
"Bik, mama kemana?" tanya Richard yang baru turun dari kamarnya. Dia terbangun saat malam mulai menjelang karena perutnya terasa lapar.
"Tuan dan nyonya pergi, den" kata bibik.
"Pergi kemana?" tanya Richard yang melangkahkan kakinya ke arah ruang makan.
Sementara art nya membuntuti dari belakang.
"Bibik nggak tahu, den" jawabnya.
"Siapain makanan bik, gue lapar" kata Richard yang sudah duduk di kursi.
Bersiap menghubungi mamanya untuk merengek lagi.
"Hallo, ma. Mama pergi kemana?" tanya Richard.
"Ke Surabaya" jawab mamanya.
"Lho, kok ke luar kota lagi sih ma. Terus kapan mau nemuin Aishyah? Jangan kelamaan ma" keluh Richard yang takut Aish akan berpaling kalau terlalu lama berseteru.
"Besok malam mama pulang. Kamu nggak sabaran banget sih" mamanya sedikit tak suka karena Richard yang selalu memaksa.
"Cg, mama nggak tahu sih kalau banyak banget yang mau nikung Richard" kata Richard.
"Hahahhaa. Biarin saja kamu ditikung" kata mamanya tergelak, tak percaya jika anaknya akan semanja ini.
"Awas saja kalau sampai Aish nggak mau balikan sama Richard, pasti Richard beneran pindah ke tempatnya Alan" ancam Richard.
"Iya, kamu tenang deh. Baru kemarin putus nggak mungkin kalau Aishyah langsung berpaling" kata mamanya.
"Pokoknya awas kalau mama nggak nemuin Aish" Richard mutuskan panggilan teleponnya.
Lagi-lagi dia emosi dan uring-uringan karena Aish.
Mama Richard jadi bingung sendiri, bagaimana caranya membujuk seorang gadis?
Tapi dalam hati dia bersyukur karena masalah ini bisa membuatnya sedikit lebih dekat dengan Richard meski kedekatan mereka tercipta dalam suasana yang tak menyenangkan.
Richard menikmati makan malamnya dengan malas. Malam ini dia kembali mengunjungi arena balap untuk melakukan pemanasan sebelum pertandingan terakhir akan dilaksanakan.
★★★★★
Pagi-pagi sekali, Aish sudah dijemput oleh Seno dan Hendra.
Rencananya sore ini mereka bertiga akan mengantarkan Falen ke bandara karena dia akan pergi ke Amerika untuk menempuh pendidikan kedokteran disana.
"Semoga Falen suka sama hadiah dari kita ya, teman-teman" kata Aish yang memegang sekotak hadiah untuk diserahkan pada Falen.
"Pasti lah dia suka. Apalagi kan kita nyiapin khusus buat dia" kata Hendra.
"Gue minta maaf ya, gara-gara gue yang nggak bisa ninggalin jadwal syuting malah kalian yang harus nemenin gue. Padahal seharusnya kan kita yang nemenin Falen" Seno menyesali padatnya jadwal syutingnya.
"Santai saja deh, Senopati. Kita ngerti kok kalau lo lagi sibuk. Semoga film lo yang ini juga laris manis ya kalau rilis nanti" kata Aish.
"Amin. Makasih ya kalian sudah mau ngertiin gue" kata Seno yang bahagia mempunyai teman seperti ketiga sahabatnya.
Sampai di rumah Falen, ternyata dia sudah menunggu di teras rumahnya. Sudah rapi dan tinggal berangkat saja.
"Hai semuanya, apa kabar nih?" tanya Falen yang baru saja memasuki mobil Seno.
Aish dan Hendra dengan senang hati pindah ke belakang saat Falen datang.
"Baik dong, harus selalu sehat" kata Seno.
"Kita juga sehat lahir batin ya princess" kata Hendra yang tidak tahu menahu tentang kejadian kemarin.
Aish melihat kedua sahabatnya yang duduk di depannya, Seno dan Falen sampai menoleh pada sang princess untuk memastikan jika Aish baik-baik saja.
"Pasti lah, semua harus sehat jiwa dan raga" kata Seno yang tak ingin Hendra curiga.
Sampai di lokasi syuting, mereka disambut oleh beberapa awak media yang sedang berjuang memburu berita.
Seno jadi bingung sendiri, "Kok rame begini ya?" tanya Seno.
"Ada event nggak sih?" tanya Falen.
"Nggak ada kayaknya" jawab Seno.
"Lo lagi ultah nggak Sen?" tanya Aish.
"Masih lama kali, princess. Setelah lo ultah baru gue. Lah Hendra juga baru bulan kemarin ultahnya" jawab Seno.
Melihat Senopati yang menuruni mobil bersama ketiga temannya, para awak media berbondong-bondong untuk meliputnya.
__ADS_1
"Senopati, bisa dijelaskan pada kami sebenarnya ada hubungan apa antara kamu dengan Aishyah?" tanya salah satu dari mereka.
"Lah kok jadi gue, Sen?" tanya Aish kebingungan.
"Benarkah jika kamu menjadi orang ketiga dari hancurnya hubungan salah satu artis pendatang baru yang bernama Richard dan pacarnya Aishyah?" tanya yang lain.
Oh, jadi ini gara-gara kejadian di depan kampus waktu itu. Lambat sekali beritanya.
"Bagaimana tanggapan kamu, Aishyah? Apa benar kalau kamu lebih memilih Senopati daripada pacar kamu yang sebelumnya?" tanya wartawan lainnya.
"Maaf, nanti kita jumpa pers ya. Sekarang tolong beri jalan dulu, karena sebentar lagi sudah waktunya gue syuting" kata Seno berusaha sesopan mungkin.
Mereka berempat menangkupkan tangan di depan dada sambil terus berjalan dengan kawalan dari para bodyguard yang selalu Seno bawa.
Sampai di dalam gedung, mereka bisa merasa sedikit lega. Terutama Hendra dan Aish yang tidak terbiasa dengan flash dari kamera.
"Jadi ini kelanjutan dari perbuatan lo kemarin di depan kampus nih, princess" kata Seno mengingatkan Aish.
"Iya, maafin gue ya Sen. Waktu itu gue lagi emosi, jadi nggak pikir panjang deh kalau bisa berdampak panjang seperti ini" kata Aish yang menyesali perbuatannya.
"It's ok. Nanti kalau waktunya memungkinkan, kita jawab pertanyaan mereka ya. Sekarang gue mau siap-siap dulu. Biar syuting gue cepet kelar" kata Seno.
"Kalian duduk yang tenang disini. Kalau butuh apa-apa, panggil body guard gue aja" kata Seno sebelum memasuki ruang rias.
"Iya" kata Aish yang ikut bergabung dengan kedua temannya yang sudah menemukan tempat yang nyaman untuk istirahat.
Ternyata, Seno membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan syutingnya.
Dan mereka tidak sempat menyapa awak media karena sudah terlalu mepet dengan jadwal keberangkatan Falen.
"Senopati, tolong beri penjelasan pada kami. Benar nggak sih kalau kamu nikung teman kamu sendiri untuk bisa mendapatkan Aishyah? Buktinya sekarang dia ikut kesini" kata salah satu awak media yang membuat telinga Seno sedikit panas.
Seni berhenti, ketiga temannya jadi ikut berhenti.
Aish mendongak karena sebelumnya dia hanya menunduk dengan Falen yang kembali berjalan sambil merangkul pundaknya.
"Maaf ya, teman-teman media. Bukannya gue nggak mau jawab pertanyaan kalian. Tapi setelah dari sini, gue harus mengantarkan sahabat saya, Falentino ke bandara. Dan jamnya sudah mepet banget" kata Seno dengan baby facenya.
"Kalau kalian lihat gue lagi sama princess, itu karena dia itu sahabat gue mulai dari kelas sepuluh dulu. Dan gue sahabatan sama dia sejak dia belum menjadi pacarnya Richard. Dan untuk urusan dia yang putus sama Richard, itu diluar circle persahabatan kita" kata Seno memberi penjelasan.
"Dia punya urusan pribadi yang nggak bisa kita campuri, hanya saja sebagai sahabat, gue bakalan selalu ada disampingnya dalam kondisi apapun. Jadi, urusan tikung menikung itu semuanya hanyalah hoax semata" kata Seno mengakhiri pidatonya.
Meski sudah dijelaskan sedetail itu, masih saja ada wartawan yang bertanya lainnya.
"Huft, lega banget gue" kata Aish setelah berhasil masuk ke dalam mobil Seno.
"Gue juga" kata Hendra yang juga tak begitu suka dunia gemerlap seperti itu.
"Nggak nyangka gue, Sen. Lo bisa ngomong sediplomatis itu" kata Falen, entah memuji atau malah mengejek Seno.
"Iya dong. Gue sudah dewasa kan?" tanya Seno membanggakan dirinya.
"Sudah layak jadi artis lo" kata Aish.
"Gue memang sudah jadi artis kali, princess" kata Seno dengan raut wajah percaya diri.
Masih ada sepuluh menit waktu yang tersisa untuk melepas kepergian Falen.
Bersama kedua orang tuanya, Seno, Hendra dan Aish akan melepas kepergian Falen dengan doa dan harapan agar dia bisa pulang dengan membawa kebanggan.
"Semoga lo selamat sampai tujuan ya, bule. Kali ini gue tulus doain buat masa depan cerah lo" kata Hendra sambil memeluk sahabatnya untuk terakhir kalinya. Sebelum Falen pergi untuk waktu yang cukup lama dan tentu sangat jauh.
"Thank's ya, Mahendra. Semoga lo disini juga bisa mendapatkan kesuksesan yang sama" kata Falen melepas pelukan Hendra.
Berganti dengan Seno, ternyata tingginya sudah hampir sama dengan Falen. Mungkin hanya selisih dua centimeter saja. Seno bisa memeluk Falen dengan mudah.
"Semoga lo krasan disana ya, bule. Tunggu gue di Hollywood" kaya Seno, membuat Falen tergelak dengan ucapannya.
"Iya, semoga lo bisa jadi artis internasional ya, Senopati. Gue tunggu di Hollywood" kata Falen.
Beralih pada Aishyah, teman terimutnya ini sudah pasti tidak bisa menahan air mata haru untuk melepas kepergian Falen.
"Dasar cewek" goda Falen sambil merentangkan kedua tangannya agar mendapat pelukan persahabatan dari Aish juga.
"Hiks .. Hiks... Gue sedih karena lo pergi, tapi gue juga senang karena gue yakin lo pasti sukses disana nanti" kata Aish yang sudah membasahi dada Falen dengan air matanya.
"Stt .. Sudah ya princess, lo jangan tiap hari nangis. Nanti stok air mata lo bisa habis" goda Falen yang berhasil membuat Aish tertawa.
"Gue harap, lo nggak akan sedih lagi ya. Yang lalu biarkan berlalu, masa depan kita masih panjang. Nanti, kita pegang janji kita untuk bertemu lagi di bukit yang sama beberapa tahun ke depan. Kita lihat perbedaan kita nanti, ya" kata Falen mengingatkan janji persahabatan mereka.
"Ini hadiah buat lo dari kita. Semoga selalu menjadi pengingat persaudaraan kita, ya. Dan semoga bisa menjadi penyemangat disaat lo butuh teman" kata Aish menyerahkan sekotak hadiah untuk Falen.
"Uwah, apa nih? Tadi gue nggak tahu lho kalau kalian sampai bikin yang kayak gini" kata Falen yang tentu sangat bahagia mendapatkan hadiah dari sahabatnya.
__ADS_1
Suara panggilan untuk penerbangan Falen sudah terdengar. Setelah berpamitan pada orang tuanya, dengan berat hati Falen harus segera memasuki pesawat yang akan membawanya ke benua lain di belahan dunia yang berbeda.
Aish, Seno dan Hendra masih melambaikan tangannya saat Falen menoleh sebelum masuk ke dalam pesawatnya.
Meski jaraknya cukup jauh, Falen masih bisa melihat teman-temannya yang terlihat kecil.
Mimpi mereka baru saja dimulai. Hari esok yang lebih baik menjadi harapan bagi mereka untuk merajut masa depannya.
★★★★★
"Yakin nggak mau gue anterin ke rumah lo, princess?" tanya Seno setelah kembali ke rumahnya.
"Nggak deh, gue mau bareng Hendra aja. Sudah lama banget gue nggak naik motor kesayangannya si Mahendra. Kangen gue" kata Aish yang ingin dibonceng Hendra kali ini.
"Oke deh. Anterin dengan selamat sampai tujuan ya, Mahendra" kata Seno sedikit mengancam.
"Pasti dong" kata Hendra singkat, memberikan sebuah helm yang dipinjamnya dari Seno.
Seperti biasanya, Hendra selalu memarkirkan motornya di rumah Seno atau Falen saat berencana pergi bersama-sama.
Hari ini pun sama, Aish jadi ingin dibonceng Hendra untuk mengenang masa lalunya. Saat-saat pertama menjadi murid putih abu-abu, dia sering sekali jalan berdua dengan hendra.
Dan karena kesibukan masing-masing, mereka berdua jadi lebih jarang bertemu.
Kali ini, saat ada kesempatan Aish jadi merindukan masa-masa itu.
"Dah Seno. Assalamualaikum" pamit Aish dengan lambaian tangannya saat meninggalkan pelataran rumah mewah Senopati.
"Dah princess, waalaikumsalam. Hati-hati di jalan, ya" teriak Seno.
"Masih sore nih, princess. Kita jalan-jalan dulu ya" ajak Hendra.
"Boleh, mau kemana?" tanya Aish.
"Kita pikirkan sambil makan. Lo mau makan apa?" tanya Hendra.
"Gimana kalau makan sushi?" saran Aish.
Entah kenapa dia malah teringat akan restoran sushi yang sering didatangi bersama Richard.
"Eh, nggak jadi deh Hen" kata Aish yang ingin membatalkan, tapi Hendra sudah membelokkan motornya ke sana.
Karena memang saat Hendra bertanya, kebetulan mereka sudah mendekati area restoran yang Aish maksud.
"Sudah terlanjur belok kesini, princess" kata Hendra yang sebenarnya memang sedang ingin makan sushi.
"Oke deh. Kita masuk saja" Aish pasrah kali ini. Semoga saat makan nanti dia tak melihat wajah Richard di piringnya.
Aish memesan makanan yang sama seperti saat datang bersama Richard.
Dan saat pesanannya datang, Aish berusaha tak mengingat dulu kebersamaannya dengan Richard di masa lalu. Setidaknya sampai makanannya habis tak tersisa.
Sayang kan kalau makanan mahal seperti ini tak habis dimakan olehnya hanya gara-gara terbayang-bayang wajah Richard.
"Lo sudah sangat fasih makan pakai sumpit ya, princess" goda Hendra yang melihat Aish tak merasa kesulitan makan dengan sumpit.
"Iya, Richard yang ngajarin gue makan pakai sumpit, hehehe" kata Aish yang belum menyadari ucapannya barusan.
Dan benar saja, saat di sadar akan ucapannya. Membuatnya menjadi murung.
Hendra menyadari perubahan wajah Aish, dia jadi ikut merasa bersalah.
"Udah, nggak usah diingat terus. Habis ini kita mau kemana?" tanya Hendra.
"Hengmh, iya. Gue nggak ingat dia lagi" kata Aish sok tegar.
"Gimana kalau ke pasar malam? Cari jajanan?" tanya Aish dengan senyum yang lebar.
Kemarin setelah menyerahkan surat pengunduran dirinya, pihak cafe Destinasi atas persetujuan dari Richard telah resmi mengabulkan keinginan Aish untuk resign.
Dan dia sudah mendapatkan gajinya selama satu bulan terakhir masa kerjanya.
Jadi tidak masalah jika malam ini Aish ingin jalan-jalan bersama Hendra untuk menghilangkan sedikit penat dalam hatinya.
"Boleh tuh. Gue juga lagi pengen ngemil yang gurih-gurih. Pasar malam yang di belakang mall aja ya? Disana bukanya sampai dua puluh empat jam" kata Hendra.
"He em" Aish mengangguk menyetujui keinginan Hendra.
.
.
.
__ADS_1
.