Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
Hampir saja


__ADS_3

"I want you" kata Siras dengan senyuman.


Aish tersadar saat Siras menekan tubuhnya dengan kuat. Siras menduduki pinggang Aish, mengunci kedua tangan Aish diatas kepalanya dengan salah satu tangannya. Membuat Aish tidak bisa bergerak bebas.


Aish berusaha menendang-nendang kakinya ke udara, dia sangat panik sekarang. Dia tidak pernah belajar cara melepaskan diri dari situasi seperti ini saat belajar silat.


"Bang, sadar bang. Jangan seperti ini" kata Aish yang mulai menangis, dia tidak tahu harus berbuat apa lagi.


"Cup... cup... sayang. Jangan nangis ya, saya mencintai kamu, tapi kenapa kamu malah memilih bocah ingusan seperti pacar kamu itu" kata Siras yang sudah dikuasai nafsu. Apalagi melihat penampilan Aish yang berantakan, semakin terlihat seksi di mata Siras.


Aish sudah menangis kencang saat ini."Toloonng.. Tolong" teriak Aish.


"Percuma saja kamu teriak sayang, tidak ada lagi orang lain selain kita berdua disini. Tidak ada yang akan mendengar teriakan kamu. Jadi, diamlah. Nikmati saja perlakuan saya sama kamu, saya yakin kamu pasti akan menyukainya" kata Siras mulai tidak waras.


Siras membuka satu persatu kancing kemeja Aishyah, membuat Aish semakin menangis. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana, disaat seperti ini dia mulai teringat Richard. Biasanya dia akan datang setiap Aish kesulitan. Kini Aish mulai merasa egois, karena berharap Richard akan datang menolongnya.


"Lepasin saya bang, saya mohon. Kasihani saya bang, jangan seperti ini" kata Aish mulai sesenggukan.


Siras tak memperdulikan tangisan Aish, tangan nakalnya sudah hampir berhasil membuka semua kancing kemeja yang Aish kenakan. Membuat Aish semakin meronta dibawah kendalinya.


Kancing itu sudah terlepas semua, pemandangan luar biasa terpampang di depan Siras yang dipenuhi nafsu.


Siras ingin memagut bibir ranum Aish, tapi gadis itu tidak bisa diam. Kepalanya terus-terusan bergerak hingga Siras memberi satu pukulan di pipinya, membuat sudut bibir Aish sedikit berdarah karena Siras memukulnya terlalu kencang.


"Ouh, maafkan saya Aishyah sayang. Kamu jangan terus bergerak, saya tidak suka" kata Siras yang kini mengelus pipi Aish yang tadi ditamparnya.


Siras mendekatkan wajahnya pada wajah Aish yang menangis. Aish geram, dia meludahi wajah Siras.


Siras malah tersenyum dan mengelap bekas ludah Aish di wajahnya. Sekarang dia sudah tidak bisa sabar lagi. Dia bergerak kasar, berusaha mencium Aishyah. Tapi karena Aish yang tidak bisa diam, diapun menciumi leher mulus Aish. Memberikan banyak jejak disana, sementara Aish merasa sensasi yang aneh sedang menyerang pertahanan kewarasannya.


Gadis itu masih meronta, sementara Siras sudah sangat banyak memberi jejaknya di leher Aish yang masih berteriak minta tolong.


Sudah terlalu lama menunggu, pikiran buruk sudah menyelimuti otak Richard yang duduk di dalam mobilnya.


Richard melangkahkan kakinya dengan sedikit tergesa menuju ke dalam kantor itu. Melihat sekelilingnya yang sepi, Richard langsung saja menuju lift untuk membawanya ke lantai empat.


Tak butuh waktu lama, dia sampai. Keluar dari lift dia bingung harus kemana. Karena ada beberapa ruangan disana.


Sayup-sayup Richard mendengar suara tangisan meminta tolong dari ruangan paling ujung. Sepertinya itu ruangan yang terlihat dari jalan tempatnya tadi memarkirkan mobil.


Richard berlari ke sumber suara, berdiri sebentar didepan pintu untuk memastikan bahwa ada suara dari dalam sana.


Benar saja, Richard mendengar suara Aish yang menangis dan meminta tolong. Dengan kepala yang seolah mendidih, Richard membuka pintu ruangan itu.


Dia semakin kalap saat melihat kekasihnya berada di posisi yang sulit dengan seorang pria besar sedang berusaha mencium Aishyah.


Richard sangat marah, kekhawatirannya ternyata benar. Bahkan Siras tak menyadari ada seseorang yang telah berhasil masuk ke dalam ruangan itu.

__ADS_1


Dengan sekuat tenaga, Richard mengangkat tubuh Siras dengan cara menarik kemejanya dengan kedua tangannya. Lalu melemparkan Siras ke sofa yang lain.


Kini dia menatap gadisnya dengan haru, rasa rindunya yang selama ini dia tahan harus dipertemukan dalam kondisi seperti ini.


Aish berusaha duduk, kedua tangannya disilangkan didepan dadanya. Suara tangisan masih terdengar dari mulutnya.


Richard segera melepaskan jaket yang dia pakai, dan menutup tubuh Aish dengan jaket itu. Setelahnya, dia masih punya urusan dengan Siras.


"Kali ini lo pasti mati ditangan gue" teriak Richard langsung meninju dengan keras wajah Siras.


Siras yang tidak siap jatuh terhuyung dan beruntung dia masih terjatuh diatas sofa itu lagi.


Pandangannya menggabur, tinju yang dilayangkan Richard sepertinya terlalu keras. Bahkan tangan Richard sedikit terasa sakit sekarang.


Richard masih sangat marah, dia menduduki Siras seperti saat Siras menduduki Aish tadi. Tapi kini Richard kembali melayangkan banyak tinju yang bertubi-tubi ke wajah tampan Siras hingga tak berbentuk lagi. Wajah Siras sudah berlumuran darah, tapi masih belum mengurangi rasa marah di hati Richard.


Aish menyadari jika Richard memukuli Siras terlalu keras, dia berdiri setelah menautkan resleting jaketnya.


"Stop Richard, stop! Sudah, kamu bisa membunuhnya kalau begini" kata Aish berteriak tapi seolah tak didengar oleh Richard.


Aish masih menangis, sekarang yang dia takutkan adalah Richard yang tidak bisa mengontrol emosinya.


"Sudah, cukup Richard. Sudah!" kata Aish, kini dia menutupi wajah Siras dengan badannya. Membuat Richard seketika menghentikan aksinya, tangannya masih terangkat diudara untuk memberi tinju lagi di wajah Siras jika Aish tidak menghalanginya


Richard turun, kini dia menarik tubuh Aish kedalam pelukannya. Dia merasa gagal menjaga Aish.


Siras tergeletak tak berdaya ditempatnya, dia yang sangat kesakitan hanya bisa melihat interaksi Aish dan Richard yang tidak begitu jelas dalam pandangannya.


"Maafin gue yang nggak bisa jagain lo" kata Richard semakin mengelus sayang rambut Aish yang berantakan.


"Kita pergi ya" kata Richard yang diangguki oleh Aish.


Richard menuntun dengan sayang pada kekasihnya yang terlihat sangat berantakan. Dia tidak melepas sedikitpun genggaman tangannya pada Aishyah.


Hingga sampai ke dalam mobilnya, Richard memasangkan seat belt dengan hati-hati di badan Aish. Kemudian dia mengitari bagian depan mobilnya dengan sedikit tergesa. Kemudian duduk sendiri dibalik kemudi mobilnya.


Richard tidak berani melihat keadaan Aish yang sangat berantakan. Apalagi masih terdengar suara isakan kecil dari mulut kekasihnya.


"Tas lo masih didalam ya?" tanya Richard selembut mungkin, Aish hanya mengangguk dan tetap menunduk.


"Sebentar ya, gue ambilin" kata Richard. Dia keluar lagi hanya untuk mengambil tas Aish yang masih ada di dalam pos.


Tak butuh waktu lama, Richard telah kembali membawa tas dan juga hape Aish yang tertinggal.


"Makasih ya" kata Aish lirih.


Richard hanya mengangguk, dia merasa kasihan.

__ADS_1


Richard menghidupkan mesin mobilnya, dia bingung harus membawa Aish kemana. Karena kalau dibawa pulang ke rumahnya, dia takut tetangganya akan berpikiran yang tidak-tidak padanya. Mobil itu bergerak tak tahu arah, belum ada tujuan.


Aish merasa haus, tapi dia tidak berani membuka suara. Saat meraba kantong jaket yang dia pakai, Aish mendapati ada botol minuman di dalamnya. Mungkin tadi Richard telah meminumnya.


Rasa hausnya sudah tidak bisa ditahan, pandangan matanya yang terhalang air mata tidak bisa membaca tulisan di botol itu dengan baik. Tanpa pikir panjang, Aish menenggak minuman di dalam botol itu.


Dia tersedak karena rasa minuman yang sangat aneh. Tapi beberapa sudah berhasil masuk ke dalam tenggorokannya. Menyisakan rasa panas yang menjalar hingga ke dalam perutnya.


"Uhuk... uhuk... uhuk" Aish terbatuk-batuk karena tersedak rasa minuman yang aneh.


Richard yang daritadi sedang asyik dengan pikirannya tersadar dan menoleh pada Aish. Matanya membola saat melihat Aish menggenggam sebotol minuman keras.


"Lo dapat darimana?" tanya Richard.


"Saku jaket lo, gue haus. Itu minuman apa sih? Rasanya aneh banget, pahit" kata Aish yang kini menjulurkan lidahnya dan mengusap dengan telapak tangannya.


Toleransi alkohol dalam tubuh Aish sangat buruk, hanya beberapa teguk minuman sudah membuatnya merasa pusing.


"Sini" kata Richard mengambil botol dari tangan Aish.


Seingatnya, dia sudah lama tidak minum minuman seperti ini lagi. Dia baru sadar jika jaket itu baru saja dikembalikan oleh Reno. Richard tidak menyadari jika Reno menaruh minuman di dalam saku jaketnya.


"Kepala gue pusing banget sih?" tanya Aish mulai tidak sadar, dia sudah mulai cegukan kali ini.


Richard tahu sekarang harus membawa kekasihnya kemana, akan sangat berbahaya jika Aish dibiarkan lepas sendirian.


★★★★★


Siras masih mengerang kesakitan, seingatnya dia hanya memukul Aishyah satu kali. Tapi dia malah mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari tangan Richard.


"Aahhh.... Sial" teriak Siras tak berdaya di dalam ruangannya.


Sekarang dia tersadar, pasti ke depannya akan sangat sulit untuk sekedar bisa bertemu dengan Aishyah. Dia mulai merutuki kebodohannya yang tidak bisa mengendalikan diri saat melihat wajah cantik Aishyah.


Dengan sekuat tenaga Siras bangkit, dia berusaha duduk untuk menyeka wajahnya yang terasa sangat sakit. Sudah bisa dipastikan jika dia harus ijin dari kegiatannya di rumah sakit untuk beberapa hari ke depan.


Siras mendapati hijab Aish yang tadi dilemparnya, dia memungutnya. Mencium aroma parfum yang tertinggal.


"Maafkan saya Aishyah" kata Siras menyesali perbuatannya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2