
"Iya, gue memang yatim piatu. Tapi nggak salah kan kalau gue mau mewujudkan impian gue" kata Aish sedikit tidak terima dengan ucapan Richard.
"Gue salah ngomong ya? kan gue cuma mau kita selalu bersama, Ra" kata Richard dengan pandangan sendu.
"Tau ah, males gue ngobrolin hal yang kayak gini" kata Aish.
"Camping lo gimana kemarin? Pasti seru banget ya?" tanya Aish.
"Seru, lumayan lah. Gue denger sih nanti ada giliran sekolah lo juga camping disana. Gue harap lo nggak main terlalu jauh ya, soalnya disana itu masih alami banget. Banyak juga jurang yang masih belum bisa terjangkau. Gue takut lo hilang" kata Richard memperingatkan Aish.
"Gue bukan anak kecil kali, lagian juga kesananya juga rombongan. Kenapa harus takut?" tanya Aish.
"Beneran medannya susah banget kalau sampai ada yang hilang. Gue mohon sama lo jangan sampai terlalu jauh kalau main ya, Ra" kata Richard.
"Iya, lo parnoan banget" ejek Aish.
"Gue takut belahan jiwa gue hilang" kata Richard.
Aish tertawa mendengar gombalan receh dari Richard. Tapi dia senang juga.
Mike disana masih mengamati Aish dan Richard, ada rasa aneh dalam dirinya yang merasa tidak nyaman melihat Aish tertawa seperti itu dihadapan Richard.
Padahal dia tahu bahwa apa yang dia rasakan adalah kesalahan, sedikit rasa dalam hatinya harus segera dihilangkan sebelum bertambah besar.
★★★★★
Tak terasa, dua bulan telah berlalu. Aish sudah terbiasa bekerja setelah pulang sekolah.
Dia sudah menjadi waitress di cafe destinasi, bersama Ilham yang Aish rekomendasikan juga karena dia merasa kasihan padanya.
"Yopi kemana?" tanya Ilham yang sudah siap dengan seragamnya.
"Nggak tahu gue, tadi dia bilang disuruh Richard ngecek barang di gudang. Nggak ngerti deh gue sama kerjaan mereka" kata Aish yang sudah siap dengan serbet dan semprotan di tangannya.
Aish sudah memulai pekerjaannya, meski pemilik cafe itu adalah Richard, tak membuat Aish bermalas-malasan untuk melakukan tugasnya.
"Aish, lo dipanggil sama kak Richard diatas" kata seorang temannya.
"Hah? kenapa ya?" tanya Aish.
"Nggak tahu gue, kayaknya dia agak marah gitu deh. Hati-hati saja lo" kata temannya.
"Yasudah, gue temuin dia dulu ya" kata Aish.
"Semangat, Sya" kata Ilham melanjutkan pekerjaannya.
"Kenapa lagi sih? Kayaknya baru kemarin nggak marahan, sekarang sudah ngambek lagi" gerutu Aish sambil menaiki tangga menuju ke rooftop, tempat Richard menunggunya.
"Sampai juga, lo. Lama banget sih?" kata Richard memulai sengketa diantara mereka.
"Kan harus jalan kaki dulu kesininya, butuh waktu. Nggak sabaran banget sih" kata Aish berdiri di hadapan Richard.
"Duduk, kenapa cuma berdiri?" kata Richard sedikit membentak.
Aish menghela napas, "Ada apa gerangan? Kenapa roman-romannya babang Richard marah banget ya?" kata Aish dalam hati.
Dia duduk di kursi didepan Richard yang duduk sambil menyilangkan kedua tangannya didada.
Kalau begini, sangat terlihat keangkuhan dari seorang tuan muda. Aish harus menekan egonya, sabar!!
"Ada apa?" tanya Aish yang mendapati Richard hanya diam dan melihatnya dengan tatapan tajam.
"Mau lo apa sih? Kenapa lo lakuin ini sama cowok brengsek itu?" tanya Richard sambil membanting ponselnya. Memperlihatkan sebuah video pada Aish.
"Apa sih?" tanya Aish mengambil ponsel Richard. Melihat video yang sedang diputar.
Mata Aish membola, terkejut dengan video yang dilihatnya.
"Kenapa? Lo kaget gue tahu film romantis lo?" tanya Richard dengan nada rendah yang menekankan tiap katanya.
"Ini nggak seperti yang lo pikir. Waktu itu Mike pingsan, dia kecebur kolam, dan nggak bisa berenang. Terus nggak ada yang bisa nolongin, gue cuma berusaha bantuin dia doang, Richard" kata Aish menjelaskan pokok permasalahan mereka berdua.
"Lo tenang banget jelasinnya sama gue, lo nggak ngertiin perasaan gue banget sih, Ra? Mati-matian gue ngejaga lo supaya gue nggak berusaha nyentuh lo sedikitpun. Malah sekarang lo sendiri yang hancurin kepercayaan gue buat lo" kata Richard yang mulai tersulut emosi.
"Waktu itu cuma kecelakaan, Richard. Nggak ada maksud secara sadar gue buat ngelakuin itu. Gue cuma nolongin dia, nggak ada perasaan lebih" kata Aish membela diri.
"Tapi lo mikir nggak sih kalau gue keberatan. Gue nepatin janji gue sama lo buat nggak ngelakuin hal-hal yang nggak lo sukai, tapi nyatanya lo sendiri yang matahin janji kita. Gue benar-benar kecewa sama lo, Ra" kata Richard membentak Aish.
Aish tak menyangka jika Richard akan semarah ini. Sejauh mereka bersama, baru kali ini Richard terlihat sangat marah.
Richard membentak Aish tepat di wajahnya. Aish sampai memejamkan matanya karena Richard bicara terlalu keras.
Napas Richard sampai memburu, dia mati-matian menahan emosinya. Baru kali ini juga Richard merasa sekecewa ini pada Aish.
Tak seperti dugaan Richard jika nantinya Aish akan menangis dan meminta maaf, rupanya kini Aish juga tak bisa menahan egonya.
Kedua remaja itu sama-sama merasa benar.
__ADS_1
"Gue cuma nolongin dia, Richard. Sumpah gue nggak ada rencana apapun sebelumnya, gue juga nggak nyangka kalau ada yang memvideokan kejadian itu" Aish juga membentak.
"Berani sekarang lo sama gue? Turunin volume suara lo!" bentak Richard tak mau kalah.
"Lo yang mulai, Lo pikir gue takut sama lo? Nggak ada yang gue takutin di dunia ini. Hidup gue juga cuma buat gue sendiri, nggak ada yang anggap gue penting kan?" kata Aish yang sebenarnya ingin menangis, tapi dia tahan. Dia tak mau dianggap lemah dan nantinya akan mudah diinjak oleh orang lain, sekalipun itu Richard.
Richard semakin emosi, apakah selama ini caranya mengungkapkan kasih sayangnya pada Aish tak pernah terlihat? Apakah pengutaraan cinta dari perbuatannya tak pernah dianggap?
Keduanya sedang diliputi emosi. Jiwa muda yang tak pernah bisa saling mengalah. Merasa sama-sama benar.
Richard tak tahan lagi, dia berdiri, menghampiri Aish yang ikut berdiri.
Mata mereka bertemu dalam amarah, sama-sama keras kepala. Pelan tapi pasti, Richard menarik tangan Aish dengan kasar.
Memegang wajah Aish tepat di kedua pipinya. Dan tanpa Aish duga, Richard dengan beraninya mempertemukan bibir mereka.
Aish sangat terkejut, saat hendak menarik kepalanya, Richard menahan tengkuk Aish agar ciumannya tak terlepas.
Satu tangannya menahan tengkuk Aish, sedangkan tangan yang lainnya memegang pinggang Aish agar kekasihnya tidak bisa pergi kemanapun.
Mata Aish sudah berair, tetesannya sudah menganak sungai. Aish tak menyangka jika dalam keadaan marah, Richard akan senekat ini.
Padahal dulu saat dokter Siras hampir melecehkannya, Richard sangat sabar menenangkan Aish hingga dia tahu pentingnya Richard dalam hidupnya.
Tapi entah kenapa, saat Aish secara spontan menolong Mike, malah seperti ini kemarahan yang Richard tunjukkan.
Ciuman Richard terasa sangat kasar. Memang ini pengalaman pertamanya, tapi setahu Aish. Selama dia melihat adegan seperti ini dalam film-film romantis, pasti dilakukan dengan penuh kasih sayang.
Tidak seperti sekarang, Richard melakukannya dengan emosi dan kemarahan.
Sebenarnya Richard hanya ingin menggertak Aish saja sebelumnya, tapi entah mengapa, dia kebablasan.
Richard bingung harus bagaimana setelah ini. Biarlah, dia akan menikmati apa yang sedang dilakukannya.
Seperti kehabisan napas, Aish mendorong sekuat tenaga dada Richard. Setelahnya, dia bisa mengambil napas sebanyak mungkin.
Napasnya memburu, air matanya sangat deras turun dari kedua matanya. Tatapannya tajam menatap Richard yang sudah dalam mode sabar, seperti biasanya saat melihat Aish dengan penuh cinta.
"Brengsek lo, sialan!" Aish mengumpati Richard diiringi air mata. Pertama kali baginya mengumpati orang lain.
Tangannya tergerak untuk menampar pipi Richard sekuat tenaga.
Lalu dia berlari meninggalkan Richard yang mematung ditempatnya. Dia terlalu syok mendapati Aish yang sedang marah.
Pipinya terasa panas dan kebas. Sensasi terbakar terasa menjalar di pipinya, bekas tamparan Aish.
"Eh, lo nangis ya? Kenapa?" tanya Ilham ikut berlari, tapi kehilangan jejak Aish.
"Cepet banget larinya" gumam Ilham masuk kembali.
Aish mencari motornya, segera dia menaikinya setelah berhasil menghidupkan mesin dan memakai helmnya. Bahkan dia masih memakai seragam kerja. Kaos lengan panjang berwarna kuning cerah dengan logo cafe Destinasi di bagian belakang.
Dengan celana panjang berwarna biru dongker dan celemek berwarna putih.
Aish menangis diatas motornya. Entah kemana dia akan membawa kendaraannya pergi.
Dia tidak tahu mau kemana, dia sedang diliputi amarah saat ini.
Sementara di lain tempat, Richard merutuki kebodohannya yang melakukan hal senekat itu. Dia tidak menyangka jika Aish akan semarah ini.
Segera dia berlari menuruni anak tangga, mencari keberadaan Aish yang meninggalkannya dalam keadaan marah.
"Lo tahu kemana Aishyah?" tanya Richard saat bertemu dengan Ilham.
"Lari ke parkiran sih tadi" kata Ilham ragu.
"Kenapa nggak lo cegah sih, bego banget" kata Richard segera berlari ke arah parkiran.
"Lah, salah gue dimana coba?" kata Ilham lirih. Diam-diam dimarahi.
Richard tak mendapati Aish dimanapun, begitu juga motornya. Kalau sudah begini, mau dicari kemana?
"Sial, mobil gue dibawa Yopi" kata Richard menendangi apapun yang ada didepannya.
"Biar gue tungguin dia di dalam saja deh, siapa tahu dia nanti balik ke sini lagi" kata Richard lirih, kembali memasuki area cafe.
"Kalau nanti Aishyah balik, lo lapor ke gue ya" kata Richard berpesan pada Ilham.
"Siap, bos!" kata Ilham.
"Ada apaan sih?" tanya Ilham lirih, pada diri sendiri.
Aish tak tahu mau kemana, dia mematikan mesin motornya di bawah jembatan layang. Tempat biasanya banyak pedagang kaki lima berjualan. Kebanyakan dari mereka berjualan jajanan.
Menggunakan ujung kaosnya, Aish mengelap air matanya seperti anak kecil.
"Gue memang salah, tapi kenapa lo semarah itu sih sama gue" gumam Aish.
__ADS_1
Kalau sudah begini, dia jadi lapar. Emosi membuat perutnya bekerja terlalu keras, hingga rasa lapar selalu menghampiri.
Celingukan mencari jajanan, dia menemukan penjual Sempol ayam. Segera dia mendekat, dan memarkirkan motornya didekat gerobak penjual sempol.
"Bang, sempolnya lima ribu ya" kata Aish memesan.
"Siap neng" kata penjual sempol mulai mengeksekusi pesanan Aish.
Ponselnya berdering, seperti dugaannya, Richard sedang berusaha menghubunginya.
Aish mengganti nada dering dalam mode silent, dan membiarkan ponselnya teronggok di kantong celemeknya.
Melihat-lihat sekitar, tak ada pemandangan yang menarik. Hanya kendaraan yang berlalu lalang, membuatnya bertambah pusing.
"Sebentar gue mau beli Top es ya bang, sekalian titip motor gue" kata Aish berjalan ke gerobak sebelah, membeli seplastik top es rasa vanilla late.
"Sudah neng, ini sempolnya" kata penjual sempol.
Saat Aish hendak mengambil, sebuah tangan lain ingin merebut pesanan Aish.
"Ini sempol gue" kata Aish ingin memarahi orang di sebelahnya. Tapi malah dia melihat seseorang yang menatapnya dengan cengiran tanpa dosa.
"Ngapain lo disini?" tanya Aish mendapati Mike yang berdiri disebelahnya.
"Mau beli sempol, tapi ternyata pesanan lo ya" kata Mike.
Aish mengambil sempolnya, lalu pergi setelah membayar.
"Mau kemana sih, buru-buru banget?" tanya Mike berlari mensejajari langkah Aish yang tergesa.
"Bukan urusan lo, gara-gara lo semuanya jadi runyam. Seharusnya lo tuh nggak usah dekat-dekat sama gue deh. Pergi sana" usir Aish.
Mike tetap berjalan disamping Aish, tak memperdulikan penolakannya.
Aish duduk di trotoar, memakan sempolnya dengan emosi.
Mike melihat kelakuan Aish dengan senyum tertahan, dia malah menunggui Aish yang marah padanya tanpa sebab.
"Lo ngapain sih disini? Pergi nggak?" bentak Aish.
"Pengen aja duduk disebelah orang yang marah tanpa sebab" kata Mike.
Aish sudah tidak berminat untuk berdebat. Dia membiarkan saja Mike yang melihatnya makan.
"Lo nggak nawarin gue juga? Pelit banget sih?" kata Mike menggoda.
"Bodo amat" kata Aish tetap memakan sempolnya.
"Lo kenapa sih? Mata lo sembab, habis nangis ya?" tanya Mike.
"Kepo banget sih, lagian lo ngapain disini? Lo ngikutin gue ya?" tanya Aish.
"Nggak, gue tadi lagi nyari perlengkapan camping di toko itu, terus ngelihat lo lagi jalan sendirian, makanya gue samperin" kata Mike sambil menunjuk sebuah toko yang memang menjual perlengkapan camping.
"Lo ngapain disini? Sendirian lagi" kata Mike.
"Bukan urusan lo, pergi lo. Dasar pembawa masalah" kata Aish mengusir Mike yang tak kunjung pergi.
"Lo kenapa sih, daritadi marah nggak jelas. Salah gue apa sama lo?" tanya Mike.
"Sejak awal gue ketemu sama lo itu sudah salah. Mendingan mulai sekarang lo jauhi gue" kata Aish.
Bukannya pergi, Mike semakin tertarik pada gadis pemarah didepannya ini.
Sedangkan Richard, hatinya tak juga tenang setelah melakukan sesuatu yang tentu Aish benci. Dia baru ingat kalau sudah memasang semacam penyadap di ponsel Aish untuk mengetahui posisinya di GPS.
"Maafin gue, Ra. Lo pergi kemana?" gumam Richard yang sedang mencari keberadaan Aish.
"Bagus, untung saja lo nggak matiin ponsel" gumam Richard setelah cukup lama mengutak-atik ponsel miliknya.
"Bener nggak sih titik lo disana?" kata Richard setelah menemukan lokasi Aish di bawah jembatan layang.
"Ngapain lo dibawah jembatan layang? Apa mungkin masih lampu merah kali ya, makanya lo berhenti?" kata Richard menggumam.
"Gue tungguin bentar deh, siapa tahu dia jalan lagi" kata Richard.
Sepuluh menit berlalu, lokasi Aish masih tetap menunjukkan kalau dia berada dibawah jembatan layang.
"Atau jangan-jangan?" pikiran Richard sudah memikirkan yang tidak-tidak. Richard takut terjadi sesuatu pada Aish, karena tadi Aish pergi dengan terburu-buru.
.
.
.
.
__ADS_1