
Richard tidak masuk kelas hari ini, cowok itu sedang asyik di ruang kesenian sejak tadi pagi. Moodnya sangat berantakan karena kejadian semalam. Dia terus saja mengingat kegagalannya membawa Aish untuk pulang bersamanya.
"Hah... sialan" kata Richard melempar ponselnya.
Beruntung Reno dan Yopi datang, Reno berhasil menangkap ponsel Richard. Dilihatnya Richard ternyata sedang memainkan game FnF dari tadi.
"Kenapa bro?" tanya Reno memberikan ponsel Richard kembali.
"Marah-marah saja si abang ini. Abis ditolak ya?" tanya Yopi.
"Diem lo pada" jawab Richard.
Yopi dan Reno saling pandang, mereka diam membiarkan sahabatnya menyalurkan amarah.
"Permisi" kata seseorang dari ambang pintu. Ketiga cowok itu menoleh bersama, mendapati Aishyah datang dengan senyuman sejuta volt yang membuat kemarahan Richard langsung mereda.
Reno dan Yopi memandangi Richard yang ekspresinya sudah berubah seratus delapan puluh derajat.
"Aishyah, ngapain?" tanya Richard menghampiri pujaan hati.
"Ehm, Richard. Bisa ngobrol sebentar?" tanya Aish. Richard segera bangkit, dia menghampiri Aishyah yang berdiri di luar.
"Ada apa?" tanya Richard setelah mereka berdua ada di luar ruangan. Reno dan Yopi menempelkan telinga ke tembok, berharap bisa mendengar obrolan Aish dan Richard.
"Gue mau minta maaf sama lo tentang kejadian semalam" kata Aish, bagaimanapun Richard sudah sangat baik padanya selama ini.
"Tidak masalah, lupakan saja" kata Richard seolah tidak terjadi apa-apa padanya, padahal dia sampai bolos kelas dari tadi pagi hanya karena moodnya yang hancur.
Aishyah berdiri senderan pada tembok, sedangkan Richard di sebelahnya berdiri menghadap ke arah Aishyah sambil melipat kedua tangannya. Posisi yang terlihat mesra, Richard yang jangkung menatap Aish menunduk karena tinggi Aishyah yang hanya sebatas dadanya.
"Gue tadi ke kelas lo tahu, katanya lo nggak masuk ya?" tanya Aish.
"Ngapain ke kelas gue?" tanya Richard.
"Gue nggak enak sama lo Richard, makanya gue nyamperin lo. Malah lo nggak ada" kata Aish.
"Gue ada di ruang kesenian daritadi. Tumben lo nggak sama pengawal lo?" tanya Richard.
"Mereka lagi siap-siap di taman, gue bilang mau ke toilet tadi sama mereka biar bisa kesini" kata Aish.
"Posesif banget teman-teman lo" komentar Richard.
"Iya, tapi mereka baik banget sama gue" kata Aish.
"Gue juga bisa baik sama lo, bahkan lebih dari mereka" kata Richard.
Aish hanya tersenyum menanggapi perkataan Richard. "Seharusnya yang lo baikin itu Emily, dia pacar lo kan" kata Aish.
Richard hanya terdiam mendengar nama Emily disebut. Karena beberapa hari ini dia jadi sulit sekali dihubungi. Melihat Richard yang hanya terdiam, Aish jadi merasa bingung sendiri.
__ADS_1
"Gue balik ke teman-teman gue ya Richard. Sekali lagi maaf atas kejadian semalam. Dan untuk malam ini lo nggak usah anterin gue pulang ya, soalnya sudah ada Hendra" kata Aish.
"Memangnya siapa yang mau anterin lo malam ini?" kata Richard menggoda Aish.
Aish jadi malu, "Bodoh banget sih gue. Makanya Aish, jangan kepedean jadi orang" batin Aish merutuki kebodohannya. Bahkan tangannya sampai memukul pelan kepalanya sendiri.
Rona merah dipipinya menyiratkan rasa malu dalam hatinya. Richard suka melihat pipi Aishyah yang merona seperti ini. Senyumnya terukir saat melihat wajah Aish.
"Hehe... iya, maaf" kata Aish dengan cengir kudanya untuk menutupi rasa malu.
"Besok lo masih jaga?" tanya Richard.
"Enggak, hari ini terakhir jaga disana. Yasudah, gue balik ke teman gue ya. Nanti dicariin" kata Aish.
"Iya" jawab Richard singkat, Sebenarnya hatinya sedang senang saat ini karena kehadiran Aish yang tiba-tiba.
Dia terus saja tersenyum hingga Aish hilang dari pandangannya. Kedua temannya terus saja menggoda Richard yang sudah terlihat semangat lagi.
★★★★★
Hari ini adalah hari terkahir tugas jaga para anggota PMR akan segera usai. Mereka semua dimasukkan dalam satu shift yang sama. Hendra tidak diizinkan alpa kali ini, semua anggota diwajibkan datang karena akan diadakan acara penutupan kegiatan malam nanti bersama beberapa suster dan juga dokter Siras tentunya, dokter pembimbing mereka.
"Gue nggak nyangka cewek secerewet lo ternyata laku keras ya princess" ledek Hendra. Seharian ini Aish jadi bahan candaan ketiga temannya.
"Diem lo. Sudah dong Mahendra. Gue malu diledekin terus dari tadi. Tau ah, males gue sama lo" kata Aish berjalan mendahului Hendra menuju ruang UGD.
Hendra tertawa melihat princessnya yang sedang ngambek. Dia berhenti karena ada telpon masuk, dari Falen rupanya. Aish masih berjalan tergesa di depannya, tak perduli pada Hendra.
Aish terpental karena menabrak seseorang di depannya. Membuat semua yang ada di tangan orang itu malah terjatuh.
"Aduh, maaf. Maafin saya" kata Aish terburu-buru memunguti kertas-kertas yang terjatuh. Setelah merapikannya, dia mengembalikan pada orang yang ditabraknya tadi.
"Eh, bang dokter. Maafin Aish ya, saya nggak sengaja" kata Aish. Siras menatap gadis itu tanpa ekspresi.
"Bang dokter, maafin saya ya" kata Aish lagi.
"Iya" jawab Siras singkat. Rupanya abang dokternya masih marah karena kejadian semalam mungkin.
Siras berlalu dari hadapan Aish bersama suster di sampingnya. Aish mengendikkan bahu, membiarkan dokter itu melakukan tugasnya. Bukan urusannya juga kan.
Selama bertugas, Siras benar-benar menjaga jarak dari Aishyah. Dokter itu kembali ke mode awal, suka mengerjai Aish. Mungkin karena kali ini ada Hendra disampingnya.
Tugas jaga selesai pukul sembilan. Satu jam setelahnya akan diadakan prosesi penutupan kegiatan.
Semuanya berlalu aman, sepanjang perjalanan acara, semua terlewati dengan baik.
Bahkan disaat pulang, Siras hanya menatap pada Aish yang ada diboncengan motor Hendra. Belum apa-apa Siras sudah merasa rindu pada Aishyah.
★★★★★
__ADS_1
"Lo sudah bisa apa belum main gitarnya princess?" tanya Falen pagi itu, masalahnya dua hari lagi ujiannya akan dilakukan.
"Lumayan lah. Belum jago. Rencananya nanti pulang sekolah gue mau latihan lagi sama Richard" kata Aish.
"Lo mau ngapain nanti di ujian kesenian Fal?" tanya Aish, mereka belum pernah membahas ini sebelumnya.
"Gue mau nari India" jawa Falen.
"Awas saja kalau sampai lo nggak nari India. Gue nggak mau temenan sama lo lagi" ancam Aish.
"Hahaha, nggak lah princess. Paling ya sama kayak lo, mau ngapain lagi kalau nggak nyanyi?" tanya Falen.
"Gue jadi kepikiran, kenapa nggak deklamasi puisi saja ya gue? kan gampang tuh, tinggal bikin puisi, terus dibacain deh" kata Aish.
"Terserah lo sih, tapi sayang juga dong latihan lo selama ini. Yang sudah bikin tangan selembut kulit bayi lo ini jadi kapalan" kata Falen.
"Iya juga sih. Yasudah, gue nyanyi juga deh" kata Aish melangkah dalam rangkulan Falen menuju kelas mereka.
Sore hari sesuai rencananya, Aish sudah duduk dihadapan Richard yang tengah mengujinya dalam bermain gitar.
Sudah cukup waktu untuk Aish belajar, kini dia akan menunjukkan kebolehannya memetik alat musik itu sambil bernyanyi.
Richard duduk berdampingan dengan Aishyah, gadis itu memangku alat musiknya dan bersiap untuk bernyanyi.
*Terimalah lagu ini, dari orang biasa
tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia*
Sebait lirik yang dinyanyikan Aishyah didepan Richard. Cukup bagus lah untuk pemula sepertinya.
Richard bertepuk tangan dan tersenyum cerah setelah Aish selesai dengan penampilannya.
wx
"Uwah, gue sampai GR gara-gara lo nyanyi di depan gue" kata Richard.
"Apaan sih Richard. Gimana? Sudah ok kan? Gue tiap hari latihan supaya nggak malu-maluin lo saat tampil nanti" kata Aish.
"Kok gue sih? Biar lo sendiri juga nggak malu saat tampil nanti Aishyah" kata Richard. Pandangannya menyiratkan rasa yang mendalam dan tertahan. Richard sadar perbedaannya dengan Aishyah. Mereka dibatasi oleh tembok yang sangat tinggi karena keyakinan.
Batin Richard perih mengingatnya. Semoga dia bisa melalui hari-harinya dengan baik seperti sebelum dia mengenal Aishyah dulu.
.
__ADS_1
.
.