Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
Bunda


__ADS_3

"Bunda...." Aish kaget melihat bundanya keluar dari dalam rumah, membawakan senampan penuh makanan dan minuman.


"Bunda ngapain disini?" tanya Aish.


"Mentang-mentang ketemu sama ayah, kamu jadi lupa sama bunda. Jadi kamu nggak suka ketemu sama bunda disini?" tanya bunda sambil menata makanan dan minuman dari nampan ke atas meja.


"Bukannya gitu bun, Aish kaget saja. Tadi saat kesini Aish merasa sangat kesulitan, malah sekarang bunda sudah duluan disini ternyata" kata Aish.


"Iya, bunda punya jalur khusus. Ini bunda buatkan susu sama beberapa kue kesukaan kamu" kata bunda.


"Makasih ya bunda, ayo yah kita minum" kata Aish.


Ayahnya mengambil cangkir berisi kopi hitam, minuman kesukaan ayah. Beliau menyeruput setelah meniup pelan pada secangkir kopi yang dibawakan bunda.


"Hengmh, enak banget bun. Bunda bikinin kue ini buat Aish ya?" tanya Aish dengan mulut penuh makanan.


"Kamu ini, sudah besar tetap saja. Bunda sudah sering ingatkan, telan dulu makanan kamu, baru bicara. Tidak sopan bicara dengan mulut penuh seperti itu sayang" kata bunda dengan senyum yang menenangkan.


" Maaf bun..." kata Aish.


"Sudah dong, sekali-sekali nggak apa-apa bun. Biarkan Aish bahagia meski sebentar" kata ayah.


"Oiya nak, ada yang mau bunda dan ayah sampaikan sama kamu" kata bunda.


"Aish dengarkan bun" ucap Aish sambil mengunyah makanannya.


"Nak, kamu sudah besar. Bunda harap kamu akan selalu tegar dan kuat menjalani kehidupan kamu. Mungkin bunda tidak akan punya waktu yang lama untuk menemani kamu mengarungi kerasnya hidup. Sudah waktunya bunda menemani ayahmu disini, mungkin dalam waktu dekat bunda akan pindah ke rumah ini" kata bunda memandang ayah, mereka saling melempar senyum, persis seperti remaja yang baru saja pacaran.


"Bunda bicara apa sih, Aish nggak ngerti. Aish maunya disini sama ayah dan bunda. Aish nggak akan bisa kalai sendirian bunda" ucap Aish.


"Kamu kan sudah besar nak, sudah saatnya kamu biarkan bunda pindah disini menemani ayah. Kamu sayang kan sama bunda kamu?" tanya ayah.


"Sayang dong yah, sama ayah juga sayang. Sama kakak juga, tapi kakak selalu marahin Aish" kata Aish sedih tiap kali mengingat sang kakak.


"Nak, orang yang menganggap kamu saudara pasti tidak akan pernah mau memutus tali silaturahmi. Kadang kita harus menerima perlakuan saudara kita yang malah memutus tali persaudaraan, dan kita harus menerima orang lain yang malah lebih punya rasa kasih sayang yang lebih untuk kita" kata ayah.


"Yakinlah hati yang tulus menyayangi kita akan selalu berjuang untuk melindungi kita, sedangkan sebuah status yang menyatakan saudara sekandung kadang malah akan menjerumuskan dan membahayakan kita".


"Orang-orang terdekatmu saat ini benar-benar menyayangimu dengan tulus. Mereka benar-benar ingin menjagamu dengan sangat baik. Sayangilah mereka juga, karena persaudaraan yang sesungguhnya tidak terpacu hanya dengan sebuah status saudara kandung" kata ayah menasehati Aishyah.

__ADS_1


"Tapi jika nanti kakak sudah sayang lagi sama Aish, maka Aish akan menerimanya lagi sebagai saudara yah" kata Aish.


"Iya nak, hatimu memang sangat baik dan tulus. Ayah bangga sama kamu" kata Ayah memeluk sayang anak gadisnya.


"Oh iya yah, kenapa Aish pakai baju seperti ini ya?" tanya Aish.


"Memangnya baju kamu kenapa?" tanya bundanya.


"Seperti baju pengantin saja. Aish malah tidak pernah ingat kalau punya baju seperti ini" kata Aish memandangi baju yang melekat indah di badannya.


"Itu artinya, ada seseorang yang mengharapkan kamu jadi pengantinnya. Tapi banyak perjuangan yang harus kalian lalui, yakinkan hati kamu untuk tetap pada satu hati itu nak. Maka kalian akan berakhir bahagia" kata bunda dengan senyum diwajahnya.


"Terus baju ayah sama bunda juga sama ya, kayak baju pengantin" kata Aish.


"Karena kami akan segera menjadi pengantin lagi, hehe. Juga karena kami sangat berharap kamu melihat kami saat nanti kamu melangsungkan hari kebahagiaan kamu bersama pasangan kamu nantinya" kata bunda menjelaskan.


"Aish masih kecil bunda, masih belum mau menikah. Bunda ini ada-ada saja" kata Aish.


"Terserah kamu saja, kami akan selalu mendukung kamu selama keputusan kamu ada dijalan yang benar" kata ayah.


Mereka bertiga saling berbagi kasih sayang dengan asyik mengobrol dan bercanda. Aish sangat bahagia dengan pertemuannya dengan kedua orang tuanya saat ini. Tawa riang menghiasi wajah cantiknya, kebahagiaan terpancar dari pancaran matanya.


*********


Sebentar-sebentar dia tersenyum, tak lama kemudian dia merintih seperti sedang menangis.


"Syah, Aishyah" kata Siras berusaha menyadarkan Aishyah.


Gadis itu tetap menutup matanya, sebentar lagi proses pengambilan darah sudah selesai. Hanya kurang beberapa tetes darah lagi untuk bisa melepas jarum dari lengan Aishyah.


"Gawat, dia hilang kesadaran" batin dokter Siras panik.


"Suster, suster" teriak Siras.


"Iya dokter, ada yang bisa saya bantu?" tanya suster yang datang.


"Tolong ambilkan tensimeter segera, Aishyah hilang kesadaran" kata dokter Siras sambil memeriksa Aish menggunakan stetoskop yang selalu bertengger di lehernya.


"Baik dok" kata suster itu berlari keluar ruangan untuk mengambil perlengkapan pemeriksaan.

__ADS_1


"Sial, saya kecolongan. Tubuhnya dingin sekali, kamu harus kuat Aishyah. Saya yakin kamu bisa melalui ini semua" batin Siras sembari melakukan serangkaian pemeriksaan.


Dia juga melepas jarum dilengannya, merawat luka bekas donor di siku bagian dalam lengan Aish, merapikan selang dan sekantong darah yang sudah Aish keluarkan.


Suster datang setelah Siras menyelesaikan kegiatannya dengan perlengkapan donor. Pria itu segera memeriksa Aish dengan lebih intensif dengan peralatan yang suster bawakan. Suster mencatat semua hasil yang Siras telah lakukan pada Aish dengan cermat.


"Tekanan darahnya sangat rendah dokter" kata suster itu.


"Dia phobia darah sus, saya sudah melarangnya untuk donor darah tadi. Tapi dia bersikeras menolong temannya, saya kecolongan saat menjaganya. Pasti dia sudah sekuat tenaga melawan rasa takutnya. Sekarang dia malah hilang kesadaran" kata Siras dengan cemas.


Suster merasa sedikit heran, dokter tampan ini terlihat sangat khawatir pada Aishyah yang sekarang menjadi pasien disini.


Aish tersenyum, tapi matanya masih tertutup. Dokter Siras yang berusaha menyadarkannya masih belum bisa.


"Kalau dia lebih suka bermain di alam bawah sadarnya bisa gawat sus" kata dokter Siras.


"Kita usahakan dulu menyadarkan dia lagi dokter. Dokter harus tenang, saya seperti tidak melihat dokter Siras yang biasanya bertangan dingin dalam menangani para pasien. Kenapa dokter tegang sekali seperti ini?" tanya suster.


Dokter itu terdiam, benar apa yang dikatakan suster itu. "Kenapa juga saya harus merasa khawatir berlebihan dengan melihatnya tidak sadarkan diri? Saya juga harus tenang agar bisa menanganinya dengan baik" batin Siras menenangkan diri.


*********


Sementara ditempat Aish berada, gadis itu masih saja bermanja-manja dengan kedua orang tuanya.


Aish mengajak ayah dan bundanya memancing di bawah jembatan. Sungai disini sangat jernih, dari tepian terlihat dangkal. Tapi banyak sekali ikan yang berenang kesana-kemari. Membuat Aish merasa sangat gemas untuk bisa menangkap sebanyak mungkin.


"Yah, Aish mau pakai jaring saja. Aish nggak mau pakai alay pancing. Itu terlalu lama untuk mendapatkan ikan, lebih baik pakai jaring saja yah" kata Aish.


"Sebentar biar bunda ambilkan dulu jaringnya ya" kata bunda sambil beranjak masuk ke dalam rumah untuk mengambilkan jaring.


"Sepertinya kamu sudah terlalu lama disini sayang, sudah waktunya kamu kembali" kata ayah.


Aish menoleh kepada ayahnya setelah mendengar penuturan pria terbaiknya itu. Memandangnya dengan tatapan sedih yang mendalam.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2