Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
administrasi


__ADS_3

Aish telah menjalani serangkaian pemeriksaan setelah sadar dari tidurnya. Semua hasilnya baik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


"Syukurlah kalau semuanya baik, saya senang mendengarnya dokter" kata bunda setelah dokter Siras menjelaskan semuanya.


"Iya bu, semoga bisa lekas pulih" kata Dokter itu lagi.


"Bang dokter, besok saya boleh pulang ya. Saya nggak betah lama-lama di rumah sakit bang" rengek Aish ke sekian kalinya.


"Kita lihat perkembangan kamu besok ya, kalau semua baik, bisa langsung pulang" kata Siras.


"Pasti baik dokter, besok saya mau pulang saja" katanya, Siras hanya tersenyum melihat tingkah Aishyah.


"Yasudah kalau begitu, saya permisi dulu. Kalau kamu merasakan sesuatu yang tidak nyaman atau ada keluhan lagi, segera hubungi saya ya Aishyah" kata Siras.


"Iya bang dokter. Terimakasih ya" kata Aish dengan senyumnya.


"Mari Aishyah, saya bantu kamu ganti baju ya" kata suster setelah kepergian Siras.


"Ibu dan masnya bisa tolong tunggu di luar sebentar ya" kata suster. Hendra dan bundapun menunggu diluar ruangan.


Falen dan Seno datang bersama setelah suster selesai membantu Aishyah ganti baju dan merapikan tempat tidurnya. Kini Aishyah sudah terlihat lebih baik.


Bunda duduk diatas ranjang Aishyah, sedangkan ketiga temannya duduk di sofa yang tersedia dikamar rawat Aishyah.


"Ceritain ke kota dong princess, apa yang lo rasain saat tertidur?" tanya Seno.


"Iya, kenapa waktu lo nggak sadar kadang tersenyum, kadang lo nangis, itu kenapa?" tanya Falen.


Hendra dan bunda hanya menyimak, menunggu Aishyah menjawab pertanyaan kedua temannya.


"Gue ketemu ayah, iya bun... Beneran, itu tuh kayak nyata banget" kata Aish mengawali ceritanya.


Diapun menceritakan apa yang dia alami, Aish memeluk bundanya setelah bercerita. Bahkan air matanya kembali tumpah saat mengingat kejadian itu.


"Bunda jangan tinggalin Aishyah ya, pokoknya bunda nggak boleh pergi kemanapun" kata Aish setelah selesai dengan ceritanya.


"Itu kan cuma semacam mimpi saja is, nggak usah kamu pikirin ya. Lagian bunda mau pergi kemana?" kata bunda.


"Iya, bunda harus tetap sama Aish sampai kapanpun" kata Aish lagi.


"Itu mungkin efek rasa rindu lo sama ayah lo deh kayaknya princess. Lo pendam rasa rindu lo sendiri, jadi numpuk di alam bawah sadar lo. Terus lo masuk ke dunia dimana lo sendiri yang bikin, dunia yang menurut lo nyaman. Jadi lo betah tinggal disana, sedangkan lo lupain tubuh lo sendiri" kata Falen.


"Intinya apa bule?" tanya Hendra.


"Intinya, si Aishyah ini jiwanya hidup di alam pemikirannya sendiri, gitu loh Hendra" kata Falen.


"Mungkin benar juga pemikiran lo. Sekarang mendingan kita makan dulu yuk, mommy sudah siapin semua makanan ini sebelum gue tadi berangkat. Yuk makan sama-sama" kata Seno.


"Mommy kamu baik sekali nak Seno, bunda jadi malu karena selalu merepotkan kalian" kata bunda.

__ADS_1


"Nggak apa-apa bunda, nggak ada yang ngerasa direpotin disini. Iya kan Hen, Fal?" tanya Seno.


"Iya, bunda nggak usah khawatir ya" kata Falen.


Mereka makan malam bersama di kamar rawat Aish. Sebenarnya Aish selain nggak betah, dia merasa kasihan pada bunda yang harus membayar biaya rumah sakit. Gadis itu tidak menyangka jika bunda akan menempatkannya di kamar kelas satu seperti ini.


Pasti biayanya juga mahal, dia takut membebani sang bunda. Karena untuk kebutuhan sehari-hari saja mereka harus bekerja keras, pasti semua tabungan bundanya akan banyak terkuras hanya untuk membayar biaya rumah sakit.


"Gue nggak boleh kelihatan sedih, nanti kalau gue sudah keluar dari sini, biar gue coba cari kerja sambilan saja. Buat bantu bunda ngembaliin saldo tabungannya" batin Aish.


******


Keesokan harinya, setelah kepergian teman-teman Aishyah yang harus ke sekolah, bunda pergi meninggalkan Aish sebentar untuk ke bagian administrasi.


Wanita itu sedikit khawatir soal biaya rumah sakit, dia takut uang yang dipunya kurang. Harus kemana mencari pinjaman? Bunda sedikit bingung dan kepikiran juga selama disini dengan masalah administrasinya.


"Permisi mbak, saya mau bertanya tentang biaya anak saya selama disini. Namanya Aishyah Khumaira" kata bunda.


"Oh iya, baik ibu. Sebentar saya cek dulu ya" kata mbak itu ramah.


"Tagihannya sudah terbayarkan ibu. Jadi, tidak ada lagi yang harus ibu bayarkan" kata mbaknya.


"Tapi saya belum membayar mbak, kenapa bisa lunas?" tanya bunda.


"Memang sudah dibayar ibu, jadi Aishyah bisa langsung pulang jika dokternya mengizinkan" kata mbaknya menjelaskan.


"Saya kurang tahu ibu, disini tidak ada keterangan nama orang yang telah melunasinya. Tapi memang tagihan atas nama Aishyah Khumaira sudah terbayarkan" kata mbaknya.


"Oh, yasudah kalau begitu. Terimakasih ya mbak atas informasinya" kata bunda lagi.


Bunda kembali menuju ruang rawat Aishyah dengan penuh tanda tanya. "Siapa orang baik yang telah membayar biaya rumah sakit Aishyah ya?" bunda bertanya dalam benaknya.


"Sudah bun? pasti mahal ya biayanya? Sampai bunda ngelamun seperti itu. Lagian kenapa harus pilih kamar kelas satu sih bun? kenapa nggak yang biasa saja?" tanya Aishyah.


"Kamu tuh cerewet banget sih. Bunda bengong tuh karena bunda bingung, tagihan kamu sudah lunas. Padahal bunda masih berencana mau membayar" kata bunda.


"Loh kok bisa bun? Apa mungkin diantara Falen, Hendra atau Seno ya bun yang sudah membayarkan?" tanya Aish.


"Mungkin juga, nanti coba kamu tanyain deh sama mereka" kata bunda.


"Iya bun, sekarang mereka masih di kelas" kata Aishyah.


Terdengar ketukan di pintu disela pembicaraan bunda d an Aish seputar biaya rumah sakit, keduanya seketika terdiam. Bunda menuju pintu, melihat siapa yang datang.


"Permisi bu, saya ingin menjenguk Aishyah" kata sebuah suara.


"Oh iya, silakan masuk" kata bunda ramah.


Seseorang masuk dibantu suster, rupanya Richard yang datang.

__ADS_1


"Hai Aishyah. Gimana keadaan lo?" tanya Richard.


"Alhamdulillah gue sudah baikan Richard, mungkin hari ini sudah boleh pulang" jawab Aishyah.


"Syukurlah kalau begitu, makasih lo sudah mau bantuin gue ya. Sampai lo sendiri harus pingsan selama itu" kata Richard.


"Iya, nggak apa-apa kok. Lo sendiri juga sudah banyak bantuin gue selama ini, makasih juga ya" kata Aish dengan senyum manisnya.


"Lo sendiri gimana keadaannya? kenapa lo sudah jalan-jalan?" tanya Aish.


"Gue sudah baikan, meski kadang masih kerasa ngilu kalau efek obatnya habis" kata Richard.


"Lo kenapa bisa kecelakaan Richard? Apa benar yang orang-orang bilang kalau lo ikut balapan liar?" tanya Aishyah.


Richard menghela napas kasar sebelum menjawab pertanyaan Aishyah. Diapun bingung harus menjelaskan bagaimana, kalau dia cerita pasti dikira cuma nyari sensasi. Kalau nggak jujur juga, bingung harus berbohong seperti apa.


"Hei, kenapa bengong. Kalau lo nggak mau cerita ya nggak apa-apa sih. Yang penting lo sudah selamat" kata Aish.


"Iya, gue memang ikut balapan liar Aishyah. Gue harap lo nggak ngejauhin gue kalau lo tahu gue berandalan kayak gini ya" kata Richard.


"Nggak kok, setelah ini, lo jangan ikut yang kayak gitu lagi ya. Allah sudah sangat baik masih mau ngasih lo kesempatan buat sembuh, selanjutnya jangan gitu lagi ya. Bahaya tau" kata Aish.


"Iya, lo benar. Gue nggak nyangka bisa sampai ngebahayain lo" kata Richard.


"Aishyah benar nak Richard, untuk selanjutnya kamu jangan lagi ikut yang kayak gitu ya. Mendingan waktu luang kamu manfaatin buat menyalurkan hobi misalnya. Kalau memang hobi kamu balapan, ya salurkan di jalur yang benar, yang aman. Agar tidak membahayakan, terutama membahayakan diri kamu sendiri" kata bunda.


"Iya bu, maafin saya karena sudah membuat Aishyah celaka" kata Richard menyesali perbuatannya.


"Iya, tidak apa-apa nak. Aishyah sudah lebih baik sekarang. Kamu sendiri kapan boleh pulang?" tanya bunda.


"Saya masih belum tahu bu. Dokter masih belum mengizinkan, ini saja saya keluar karena sedang sendirian. Keluarga saya tidak ada yang menemani, mereka sibuk. Saya dititipkan ke suster selama disini" kata Richard.


Aishyah dan bunda hanya bisa saling pandang mendengar penuturan Richard, "Anak ini mungkin sangat kesepian" batin bunda.


"Kasihan Richard, dia sendirian" batin Aishyah.


"Teman-teman lo kesini?" tanya Aish.


"Iya, Reno dan Yopi selalu menginap selama gue dirawat. Sekarang mereka sedang di sekolah, setiap hari mereka berdua yang selalu temenin gue" kata Richard.


"Lo masih beruntung ada mereka berdua Richard, jadi lo nggak kesepian" kata Aishyah.


Cukup lama Richard ada dikamar Aishyah, hingga dokter datang untuk memeriksa para pasien. Cowok itu diminta untuk kembali ke ruang rawatnya, karena dia masih butuh banyak istirahat.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2