
"Bang Rian bisa tahu gituan?" tanya Hendra.
"Gue kan preman Hen, kayak sudah wajib hukumnya buat orang-orang kayak gue juga mendalami hal gaib seperti itu. Jadi, kenapa lo bawa dia kemari?" tanya Hendra.
"Kita bicara di teras saja biar lebih nyaman" ajak Rian.
"Iya bang" kata Hendra mengekor pada Rian yang sudah jalan duluan.
"Duduk sini lo" perintah Rian.
"Sekarang, ceritain sama gue" kata Rian setelah Hendra duduk dengan nyaman.
"Gue nemuin dia ada di dekat Aishyah waktu kita camping di pantai, di pergantian tahun kemarin bang. Sosok hitam itu cuma berdiri doang di dekat Aishyah tanpa berbuat apa-apa. Yang gue heran, sekarang sosok itu malah ngintilin gue bang" kata Hendra menjelaskan dengan singkat.
"Dia ngikutin lo karena dia tahu kalau lo bisa lihat dia. Sejak kapan lo bisa lihat begituan?" tanya Rian lagi.
"Sejak gue, Aish, Falen dan Seno bisa bebas dari dunia aneh bang. Kita sempat hilang kan waktu itu, dan sewaktu kita bisa balik ke dunia kita, gue jadi bisa lihat begituan bang" jawab Hendra.
Bang Rian manggut-manggut sambil mengelus dagunya yang ditumbuhi jenggot tipis.
"Ya, gue pernah dengar kabar kalian yang hilang waktu itu" kata Rian.
"Terus lo takut dengan kemampuan baru lo?" tanya Rian.
"Nggak sih bang, dari kecil gue nggak pernah takut gituan. Jadi ya biasa saja selama mereka nggak ganggu, cuma yang satu ini beda bang. Dia bahkan pernah masuk mimpi gue" kata Hendra.
"Menarik, lo sudah coba komunikasi sama dia?" tanya Rian.
"Gue masih belum sampai di tahap itu bang. Gue masih di level digoda tanpa bisa membalas" kata Hendra.
Rian tergelak dengan penuturan Hendra. "Ada-ada saja" kata Rian.
Sosok itu masih saja berusaha mendekati Hendra, tapi sepertinya dia tahu jika Rian punya kemampuan lebih. Jadi dia berdiri lumayan jauh dari kedua pria yang sedang berkonsultasi itu.
"Lo tahu dia ada dimana sekarang?" tanya Rian, sebenarnya dia hanya ingin memastikan apakah benar Hendra bisa melihat hal yang seperti itu.
"Disana bang, seberang jalan di depan rumah ini. Padahal ini masih sore kan bang, gue jadi heran kenapa dia bisa keluar sore-sore gini?" tanya Hendra.
"Terserah mereka lah maunya keluar kapan, cuma ada beberapa waktu yang bisa bikin mereka lebih kuat" kata Rian.
"Oiya, kapan itu bang?" tanya Hendra penasaran.
"Ada tiga waktu diantara 24 jam yang bikin mereka lebih kuat, yaitu tengah hari waktu dhuhur, senja menjelang maghrib, sama tengah malam. Makanya dianjurkan berdoa kalau mau tidur. Mereka ini licik Hen" kata Rian.
"Maksudnya licik itu gimana bang?" tanya Hendra.
__ADS_1
"Kalau lo sudah bisa berkomunikasi sama mereka, jangan sekali-kali lo percaya sepenuhnya sama kata-kata mereka. Dari satu kalimat yang keluar dari mulut mereka, maka hanya dua kata yang bisa dipercaya" kata Rian.
"Terus gimana sama jin penunggu gitu bang? Gue lihat banyak yang pakai gituan" tanya Hendra.
"Sama saja Hen. Tugas mereka menyesatkan, lo jangan sampai sesat kayak gue. Hahahaha" kata Rian sambil tergelak dengan ucapannya sendiri.
"Abang sama kayak mereka dong?" tanya Hendra.
"Nggak dong, gue nggak punya tugas menyesatkan. Enak aja lo" kata Rian.
"Terus gimana bang? Gue harus apa?" tanya Hendra.
"coba lo meditasi, fokusin pikiran lo, terus coba lo berusaha memahami apa maksud mereka" kata Rian.
"Susah kayaknya ya bang?" tanya Hendra.
"Nanti gue bantuin lo, kalau lo lakuin sendiri bisa-bisa lo dibawa sama mereka" kata Rian.
"Sekarang juga nggak apa-apa bang. Gue ribet kalau diikutin mulu, males banget waktu enjoy nikmatin bab malah mereka menampakkan diri. Takut sih enggak, cuma kaget doang" kata Hendra.
"Sangsi gue kalau lo nggak takut" kata Rian.
"Beneran bang, buktinya gue tetap saja lanjutin acara bab gue meskipun dilihatin sama mereka" kata Hendra.
"Jijik gue dengernya Hen" ledek Rian.
"Ok, kita lakuin disini saja ya? Lo sudah makan apa belum?" tanya Rian.
"Abang perhatian banget sama gue, pakai tanya makan apa belum segala" kata Hendra tidak sabaran.
"Masalahnya, meditasi itu butuh banyak energi. Lo bakalan pingsan kalau energi lo nanti terkuras habis, apalagi kalau lo lapar. Bisa-bisa tubuh lo dikuasai sama mereka" kata Rian sedikit emosi.
"Iya bang, nggak usah nge gas juga dong" kata Hendra.
"Lama-lama lo bikin gue emosi" kata Rian.
"Sorry bang, maafin gue" kata Hendra datar.
"Oke, sekarang kita lakuin disini. Man, minta karpet sama enyak di dalem cepetan" Rian memerintahkan seorang anak buahnya untuk mengambil karpet.
"Baik boss" kata anak buahnya yang kemudian masuk ke dalam rumah.
Tak lama kemudian, dia keluar dan membawa sebuah karpet. Rian menyuruh untuk menggelar karpet di teras rumah. Dia dan Hendra duduk bersila dan saling berhadapan.
"Sekarang atur napas lo, tenangin diri lo. Buang semua pikiran yang mengganggu, tutup mata lo" kata Rian mengawali meditasinya.
__ADS_1
"Sama seperti waktu lo mau tidur, lo bakalan dengar suara-suara bising yang mengganggu. Lawan sebisa lo, fokus. Cari inti tujuan lo, jangan pedulikan lainnya" kata Rian setelah Hendra menutup matanya.
"Pusatkan pikiran lo di kening, terutama diantara kedua alis lo. Fokus disana, jangan dengarkan hal yang tidak penting" kata Rian.
Hendra mencoba sebisanya, sangat susah menghilangkan suara bising yang mengganggu. Dia masih belum bisa mengendalikan pikirannya.
Dua puluh menit berlalu, Hendra merasa sudah kesemutan, kakinya terasa kebas. Suara bising masih terdengar.
"Susah banget bang, suara bisingnya masih kedengeran" kata Hendra membuka matanya, dia selonjorkan kakinya untuk mengurangi kesemutan.
"Awalnya memang susah, tapi lo jangan nyerah. Gue yakin kemampuan yang tiba-tiba lo dapatkan ini juga pasti tahu kalau nantinya lo bakalan bisa ngendaliin" kata Rian.
"Gue harap juga gitu bang. Sebentar gue mau minta minum sama enyak" kata Hendra.
"Man, ambilin minum" Rian memerintah anak buahnya lagi. Hendra jadi merasa tidak enak pada orang itu.
"Ini boss" kata si Maman, anak buah Rian.
"Makasih bang" kata Hendra, Maman hanya mengangguk saja.
"Sudah? Sekarang lo coba lagi. Ingat tujuan awal lo, fokusin pikiran lo. Coba lagi!" perintah Rian.
"Iya bang" kata Hendra mulai bersila kaki, menutup mata dan berusaha fokus.
Lama-lama suara bising mulai menghilang, keadaan gelap karena menutup mata, lama-kelamaan juga seperti terlihat cahaya terang.
Hendra seperti berada di padang savana, sejauh mata memandang, hanya hijau yang terlihat. Dengan rumput setinggi lutut dan embun yang terasa sejuk.
Kedua matanya hanya melihat hijau ditanah, dan putihnya awan. Tidak ada warna lainnya.
Hendra mengedarkan pandangan, melihat sekeliling. Hanya ada dia seorang diri.
Tiba-tiba di kejauhan, tampak seorang wanita barambut panjang dan bergaun warna navy. Wanita yang dia temui dalam mimpi sebelumnya.
Jaraknya dan wanita itu sekitar 300 meter, tanpa ada halangan apapun. Hendra masih tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.
"Cewek itu kan yang ada di mimpi gue" kata Hendra dalam hati.
Kakinya mulai melangkah, mendekati si wanita. Berharap bisa mengetahui maksud adanya cewek itu saat ini juga.
Tapi saat Hendra mendekat, wanita itu malah melangkah mundur, dia menjauh.
.
.
__ADS_1
.