Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
sedikit sendu


__ADS_3

"Ngapain lo nyuruh gue kesini?" tanya Reno setelah sampai di kantin dan menemui Richard dan Yopi, ada juga beberapa temannya disana.


"Ambilin bola basket gue yang masuk ke kolong meja itu ya" kata Richard tanpa rasa bersalah.


Reno hanya melongo mendengar teman keparatnya itu menyuruh datang hanya untuk mengambilkan bola basket.


Tadi sebenarnya Reno berniat memberitahukan pada Richard tentang video dua orang yang dilihatnya di gudang, tapi berhubung dia sedang dipermainkan oleh teman terkutuknya ini, biar saja dulu, tunggu nanti saja kalau ada saat yang tepat dia akan mempertunjukkan tentang video itu.


Sekarang biarkan saja, biar menjadi rahasianya dulu.


"Kalian memang teman keparat, nggak tahu apa tadi gue lagi asyik. Sialan memang. Lagian ngapain nyuruh gue sih? Ambil sendiri kan bisa" kata Reno yang tersulut emosinya.


"Lo kan boncel, jadi bisa masuk ke kolong meja itu. Gue nggak cukup, sudah gue coba tadi" jawab Richard cuek meski temannya sedang emosi.


"Lagian lo lagi asyik ngapain sih? pasti lihat film dewasa ya. Nih gue kasih tahu ya, lo tuh masih kecil, tinggi badan lo itu masih belum dibolehin buat lihat film yang begituan" ledek Yopi.


Sialan memang, kedua temannya itu sangat suka meledek tentang tinggi badan. Memang sih, tinggi Reno sebelas dua belas dengan Aish. Hanya sebatas dada Richard dan Yopi.


Tapi untuk selalu menjadi bahan ledekan, kadang Reno juga bisa sakit hati. Contohnya seperti sekarang ini.


"Kalian memang sialan, teman terkutuk, bocah sableng, edan" umpat Reno, dia berbalik badan dan bersiap untuk pergi. Tapi Richard dan Yopi malah merangkulnya dari samping kanan dan kiri. Membuatnya tidak bisa bergerak.


"Lepasin bego, sialan kalian ini" kata Reno.


"Kita cuma pingin lo disini boncel, lagian ngapain sih sendirian saja. Digondol kolong wewe baru tahu rasa lo ya" kata Yopi.


Reno mencebikkan bibirnya, "Tinggal bilang saja kalau nggak ada gue nggak asyik kan. Pakai acara ngeledekin tinggi badan segala" kata Reno.


"Lagian lo kenapa sih dari pagi marah-marah mulu. Kayak cewek tahu nggak. Susah dimengerti" kata Richard.


Mereka kembali duduk bersama di kantin untuk menunggu bel masuk berbunyi.


"Ngomong-ngomong, lo sudah tahu apa belum siapa yang nempelin foto cewek lo di mading?" tanya Reno.


Richard mengendikkan bahunya, "Nggak tahu gue, si ketua OSIS belum ngasih kabar" kata Richard.


"Oh" kata Reno ber oh ria.


Sementara di tempat lain, tepatnya di taman dekat perpustakaan.


"Eh, Sabtu depan sidang terakhirnya kasus kak Alif loh, princess. Lo mau hadir nggak?" tanya Hendra.


"Sabtu ya, boleh deh. Uts sampai hari Kamis doang kan ya?" tanya Aish.

__ADS_1


"Sampai hari Rabu kayaknya. Kamis cuma ujian olahraga" ralat Seno, Aish hanya manggut-manggut mendengar jawaban dari temannya.


"Gue sampai sekarang belum bisa nemuin siapa pelaku yang nempelin foto lo ke mading nih, princess" kata Falen dengan lesu.


"Huft... Kalau memang nggak ketemu pelakunya, beasiswa gue bakalan di cabut ya, bule?" tanya Aish mendadak sendu.


"Nggak akan, nanti gue ngomong sama kepsek, sama bokap gue juga deh" kata Falen.


"Kalau seandainya itu terjadi, kita bakalan pisah ya. Gue cari sekolah lain yang biayanya nggak semahal disini. Mana sanggup gue bayar biaya sekolah ini kalau tanpa beasiswa" kata Aish lirih, tapi masih terdengar di telinga temannya.


Ketiga temannya menghentikan kegiatan makannya mendengat penuturan dari Aish. Suasana melow seketika tercipta dari obrolan mereka.


"Kita nggak akan biarin itu semua terjadi, princess. Kita pasti tetap bersama sampai nanti kita sama-sama lulus, iya kan Hen, Fal?" tanya Seno yang matanya sudah berkaca-kaca. Memang dia yang paling cengeng, membuatnya suka di bully oleh kedua temannya.


"Iya, gue pasti akan berusaha lagi. Gue bakal temuin siapa dalangnya. Dan pasti akan dapat sangsi yang berat dari gue" kata Falen.


"Iya, gue percaya sama lo, bule. Sudah ya, nggak usah jadi sendu gini. Lagian kalau benar gue harus keluar dari sekolah ini, gue nggak apa-apa kok. Kita masih tetap jadi teman selamanya kan?" kata Aish dengan senyum yang dipaksakan.


Suasana bertambah sendu setelah penuturan Aish. Falen mendekat, duduk disamping sahabat tersayangnya. Dia mengambil kepala Aish dan membenamkan dalam dadanya.


"Lo jangan pikirin hal ini ya, gue janji sama lo pasti akan nemuin pelakunya. Dan gue pastiin kalau lo pasti terus sekolah disini sampai kita sama-sama lulus nanti" kata Falen sambil mengelus sayang kepala sahabatnya.


"Gue sayang kalian semua" kata Aish memejamkan matanya, takut kalau sampai buliran bening yang sudah menggantung dalam matanya akan terjatuh.


Lain halnya dengan Hendra, dia mengalihkan pandangan ke segala arah agar tak melihat pemandangan menyesakkan di depannya.


Dibalik semua itu, ada seseorang yang melihat semua ini dengan perasaan bersalah. Dia tidak menyangka jika perbuatannya akan berpengaruh sejauh ini pada Aishyah.


Dia lupa jika Aishyah bukan dari golongan orang kaya seperti dirinya. Dia lupa jika sekarang Aishyah bahkan sudah sebatang kara.


Rasa sesak sudah menumpuk dalam dadanya. Penyesalan selalu datang di akhir, karena awalnya memang dia tersulut emosi. Kini, dia berharap jika semua akan segera berakhir.


Tapi dengan berakhirnya semua ini, tentu akan menjadi momok baginya. Karena perbuatannya.


"Tuhan... Maafkan aku" katanya menyebut nama tuhan setelah menyadari kesalahannya.


★★★★★


Hari itu juga, Falen mendatangi kantor kepala sekolah. Jalan buntu yang dia hadapi dalam kasus Aish membuatnya tidak bisa menunggu untuk tidak berbuat sesuatu. Takut kalau nanti Aish harus dipaksa mundur dari sekolah.


"Ada apa Brian?" tanya kepala sekolah setelah mempersilahkan Falen duduk di ruangan kantornya.


"Ada yang ingin saya sampaikan pak" kata Falen.

__ADS_1


"Tentang apa?" tanya pak kepsek itu sambil membolak-balik kertas dihadapannya, bersikap sok sibuk saja sebenarnya.


"Tentang Aishyah" kata Falen.


"Oh, ya. Saya sedikit kecewa dengan perbuatannya" katanya.


"Tapi saya yakin dia tidak seperti yang digambarkan dalam foto itu pak. Dia anak yang baik, hanya saja ada yang sedang berusaha menjatuhkannya" kata Falen membela.


"Tentu, karena dia temanmu" kata kepsek itu.


"Saya minta waktu lagi untuk memberi bukti bahwa Aish masih pantas mendapatkan beasiswa disini, pak" kata Falen.


"Berapa lama lagi? Dia sudah mencoreng nama baik sekolah kita" katanya.


"Beri saya waktu satu minggu lagi, saya akan temukan pelakunya dan membersihkan nama Aishyah" kata Falen.


"Kalau saya keberatan?" kata kepsek itu sedikit congkak.


"Jika permintaan saya sebagai murid kelas IPA tidak digubris, maka saya memintanya selaku ketua OSIS disini, pak" kata Falen.


"Jika saya masih keberatan?" kata kepsek itu lagi.


"Baiklah, saya selaku anak dari pemilik sekolah ini memerintahkan pada anda selaku kepala sekolah disini untuk memberi waktu pada ketua OSIS agar mendapat perpanjangan waktu untuk menyelidiki masalah Aishyah Khumaira".


"Anda tahu kepada siapa nantinya sekolah ini akan diberikan. Sebelum saya berkata yang tidak-tidak kepada papa saya, sepertinya dengan memberi tambahan waktu maka semua akan baik-baik saja" kata Falen sedikit tidak sopan.


Menghadapi petinggi yang keras kepala, harus bisa lebih tegas. Ibaratnya, api kecil dilawan dengan api besar. Maka api besar akan melahap habis api kecilnya.


Merasa terpojok, kepala sekolah itu harus menurut saja. Mau tidak mau dia harus menuruti permintaan Falen.


"Baiklah, tambahan waktu satu minggu saja. Lakukan yang terbaik, atau Aish benar-benar akan kami DO" ancam Kepsek itu.


"Ok, deal" kata Falen yang kemudian berdiri dan pergi dari ruangan itu.


Selanjutnya dia akan berusaha mencari tahu lagi. Semoga ada jalan keluarnya, demi persahabatannya, demi rasa kemanusiaannya.


Semoga berhasil, Brian.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2