
Upacara kali ini terasa sangat membosankan, bu Kris si guru BP menyampaikan pidato dengan sangat panjang selaku pembina upacara.
Bibir tipis dengan suara serak itu seakan tidak kehabisan kata untuk disampaikan. Bahkan sudah terhitung ada sekitar tujuh orang murid yang pingsan karena berdiri terlalu lama.
Seno sudah terlihat pucat, katanya dia tidak sempat sarapan tadi pagi karena bangun kesiangan. Beruntung dia kuat menjalani cobaan pagi ini dan tetap bertahan hingga upacara berakhir.
"Gokil bener tuh mak guru pidatonya ngalahin panjang tembok China" Falen sudah kepanasan, kulit putihnya memerah dengan keringat bercucuran. Segera mengambil buku untuk dijadikan kipas setelah sampai ditempat duduknya.
"Lo gimana kabarnya bro?" lanjutnya pada Hendra yang terlihat sangat baik-baik saja.
"Tidur gue pas pidato" jawabnya enteng.
"Serius lo bisa tidur sambil berdiri?" tanya Aish kagum.
"Bisa lah, terlatih gue" ucapnya santai.
"Ajarin kita dong Hen. Gue aja dikit lagi pingsan tadi" kata Seno.
"Lo baik Aish cantikku?" tanya Falen.
"Gue sih tadi dengerin sambil ngapalin surat pendek dan rumus gitu sih. Jadi kayak nggak berasa deh" ucap Aish.
"hahaha... Lo lebih gokil daripada tuh guru BP. Emang temen gue paling pinter dah. Nanti ulangan gue nyontek yaa" kata Falen.
"Pantes aja tadi gue lihat dari belakang, lo kayak adem-adem aja saat semua orang gerah. Gue kira ketiduran kayak si Hendro" lanjutnya.
"Terus aja ganti nama orang, udah dibaptis gue ya asal lo tahu" kata Hendra.
"Mana gue tahu, gue kan tempe" kata Falen.
"Oiya, Hen. Lo jadi ikut gue daftar anggota PMR yaa. Lo mau juga nggak Fal, Sen?" tanya Aish.
"Gue jadi" kata Hendra datar.
"Sorry honey. Untuk kali ini abang Falen nggak bisa ngabulin permintaan bidadari Aish. Soalnya sudah didaftarin OSIS sama yayang Dedew" kata Falen lebay, membuat Hendra pura-pura muntah diudara.
"Lo bisa kok kalau mau ikut jadi anggota OSIS juga Ai, nanti kita bisa sama-sama" lanjutnya.
"Nggak bisa gue, satu ekskul aja. Kalau kebanyakan nanti gue malah nggak fokus sama pelajaran dong" Aish menyesalkan keputusan Falen.
"Gue nggak suka nolong korban kecelakaan Ai, nggak apa-apa kalau gue nggak ikut PMR ya? Takut gue sama orang terluka" kata Seno.
__ADS_1
"Rencananya sih gue nggak mau ikut ekskul apa-apa" lanjutnya.
"Yaahh... yaudah deh, gue sama Hendra aja kalau gitu. Tapi yang gue denger nih ya Sen, semua murid tingkat sepuluh harus ada ekskul, buat nambah nilai raport gitu" Aish menjelaskan.
"Masak sih? Terus gue ikut apa ya? Gue males banget ekskul, sekolah aja sebenarnya gue males" kata Seno.
"Tapi kenapa lo bisa masuk IPA? Jadi sebenarnya lo tuh pinter, cuma males aja ya?" tanya Aish.
"Nggak pinter gue, lagi beruntung aja mungkin. Soalnya tiap hari gue belajar sama mama, secara gue anak tunggal Ai. Sedih gue" kata Seno.
"Bagus dong seharusnya, lo nggak usah bimbel kemana-mana sudah ada yang ngajarin kan" kata Aish.
"Nanti kita bareng ke basecamp nya PMR ya Hen, abis istirahat kedua aja ya" kata Aish, dijawab dengan tangan yang jari jempol dan telunjuknya membentuk lingkaran, tanda setuju.
Bu Siska datang setelah kesepakatan Aish dan Hendra terjadi. Pelajaran pertama diisi dengan pemilihan struktur organisasi kelas.
Pemungutan suara dilakukan oleh 35 murid, untuk memilih ketua, wakil, bendaraha, dan sekretaris.
Sebenarnya Falen yang terpilih sebagai ketua, tapi dia tidak mau menjabatnya. Dan memilih menyerahkan jabatan itu pada wakilnya, biarlah dia menjadi wakilnya saja.
Selang beberapa waktu, terpilihlah Axel Aurora Hamburg sebagai ketua, cewek tomboy yang rambutnya hanya sebahu, matanya yang sipit, kulit putih susu, dengan hidung sedikit pesek menegaskan darah Oriental. Dan si bule Falentino sebagai wakilnya. Sungguh pasangan yang menakjubkan, serasa keliling dunia melihat mereka.
Sekretaris dijabat oleh gadis ayu bermata sayu, Gabriella Fany Sitompul, darah Batak tulen membuatnya menjadi pribadi yang tegas tapi pembawaannya sangat santai.
Proses pemilihan ketua kelas membuat para murid sedikit terhibur setelah melalui upacara bendera yang durasinya cukup melelahkan pagi tadi.
*****
Siang hari di jam istirahat kedua, Aish dan Hendra berjalan bersama menuju basecamp PMR untuk mendaftarkan diri. Setelah sebelumnya Aish solat dhuhur di mushola sekolah, dan Hendra dengan setianya menunggu sahabatnya itu beribadah.
Sampai di tempat tujuan, ternyata kondisinya lumayan ramai. Banyak yang meminati ekskul ini ternyata. Disiplin dan kesetiaan, begitulah semboyan ekskul yang dipercaya sebagai penyelamat sesama.
Setelah terdaftar, mereka diinformasikan bahwa latihan diadakan setiap hari Sabtu jam sembilan pagi. Dan keduanyapun segera kembali ke kelas mereka setelahnya, karena waktu istirahat yang hampir habis.
Tiba di kelas, ternyata Falen dan Seno sudah terlebih dahulu sampai.
"Baru nyampek? sudah daftarnya?" tanya Seno.
"Sudah, Sabtu baru mulai latihan" jawab Aish sambil duduk disinggasananya.
"Lo sudah mutusin mau ikut ekskul apa Sen?" tanya Aish.
__ADS_1
"Awalnya nggak ada rencana ikut apa-apa, tapi tuh si bule malah daftarin aku OSIS juga" jawab Seno.
"Yaudah nggak apa-apa, ikut OSIS juga enak, kan sudah ada temannya tuh si bule playboy" kata Aish.
"Terus aja yul, tuyul, tambahin aja gelar gue biar tambah panjang" kata Falen.
"Lukira gue botak ya bule mlehoy, tuyul-tuyul mulu. Yang kerenan dong, masak gue yang imut dan ngegemesin gini lo samain sama tuyul sih. Sebel gue sama lo" kata Aish dengan mengerucutkan bibir mungilnya.
"Lo sih ngatain gue playboy, padahal gue setia banget tahu?"
"Bodo amat" kata Aish.
"Seragam batik gue kebesaran banget tahu nggak sih prend, masak tadi pakai ukuran L badannya kekecilan, tapi pakai ujuran XL badannya pas malah tangannya kepanjangan" kata Falen mengeluhkan seragam barunya yang ukurannya tidak cocok sama sekali.
"Yaudah tinggal lo permakin aja sih Fal, ribat banget hidup lo" kata Aish cuek.
"Lo mah gitu sama gue. Masalahnya mommy gue lagi dirumah grandpa gue di Aussie, mana tahu gue tempat buar benerin baju" kata Falen.
"Oh!! gue punya ide" kata Aish.
"Apaan?" tanya Falen.
"Lo jahitin ke bunda gue aja gimana? Dirumah gue ada mesin jahit lengkap kok" kata Aish.
"Emang beneran lo bisa jahit? sangsi gue" kata Falen.
"Bukan gue yang bisa, tapi bunda gue. Dulu kan almarhum ayah gue punya usaha garmen skala rumahan gitu. Jadi bunda juga ikutan belajar jahit deh. Itu kalau lo nya mau ya, kalau nggak mau ya nggak apa-apa. Gue cuma nyaranin aja sih" kata Aish.
"Ya boleh sih, tapi kalau nggak cocok sama gue, lo gantiin loh seragam gue" Falen menggoda Aish, senang bila cewek imut itu ngoceh ria.
"Lo tuh katanya kaya raya sih ya, sekolah bawa mobil sport keren, walaupun ya gue tahu pasti nggak punya sim. Tapi masalah seragam yang nilainya receh aja buat lo malah peritungan banget sih Fal" benar Aish jadi cerewet mode On.
Bukannya marah, Falen malah tambah semangat membuat bibir tipis Aish semakin ngoceh.
"Yang kaya kan bukan gue tapi bokap gue. Salah gitu kalau gue ternyata kaya turunan? Gue sudah pesen memang dulu pas pembagian rizki, minta malaikat ngasi gue rizki yang banyak kalau udah terlahir. Eehhh.... malah dibonusin ganteng pula" kata Falen sambil mandang ke langit-langit kelas.
Hendra yang mendengar malah menoyor kepala kopyor Falen.
"Aduhh... sakit bego. Hilang kharisma gue kalau bebeb dedew gue ngelihat lo noyor-noyor kepala gue Hendro bego!" Falen kesal dengan perbuatan Hendra, sementara Aish tertawa dengan kelakuan teman-temannya itu.
"Lo juga pede tingkat nasional. Jadi nggak kalau mau vermak kemeja batik lo? Gratis deh buat lo kalau emang hasilnya nggak memuaskan. Tapi gue yakin sih sama kampuan bunda gue yang paripurna" kata Aish membanggakan bundanya.
__ADS_1
"Oke deh, nih lo bawa pulang. Secepatnya selesaikan ya, jangan molor-molor" kata Falen.
"Iya bawel" kata Aish