
Cukup sulit untuk membawa gadis ini, bocah yang dulu pemalu dan lucu. Kini harus menjadi seorang gadis remaja yang sebatang kara. Dan semuanya berawal dari kesalahan yang aku perbuat.
Tapi aku masih bersyukur karena dia dikelilingi teman yang sangat perduli akan keselamatannya. Apalagi, kudengar kalau gadis ini adalah gadis yang dicintai oleh adikku sendiri, Richard.
Saat aku memintanya untuk ikut, kulihat sorot mata bimbang untuk berkata iya atau tidak. Untungnya dia mau ikut setelah kubujuk sedemikian rupa.
"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Aishyah nanti, jangan harap saya akan melepaskan bapak" kata teman bulenya, kurasa cowok bule itu usianya sama seperti adikku. Bahkan caranya mengancam sedikit sama.
"Jangan harap bapak bisa pergi semudah itu dengan membawa Aishyah, karena kami akan selalu mengawalnya. Keselamatannya yang paling utama" kata temannya yang lain, yang sorot matanya penuh ketidakpercayaan.
Sedangkan temannya yang berkacamata hanya diam memperhatikan, tapi tidak ada juga sikap yang menunjukkan bahwa dia mempercayaiku.
"Kalian jangan khawatir, saya pastikan temanmu ini akan selamat. Saya hanya ingin bicara, tidak ada yang lain" kata Willy meyakinkan sahabat Aish.
Entah apa yang ingin Willy bicarakan, bahkan Richard dilarang untuk mengikutinya.
Willy membawa Aish ke suatu cafe yang sering dikunjunginya saat bersama Alif. Tempat yang nyaman untuk bertukar pikiran.
Saat memasuki bangunan ini, Aish sedikit takjub. Bangunan peninggalan Belanda yang dirombak sedemikian rupa tanpa mengubah desain awal bangunannya.
Bangunan seperti ini yang selalu Alif dan Aish sukai sejak dulu. Bahkan mereka berdua sempat memimpikan mempunyai rumah seperti ini.
Willy mengajak Aish duduk di teras cafe itu, terdapat sofa yang nyaman disana.
"Bapak mau bicara apa?" tanya Aish yang mendapati Willy hanya diam saja daritadi.
"Panggil saja mas, kamu kan adik ipar saya" kata Willy.
Aish mengangguk saja, "Jadi, apa yang mau mas sampaikan sama saya?" tanya Aish.
"Maafin mas ya, Aishyah. Saya tahu kamu pasti marah sama saya" kata Willy mengawali pembicaraannya.
Aish hanya diam, sebenarnya dia tidak terlalu suka pada pria ini. Aish masih menganggap jika kematian semua keluarganya adalah ulah dari pria yang mengaku sebagai kakak iparnya ini.
"Alif sering bilang sama saya kalau dia rindu sama kamu. Bahkan terakhir kali kami bersama waktu itu, dia bilang kalau dia ingin ketemu sama kamu" kata Willy.
Aish mulai menatap netra Willy saat berbicara. Mendengar nama Alif disebut, membuat Aish tertarik.
"Alif bilang kalau kamu kurusan. Setelah ayah kalian meninggal, Alif semakin merasa bersalah. Setiap kali dia sendirian, pasti dia akan menghabiskan waktunya dengan menangis" kata Willy.
"Kenapa mas Willy tega menyuruh bang Tomy untuk membunuh kakak saya?" tanya Aish datar, rupanya dia masih belum mempercayai Willy sepenuhnya.
"Sumpah demi apapun, Aishyah. Mas nggak pernah menyuruh Tomy melakukan itu. Mas sangat mencintai kakak kamu" kata Willy.
"Buktikan nanti di pengadilan, mas" kata Aish.
"Tentu, saya akan buktikan kalau saya tidak bersalah" kata Willy.
"Tapi saya minta sama kamu, tolong jangan membenci Richard karena kebodohan saya di masa lalu. Richard sebenarnya anak yang baik, meskipun benar kalau kami jarang sekali bertemu. Tapi saya yakin dia tulus denganmu, saya yakin dia akan terus memperjuangkan kamu" kata Willy.
__ADS_1
"Itu akan menjadi urusan kami nanti, setelah pengadilan memutuskan siapa yang bersalah" kata Aish.
"Kamu tahu, Aishyah. Kakakmu itu segalanya bagi saya. Bukan karena dia yang bisa memberikan anak untukku, lebih dari itu, dia menyelamatkan nyawa dan kehormatanku dulu" kata Willy.
Aish merasa tertarik dengan obrolan ini, segala tentang kakaknya, dia rindukan.
"Maksudnya?" tanya Aish.
"Saat itu, saya menemukan Alif sedang berada di sebuah club malam dengan teman-temannya. Kami belum saling mengenal waktu itu. Dia belum benar-benar mabuk, saat dia tahu kalau seorang teman memberi sesuatu dalam minuman saya".
"Alif menghampiri meja kami, dia menghabiskan segelas minuman keras yang sudah hampir saya minum, sampai habis".
"Dia pikir itu adalah racun, dia ingin mengakhiri hidupnya saat itu. Tapi ternyata itu adalah obat perangsang. Tentu saja dia jadi belingsatan setelahnya".
"Saat saya memarahinya, dia membisikkan sesuatu, dia bilang temanku memberi sesuatu ke dalam minuman itu".
"Saya membawanya ke sebuah hotel agar bisa beristirahat. Tapi efek obat itu begitu luar biasa. Kami terlena, saya tidak bisa mengendalikan diri. Setelah sadar, dia sangat frustasi".
"Dari situ saya baru tahu, bahwa dia menyimpan perasaan sedih. Dia syok saat ayahmu bangkrut dan tidak punya apa-apa lagi. Ditambah peristiwa malam itu, dia semakin merasa bersalah".
"Kami hanya melakukannya satu kali, ternyata dia hamil. Kamu tahu bahwa saya mau bertanggung jawab dengan menikahinya. Tapi ayahmu menolak, dan malah mengusirnya" kata Willy mengingatkan kejadian dulu.
"Ya, karena itu ayah terkena serangan jantung. Dan sempat stroke sebelum akhirnya meninggal dunia" kata Aish.
"Saya minta maaf untuk hal itu" kata Willy sedih.
"Setelah itu, mas benar-benar menikahi kakak saya?" tanya Aish.
"Alif mengajarkan saya arti kehidupan. Dia sangat menyesal dengan perbuatannya. Sebenarnya dia ingin sekali mendatangi keluarganya dan meminta maaf. Tapi dia terlalu takut untuk melakukannya" kata Willy.
"Jadi, mas Willy menikahi kakak saya atas sepengetahuan istri sebelumnya atau tidak?" tanya Aish.
"Tentu Helda tahu, bahkan dia yang menyuruh kami segera menikah. Dia juga ingin punya anak kandung dari kami" kata Willy.
"Entahlah mas, saya masih belum bisa mempercayai mas Willy sepenuhnya" kata Aish.
"Saya mengerti akan hal itu. Pasti sangat sulit untukmu mempercayai semua ini. Tapi yang pasti, saya tidak pernah sedikitpun berpikir untuk mencelakai Alif. Saya sangat mencintainya" kata Willy.
"Bagaimana keponakan saya? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Alif yang teringat jika keponakannya dibawa keluarga Willy.
"Ya, Livy baik-baik saja. Hanya saja dia sering menanyakan ibunya akhir-akhir ini" kata Willy.
"Syukurlah kalau begitu" kata Aish.
"Nanti akan saya bawa dia untuk menemuimu" kata Willy.
"Jadi, apa inti dari pembicaraan ini mas?" tanya Aish.
"Mas harap kamu percaya jika saya tidak pernah menyuruh Tomy. Dan satu lagi, tolong jangan sakiti hati Richard. Bagaimanapun dia adik saya" kata Willy.
__ADS_1
"Ya, kita lihat saja nanti baiknya bagaimana. Jika sudah tidak ada yang mau dibicarakan, saya mau pulang dulu" kata Aish berpamitan.
"Terimakasih atas waktunya. Hati-hatilah dijalan" kata Willy.
Aish menghampiri meja teman-temannya setelah itu. Ketiga temannya masih menunggui Aish untuk pulang bersama. Mereka tidak mau meninggalkan Aish hanya berdua dengan Willy.
★★★★★
Hampir tengah malam Falen sampai dirumahnya, kurang sedikit lagi dia sampai di kamarnya saat langkahnya terhenti karena teringat cerita Aish tadi.
Menoleh ke samping, pintu kamar kakaknya sedikit terbuka. Lampu di dalamnya terlihat terang, bisa dipastikan jika kakaknya berada di dalam.
Falen membelokkan arah kakinya, melangkah ke kamar sang kakak. Dia mendapati Siras sedang memangku laptopnya sambil duduk diatas ranjang. Siras sedang fokus mengerjakan sesuatu disana.
Siras menoleh saat menyadari ada Falen yang akan memasuki kamarnya.
"Ada apa?" tanya Siras dengan mata yang kembali fokus pada layar laptopnya.
"Gue cuma mau bilang sama lo, jangan lagi gangguin Aish. Kalau masih nekat, lo berhadapan sama gue" kata Falen
Siras mengerti arah pembicaraan ini, untuk itulah dia harus menyesal. Adiknya juga pasti menyalahkannya.
"Maksud kamu apa?" tanya Siras pura-pura tidak mengerti.
"Sudahlah kak, jangan sok nggak tahu. Gue mohon sama lo, jangan ganggu Aish lagi. Hidupnya sudah susah, jangan nambah-nambah kesusahan hidup orang bisa nggak sih?" kata Falen memarahi kakaknya.
"Kamu ini ngaco sekali, sudah sana pergi. Jangan ganggu saya. Saya sedang sibuk" kata Siras kembali fokus pada laptopnya.
"Ada apa sih kok datang-datang langsung ribut? Mama dengar loh dari bawah" kata mamanya datang melerai.
"Mama tanya saja sama anak kesayangan mama yang nggak ada salahnya ini" kata Falen meninggalkan mama dan kakaknya.
"Ada apa sih, Siras?" tanya mama Falen penasaran.
"Nggak ada apa-apa kok mam Cuma salah paham saja. Mama nggak usah khawatir" kata Siras.
"Yasudah, mama ke kamar ya. Kalian itu jangan ribut terus saja kerjaannya. Mama sampai pusing" gerutu mamanya sebelum meninggalkan Siras sendiri.
Siras sadar, tidak seharusnya dia berbuat seperti itu pada Aish. Seharusnya dia berjuang dengan cara yang baik, agar Aish mau menerimanya dengan hati terbuka.
Jika sudah seperti ini, pasti akan sangat sulit untuk bisa mencari celah dalan hati gadis itu. Apalagi dia yang selalu dipepet oleh Richard, dan sekarang malah adiknya sendiri yang harus dia hadapi kalau mau terus memperjuangkan gadis kecil itu.
"Huft, dasar anak remaja. Tapi kenapa juga aku harus menyukai gadis kecil itu" kata Siras lirih.
Fokusnya sudah tidak pada pekerjaannya. Diapun mematikan laptopnya dan bersiap tidur.
.
.
__ADS_1
.
.