Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
menguping


__ADS_3

"Langsung mau pulang?" tanya Aish saat melihat mobil yang ditumpanginya menuju ke arah rumah Richard.


"Ngambil berkas dirumah bentar ya. Yopi bilang Ijazah gue ketinggalan" kata Richard yang masih fokus pada jalanan.


"Oh, ok" kata Aish singkat. Kembali duduk tenang sambil memainkan ponselnya.


"Rencana lo apa hari ini?" tanya Richard yang tak suka ditinggal sibuk oleh Aish.


"Nggak ada rencana apa-apa sih. Nanti sore juga harus kerja, jadi kayaknya dirumah aja" kata Aish.


"Jalan-jalan yuk" ajak Richard.


"Kemana?" tanya Aish.


"Terserah lo mau kemana" kata Richard.


"Ehm. Gue bingung kalau ditanya begini. Apa ke toko buku aja gimana?" kata Aish.


"Abis itu ke time zone ya, lama juga nggak main gituan" kata Richard.


"Boleh tuh. Terus makan es krim" kata Aish semangat.


"Siap, tuan putri" kata Richard yang ikut bahagia melihat senyum Aish.


Aish jadi salah tingkah, tanpa sengaja malah bergelayut manja di lengan Richard. Menyandarka kepalanya di lengan kokoh itu. Nyaman sekali rasanya.


Tapi hanya sebentar saja karena perjalanan harus menghentikan aksi mereka karena mobil itu sudah mendekat ke arah rumah Richard.


Dari gerbang depan rumahnya, Richard yang baru saja memasuki halaman bisa melihat mobil papanya terparkir rapi.


"Tumben papa dirumah" gumam Richard.


"Kenapa?" tanya Aish.


"Nggak apa-apa. Heran aja papa belum berangkat" kata Richard yang sudah bersiap turun.


"Baru datang juga kali, tadi pagi kalian ketemu apa nggak dirumah?" tanya Aish.


"Iya juga ya. Memang tadi gue nggak lihat ada papa sih waktu sarapan" kata Richard.


"Ayo ikut masuk bentar. Gue mau ambil berkasnya di kamar. Takut lama, jadi lo ikutan masuk aja ya" ajak Richard.


"Iya" jawab Aish yang sudah ikutan berjalan membuntuti Richard.


"Bik, papa dirumah?" tanya Richard pada seorang art yang ditemuinya.


"Iya, den. Baru saja bapak datang bersama ibu" kata art itu.


"Duduk dulu, Ra. Tunggu bentar ya" kata Richard yang meneruskan langkah kakinya ke kamarnya di lantai dua setelah melihat Aish duduk di ruang tamu.


"Oh iya non, tadi ibu bilang kalau ada non Aishyah disuruh ke ruang kerjanya bapak, ada yang mau ibu sampaikan sepertinya" kata art itu menyampaikan pesan dari mamanya Richard.


"Ada apa ya, bik?" tanya Aish yang jadi sedikit khawatir. Apa yang salah dengannya?


"Bibik juga tidak tahu, non. Pesannya ibu cuma gitu. Tadi kan sempat tanya sama bibik, den Richard pergi sama siapa. Terus bibik jawab aja kalau pergi sama non Aish" kata art itu.


"Kok bibik tahu Richard perginya sama saya?" tanya Aish.


"Iya, kan bibi tanya sama den Richard tadi pagi" jawab art itu.


"Saya temui sekarang saja deh bik. Ehm, kira-kira ada apa ya bik?" tanya Aish yang hanya mendapat jawaban berupa gelengan kepala dari si bibik.


"Oh, yaudah. Saya ke ruang kerjanya bapak dulu deh bik. Nanti kalau ketemu Richard tolong bilang saya ada disana ya bik, kalau seandainya Richard sudah disini tapi saya belum keluar dari ruang kerja bapak" pesan Aish.


"Iya non, nanti saya sampaikan" jawab art itu.


Dengan hati penuh pertanyaan, Aish melangkah menuju ruang kerja papanya Richard yang ada di sebelah kanan dari ruang tamu itu.


Ruangan yang masih satu area dengan kamar orang tua Richard yang juga ada di lantai satu.


Pintunya sedikit terbuka, tapi tak membuat orang dari dalamnya bisa melihat ke luar. Mungkin tadi mereka lupa merapatkannya.


Sayup-sayup terdengar obrolan dari mereka saat Aish sudah berada di ambang pintu.


Tangannya tak jadi mengetuk saat apa yang terdengar dari dalam ruangan itu adalah pembahasan tentangnya dan Richard.


Meja kerja papa Richard ada di balik pintu, sepertinya mama Richard sedang duduk di pegangan kursi yang sedang di duduki oleh suaminya.


Aish berdiri sedikit merapat pada pintu, memegang handlenya tanpa mengeluarkan suara.


"Papa suka apa nggak sih sama Aishyah itu?" tanya mama Richard.


Aish jadi penasaran dengan jawaban papa Richard, jadi dia terdiam dan berdiri saja untuk mendengarkan. Sedikit menguping, mumpung ada kesempatan.


"Papa suka-suka saja ma, selama dia bisa membuat Richard bahagia" jawab papanya.


"Mama sendiri?" papa Richard bertanya balik pada istrinya.

__ADS_1


"Mama suka banget sebenarnya pa. Dia selain cantik, sopan dan juga prestasinya bagus banget loh pa di sekolahnya" jawab mama Richard.


Mendengar itu, senyum Aish terbit sempurna, kepalanya terasa besar dan panas dibuatnya.


"Richard sering bilang kalau mau menikahi anak itu secepatnya, ma" kini nada suara papa Richard terdengar lebih serius.


"Iya, dia juga pernah bilang sama mama tentang hal ini setelah kelulusannya diumumkan kemarin" kata mama Richard.


"Duh, Richard nih nggak sabaran banget sih. Kenapa nggak nunggu seenggaknya sampai romeo ketemu jodohnya gitu" gumam Aish, dia tak menyangka kalau Richard seserius itu.


"Terus tanggapan mama gimana?" tanya papa Richard.


"Seandainya mereka tidak berbeda, pa. Seandainya Aishyah itu sama seperti kita. Seandainya Richard mencintai orang yang juga berlutut sambil menyanyi untuk mengagungkan tuhannya".


"Pasti mama akan langsung mengantarkan mereka ke depan altar untuk mengikat janji suci pernikahan" kata mama Richard penuh penyesalan.


"Mungkin memang ketidak pekaan kita sebagai orang tua membuat tuhan memberikan kita ujian seperti ini ma. Anak-anak kita yang tak menerima banyak perhatian dari kita membuat mereka mencari kebahagiaan sendiri di luar sana" kata papa Richard yang baru tahu rasanya penyesalan.


Aish masih mendengar obrolan mereka. Kini hatinya mencelos sempurna. Hubungannya tidak akan disetujui oleh kedua orang tua Richard.


"Ya, papa benar. Kita sudah kehilangan Willy karena masalah keyakinan kita yang berbeda. Apa sekarang papa akan membiarkan Richard untuk memilih keyakinannya sendiri?" tanya mama Richard.


"Mama sangat kecewa saat Willy lebih memilih Helda yang satu keyakinan tapi tak akan bisa memberi keturunan. Ditambah Helda yang ternyata membunuh Alif yang menjadi istri kedua Willy" kata mama Richard.


"Mama tahu Willy lebih sayang pada Alif karena Helda yang terlalu posesif pada Willy. Sementara Alif lebih terbuka dan menerima kenyataannya yang hanya menjadi istri kedua Willy".


"Bahkan mama tidak menyangka saat Willy memutuskan untuk memeluk keyakinan Alif demi untuk bisa menikahinya. Mama sangat kecewa karena berkali-kali Willy memutuskan permasalahannya sendiri tanpa sepengetahuan kita" kata mama Richard.


"Terlepas dari masalah Willy. Sebenarnya, Papa sangat menyukai kepribadian Aishyah, ma. Tapi untuk melepaskan Richard agar seperti Willy, papa harus berfikir ulang" jawab papa Richard.


Aish memundurkan langkahnya, dadanya terasa sesak. Seharusnya dia tidak usah mencuri dengar seperti ini.


Seharusnya tadi dia langsung saja mengetuk pintu dan masuk untuk saling berbicara.


Atau seharusnya dia tidak usah saja berusaha menemui orang tua Richard.


Berjalan mundur tanpa melihat ke belakang, kini Aish menyandar di buffet tv di depan ruang kerja papa Richard.


Tangan Aish memegang dadanya yang kini terasa sesak. Sedikit air matanya keluar karena tak bisa tertahan setelah mendengar obrolan mereka.


"Apa mungkin gue harus ngerasain lagi sakitnya kehilangan dengan secepat ini?" gumam Aish.


Saat mau pergi, tak sengaja tangannya menyenggol vas bunga yang berisi bunga segar dengan air di dalamnya.


Beruntung bunyinya tak sampai membuat gaduh. Hanya saja airnya tumpah sampai ke lantai dan membuat sebagian gamis yang dipakainya basah.


Aish mengembalikan bunga itu ke posisi semula. Setelah mengusap air matanya, Aish kembali ke ruang tamu.


Air matanya masih saja turun tanpa izin. Aish jadi kesulitan untuk menghapusnya. Apalagi terdengar langkah dari arah tangga.


"Pasti Richard" gumam Aish yang masih berusaha keras untuk menghapus air matanya.


Aish memalingkan wajahnya saat Richard sudah datang. Dia sampai menengadahkan kepalanya agar air matanya tak kembali turun.


"Ayo kita berangkat lagi" kata Richard mengajak Aish pergi.


Sebenarnya Aish mendengar itu, tapi karena air matanya masih sulit ditangani, jadinya dia masih belum menoleh pada Richard.


Merasa heran karena perkataannya tidak digubris, Richard mengambil tangan Aish untuk membantunya berdiri.


Tapi malah ditepis dengan kasar olehnya. Richard jadi bingung sendiri.


"Kenapa sih? Lo marah sama gue?" tanya Richard.


Berhasil menghapus jejak air mata dengan ujung lengan gamisnya, Aish berdiri dan melihat lawan bicaranya.


"Ayo, kita pergi" kata Aish.


Richard heran melihat mata Aish yang memerah, dan lagi, kenapa gamisnya basah seperti itu?


"Lo darimana sih? Kenapa basah gitu? Jangan bilang lo ngompol terus nangis" goda Richard yang tiba-tiba merasa ada yang aneh dengan Aishyah.


Aish jadi tambah cemberut, dia memukul ringan pada lengan Richard sambil sedikit menyunggingkan senyum.


"Enak aja, memangnya gue anak kecil. Gue nggak apa-apa kok. Sudah yuk, kita berangkat" ajak Aish yang mendahului Richard untuk melangkah ke luar.


"Tungguin dong, Ra. Lo tuh kecil-kecil tapi kesit banget sih" kata Richard yang langkahnya tertinggal jauh darinya.


Hati Aish masih terlalu syok dengan obrolan kedua orang tua Richard. Dia masih belum siap untuk berpisah dari kekasih yang ada di sampingnya ini.


"Memang sudah seharusnya gue mempersiapkan diri untuk hal seperti ini. Gue sama dia memang berbeda, nggak seharusnya gue memaksakan diri. Memaksakan sesuatu yang tidak bisa bersatu" dalam hati Aish berkata sambil memandangi Richard yang sedang menyetir.


"Tapi apa secepat ini gue harus ngerasain lagi sakitnya kehilangan?" tanya Aish lagi, dan air matanya kembali meleleh.


Segera Aish menghapus air matanya dan membuang muka. Lebih baik melihat ke luar jendela daripada melihat wajah Richard yang akan semakin membuatnya merasa sesak.


Tapi dia jadi semakin menangis sampai sesenggukan. Tampak dari pandangan Richard bahu Aish yang naik turun dan terdengar isakan kecil dari mulutnya.

__ADS_1


"Lo kenapa, Ra?" tanya Richard heran.


Aish hanya menggelengkan kepalanya tanpa menjawab dengan suara.


Arah tujuannya sudah dekat, Richard akan menyelesaikan urusannya dengan Yopi dulu sebelum memperjelas masalahnya dengan Aish.


"Kenapa jadi tiba-tiba nangis gini sih" gumam Richard yang sudah membelokkan setirnya ke arah kampus tempat Yopi sudah menunggunya.


Setelah memarkirkan mobilnya, Richard menanyakan keberadaan Yopi melalui ponselnya.


"Hallo, lo dimana Yop?" tanya Richard.


(....)


"Gue diparkiran" kata Richard lagi.


(....)


"Oke, gue kesana" kata Richard lagi, sudah mematikan sambungan teleponnya.


"Gue ke Yopi sebentar ya, lo jangan kemana-mana" kata Richard.


Bahkan Richard mengunci mobilnya saat keluar agar dia yakin kalau Aish tidak akan kabur.


Richard tahu senekat apa gadis itu. Jadi, membiarkan dia terkunci di dalam mobilnya sebentar saja tidak apa-apa.


Daripada nanti dia akan kelimpungan sendiri untuk mencari Aish yang kabur.


Sedikit berlari, Richard mencari keberadaan Yopi di loket pendaftaran. Sedikit celingukan karena banyak sekali yang datang untuk menjadi calon mahasiswa di kampus elit ini.


"Woi, Richard. Gue disini" teriak Yopi saat melihat Richard sedikit kebingungan.


"Nih berkasnya. Gue langsung cabut ya. Ibu negara lagi gue kunciin di dalam mobil. Takut kehabisan nafas" kata Richard tanpa mau mendengar lagi perkataan Yopi yang hanya akan memperlambat urusannya.


"Ish, kenapa lagi sih sama ibu negara. Dasar tukang ngambek" gerutu Yopi meneruskan acaranya untuk mendaftarkan diri dan kedua temannya.


Sementara Richard sudah berlari penuh energi menuju mobilnya. Beberapa kali bahkan dia sempat menyenggol orang-orang di depannya.


Dan satu orang yang tak sengaja di tabraknya sampai terjatuh.


Bugh!


Orang didepannya jatuh terduduk karena Richard yang berlarian tak tahu tempat.


"Sorry, gue nggak sengaja. Lo nggak apa-apa kan?" tanya Richard sambil membantu seorang gadis berdiri.


Gadis itu mengulurkan tangannya untuk menerima bantuan dari Richard.


"Oke, nggak apa-apa. I'm fine. Tapi lo jangan lari-lari di tempat ramai kayak gini" kata gadis itu.


Richard memandang sebentar padanya, tampilannya mirip Aish kalau tidak pakai hijab.


"Enggak, cantikan Aishyah" gumam Richard.


"Kenapa?" tanya gadis itu sambil merapikan rambutnya yang tergerai indah dengan jarinya.


"Oh, nggak apa-apa. Gue duluan ya. Sekali lagi sorry" kata Richard.


Gadis itu hanya mangangguk dan pergi dari tempatnya.


Dengan langkah tergesa, Richard masuk kembali ke dalam mobilnya.


Tampilan pertama yang dia lihat adalah Aishyah yang semakin menangis.


Richard duduk di kursi kemudi tanpa menutup pintu. Sedikit kebingungan karena seingatnya, Richard tidak berbuat satu kesalahanpun hari ini.


"Ra, lo kenapa sih? Tadi kayaknya baik-baik saja. Kenapa sekarang tiba-tiba nangis?" tanya Richard berhati-hati. Takut Aish tambah merajuk.


Aish menatap Richard, pandangan kesedihan yang Richard tidak sukai.


"Apa gue sanggup untuk ngelepas lo secepat ini, Richard?" tanya Aish dalam hatinya.


Tiba-tiba Aish memeluk Richard. Perlakuan yang tiba-tiba dan tak biasa dari Aish ini membuat hati Richard bukannya senang, tapi malah gelisah.


Aish menenggelamkan kepalanya di dada bidang Richard. Menumpahkan segala emosinya disana. Menangis tersedu-sedu.


"Ra, lo kenapa? Jangan nangis ya. Please. Gue nggak bisa lihat lo nangis kayak gini" kata Richard sambil membelai lembut hijab Aish.


Aish masih saja enggan untuk berbicara, saat akan mengeluarkan kata dari mulutnya, seolah semuanya akan tertelan sendiri.


"Bisa nggak kalau kita putus aja hari ini?" tanya Aish sambil menundukkan kepalanya.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2