Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
cara pandang Richard


__ADS_3

"Makasih banyak ya Richard, selama ini lo sudah banyak bantuin gue. Hati-hati di jalan kalau pulang" kata Aish sambil melepas seat beltnya, mereka sudah berada di depan rumah Aish waktu adzan maghrib berkumandang.


"Iya, ini lo bawa dulu, buat latihan" kata Richard memberikan gitar yang sedari tadi ada di jok belakang mobilnya.


"Uwah, makasih ya Richard. Nanti selesai ujian gue balikin" kata Aish.


Richard hanya mengangguk, "Gue balik dulu" kata Richard berpamitan.


"Nggak masuk dulu?" tanya Aish berbasa-basi.


"Sudah maghrib, nanti bunda lo marah" kata Richard, Aish hanya mengangguk dan tersenyum.


"Dah Richard, sampai jumpa besok" kata Aish sedikit berteriak sambil melambaikan tangan saat Richard pergi dari halaman rumahnya.


"Assalamualaikum, bunda Aish pulang" teriak Aish saat sampai di teras rumahnya.


"Waalaikumsalam, selalu saja teriak. Budek lama-lama kuping bunda nih" kata bunda, rupanya bunda mau solat, sekarang bunda sedang memakai mukena.


"Aish laper bun, bunda masak apa?" tanya Aish.


"Mandi terus solat dulu, baru boleh makan. Ini juga ngapain bawa-bawa gitar segala? Mau jadi pengamen kamu?" tanya bunda.


"Ish bunda nih, nauzubillah.. Aish lagi ada tugas sekolah bun, tadi dipinjami Richard buat latihan. Ujian kesenian minggu depan bun, Aish mau nyanyi" kata Aish sambil melepas sepatunya dan meletakkan di rak samping pintu masuk.


"Hahahahaa ... nggak salah kamu mau nyanyi ya anakku sayang? Suara kamu itu lebih baik disimpan untuk hal yang lebih penting saja" ledek bunda


"Oh gitu, yasudah bunda mau solat dulu. Kunci pintunya is, terus mandi. Jangan lama-lama" kata bunda sedikit berteriak karena bunda bicara sambil berjalan menuju mushola kecil di dalam rumahnya.


"Iya bunda" kata Aish patuh.


★★★★★


"Ribet juga ya cuma pingin tahu identitas orang saja" kata Hendra yang sedang diskusi dengan Falen dan Rian mengenai penemuan mayat.


"Semua kan memang ada prosedurnya Hen, lo sabar saja. Semoga cepat ketemu identitas orang itu" kata Falen. Mereka sedang berada di sebuah cafe di malam ini.


"Eh bang, kok bisa sih abang jadi preman malah kembaran abang jadi polisi? Ceritain dong bang" kata Falen penasaran.


"Hehe... Semua berawal dari cita-cita kami yang sama. Bahkan semua keinginan kami juga sama, mungkin karena kita kembar kali ya" kata Rian mengawali ceritanya. Hendra dan Falen mendengar dengan seksama.

__ADS_1


"Waktu kita sama-sama SMA, ada cewek yang gue taksir. Malah si Fian juga naksir sama cewek ini. Akhirnya kita sama-sama berusaha buat jadi yang terbaik di depan cewek ini. Suatu hari karena gue juga hobi balapan, gue kecelakaan. Kaki gue patah, gue jadi nggak bisa ikut tes kepolisian waktu itu".


"Si Fian ikut dan tentunya lolos. Itu bikin gue jadi frustasi. Terus gue lihat si Fian mepet mulu sama nih cewek, kan dia sudah jadi calon polisi. Nilai plusnya bertambah di mata cewek ini. Gue nggak terima, sampai kita adu jotos segala".


"Cewek ini tahu, akhirnya dia nggak bakalan milih salah satu dari kami. Dia memutuskan untuk selalu dekat dengan kami sebagai sahabat baik".


"Jadi setelahnya, saat Fian sudah jadi polisi. Gue putusin buat jadi preman saja, gue pingin tahu, sepintar apa supaya dia bisa nangkep gue yang berandalan. hahaha" Rian mengakhiri ceritanya dengan gelak tawa yang menurutnya lucu. Hendra dan Falen hanya diam menunggu tawa Rian mereda.


"Jadi, siapa ceweknya bang?" tanya Falen.


"Retno, dokter ahli forensik itu" jawab Rian.


"Uwah, sungguh kisah cinta yang membagongkan ya bang. Terus dokter Retno sudah berkeluarga atau belum bang?" tanya Falen yang masih penasaran.


Rian hanya tergelak mendengar pertanyaan Falen, dia menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan remaja itu.


Richard datang bersama kedua sahabatnya, Reno dan Yopi ke cafe yang sama. Cowok itu mengetahui keberadaan Falen yang sedang bersama Hendra disana.


Tapi dia hanya diam tanpa ingin menyapa mereka, hubungan mereka tidak cukup baik meski hanya untuk saling bertegur sapa.


"Eh, ada rival tuh" ledek Reno setelah mereka bertiga mendapat tempat duduk.


"Diem mulut lo" kata Richard.


"Belum" jawab Richard.


"Perasaan lo sebenarnya gimana sih sama si Aishyah?" tanya Reno.


"Nggak tahu gue, tapi gue seneng banget kalau ada di dekatnya" kata Richard.


"Terus Emily gimana bro?" tanya Yopi.


"Gue juga bingung. Semenjak gue kenal Aishyah, cara pandang gue ke cewek tuh jadi berubah" kata Richard.


"Maksud lo?" tanya Reno.


"Selama ini gue cuma lihat cewek tuh karena mereka bisa bikin gue senang karena bisa gue lakuin sesuka hati. Tapi melihat Aishyah gue jadi berpikir kalau cewek tuh bukan cuma dipakai, tapi dijaga" kata Richard.


"Meleleh hati gue bang" kata Reno.

__ADS_1


"Lo ngaku deh sama kita, lo sama Emily sudah pernah gituan bro?" tanya Yopi.


"Maksud lo?" tanya Richard.


"Ya, ngelakuin ehem-ehem gitu. Lo kayak nggak ngerti aja sih. Sabun lo tengahnya bolong" ledek Yopi sambil tergelak.


"Brengsek lo. Jujur gue belum pernah sampai ke tahap gituan sama Emily. Kalau ciuman memang sering, tapi sumpah gue nggak pernah gituan" kata Richard.


"Nggak yakin gue" kata Reno.


"Sumpah, memang kadang gue hampir kebablasan. Cuma gue mikir, kan gue masih muda banget nih. Gue nggak mau kalau nantinya dia nangis-nangis minta tanggung jawab kalau seandainya jadi" kata Richard.


"Bener juga sih lo. Gue saja sudah ngebobol gawangnya pacar gue, nyesel nih gue" kata Yopi.


"Seriusan lo Yop?" tanya Reno.


"Iya, malam tahun baru kemarin" kata Yopi.


"Uwah, rasanya gimana bro? Ceritain sama kita dong" kata Reno penasaran.


"Makanya punya pacar, jangan jomblo abadi. Ngenes banget lo jadi orang" ledek Yopi yang mendapat jitakan keras di kepalanya oleh Reno.


"Awas aja ya lo Yopi si tukang mesum. Gue bakalan pacari banyak cewek, terus gue bobolin semua gawangnya. Kalau perlu nanti gue rekam terus gue kirim ke elo. Biar lo tahu kekuatan super gue" kata Reno yang kali ini mendapat jitakan keras di kepalanya oleh Richard.


"Jangan coba-coba lo rusak masa depan anak orang bego. Coba lo pikir kalau itu terjadi sama adek lo" kata Richard.


"Uwah, kali ini lo bener bocah gila. Gue nggak nyangka kedekatan lo sama ustadzah Aishyah ngasih banyak pengaruh baik. Lo terusin dah mepet tuh cewek, biar lo ketularan jadi ustadz.hahaha" ledek Reno.


"Eh, gue lupa. Lo kan kristen bro.... Ngenes banget hidup lo nggak bisa bersatu sama belahan hati lo" ledek Reno lagi. Kedua temannya menertawakan Richard yang kini jadi terdiam.


"Benar ucapan Reno, gue dan Aisyah berbeda keyakinan. Seharusnya dari awal gue nggak boleh naruh perasaan lebih sama cewek istimewa kayak si Aishyah" batin Richard sedih melihat kenyataan bahwa mereka berbeda.


"Eh bro, lo kok jadi diam sih? Gue salah ngomong ya? Gue minta maaf deh. Besok Minggu gue jemput lo ya, kita ke gereja sama-sama" kata Reno merasa bersalah karena melihat Richard yang jadi terdiam.


"Huh, mulut lo ini memang minta di ikat pakai karet gelang, biar bisa diem" kata Richard, membuat Reno bergerak seolah mengunci mulutnya dan membuang kuncinya ke udara.


"Awas kalo habis ini mulut lo masih ngomel" ancam Richard, membuat Yopi tertawa melihat nasib Reno yang dilarang berbicara.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2