumah gue sendiri. Ya, boleh ya?" rengek Aish seperti anak kecil sambil menggoyangkan lengan Richard.


"Kenapa, apa kamu nggak betah tinggal disini?" Aish mendengar suara seorang pria dari belakangnya.


Dia terlalu fokus pada Richard, hingga tak sadar jika sudah sampai di meja makan.


Aish tersenyum kaku, baru kali ini dia melihat dengan jelas penampakan orang tua Richard, terutama papa Richard.


Seingatnya, Aish pernah melihat mama Richard dulu saat pertama kali ke rumah ini. Tapi penampilannya sangat berbeda karena sekarang mama Richard juga memakai setelan formal. Membuatnya semakin terlihat anggun dan terlihat pintar.


Kembali Aish merasa minder, sungguh dia bukanlah apa-apa jika dibandingkan keluarga Hutama. Pemilik perusahaan pengolahan kelapa sawit terbesar.


Dengan merk dagang yang sudah go internasional.


Aish sempat searching di google tentang keluarga mereka. Dan Aish semakin mendapati jika dirinya bukanlah apa-apa jika masih ngotot ingin bersama Richard.


"Kenapa bengong, Sya" kata Yopi sambil memasukkan roti kedalam mulutnya.


"Eh, om, tante. Ehm, pagi" sapa Aish dengan canggung.


Orang tua Richard memberinya raut wajah yang sangat serius sepagi ini. Rasanya lebih horor daripada saat dia jatuh ke jurang waktu itu.


Senyum Aish terlihat sangat terpaksa.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2